Episode 11 - Monster


“Haah… haaah…” Bell mendesah berat.

Kedua kakinya yang terasa lemas bisa rubuh kapan saja. Untuk mengatasinya, salah satu tangan Bell bersandar pada tembok. Tubuhnya dibanjiri dengan keringat hingga pakaiannya basah.

Apa yang terjadi? Ia tidak bisa mengatakannya dengan yakin seratus persen. Sebagian ingatannya tidak bisa kembali karena suatu alasan yang ia benci. Beberapa kali ini terjadi, tapi tidak pernah sampai separah ini.

Bell yang masih kelelahan melirik salah satu tangan yang dipenuhi dengan warna merah pekat. Tangan yang lainnya pun tidak berbeda. Shadow tidak mengeluarkan darah, di sisi lain Venus Trap pun begitu. Bell sudah bisa menebak apa yang baru saja terjadi.

Dua orang yang merupakan anggota timnya terletak di lantai dengan darah yang masih baru—Throta dan Oddy. Dilihat dari kondisi kedua mayat, tidak mungkin manusia yang melakukan hal itu. Kedua kaki dan tangan patah, juga ada beberapa tusukan besar bisa dilihat di dada dan anggota tubuh yang lain.

“Ugh… lagi?!” Bell menggigit bibir dengan keras. Sambil menghela untuk menenangkan diri, Bell memejamkan kedua matanya. “Aku sudah bilang pada kalian berdua! Jangan menyalahkanku!”

Saat mereka bertiga berjalan mencari dua orang yang terpisah—Neil dan Dira, tanpa sengaja bertemu dengan Shadow yang jumlahnya cukup banyak. Tanpa bensin yang tersisa, mereka memutuskan untuk melewatinya. Beberapa menit tidak ada masalah sampai mereka bertemu makhluk itu.

Makhluk berwarna ungu, kecil, berbentuk kantung, dengan tentakel cukup banyak berwarna ungu juga—Venus Trap. Meski ketiganya berkata seperti itu, tapi Bell yang punya informasi cukup banyak berani berkata kalau itu bukan Venus Trap.

Bell tahu benar, Venus Trap memiliki akar yang menancap di tanah sehingga membuatnya tidak bisa bergerak. Ukurannya pun seharusnya lebih besar dari luas rumah pada umumnya. Namun, yang mereka temui tingginya hanya sekitar setengah meter dengan cara berjalan yang unik. Menyeret seluruh tubuh dengan kedua tentakel. 

Venus Trap tidak seperti itu. Bahkan meski mengalami perubahan, ukuran tubuhnya yang semakin kecil membuatnya semakin tidak masuk akal.

Di atas kedua tubuh anggotanya yang sudah tidak bernyawa, makhluk kecil itu terbaring sudah mati. Bell mungkin berhasil membunuh makhluk kecil berbahaya itu, tapi hal itu dilakukan dengan mengorbankan dua orang yang tidak bersalah.

Keringat semakin membanjiri tubuhnya. Bukan karena lelah atau panas, tapi karena alasan lain. Takut. 

Takut akan ingatannya yang menghilang kembali dan menjelaskan kenapa semua itu bisa terjadi. 

Bagaimana cara dirinya bisa membunuh makhluk kecil itu? Hal inilah yang membuat dirinya takut setengah mati. Seperti biasa, saat berada di ujung tanduk Bell akan lupa dirinya.

Bell berniat meninggalkan mereka semua. Ia sudah tidak peduli lagi. Semakin lama ia berada di sana, semakin banyak hal buruk yang terjadi. Sepenuhnya, ia menyesal karena mengikuti keputusan kedua teman kelompoknya yang sudah mati. 

Akan tetapi, jika ia harus menyalahkan seseorang, Bell akan menunjuk Neil. Tidak seharusnya gadis itu meninggalkan Bell sendirian. 

Kakinya yang bergetar membuat langkah kecil. Salah satu tangan yang bersandar pada tembok membantunya tetap berdiri. Masih merasa kehabisan napas, Bell mengambil langkah pendek untuk kedua kalinya, tapi sesuatu menghentikkannya.

Kedua telinga Bell bergidik ketika mendengar, bukan hanya langkah kaki seseorang yang berat. Namun, juga sesuatu yang buruk datang dari arah belakangnya.

“Neil, kau datang di saat yang tidak tepat,” ucap Bell tanpa membalikkan tubuh. 

Sepasang langkah, bukan berdua. Apa Neil sendirian? Bell bertanya-tanya sebelum ia membalikkan badan hanya untuk melihat Neil.

“Jangan bergerak!” 

“Huh! A-apa-apaan! T-Throta dan Oddy? K-kenapa?!” Dira terkejut.

Mereka yang melihat temannya mati tentu saja akan merasa shock berat. Apalagi dalam kondisi yang sangat mengerikan. 

Ketika semuanya akan baik-baik saja setelah Neil menyelamatkan dirinya, hal ini terjadi. Ketika nyawanya selamat, seseorang yang dekat dengannya harus mati menggantikan. Sama seperti yang terjadi beberapa satu bulan lalu, ketika satu anggota timnya mati.

“B-Bell,” Dira menelan ludah berat, masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Apa yang terjadi?” Dengan suara berat, Dira yang masih digendong oleh Neil bertanya.

Neil pun menyadari, bahwa ada sesuatu di atas tubuh Throta dan Oddy yang saling berdekatan. Ia sudah pernah melawan Venus Trap satu kali. Karena itu, Neil bisa mengatakan dengan jelas bahwa Outsiders yang terbaring mati bukanlah Venus Trap, tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang belum pernah Neil lihat dan baca datanya.

Makhluk itukah yang membunuh Throta dan Oddy? Pertama kali ia melihatnya, pertanyaan itu muncul di dalam pikirannya. Namun, setelah melihat Bell, ia merasa ada yang berbeda. 

Karena itu, saat ini Neil mengarahkan pistolnya ke arah Bell dengan wajah serius. 

Throta dan Oddy tidak dibunuh oleh Outsiders, tapi dibunuh oleh Manusia. Dari mana Neil tahu? Ini mungkin hanya perasaannya saja, tapi ia tidak bisa mengabaikan hawa berat yang berada di sekelilingnya saat itu.

“Bell, apa kau membunuh Throta dan Oddy?” tanya Neil tanpa menurunkan pertahanan.

Hanya butuh kurang dari 0.5 detik bagi Neil untuk menarik pelatuk.

“Huh, N-Neil… apa yang kau katakan?” 

Dira merasa aneh pada pertanyaan Neil. Tidak mungkin Bell membunuh mereka berdua, ‘kan? Pikirnya. Dira benar-benar tak mengerti pada Neil yang berbicara seperti itu.

Sekali lagi Neil melihat kondisi tubuh Throta dan Oddy yang kedua kaki dan kedua tangannya patah. Dengan beberapa luka dalam pada dada dan bagian lainnya yang nampak parah dengan darah di seluruh tempat mewarnai tubuh mereka berdua.

Manusia? Tidak. Bukan seperti itu. 

Neil tidak tahu apa yang terjadi beberapa saat lalu, tapi seandainya Bell memang benar yang melakukannya, maka dia bukanlah manusia. Sampai ia mengetahuinya dengan pasti, Neil menahan jarinya untuk bergerak. Suasana buruk yang dirasakannya bukanlah main-main.

Mendengar pertanyaan Neil, Bell melirik sesaat. “Seandainya aku bilang bukan, apa kau akan percaya?” Dengan suara lirih, Bell menjawab. Pandangannya kembali bersembunyi dari Neil yang saat ini sedang memerhatikannya.

Suara keras terdengar. Dengan tembok di sekeliling mereka, gema yang memantul tersebar ke seluruh tempat.

“Aaaaaggh!!” Bell terjatuh. Pahanya mengeluarkan banyak darah.

“N-Neil, kau…” Dira semakin tak percaya dengan apa yang dilihatnya. 

Neil baru saja menembak pergelengan paha Bell. Selain itu, ia melakukannya tanpa merasa bersalah sedikit pun. Situasi yang tidak normal ini membuat Dira perlahan semakin gila.

Dira memalingkan pandangan. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia hanya bisa menatap kedua temannya yang tergeletak di lantai sambil menahan emosinya yang sangat berat.

“Dira, maaf. Bisa kau turun sebentar?”

Neil menunduk, menurunkan Dira dan meletakkan tubuhnya di pinggir agar bisa bersandar pada tembok.

“Apa yang ingin kau lakukan Neil?” Dira bertanya dengan wajah sedikit ketakutan. Di saat yang sama juga kesal. Entah perkataan Neil benar atau tidak, ketika ia berkata bahwa Bell lah yang membunuh mereka berdua.

“Aku tidak akan melakukan apa pun.” 

Neil segera beralih. Langkahnya perlahan mendekati Bell yang duduk di lantai sambil memegang paha dengan kedua tangannya sambil menahan rasa sakit. Itu pertama kali sebuah peluru menembus tubuhnya.

Neil masih menggenggam pistol di tangan.

“Bell mendongak, melihat Neil yang sudah berdiri di hadapannya. “Neil, kau akan membunuhku di sini?”

“Bagaimana caramu membunuh mereka berdua?”

Neil memperhatikan kedua lengan Bell yang berlumuran darah. Semuanya tidak normal jika Neil harus berkata jujur.

“Pertanyaamu lucu sekali Neil,” Bell memasang senyum kaku sambil menahan rasa perih. “Aku juga ingin tahu tentang hal itu.”

Tidak ada harapan. 

Neil menarik kerah Bell dengan kuat, mengangkatnya ke atas. “Huh…?” Kemudian, dengan satu pukulan keras pada perutnya menggunakan lutut, sudah cukup untuk membuat Bell kehilangan kesadaran.

Neil menghela napas panjang. 

Ia punya kesempatan untuk membunuh Bell di tempat itu saat ini juga. Namun, jika ia melakukannya semua masalah akan semakin rumit jadinya. Membiarkannya hidup pun bukan suatu pilihan yang baik bagi mereka berdua, karena Neil sudah kerepotan harus membawa Dira yang tidak bisa berjalan. Pilihan yang tersisa hanyalah ini.

Karena suatu alasan, ingatan masa lalunya kembali. Meski hanya sekilas, rasanya sampai membuat detak jantung naik tak beraturan.

Neil menggigit bibir, merasa kesal.

“Neil, apa yang harus kita lakukan?” 

Meski satu kakinya patah, Dira berhasil bangkit dengan bantuan tembok untuk bersandar. 

“Maaf, Dira! Salahku sampai hal ini bisa terjadi.” Neil memunggungi Dira, menyembunyikan ekspresinya.

“Kau memang memiliki tanggung jawab di sini, tapi ini bukan salahmu!”  

“Hmm…” 

Meski sebenarnya Neil tidak merasa bersalah sedikit pun, mengucapkan maaf adalah kewajiban. Karena itu, ia tidak menunjukkan ekspresinya pada Dira. 

“Aku tidak bisa meninggalkan Bell sendirian di sini. Jadi, kita akan membawanya. Setelah sampai keluar, aku akan menghubungi kelompok lain agar kita bisa membawa tubuh mereka berdua ke permukaan. Kau tidak masalah, ‘kan?” Neil bertanya dengan nada datar.

Dira yang merasa tak punya pilihan lain hanya bisa mengangguk pelan.

Kali ini, Neil memberi pundak pada Dira untuk membantunya berjalan. Di sisi lain, Neil juga menggunakan tangannya untuk menyeret Bell. Meski merasa tak nyaman, Neil juga tak punya pilihan lain.

“Neil, kau benar-benar kuat, ya?” Dira sekali lagi memujinya, tapi dengan suara yang jauh lebih lemah.

“Berhentilah bicara seperti itu!” Neil diam, kemudian membuka mulutnya kembali. “Terutama saat situasinya seperti ini.”

Pujian seperti itu tidak akan membuat seseorang maju, menurut Neil. 

“Aku bertanya-tanya, apa yang akan terjadi seandainya kau tidak menyelamatkanku?”

Jawabannya mudah. 

Kemungkinan besar, tidak ada seorang pun yang akan selamat dengan kondisi Bell yang seperti itu. Tentu saja itu hanya dugaan Neil saja. Kemungkinan lain yang ia pikirkan adalah, satu-satunya yang selamat hanyalah dirinya saja setelah membunuh Bell.

Neil membungkam mulutnya, tidak ingin menjawab pertanyaan Dira.

Jawaban Bell yang mengatakan bahwa dirinya tidak tahu menahu membuat Neil sedikit takut. Memutuskan untuk menembak paha daripada jantungnya. Neil merasa sedikit naïf pada dirinya, tapi apa boleh buat.

Dalam perjalanan kembali, beberapa Shadow menghalangi mereka. Namun, bagi Neil yang sudah sangat berpengalaman, tidak mengalami sedikit pun masalah. Bahkan jika ia harus menggunakan pisau karena pistolnya kehabisan peluru.

Beruntung Bell tidak sadarkan diri dalam perjalanan. Seandainya sampai hal itu terjadi, Neil berpikir untuk mematahkan salah satu kakinya agar ia tidak bisa berjalan. Ini menjelaskan seberapa takut Neil terhadap kondisi Bell.

Perjalanan mereka tidak jauh karena sejak awal, sebelum Dira ditarik oleh Venus Trap mereka sedang berjalan kembali.

Mereka berdua berada di terowongan di tempat rel kereta. Selama beberapa jam mereka pergi, tidak ada yang berubah sedikit pun.

Neil meletakkan Bell dan Dira di lantai, membiarkan mereka berdua beristirahat. 

Agar tidak ada Shadow yang masuk ke dalam, Neil menutup pintunya dengan rapat.

“Uggh, Neil… kami membukanya berempat, kenapa kau bisa menutupnya sendirian?” 

“Huh…? Ah, benar juga, ya!” Neil teringat.  

Dira memberi tatapan aneh dengan senyum paksa pada Neil. Ini sudah bukan kuat lagi namanya. Sebenarnya, Neil itu benar-benar wanita, ‘kan? Dira merasa ragu.

Neil mengulurkan tangan. 

“Aku rasa sudah cukup.” Dira menolak. “Bukankah tempat ini sudah aman? Seharusnya di luar ada Agen Khusus yang berjaga, kan? Akan lebih mudah jika kau pergi sendirian, Neil!”

Neil menolak tolakan Dira dengan memaksa menarik tangannya. 

“Huh? Apa yang kau lakukan, Neil?” 

“Meninggalkanmu bersama Bell akan sangat berbahaya untuk saat ini. Jika kau ikut mati, apa gunanya aku repot-repot berenang mengejarmu dan menggendongmu sampai sini!”

Dira yang merasa sudah terkena serangan mental dan fisik, menyerah, dan mengikuti kemauan Neil. Mereka berdua pergi meninggalkan Bell yang masih tidak sadar sendirian. Perkataan Dira tentang mencapai tempat aman tidaklah salah. Karena itu, Neil bisa meninggalkan Bell sendirian tanpa perlu khawatir.

Saat mereka berdua berhasil keluar, kondisi langit sudah gelap. Dengan kondisi bangungan yang sudah rusak, sangat sedikit jumlah cahaya untuk menerangi sekitarnya.

Setelah mendapat pertolongan pertama, Dira dibawa kembali ke pusat kota untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut. 

Neil yang masih belum bisa pergi memutuskan untuk tetap tinggal dan membantu. Tidak biasanya ia pulang terlambat sampai selarut ini. Karena sempat masuk ke dalam air, ponsel miliknya rusak. Satu-satunya yang ia khawatirkan dari hal itu adalah spam pesan milik Navi.

Di sisi lain, saat pengecekan Bell dinyatakan menghilang entah ke mana. Neil yang sudah lelah tak punya tenaga lebih untuk memikirkannya. 

Tepat di stasiun bawah tanah, Neil duduk pada sebuah kursi panjang yang masih kuat, walaupun sedikit berdebu. Kondisi cahaya yang terbatas membuatnya sedikit kesulitan untuk melihat. Rasa kantuk bisa tertahan karena perutnya yang masih kosong.

Seorang pria yang merupakan Agen Khusus menghampiri Neil.

“Neil, Arbi berbicara denganmu.” Pria itu menyerahkan ponsel pada Neil. 

Neil menerima tanpa bertanya. Pria itu pergi meninggalkan Neil.

“Arbi!” ucap Neil menjaga nada bicara agar tidak terdengar seperti orang yang sedang kelelahan. “Ada banyak hal yang harus kau jelaskan!” 

“Bukan berarti aku tidak ingin memberitahumu, tapi informasi yang kupunya pun terbatas. Maaf, membuatmu terlibat dalam kondisi seperti ini.”

Dilihat dari jawaban Arbi, Neil merasa kalau orang yang sedang berbicara dengannya saat ini tahu hal ini akan terjadi. Memikirkan itu hanya bisa membuat Neil semakin emosi.

“Orang itu membunuh dua orang tanpa menggunakan senjata! Jangan menyuruhku untuk menjaga monster seperti itu!” Neil sedikit berteriak.

“Neil, apa kau melihatnya secara langsung saat hal itu terjadi?” 

“Huh…?”Pertanyaan Arbi membuat Neil tak mengerti.

“Alasan kenapa Bell bisa melakukan itu hanya karena kau tidak mengawasinya. Apa aku benar, Neil?”

Neil bangkit dari kursi, berjalan ke depan beberapa langkah. Genggamannya semakin kuat sampai-sampai ia mungkin menghancurkan ponsel yang sedang ia pegang.

“Arbi, kau bercanda, ‘kan?” Neil memasang ekspresi tajam. “Kenapa aku?” 

Entah kenapa, Neil bisa menebak jawaban Arbi berikutnya. Sebisa mungkin, ia menahan diri untuk membanting ponselnya ke lantai.

“Bukankah kalian berdua mirip?” Dengan suara datar, Arbi berbicara. Karena Neil berada di bawah tanah, beberapa kali juga suaranya terdengar tak jelas.

“Jangan samakan aku dengan Bell!” ucap Neil tegas. “Aku tidak melihatnya secara langsung? Coba katakan itu pada dirimu sendiri! Dia kabur setelah membunuh dua orang.”

Terdengar dengan jelas bahwa Arbi menghela napas dari dalam ponsel.

“Yah, sudah cukup membahas Bell untuk saat ini. Sebenarnya, aku menghubungimu dengan alasan lain saat ini.”  

“Huh…?” Neil mencoba menangkan diri. “Ada apa lagi?”

“Maaf, tapi satu lagi kabar buruk untukmu.”

Neil menghela napas panjang. “Nada bicaramu membuatku kesal. Katakan saja!”

“Timmu mendapat perintah untuk menjalakan misi dua hari dari sekarang. Selain itu, misinya berada di luar negeri.”

“Haah,” Neil berjalan kembali dan duduk di tempatnya semula. “Bukankah ini sedikit berlebihan? Beberapa hari lalu, kami baru menyelesaikan misi Rank A. Ini masih terlalu cepat.”

Sangat jarang rasanya Neil mengeluh. Namun, karena ada hubungannya dengan anggota kelompok, ia harus memikirkannya dengan baik-baik. Biasanya satu kelompok mendapatkan satu misi dalam waktu satu minggu, kecuali mereka menawarkan diri untuk melakukannya sendiri.

Mengetahui hal ini, akan lebih aneh jika Neil terus diam.

“Kali ini kalian tidak akan melakukannya sendirian. Akan ada kelompok lain yang menemani kalian, jadi kurasa tidak perlu terlalu khawatir.”

“Saat kau mengatakan itu, aku jadi semakin khawatir.” 

Dengan rasa lelah seperti ini, begitu juga mentalnya yang diserang terus-meneruts, ingin sekali rasanya Neil tidur di kasur yang biasa ia gunakan. Belum lagi ada Navi yang harus ia hubungi untuk menghilangkan rasa khawatir sahabatnya itu.

“Aku akan menjelaskannya besok. “

Neil yang tidak ingin merasa berdebat lebih lanjut lagi, menyerah. “Terserah kau saja!”