Episode 141 - Pumpun Mustika



“Jadi, kalian tak sengaja masuk dan terjebak di dalam Alas Roban?”

“Benar.” 

“Dusta!” 

Setelah bersusah-payah menceriterakan nasib mereka, akhirnya Sangara Santang tetap tiada berhasil meyakinkan gadis tersebut. 

“Kalian sengaja mendatangi Alas Roban untuk berburu binatang siluman!” 

Komoditas yang diperoleh dari tumbuhan dan binatang siluman bernilai jual tinggi. Kulit, tanduk, taring, jantung, hati, limpa, dan berbagai anggota tubuh luar dan organ tubuh dalam lain dari binatang siluman dicari-cari, diperdagangkan, bahkan dilelang. Oleh karena itu, berbondong-bondonglah prajurit, pesilat, pemburu dan peramu yang melakukan ekspedisi besar-besaran mendaki gunung dan menyelami lautan. Kemampuan manusia bekerjasama dalam kelompok dan menciptakan teknologi baru, dapat menjembatani jurang pemisah antara binatang siluman yang buas dan tanaman siluman yang sulit dijangkau. Pada akhirnya, kehadiran binatang siluman dan tumbuhan siluman menjadi berkah dan melahirkan peradaban baru. 

Alas Roban adalah tempat dimana tumbuhan dan binatang siluman banyak tumbuh dan berkeliaran. Oleh karena itu, kecurigaan gadis tersebut sangat berasalan. Apalagi setelah Bintang Tenggara dan Lampir Marapi menyerang seekor binatang siluman Badak Bercula Tiga tepat di hadapannya. 

“Sungguh kami tersasar,” Lampir Marapi menengahi. “Namaku Lampir Marapi. Ini adalah Kakak Sangara Sangara, Kakak Lintang Tenggara dan Kakak Gemintang Tenggara…” 

“Gemintang… Tenggara…?” Raut wajah gadis berubah tatkala mencoba mengingat-ingat. Sepertinya ia pernah mendengar akan nama tersebut.

“Heh… Gemintang bukanlah nama aslinya. Nama bocah manja tiada berguna itu adalah ‘Binturong’… Ya, Binturong Tenggara….” Lintang Tenggara terkekeh seorang diri.*

Bintang Tenggara tak hendak menanggapi. 

“Siapakah namamu…?” lanjut Lampir Marapi ke arah gadis yang berusia sepantaran itu. 

“Panggil saja aku Urang Rawayan,” jawab si gadis. Urang Rawayan sesungguhnya adalah sebutan umum di dalam suku. Hanya orang luar yang menyebut mereka sebagai suku Badui.

“Apakah adik Urang Rawayan berasal dari Lingkar Dangka?” aju Sangara Santang. 

Masyarakat suku Badui terbagi dalam tiga lingkaran, yaitu: Tangtu, Panamping dan Dangka. Linkar Tangtu adalah mereka yang paling ketat mengikuti adat dan menetap di pusat Alas Roban. Kelompok ini sangat tertutup, sehingga menolak bertemu dengan orang asing atau orang luar. Mutlak mereka menaati pikukuh. **

Lingkar Panamping cukup terbuka terhadap hal-hal tertentu yang dapat membantu kelangsungan hidup mereka, seperti perguruan atau balai pengobatan. 

Terakhir, Lingkar Dangka adalah mereka yang mendiami wilayah terluar dan paling terbuka untuk berinteraksi dengan orang asing. Biasanya, Lingkar Panamping dan Lingkar Dangka terdiri dari anggota Lingkar Tangtu yang melanggar aturan adat, hendak keluar dari kelompok, atau menikah dengan orang luar. 

Urang Rawayan tak menjawab pertanyaan Sangara Santang. Ia sepertinya sedang menimbang-nimbang apa kiranya langkah yang hendak ia ambil. Bila membiarkan pergi keempat ahli ini tanpa pengawasan, berarti membuka kesempatan bagi mereka berburu binatang siluman. 

“Kalian akan mati konyol bila berusaha melewati wilayah Panamping dan Tangtu tanpa bantuan penunjuk arah.” Gadis itu akhirnya berujar. 

Urang Rawayan lalu menepuk-nepuk tubuh Badak Bercula Tiga. Si badak mendengus tak hendak pergi. “Bacuga, pergilah. Aku baik-baik saja.” Akhirnya badak itu melangkah pergi, meski masih terlihat sedikit curiga. 

“Sudikah kiranya Adik Urang Rawayan mengantarkan kami ke pusat hutan? Dengan demikian, Adik tak perlu khawatir akan kemungkinan kami memburu binatang siluman. Adik dapat mengawasi kami,” rayu Sangara Santang. 

“Aku tak sudi. Tapi, aku akan membawa kalian bertemu dengan Pu’un Dangka.”***

“Kita dapat mencari arah tanpa bantuan…,” sela Lintang Tenggara. “Lagipula, siapa yang dapat menjamin keselamatan kita saat bertemu dengan Kepala Adat mereka…?” 

“Pu’un Dangka memiliki sahabat lama bernama… Gemintang Tenggara.” 

Lintang Tenggara memicingkan mata. Dalam benak ia mencerna. Informasi seputar Gemintang Tenggara memiliki harga yang sangat tinggi, tinggi sekali di mata Bunda Mayang. Mungkinkah Bunda Mayang tak pernah masuk ke dalam Alas Roban? Tawar-menawar untuk mencabut Segel Mustika yang membelenggu di ulu hati, mungkin saja dapat disepakati. Bunda Mayang pastinya dapat menghubungi Ayahanda Balaputera, dimana pun beliau berada. 

Peluang memperoleh informasi terkait Gemintang Tenggara, berubah menjadi urusan hidup dan mati. Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin!

“Baiklah, wahai Adik Urang Rawayan nan cantik jelita. Sudilah kiranya mengantarkan kami bersua dengan Yang Terhormat Pu’un Dangka.” Lintang Tenggara tersenyum sambil membuka jalan. Aura terpelajar kembali mengemuka.  

Sangara Santang dan Bintang Tenggara tercekat. Mereka segera menyadari perubahan atas sikap Lintang Tenggara yang demikian drastis. Keduanya kemudian saling pandang, dan berbagi kecurigaan. Di dalam benak Lintang Tenggara, siasat apakah yang marak menggeliat…?


Lintang Tenggara, Sangara Santang, Lampir Marapi dan Bintang Tenggara mengekor seorang gadis yang dipanggil sebagai Urang Rawayan. Meski demikian, keempatnya tetap siaga. Diketahui bahwa mereka akan memasuki wilayah pemukiman suku Badui. Walaupun Lingkar Dangka, yang biasa dikenal sebagai suku Badui Luar, tidak bermusuhan dengan kebanyakan ahli, kewaspadaan haruslah tetap dijaga. 

Lima ahli memasuki sebuah dusun nan asri. Telihat pondok-pondok yang berdiri kokoh dan terpisah jauh-jauh. Sejumlah perempuan di pondok-pondok sedang menenun. Sementara itu, kaum lelaki tak banyak terlihat. Kemungkinan besar mereka sedang bercocok tanam di ladang, atau berlatih bersama binatang siluman mereka. Prinsip kearifan yang dipatuhi secara turun-temurun menjadikan suku Badui tampil sebagai masyarakat yang mandiri, baik secara sosial, maupun secara ekonomi. 

“Cikartawana, siapakah mereka!? Beraninya kau membawa orang luar masuk ke dalam wilayah pemukiman!” Tetiba seorang remaja lelaki menghadang jalan. Seekor burung elang besar bertengger di belakang tubuhnya. 

“Bukankah sudah sangat jelas bahwa mereka merupakan ahli dari dunia luar…?” Gadis itu lanjut melangkah, seolah tak peduli.  

“Apakah kau hendak menerima hukuman karena membawa mereka masuk ke dalam wilayah pemukiman!?”

“Aku akan membawa mereka menemui Pu’un Dangka….”

“Aku tak mengizinkan! Kau terlalu polos! Bagaimana bila mereka bermaksud buruk terhadap Pu’un Dangka.” 

“Bila demikian, ikutlah bersama kami…,” ujar Urang Rawayan, atau belakangan diketahui bahwa ia bernama Cikartawana, kepada pemuda itu. Sungguh cepat ia menyelesaikan permasalahan di depan mata. 


Lojor henteu beunang dipotong, pendek henteu beunang disambung. Panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung.” ****

Di dalam sebuah sebuah pondok besar, di atas dipan, seorang tua renta duduk bersila. Meski demikian, tubuhnya masih terlihat sehat adanya, bahkan cukup tegap bagi usianya. Kedua belah matanya terpejam. 

Nyaur kudu diukur, bertutur harus diukur. Nyabda kudu diunggang, berkata harus dipikirkan supaya tidak menyakitkan. Pangeran Sangara Santang dari Kemaharajaan Pasundan menghaturkan hormat yang sedalam-dalamnya kepada Yang Terhormat Pu’un Dangka,” sahut Sangara Santang. ****

“Setelah Sri Baduga Maharaja datang bertandang puluhan tahun silam, dengan racun yang mendera di ulu hati, aku telah menerawang akan ini hari,” ujar Pu’un Dangka, menganggukkan kepala, tapi mata masih terpejam. 

“Beribu-ribu terima kasih kami haturkan pada Yang Terhormat Pu’un Dangka, atas nasehat akan penawar racun yang mendera di ulu hati. Berkat panduan Yang Terhormat Pu’un Dangka, Yang Mulia Sri Baduga Maharaja telah berhasil menemukan Batu Bacan Taruna, dan kini dalam keadaan sehat dan sentausa.” 

“Batu Bacan Taruna…?” gumam Bintang Tenggara. Sepertinya ia pernah mendengar nama batu itu… entah dimana….

Lelaki tua itu kemudian menoleh ke arah tiga ahli lain yang hadir bersama Sangara Santang. Meski matanya terpejam, ia seolah menatap dengan dalam. 

“Perawan Putih… takdirmu unik…” 

“Dua keturunan Langit Tenggara…” 

Lintang Tenggara dan Bintang Tenggara menundukkan kepala. Entah mengapa, tubuh mereka spontan menghormati orang tua itu. 

“Keturunan yang lebih tua… jawaban yang hendak engkau peroleh telah kuberikan kepada ibumu ratusan tahun silam.” 

“Ha!” Lintang Tenggara tercekat. Ia mundur setengah langkah. Apakah orang tua ini memiliki keterampilan khusus peramal…? Ataukah kemampuan membaca pikiran…? Atau keduanya!?

“Keturunan yang lebih tua… Selama ini engkau mengajukan pertanyaan yang kurang tepat…”

Lintang Tenggara terdiam. Sang Titisan Ganesha dipertanyakan pengetahuannya… Sungguh pukulan telak!

“Keturunan yang lebih muda, lengkapilah potongan-potongan ramalan kuno, dan jadikan sebagai penunjuk arah….”

Bintang Tenggara hanya diam. Entah apa yang dibicarakan orang tua pikun ini, pikirnya dalam hati. 

Lintang Tenggara hanya melirik dalam diam. 

“Cikartawana cucuku… Pandu mereka keluar dari Alas Roban. Takdir mereka, dan takdirmu… nantinya berkaitan erat.”


“Adik Cika… Apakah Adik Cika pernah mendengar tentang Intan Abadi?” ujar Lintang Tenggara.

Si Bupati Selatan dari Pulau Lima Dendam kembali ke tujuan awal di saat ia melangkah masuk ke dalam Alas Roban. Rencananya meninggalkan wilayah Partai Iblis adalah mencari bongkahan Intan Abadi secepat mungkin.   

Cikartawana tak menjawab. Ia meneruskan langkah ke dalam hutan. 

“Apakah diriku diperkenankan membawa pulang beberapa bongkah Intan Abadi…? Adik Cika…?”

“Sebentar lagi kita akan melangkah masuk ke wilayah Panamping. Waspadalah.” 

Berkat panduan Cikartawana, si Urang Rawayan, regu yang kini terdiri dari lima ahli Kasta Perunggu Tingkat 5, dapat mudah berkelit dan tak sekali pun berpapasan dengan binatang siluman. Mereka juga melangkah luwes menghindari wilayah pemukiman-pemukiman Lingkar Panamping. Tiada bertemu kendala yang berarti, untuk sementara ini. 

“Brak…” 

Tetiba regu tersebut merasakan tekanan berat. Bahkan Lintang Tenggara, dengan unsur kesaktian daya tarik bumi tak dapat menolak tekanan itu. 

“Bacuga, penuhi panggilanku…” gumam Cikartawana.

“Brrrtttt…” Tanah bergetar ketika seekor Badak Bercula Tiga datang berlari, kemudian bersiaga di samping Cikartawana. 

Tak lama, berbagai binatang siluman muncul dari balik semak-semak. Ular meliuk dan mendesis. Babun melolong. Elang memekik tinggi di udara. Harimau menyeringai. Tak kurang dari sepuluh jumlah dan jenis binatang siluman yang mengelilingi mereka! 

Wajah Sangara Santang dan Lintang Tenggara terlihat kecut. Keduanya menyadari bahwa para petarung suku Badui sungguh unik. Mereka tiada memiliki Kartu Satwa untuk menyegel binatang siluman. Akan tetapi, mereka hidup bersama binatang siluman dan menjalin semacam ikatan jiwa dan raga.  

Bintang Tenggara dan Lampir Marapi terperangah. Selain binatang siluman Kasta Perak, mata hati keduanya menyiratkan bahwa ahli-ahli yang tak menunjukkan wajah dan berada di balik binatang siluman, tak berada pada Kasta Perunggu Tingkat 5! 

“Bagaimana mungkin!? Cermin Cakra menunjukkan keberadaan sepuluh ahli Kasta Perak yang mengelilingi kita…” gumam Lampir Marapi, masih memandangi cermin kecil bertangkai dalam genggaman tangannya.  

Sangara Santang dan Lintang Tenggara hanya diam. Bukan mereka tak mengetahui jawabannya, namun saat ini bukanlah saat yang tepat untuk bertanya-jawab. 

“Bukankah Alas Roban membatasi kasta keahlian!?” sambung Bintang Tenggara. 

Jikalau Sangara Santang dan Lintang Tenggara menjawab, maka mereka akan menyampaikan tentang keunikan Urang Rawayan. Hampir setengah alaf hidup terasing di dalam Alas Roban yang memiliki segel alami, serta mencintai binatang siluman sepenuh hati, mereka mengembangkan kemampuan khusus.*****

Kemampuan tersebut dikenal sebagai memumpun, atau menggabungkan, mustika tenaga dalam manusia dengan binatang siluman. Proses memumpun ini dilakukan dengan menjalani upacara khusus yang sakral. Oleh karena itu, aura Kasta Perak yang menyibak dari manusia, sesungguhnya merupakan hasil memumpun mustika tenaga dalam dengan binatang siluman Kasta Perak. Layaknya, kemampuan ini dikenal sebagai ‘Pumpun Mustika’.   

“Siapakah mereka, wahai cucu Pu’un Dangka…?” sebuah pertanyaan menggunakan jalinan mata hati berbicara hanya kepada Cikartawana. Dari suaranya, terdengar seperti diajukan oleh seorang lelaki dewasa muda. 

“Pu’un Dangka memohon izin kepada Pu’un Tangtu untuk mengantarkan mereka kembali ke dunia luar.” 

“Atas alasan apa…?”

“Membalas budi Gemintang Tenggara…” 

“Hm…?” Tetiba suara lain lagi masuk ke dalam jalinan mata hati Cikartawana. Suara kali ini jauh lebih tua. 

“Yang Terhormat Pu’un Tangtu…,” Cikartawana membungkukkan tubuh. 

“Pu’un Dangka saat ini, semestinya menjabat sebagai Pu’un Tangtu. Akan tetapi, ia melanggar Pikukuh sehingga diusir keluar. Ia melanggar Pikukuh… demi Gemintang Tenggara.” Suara uzur mengingatkan Cikartawana. 

“Yang Terhormat Pu’un Tangtu… Pu’un Dangka memohon dengan sangat.” 

“Diriku tiada dapat mengabulkan permohonan Pu’un Dangka. Ia telah terbuang karena melanggar Pikukuh.”

Cikartawana terdiam. Ia memerlukan izin Pu’un Tangtu untuk mencapai gerbang dimensi yang berada di dalam wilayah Lingkar Tangtu. Seharusnya, permintaan dari Pu’un Dangka dapat membuka kesempatan. Karena jikalau memaksa, mereka harus bertarung menghadapi lawan-lawan digdaya yang sedang bersiaga di hadapan. Jadi, bila tak memiliki izin, maka kemungkinan besar dan peluang satu-satunya adalah menyelinap ke pusat Alas Roban. Cikartawana memahami betul bahwa ini merupakan sebuah tindakan yang memuat risiko teramat besar. 

“Pu’un Dangka adalah kakak kandungku. Kau adalah cucu dari Pu’un Dangka. Oleh karena itu, kau adalah cucuku jua. Oleh karena itu pula, aku bersedia mengabulkan satu permintaanmu.”

“Bila demikian, mohon Yang Terhormat Pu’un Tangtu mengabulkan satu-satunya permohonan Cikartawana.” Gadis itu berujar tanpa setitik pun keraguan. 

“Hmph…,” Pu’un Tangtu terdengar menghela napas panjang. “Sebagai Urang Rawayan, Cikartawana, takdirmu demikian berbeda.”

“Daku tiada setuju!” tetiba jalinan mata hati dari seorang dewasa muda yang tadinya hanya diam, menyela. 

“Cikeusik putraku, apa yang ada di dalam benakmu…?” 

“Ayahanda, Yang Terhormat Pu’un Tangtu, bilamana keempat ahli tersebut benar-benar layak untuk meningggalkan Alas Roban, maka mereka wajib membuktikan dir!”

“Mohon maaf yang sebesar-besarnya wahai Yang Terhormat Pu’un Tangtu... serta Paman Cikeusik, bukankah tak adil bagi mereka bilamana harus berhadapan melawan pasukan Tangtu yang demikian perkasa…?” Cikartawana berupaya mengelak. 

“Sebagai jalan tengah, maka pertarungan hendaknya dilakukan lima lawan lima antar binatang siluman. Empat ahli itu wajib memiliki binatang siluman sebagai perwakilan dalam pertarungan.”

“Baik Yang Terhormat Pu’un Tangtu.” Cikartawana dan Cikeusik menjawab serempak keputusan dari Kepala Adat tersebut.

Pasukan dari Lingkar Tangtu, atau yang oleh orang luar biasa dikenal sebagai suku Badui Dalam, menarik diri. Tekanan demikian berat yang dirasakan oleh kelima ahli, memudar sudah. Meski demikian, raut wajah Cikartawana terlihat kusut. Telah diputuskan bahwa mereka hanya memiliki waktu dua pekan untuk melakukan persiapan. 



Catatan:

*) Binturong adalah sejenis musang bertubuh besar. 

**) Pikukuh: ketentuan adat yang mutlak. 

***) Pu’un: Kepala Adat

****) Beberapa kutipan dari Pikukuh Baduy

*****) alaf 1 num seribu; 2 Mal n masa seribu tahun; milenium