Episode 142 - Pertarungan Binatang Siluman



“Yang Terhormat Pu’un Dangka telah memberikan persetujuan,” ujar Cikartawana, saat mereka telah kembali di pemukiman Lingkar Dangka. 

Gadis itu lalu menjelaskan bahwa mereka terpaksa bertarung melawan pasukan dari Lingkar Tangtu. Karena Linkar Tangtu menutup diri dan tak sudi bertemu muka, maka pertarungan hendaknya dilakukan antar binatang siluman.  

“Binatang siluman...?” Lampir Marapi terlihat sedikit lesu. Ia jelas tak memiliki keterampilan khusus pawang, apalagi pengalaman bertarung memanfaatkan binatang siluman. Kemampuan bertarungnya yang sudah ala kadar, semakin terbatas adanya. 

“Apakah kami harus menangkap dan menyegel binatang siluman?” Bintang Tenggara cukup berpengalaman dengan binatang siluman, bahkan ia pernah memiliki sejumlah ternak. Sungguh sebuah pencapaian yang dapat diunggulkan. 

“Urang Rawayan tak mengenal Kartu Satwa. Teknik itu merendahkan martabat binatang siluman. Binatang siluman bukanlah binatang perliharaan yang dapat disegel sesuka hati. Mereka layaknya sahabat sehidup semati.”

“Apakah Adik Cika hendak mengajarkan teknik Pumpun Mustika?” ujar Sangara Santang. 

“Hm...?” Raut wajah Lintang Tenggara sedikit berubah. Bila dapat memahami prinsip dasar dari Pumpun Mustika, bukankah berarti dapat memanfaatkan mustika tenaga dalam binatang siluman. Dengan kata lain, sebuah kesempatan untuk mencari jalan memutar dalam penelitian terkait Segel Mustika. Sebagai catatan, Segel Mustika yang sempat melemah, kini sudah kembali seperti sedia kala. Ayahanda Balaputera dipastikan dalam keadaan sehat sentausa. 

“Iya dan tidak,” jawab Cikartawana. “Perhatikan ini…” 

Gadis itu lalu menunjukkan seutas kalung berwarna hitam yang menggantung di lehernya. Liontin kain pada kalung tersebut terlihat seperti azimat, yang biasa dipakai untuk menolak kekuatan jahat. Akan tetapi, sesungguhnya itu adalah petanda ikatan dengan binatang siluman Badak Bercula Tiga yang bernama Bacuga. 

Kemampuan memumpun, atau menggabungkan, mustika tenaga dalam manusia dengan binatang siluman dicapai setelah menjalani upacara khusus nan sakral. Tradisi penggabungan mustika tenaga dalam dengan binatang siluman, yang dikenal sebagai Pumpun Mustika, hanya dapat dilakukan oleh Urang Rawayan. Teknik ini memiliki sejarah panjang di dalam suku. 

“Pu’un Dangka telah menyiapkan empat pasang Jimat Pumpun ini untuk kalian. Ini adalah jalan pintas sehingga kalian tak perlu menjalani upacara adat,” lanjut Cikartawana. Ia kemudian menyerahkan setiap pasang kepada keempat ahli dari dunia luar. 

“Kalian memiliki tiga hari untuk mencari binatang siluman Kasta Perak. Setelah itu, bila binatang siluman yang kalian temukan menyetujui, kalungkan Jimat Pumpun. Untuk sementara waktu, nantinya kalian dapat mengerahkan jurus dasar dari Pumpun Mustika.”

“Apakah ada petunjuk lain…?” ujar Sangara Santang.

“Saranku, berpencarlah agar lebih mudah bagi kalian mengenal binatang siluman.”

“Adik Cika, bagaimana caranya agar kami tahu bahwa seekor binatang siluman menyetujui dan bersedia dikalungi…?” Bahkan Lintang Tenggara yang mengetahui banyak hal, terlihat sedikit kebingungan. 

“Kalian akan tahu…,” jawab Cikartawana singkat. “Pergilah.”

….


Bintang Tenggara mulai menjelajah hutan seorang diri. Ia mengingat Kartu Satwa Siamang Semenanjung yang didapat dari seorang pawang bodoh. Kartu tersebut saat ini telah diberikan, dan berada di tangan Kuau Kakimerah. Karena telah terbiasa dengan Siamang Semenanjung, Bintang Tenggara berniat mencari jejak Babun Rambut Hutan yang sempat terlihat di saat mereka pertama bertemu Cikartawana. 

Dalam penelusurannya, Bintang Tenggara juga sempat terpikir akan Babi Taring Hutan. Ia cukup mengenal karakter binatang siluman yang senang berlari berjingkat, keras kepala, dan yang gampang naik darah itu. Terlepas dari sifatnya, Babi Taring Hutan secara umum bukanlah binatang siluman yang buas… asal tak diganggu.

Terlintas pula di dalam benak Bintang Tenggara akan Harimau Jumawa. Mungkinkah Harimau Jumawa memiliki kepribadian yang lebih baik dibandingkan Harimau Bara? Kartu Satwa Harimau Bara saat ini berada di tangan Panglima Segantang. Beruntung pula bahwa diketahui Harimau Bara berasal dari Pulau Barisan Barat, sehingga tak mungkin berpapasan di dalam wilayah Alas Roban. Harimau Bara terlalu liar!

Raut wajah Bintang Tenggara tetiba berubah pilu. Ia mengingat teman. Adalah seekor Ayam Jengger Merah yang merupakan teman saat terkurung di dalam dimensi ruang dan waktu milik Dewi Anjani. Ayam Jengger Merah itu menghembuskan napas terakhir, di atas pangkuannya. 

“Hm…?” Jalinan mata hati Bintang Tenggara merasakan seolah ada yang sesuatu mengawasi. Namun, tak terlihat dimana letak sesuatu itu. 

“Srek!” 

Sesuatu bergerak menjauh. Cepat sekali. Bintang Tenggara tak ambil pusing. Kemungkinan seekor binatang siluman atau sekawanan monyet. Ia pun meneruskan langkah. 

“Srek!” 

Tak diragukan lagi… seekor binatang siluman! Samar ia merasakan aura Kasta Perak. Setelah pergi menjauh, binatang siluman itu kembali lagi. Seperti sangat penasaran ia akan kehadiran seorang anak remaja. 


Tiga hari berlalu cepat. 

Bintang Tenggara melangkah masuk ke wilayah pemukiman Lingkar Dangka. Di tempat berkumpul yang telah ditentukan, yaitu di sisi luar pemukiman, ia mendapati Lintang Tenggara, Sangara Santang dan Lampir Marapi telah menanti. Dirinya adalah yang terakhir kembali. 

Setelah bertegur sapa, dengan Sangara Santang dan Lampir Marapi, diketahui bahwa hanya diperlukan waktu sehari semalam bagi Sangara Santang dan Lintang Tenggara untuk kembali dengan binatang siluman Kasta Perak. Sungguh usia dan pengalaman tak bohong. 

Lampir Marapi pun beruntung. Pada hari kedua, gadis anggun itu tersesat dan tanpa dinyana langsung menemukan binatang siluman yang sepadan di dekat sebuah danau. 

“Bacuga!” panggil Cikartawana. 

Seekor Badak Bercula Tiga lalu datang menyeruduk, membawa bersamanya tanah yang bergetar. Meski Bacuga masih muda belia, perlu diketahui bahwa binatang siluman Badak Bercula Tiga sesungguhnya merupakan binatang siluman digdaya dari wilayah ujung barat daya Pulau Jumawa Selatan. Binatang siluman ini ikut hijrah ke Alas Roban bersama Lingkar Urang Rawangan hampir lima ratus tahun silam. Keperkasaannya leluhurnya setara dengan kemasyhuran komodo dari wilayah tenggara, gajah dari Pulau Barisan Barat, orang utan dari Pulau Belantara Pusat, babirusa dari Pulau Logam Utara, serta cenderawasih dari Pulau Mutiara Timur.

“Ganesh, datanglah wahai sahabat!” seru Lintang Tenggara. Ia kemudian terlihat menghentakkan kaki ke tanah. 

Tanah bergetar demikian berat, ketika seekor gajah raksasa berwarna abu-abu tua meluluh-lantakkan semak belukar. Bahkan, pepohonan nan besar-besar dipaksa menyingkir untuk membuka jalan. Belalainya kokoh sekaligus lentur. Akan tetapi, yang paling menarik perhatian adalah sepasang gading berwarna hitam mengkilap. Gading-gading tersebut seolah terbuat dari besi baja yang mencuat melengkung panjang dan perkasa. Gajah yang tingginya lebih dari dua kali tubuh orang dewasa, lalu berdiri megah penuh percaya diri di sisi Lintang Tenggara.

“Gajah Gading Baja,” ujar Cikartawana tak menyembunyikan keheranannya. 

“Kami saling berbagi pengetahuan dan menjadi cepat akrab,” ujar Lintang Tenggara ringan, seolah pencapaian yang ia raih merupakan sesuatu yang memang sepantasnya terjadi. 

“Demi mengelabui lawan... Jenggot!” panggil Sangara Santang sambil mengelus-elus dagu, padahal ia tidak berjanggut. 

Dedahan pepohonan bergerak lembut, halus ibarat diterpa angin sepoi-sepoi. Tak lama, dari dedaunan berkelebat sesosok bayangan besar dengan rambut-rambut panjang selembut sutra. Rambut-rambut tersebut berubah warna dari yang tadinya berwarna hijau daun, menjadi cokelat tanah. Sang rubah besar tersebut lalu duduk meliuk di dekat paha Sangara Santang. 

“Rubah Berjanggut...?” Cikartawana sama herannya. Bahkan di kalangan Urang Rawayan, sangat jarang mereka bertemu binatang siluman rubah, yang diketahui memiliki kemampuan kamuflase setingkat di atas bunglon, dan kelicikan setara dengan manusia. 

“Kami saling menemukan... lalu saling... ehem... membantu,” ujar Sangara Santang tak hendak kalah. Tangannya mengelus-elus ringan rambut rubah. Seperti sudah berjodoh saja ia dengan binatang siluman itu. Oh... kemungkinan besar kata ‘membantu’ seharusnya dibaca ‘mengibuli’....

Lampir Marapi mendongak, lalu bersiul. Tak lama, terdengar pekik nyaring tinggi di udara. Sesuatu berwarna putih bersih berkelebat dan mendarat tepat di samping tubuh gadis belia itu. Pembawaannya binatang siluman itu sungguh anggun mempesona. 

“Angsa Puti Suci... dari Telaga Suci...?” gumam Cikartawana. Keanggunan binatang siluman sakral tersebut, seolah menyirap setiap pandang mata. *

“Perkenalkan, namanya adalah... Anggun,” ujar Lampir Marapi riang. Manusia dan binatang siluman itu sama-sama menyibak keanggunan tiada tara.  

Sangara Santang dan Lintang Tenggara melongo. Sepertinya mereka berdua sedang menggumamkan huruf ‘O” yang demikian panjang tanpa bersuara. Ooooooooo... 

Tanpa perlu pikir panjang, Bintang Tenggara melihat kecocokan tiada banding antara manusia dengan binatang siluman. 

Lintang Tenggara dan Gajah Gading Baja mencerminkan pengetahuan dan kekuatan... atau dengan kata lain, pengetahuan adalah kekuatan. Sebagai Titisan Ganesha menurut Prasasti Budi Ardha di Perguruan Gunung Agung, tak susah menyimpulkan bahwa memang binatang siluman tersebut cocok baginya. Namun, entah mengapa, senyuman Lintang Tenggara terlihat sungguh memuakkan. 

Sangara Santang dan Rubah Berjanggut mengisyaratkan tipu muslihat nan licik. Apakah perilaku yang sedemikian adalah prasyarat sebagai Anggota Pasukan Telik Sandi? Siapakah penggagas pasukan penuh tipu muslihat? Bintang Tenggara tak merasa bangga ketika dianggap sebagai salah satu anggota pasukan itu...

Lampir Marapi dan Angsa Puti Suci sama-sama menyibak keanggunan. Sungguh kesesuaian yang tak dapat ditampik. Meski demikian, angsa itu tak terlihat memiliki kemampuan bertempur. Entahlah... Bintang Tenggara tak hendak terlalu cepat mengambil kesimpulan. 

Lalu, bagaimana dengan binatang siluman yang akan bersanding dengan dirinya...?

“Swush!” 

Sesuatu setinggi paha berguling cepat membelah semak belukar, akar pepohonan yang mencuat besar, bahkan bebatuan! ‘Membelah’ dalam hal ini, adalah membelah dalam arti yang sesungguhnya. Ibarat roda pedati yang dirancang khusus, sesuatu itu berputar dan berguling di atas tanah sehingga meninggalkan guratan yang begitu rapi. Apa pun yang berada di dalam jalur lintasannya, terbelah putus tanpa terkecuali! 

Binatang siluman itu lalu mengelilingi tubuh Bintang Tenggara guna mengurangi kecepatan berguling, sebelum akhirnya berhenti tepat di samping. Ia lalu membuka diri dan merayap perlahan. Moncongnya panjang seperti tikus, tapi tak memiliki gigi. Dari atas hidung, lalu sekujur punggung sampai ekornya, berbalut sisik-sisik nan tajam. 

Kendatipun demikian, binatang siluman tersebut terlihat seolah menggigil ketakutan. Ia berdiri menempel dan bersembunyi di balik paha Bintang Tenggara. 

“Trenggiling Pusaran Kilat...,” gumam Cikartawana. Ia mengetahui bahwa binatang siluman ini dikenal memiliki sifat pemalu dan penyendiri. Meringkuk, lalu menggelinding, adalah caranya untuk menutup diri dan menghindar dari makhluk lain. 

“Hahaha... sungguh binatang siluman yang menyedihkan.” Lintang Tenggara tak dapat menahan diri. “Setelah bertemu denganmu, siapakah namanya? Apakah Nasib Malang...?”

“Perkenalkan...,” sahut Bintang Tenggara mengabaikan cemooh. “Teman nan imut ini bernama... Lintang.... Lintang Trenggiling.”

“Apa katamu!?” 

....


Dua pekan berlalu cepat. Pagi yang tak dinanti pun tiba. Lima ahli telah tiba di tempat yang telah ditentukan, yaitu sebuah padang rumput terbuka dan dikelingingi oleh pohon besar-besar. Semilir angin berhembus ringan, membelai rerumputan dan kulit. Aroma menyegarkan khas hutan sungguh menenangkan jiwa.

Cikartawana melangkah paling depan. Bacuga si Badak Bercula Tiga terlihat perkasa melangkah beriringan. Dari bentuk tubuhnya yang kokoh, siapa pun akan berpikir dua kali, bahkan tiga kali, agar tak menyinggung perasaan binatang siluman itu. Cikartawana dan Bacuga akan turun dalam pertarungan pembuka! Langkah ini perlu ia lakukan sebagai upaya dalam menunjukkan keteguhan hati. 

Lintang Tenggara sudah bersiaga bersama Ganesh si Gajah Gading Baja. Jenggot si Rubah Berjanggut tak terlihat dalam cakupan panca indera maupun pantauan mata hati, padahal diketahui bahwa ia berada tepat di samping Sangara Santang dalam kamuflase. Anggun si Angsa Puti Suci terbang mengitar tinggi, keanggunan menyibak di udara dan keanggunan melangkah di atas tanah. 

Akan tetapi, Bintang Tenggara hanya melangkah seorang diri. Tak terlihat ‘Trengginas’ di dekatnya.** Ya, nama sebenarnya dari si Trenggiling Pusaran Kilat adalah Trengginas. Penamaan ‘Lintang Trenggiling’ adalah untuk membuat sebal Lintang Tenggara saja. Sempat berhasil pula. 

Tak lama, dari balik hutan di seberang padang rumput, lima sosok melangkah perkasa! Adalah Harimau Jumawa, Gajah Gading Baja, Babun Rambut Hutan, Ular Sanca Terbang, serta Kalajengking Peluruh. 

Bintang Tenggara bergidik di saat menyaksikan Kalajengking Peluruh. Ia sudah dapat membayangkan skenario yang akan bergulir.... Merinding sekali dibuatnya. 

Sesuai perkiraan, maka:

Harimau Jumawa >< Badak Bercula Tiga

Gajah Gading Baja >< Gajah Gading Baja

Babun Rambut Hutan >< Rubah Berjanggut

Ular Sanca Terbang >< Angsa Puti Suci

Kalajengking Peluruh >< Trenggiling Pusaran Kilat

Mengapa aku harus berhadapan dengan serangga? rintih Bintang Tenggara dalam hati. Apakah mereka telah mengetahui bahwa diriku sangat tak kuasa berurusan dengan bangsa serangga. Sejenak, ia mengingat wajah sosok menyebalkan bernama... Kum Kecho.


===


“Tuan Guru...?” panggil Dahlia Tembang. 

“Tuan Guru!” seru Melati Dara. 

Kum Kecho tersadar dan kembali dari alam lamunan. Ia segera mempercepat langkah ke arah timur. Ketiga sosok berjubah hitam terlihat sedang terburu. 

“Tuan Guru... Baru saja kita tiba di Kota Ahli. Mengapa kita bergegas meninggalkan kota itu...?” tanya Melati Dara. 

Dahlia Tembang, di sisi lain, sedikit lega karena ia memang tak merasa nyaman berada di Kota Ahli. Terlalu banyak kenangan di kota tersebut. Masih tak kuasa ia mengenang kekasih hati yang telah mati. 

Sebagai pengingat, Dahlia Tembang masih tercatat sebagai Murid Utama di Perguruan Maha Patih, walau dengan status ‘menghilang’. Di perguruan tersohor itu, ia bahkan merupakan salah satu anak didik dari Sesepuh Ke-15. 

Dahlia Tembang tak ingin hidup di masa lalu. Kebejatan Sesepuh Ke-15 Kertawarma dalam memanfaatkan anak-anak didik untuk ambisi pribadi pun ingin ia lupakan. Dalam kaitan itu, ia sadari pula bahwa bilamana dirinya berpapasan dengan Sesepuh Ke-15, maka pastilah berbuah petaka. Sesepuh Ke-15 pasti ingin menghapus jejak saksi hidup yang mengetahui tentang kebangkitan Hang Jebat. 

Kum Kecho mempercepat langkah. Awalnya, ia kembali ke Kota Ahli dengan tujuan utama menelusuri jejak Hang Jebat. Kepada mantan Jenderal Pasukan Bhayangkara itu, ada yang hendak ditanyakan dan dipastikan. Selain itu, ia berharap dapat menjalin kesepakatan dengan Hang Jebat. Bukan tak mungkin baginya membuka jati diri dan membuat kesepakatan dengan si Raja Angkara Durhaka untuk membantu mencapai tujuan. 

Akan tetapi, segera setelah memasuki Kota Ahli, tetiba ia mendapati sesuatu yang sangat mengganjal di hati. Oleh karena itu pula, Kum Kecho pun bergegas pergi. Ke wilayah timur Pulau Jumawa Selatan adalah tujuan mereka. 



Catatan:

*) puti/pu·tiMk ark n panggilan kepada wanita keturunan raja-raja; putri

**) trengginas/treng·gi·nasJw a lincah dan terampil; tangkas