Episode 30 - Orang Gila dari Neraka



Menang, sebuah kata mulia yang didambakan setiap insan. Tidak peduli jahat ataupun santun, pada akhirnya akan sama-sama mencari kemenangan. Namun, bagaimana caranya menggapai kata menang tanpa usaha? Tidak! Arya sudah berusaha sebegitu keras, meski terus-terusan gagal dan dibuat kecewa. 

BUM!

“Seandainya guardianku bisa terbang, aku pasti akan melakukannya sendiri.” Ruhai mencalang di antara sesemakan. “Meriam itu tampaknya hanya mampu menembak lurus.”

“Ma-maafkan aku,” lirih Arya. Giginya bergemertak menahan jengkel, terhadap diri sendiri tentunya. “Sebagai anak didik Jackal, seharusnya aku sanggup berbuat banyak.”

“Tidak masalah. Kau cuma gugup.” Seolah paham bahasa hati rekannya, Ruhai dengan santai menyunggingkan senyum. “Aku akan berusaha memancingnya turun.”

Lelaki bertelanjang dada itu bergegas menerobos semak belukar, lalu berlari menyeberangi pilar hitam. Tanpa ampun, bola-bola api terlontar bergiliran, menghantam tanah amat keras. Nyaris saja, dua-tiga kali bahu Ruhai tergores kerikil panas, kendati dia bersikeras mengelilingi menara tim musuh.

“Ayolah!” raungnya seraya beralih ke sisi belakang meriam. Sementara itu, Natasha mengamati lawannya lamat-lamat. “BAHUTAI!”

Seruan serak bergaung, menggetarkan hati siapa pun kala itu. Arya terbeliak, walau tidak tahu apa musababnya. Pun demikian, Natasha tiba-tiba tersungkur dan melupakan targetnya. Meriam otomatis masih berdentang, begitu juga bola api yang kerap kali menggilas lumpur kekuningan.

“Bantu aku!” Secepat kilat, Ruhai melempar Mandau besarnya ke atas. Kemilau putih berpendar, mengusir segala macam kegelapan yang besarang. Sedikit demi sedikit, corak kuning-biru di Mandau tersebut memudar, hingga menjelma sebagai logam cair.

“Apa-apaan orang itu?” ketus Natasya seraya membenarkan kacamata hitamnya.

Menyerupai cairan kelabu, Bahutai menggeliat lincah mendekati Sang tuan. Tatkala menyentuh kakinya, lelaki berambut jabrik itu sontak mengusapnya sembari berkecumik pelan. Seruan serak lagi-lagi menggema, dan kali ini Natasnya sudah cukup berani untuk menegakkan badan.

“Kau tidak bisa menggertakku,” ujarnya sok kuat. 

“Aku bukan cuma menggertak.” Ruhai menyahut. “Ini bentuk perlawanan mutlak.”

Sedetik berlalu, Bahutai seketika mendidih. Seiring gelembung panas yang melepuh di hadapan Ruhai, cairan tersebut mulai merangkak ke atas, saling membelit, lalu bersinergi menciptakan wujud baru. Awalnya empat kaki berdengkul besar, disusul badan sepanjang dua meter, hingga berakhir pada seonggok kepala bertelinga lancip.

“Akan kutunjukkan seberapa besar perbedaan guardian kita!”

Bahutai melolong sumbang sesaat bulu putih menyelimuti sekujur tubuhnya. Kini, rampunglah wujud monster tersebut. Dia seekor serigala, serigala yang terbilang raksasa. Dengan moncong bergerigi, wajar saja mata merahnya menambah kesan menyeramkan. Pun ekor melengkung itu, terlihat indah tetapi mematikan.

“Weapon yang berubah menjadi guardian?!” Arya terperangah. “Dia benar-benar hebat.”

“Lucid dreamer macam apa kau ini?” Keheranan yang sama menghampiri Natasya. “Punya kemampuan mengatur atribut tanpa membuang lucidity, harus kuakui kau hebat.”

“Aku anak didik duta Pandora kedelapan, Owl. Ingatlah itu baik-baik!””

“Tentu, tentu akan kuingat,” tukas gadis itu seraya mengusap rambut bersemir hijaunya. “Tapi, setelah kau mengalahkanku! Yelena, SERANG!” 

Meriam otomatis yang sempat terdiam, kembali mengamuk di tengah arena. Puluhan bola api berguguran, membakar rerumputan yang menjalar hingga ke tengah jalur. Namun, Bahutai sangatlah gesit. Dia memelesat ke sudut yang kesukaran dijangkau Yelena. Di sisi lain, Ruhai bergerak ke tempat semula, yakni di samping Arya.

“Itu akan mengulur waktu,” ungkapnya. “Sekarang, kita pikirkan cara untuk memanggil guardianmu.”

“Eh! A-apa? Tu-tunggu du—“

“Tidak ada waktu lagi, Arya!” tandas Ruhai. “Kau musti menyesuaikan diri dengan predikatmu sebagai anak didik duta Pandora nomor satu.”

Itu benar! Sangat benar, bahkan. Psikis Arya serasa terupukul. Bukan karena fakta bahwa dirinya lemah, melainkan rasa malunya terhadap kepercayaan Jackal. Mengingat Ruhai yang anak didik Pandora paling buncit saja sudah sehebat itu, artinya Arya harus lebih dan lebih lagi.

“Tapi bagaimana?”

“Tenang. Bayangkan bentuk guardianmu dari awal!”

BUM!

Bahutai berlari mengililingi pilar, sehingga tembakan Yelena terpaksa mengikuti pola gerakannya. Manakala meriam otomatis itu tiba di ujung porosnya, maka di saat itulah Bahutai mengantuk dinding pilar sesingkat mungkin, sebab Natasnya bergegas merubah arah tembak meriamnya.

“Menyulitkan sekali!” 

Yelena memuntah peluru berapinya, bersambung lompatan tinggi dari Bahutan. Sekali lagi, meriam itu gagal mengenai target. Sebaliknya, Si serigala putih bersicepat menggiring kaki-kakinya menuju sisi yang sukar dijangkau musuh.

“Takkan kubiarkan!” Natasya tiba-tiba melempar granat toska ke atas. Bukannya meledak, benda tersebut justru melontarkan ratusan jarum sepanjang ranting akasia. “Habis kau!”

Benar saja! Bahutai yang terlalu yakin atas aksinya, sontak dihadapkan pada agresi benda tajam. Monster itu mendadak putar jalur, tetapi terlambat manakala sebilah jarum menghunus paha belakangnya. Ringis garau pecah, disusul dua-tiga jarum yang ikut-ikutan menombak perut kiri.

“Tamat sudah!” Natasya terkikik bengis.

Bahutai kian lunglai akibat jarum besar yang menghunus tiap anggota geraknya. Kini, makhluk tersebut tidak lebih dari seekor hewan buruan yang siap dieksekusi. Yelena, meriam otomatis milik Natasya mengubah porosnya ke arah target. Skak mat, demikianlah kondisi anggota asrama siang di tengah keperkasaan gadis Rusia berkostum tentara.

“Enyahlah!” Ruhai ke luar dari persembunyian, terus berlari melintasi guardiannya. “Bahutai, mandau!” Sejurus teriakannya, raga Bahutai sontak menjelma menjadi mandau besar bercorak kuning-biru. Jarum-jarum Natasnya pun berkelontangan ke tanah.

“Kurang ajar!” pekiknya jengkel. “Yelena! Habisi mereka!”

“Ayo, Arya!”

“Siap!”

SWUSH!

Desau angin menggoyahkan kaki Natasya, nyaris saja dia terpelanting ke bawah. Serangan yang sungguh cepat, sampai-sampai bola api Yelena lenyap begitu saja. Si gadis Rusia menengadah, coba mengungkap sosok yang bergerak melebihi angin. Namun, hasilnya nihil.

“Jadi ini kemampuan guardian Arya,” gumam Ruhai seraya menilik ke angkasa. “Terbang melebihi kecepatan angin, meski dengan badan yang tergolong raksasa.”

BRAK!

Natasya berteriak histeris, seiring patahnya poros Yelena. Meriam tersebut gugur ke bawah, menyisakan pemiliknya yang bersikeras bertahan di tengah teror burung raksasa. Baru melancarkan serangan besar, Garuda seketika lesap. Bahkan, Sang musuh belum menyaksikan wujudnya dengan betul.

“Ayo, Bahutai!” Ruhai menyiagakan mandaunya sembari menunggu ketibaan Yelena. “Aku tidak mengerti mengapa gadis itu menamaimu seperti perempuan. Yang jelas, aku harus memenangkan timku hari ini. MAAF!” Lelaki itu sontak mengayunkan senjatanya, tepat menyabet moncong besi Yelena.

ZRASH!

Meriam itu pun akhirnya koyak, meninggalkan sejumlah kepingan besi yang perlahan jadi partikel biru. Asrama siang unggul sementara, terlebih ketika sosok Garuda kembali muncul dan menubruk sisi pilar hingga miring ke belakang.

“HUAAA!” Natasnya berpegangan di tepian pilar. “TOLONG AKU!”

“Kau pasti bisa, Arya! Akhiri babak ini dengan gemilang.” Ruhai menyeru.

Pekik elang berkumandang anggun, barangkali sebagai jawaban atas semangat Ruhai. Sesudah lenyap, Garuda akhirnya nekat menampakkan diri. Di balik kacamata gelapnya, mata Natasya terbeliak hebat. Dia tak kuasa menyembunyikan ketakutan.

Sayap-sayap Garuda mengepak megah. Tiada satu pun nista di tubuhnya, melainkan kilauan emas yang dihargai sepasang tanduk meliuk-liuk layaknya kambing perkasa. Terlebih, kesepuluh cakarnya sangatlah tajam, terbukti mampu mencabik poros Yelena yang terbuat dari besi. Seraya mendelik, paruh lancipnya mengisyaratkan kemutlakan dalam berkuasa.

Keempat sayap monster itu melebar, kemudian mengibaskan angin kencang ke arah Natasya. Saking kagumnya, gadis tersebut sampai lupa berteriak tatkala badannya menghantam tanah. Tidak terlalu sakit memang—sebab rasa sakit di dunia mimpi hanya dua persen dari rasa sakit di dunia nyata—tapi tetap saja kekalahan adalah hal yang menyakitkan.

“Menara asrama sore hampir dikalahkan!” Pemberitahuan memecah sengitnya suasana.

“Sedikit lagi!” Ruhai kegirangan. “Selesaikan, Arya!”

Kedua kaki Garuda mencengkeram pucuk pilar, sedikit demi sedikit mendorongnya supaya ambruk. Namun, nyatanya menara tersebut cukup tangguh untuk dihadapi. Mulanya terkesan rapuh, sekarang justru serasa merubuhkan pohon dengan jutaan akar.

“Menara asrama siang hampir dikalahkan!” Pemberitahuan lain datang, dan sukses membuat hati Ruhai was-was.

“Apa yang terjadi? Bukankah markas kami seharusnya aman?”

“Bantu mereka, Ruhai! Aku akan merubuhku menaranya secepat mungkin,” celetuk Arya.

“Ta-tapi—“

“Serahkan padaku! Sebagai anak didik Jackal, aku tidak pantas kalah di babak ini.” Pemuda beraut datar itu mati-matian menoreh senyum di wajahnya.

“Baiklah,” ujar Ruhai. Ujung bibirnya melengkung pasrah. “Jangan kecewakan kami.” Dia bergegas menuju markas, menyerahkan segenap harapannya kepada Arya.

Garuda masih bertanding sengit dengan pilar hitam. Bukan hanya kaki, kedua tangannya pun ikut berperan demi meruntuhkan tirani musuh. 

“Berjuanglah!” pekik Arya. “HAH?!” Badannya terkesiap, bertepatan dengan sebilah pedang yang melintang di leher.

“Jangan bergerak!”

“Siapa kau?”

“Aku sudah cukup mengerti cara bermain kalian. Sekarang, biar kuselesaikan dulu sebelum memperkenalkan diri.”

Tak disangka-sangka, lapisan hitam yang membungkus pilar tiba-tiba meluruh ke bawah. Ternyata itu bukanlah pilar hitam, melainkan pilar putih yang dibungkus oleh tipu muslihat Si orang misterius.

“A-apa?!”

Sekejap mata, cairan pembungkus pilar melejit ke atas dan melilit sayap-sayap Garuda. Sang burung mulia pun tumbang, bersama harapan Arya serta rekan-rekannya. Alih-alih menghancurkan pilar, ia malah disandera oleh orang asing yang sedari tadi memantau perkelahian mereka.

“Natasya hanya sebagai umpat, tapi mengapa kalian begitu lamban menghabisinya?”

“Siapa kau?! Jawab aku!”

“Aku bukan siapa-siapa. Hanya orang malang yang berusaha mengubah hidup.”

“Dasar licik! Kau cuma pecundang yang beraninya menyerang dari belakang.”

“Benarkah? Kuharap kau hanya bercanda,” tandasnya membuat Arya heran. “Sebelumnya, aku pernah dipanggil Orang Gila dari Neraka. Namun, belakangan aku merasa tidak cocok dipanggil demikian.”

“Apa maksudmu?”

“Mereka menyebutku gila karena mengkhianati teman, mengingkari janji, dan menipu guruku sendiri. Selain itu, aku lahir di neraka. Kau tahu? Tempat yang disebut dunia nyata.”

“Omong kosong! Aku tidak peduli gelarmu. Tempat kau lahir pun, aku sama sekali tidak ingin mendengarnya!”

“Betapa egoisnya dirimu. Bolehkah aku cerita satu hal?”

Sebelum Arya sempat menyanggah, Si orang misterius itu lebih dulu bertutur dengan segala macam nada licik. Selagi ancamannya masih berfungsi, sosok yang dipanggil Orang Gila dari Neraka ini sengaja membeberkan banyak kisah mengenai dirinya.

“Dulu ayahku ditugasi sebagai pemukul lonceng kota. Dia sangat bahagia melihat antusiasme masyarakat ketika orang-orang baru berdatangan ke kota. Dan, kami semua selalu girang bilamana gerbang besar itu dibuka. Kau tahu? Kami jarang melihatnya terbuka, hanya beberapa tahun sekali.”

“Apa-apaan—“

“HUSH! Dua tahun kemudian, ayahku meninggal. Aku tidak tahu pasti, tapi katanya dia dibunuh. Jadi, aku diminta menggantikan posisinya sebagai pemukul lonceng. Seperti biasa, kami bersuka ria ketika lonceng dipukul dan gerbang besar dibuka lebar-lebar.”

“Aku benar-benar tidak mengerti.”

“Kau akan mengerti saat kisahku berakhir.”