Episode 140 - Perselisihan




“Heh…? Apakah gerangan yang terjadi?” Malin Kumbang yang sedang asyik menikmati tontonan seru mencondongkan tubuh ke depan. Kedua matanya menangkap satu titik dimana puluhan murid-murid Perguruan Maha Patih terlihat kewalahan. 

“Sepertinya ada murid peranakan siluman dari Persaudaraan Batara Wijaya yang tak sengaja membangkitkan kemampuan silumannya…,” tanggap Sesepuh Kertawarma sambil memicingkan mata. “Gadis bertubuh bongsor itu kemungkinan besar terdesak, kehilangan kesadaran, sehingga hanya mengandalkan naluri bertahan hidup… masa depannya akan suram.”

“Sepengetahuanku, peranakan siluman yang membangkitkan kekuatan siluman tanpa pengarahan ahli Kasta Emas, akan menderita kelumpuhan… Benarkah demikian…?”

“Sebagai seseorang yang tiada mendalami persilatan dan kesaktian, pengetahuanmu cukup baik, wahai Sahabatku…”

“Heh…? Apa lagi itu…?”

Sesepuh Kertawarma dan Saudagar Malin Kumbang segera melompat turun dari kereta kuda nan mewah. Keduanya memandang sebuah formasi segel yang demikian besar menaungi keseluruhan wilayah Persaudaraan Batara Wijaya!

“Hm… sepertinya ada yang mengaktifkan Segel Pertahanan di Persaudaraan Batara Wijaya…” 

Formasi Segel Pertahan tersebut mengemuka sesaat sebelum si Dagu Panjang melompat dan berencana meledakkan diri. Formasi Segel Pertahanan adalah biasa adanya. Hampir seluruh perguruan, kerajaan, bahkan bangsawan dan saudagar kaya, memiliki Segel Pertahanan untuk melindungi wilayah mereka. Ada beberapa tingkatan dalam segel jenis ini, dan yang sedang disaksikan saat ini hanyalah Segel Pertahanan tingkat rendah. 

 “Hahaha… Hanya setingkat itukah Segel Pertahanan di perguruan sekelas…” 

“Bruk!”

Tetiba Sesepuh Kertawarma dan Saudagar Malin Kumbang jatuh bertekuk lutut! Sebuah tekanan besar dari hawa membunuh, serasa menghenyak tubuh keduanya. Tekanan yang semakin berat membuat posisi tubuh saudagar Malin Kumbang seolah bersujud. Tiada berdaya rasanya!

“Lama sudah si tua bangka ini mengasingkan diri dari dunia persilatan dan kesaktian…” 

Sesepuh Kertawarma dan Saudagar Malin Kumbang mendengar suara seorang lelaki yang membahana di dalam benak mereka. Suara itu demikian uzur, sekaligus perkasa. Seseorang itu secara paksa menebar jalinan mata hati kepada kedua ahli tersebut! 

“Kuanjurkan bagi kalian menyudahi siasat. Janganlah hal remeh ini sampai memaksa si tua bangka ini berlaku kasar….” 

Napas tersengal-sengal karena tekanan yang demikian hebat, Sesepuh Kertawarma yang diketahui berada pada Kasta Emas, meraih sebuah lencana dari dalam kantung pakaiannya. Tanpa pikir panjang, segera ia mengirimkan pesan menggunakan jalinan mata hati. 

Tak lama, terlihat murid-murid dari Perguruan Maha Patih menarik diri. 


Sebuah kereta kuda terbirit-birit dipacu menuruni perbukitan. Napas empat ekor kuda yang bertugas menarik kereta, terdengar nyaring. Terkadang, kuda-kuda itu meringkik di saat kereta tajam menukik. 

“Siapakah gerangan tadi!? Ahli mana yang sedemikian digdaya!?” 

Saudagar berkepala botak, Malin Kumbang, terdengar demikian resah di dalam kereta kuda. Bagaimana tidak, dirinya dibuat demikian tak berdaya di saat sedang asyik menonton. Tekanan hawa membunuh yang merambat melalui jalinan mata hati demikian perkasa. 

Lawan bicara Malin Kumbang, Sesepuh Ke-15 dari Perguruan Maha Patih, duduk bersandar. Sejak terpaksa memberi perintah agar murid-murid Kasta Perunggu Perguruan Maha Patih menarik diri dari penyerangan terhadap Persaudaraan Batara Wijaya, ia hanya diam membatu. 

“Meski tak gemar berlatih dan hanya menenggak ramuan sakti, diriku berada pada Kasta Perak Tingkat 9... Sedangkan dikau... dikau berada pada Kasta Emas Tingkat 4!” lanjut Malin Kumbang, berupaya meredakan keresahan di hati. 

Sesepuh Kertawarma menoleh, dan menatap dalam ke arah Malin Kumbang. 

“Siapa ahli Kasta Emas yang mampu membuat dikau bertekuk lutut!? Pimpinan Perguruan Maha Patih yang berada pada Kasta Emas Tingkat 8 saja belum tentu dapat membuat ahli Kasta Emas Tingkat 4 bertekuk lutut semudah itu. Apalagi hanya mengandalkan hawa membunuh!” Malin Kumbang semakin gelisah. Kerut-kerut di dahinya demikian banyak. 

“Mungkinkah kabar angin itu benar...?” gumam Sesepuh Kertawarma. 

“Kabar angin apa!? Yang mana!?”

“Dahulu kala... seusai Perang Jagat, kabar angin yang berhembus mengatakan bahwa Penegak Persaudaraan Batara Wijaya tak lain adalah salah satu dari Sembilan Jenderal Bhayangkara!” Wajah Sesepuh Kertawarma terlihat tegang. 

“Sembilan Jenderal Bhayangkara!? Mustahil! Sudah hampir limaratus tahun tak terdengar kabar berita tentang satu pun dari mereka!” 

“Sudah ratusan tahun pula tak terdengar kabar berita tentang para Raja Angkara... sementara kita mengetahui keberadaan dan membantu mereka yang telah bangkit...,” tanggap Sesepuh Kertawarma. 

Kereta kuda masih dipacu kencang. Sang kusir di depan, sepertinya demikian senang mendapat kesempatan untuk menguji kemampuan kuda-kudanya. Tak dapat dipungkiri kepiawaian dalam memandu kereta kuda. Remaja kurus kerempeng di belakang, berpengangan erat agar tak terjatuh.

“Bila benar salah satu dari Sembilan Jenderal Bhayangkara, bukankah itu berarti sosok tadi berada pada...”

“Kasta Bumi!” sergah Sesepuh Kertawarma memotong kata-kata teman bicaranya. 

“Gila!” Malin Kumbang hampir melompat dari tempat duduknya. “Kasta Bumi hanyalah legenda di saat Negeri Dua Samudera berjaya. Tak ada satu pun ahli saat ini yang berhasil melewati Kasta Emas Tingkat 9, dan naik ke Kasta Bumi!” 

“Tiada perlu memperdebatkan hal tersebut.” Sesepuh Kertawarma memejamkan mata. 

“Hmph...”

“Yang perlu diperhatikan adalah bilamana tokoh tersebut benar merupakan salah satu dari Sembilan Jenderal Bhayangkara... serta bila tokoh-tokoh digdaya itu masih berkeliaran di luar sana, maka rencana yang telah lama kita susun akan menghadapi rintangan berat!” 

“Aku akan mengabari saudara-saudara yang lain...,” Malin Kumbang bersandar di dalam kereta kuda. Sebuah lempengan logam tanpa bentuk jelas, terlihat dalam genggamannya.  


===


“Percepat langkahmu!” hardik seseorang dari arah belakang. 

“Kakak Sangara, bagaimana Kakak mengenal orang itu...?” Bintang Tenggara mengabaikan suara di belakang, lalu berbisik arah ke depan. Pupil di kedua bola matanya digerakkan beberapa kali dari tengah ke samping, sebagai isyarat bahwa ia sedang bertanya tentang sosok di belakang. 

“Oh... Kakak Lintang maksudmu...?”

Bintang Tenggara mengangguk cepat. Kedua matanya melotot. 

“Hehe... Adik Bintang, dikau bukanlah satu-satunya ahli di Negeri Dua Samudera yang pernah berkunjung di Kepulauan Jembalang.” Sangara Santang tersenyum santai. 

Bintang Tenggara telah menduga akan hal ini. Sangara Santang pastilah pernah berkunjung ke wilayah Partai Iblis. Tokoh tersebut jelas mengenal Gubernur Pulau Dua Pongah, dan hubungan mereka sangat dekat. Kedekatan tersebut bahkan membuat Gubernur Pulau Dua Pongah sampai memercayakan agar putri semata wayangnya, Lampir Marapi, dititipkan ke Sanggar Sarana Sakti karena suatu alasan. Atas alasan apakah gerangan...?

“Aku lebih unggul darimu,” sambung Sangara Santang. “Aku mengunjungi dua dari lima pulau besar di Kepulauan Jembalang.” 

“Oh...?”

“Dan saat berkunjung ke Pulau Lima Dendam, aku bertemu dengan Kakak Lintang. Ia menjabat sebagai Bupati Selatan di sana.”

“Apakah Kakak Sangara tak mengetahui bahwa ia adalah Petaka Perguruan di Perguruan Gunung Agung...?” bisik Bintang Tenggara. 

“Tentu saja aku mengetahui.” 

“Tapi... Tapi bukankah sebagai petinggi di sebuah perguruan tersohor, Kakak Sangara berkewajiban melaporkan lokasi keberadaan Markas Besar Partai Iblis kepada pemerintah Negeri Dua Samudera?”

“Mengapa Adik Bintang tak melapor pernah berkunjung ke Pulau Dua Pongah...?”

“Hm...?”

“Sama sepertimu, aku memiliki alasanku sendiri. Lagipula, Partai Iblis tak sepenuhnya sesuai dengan gambaran kebanyakan ahli di Negeri Dua Samudera.” 

Bintang Tenggara mengangguk petanda sepakat. Ia mengetahui bahwa Pulau Dua Pongah bukanlah berisi begundal-begundal. Bahkan, sang Gubernur di sana sangat disayangi warga. Namun, ia masih memiliki satu pertanyaan lagi...

“Siapakah ahli yang menyergap Kakak Sangara, sehingga menyebabkan demikian banyak luka-luka...?”

Sangara Santang menghentikan langkah. Ia menatap Bintang Tenggara. Ia pun melirik ke arah Lintang Tenggara. Ia kembali menatap Bintang Tenggara. Bulir-bulir keringat jagung mencuat dari dahinya.... 

“Hei! Mengapa kalian berhenti melangkah!?” hardik Lintang Tenggara dari arah belakang. 

Ingin sekali rasanya Sangara Santang berteriak sekuat kerongkongannya... Emak kalian yang memukuliku tanpa ampun! Meskipun demikian, tak sepatah pun kata sanggup keluar dari mulutnya....

“Kakak Sangara...?” tegur Bintang Tenggara. 

“Hei, Sangara!” hardik Lintang Tenggara.

“Oh...,” Sangara Santang terkesiap. Keringat semakin deras mengalir ketika ia mengingat betapa mudah tubuhnya dihenyak-henyak ke tanah... Emak kalian yang menggebuk tubuh ini tanpa belas kasih! Tapi, tak juga keluar dari mulutnya. 

“Aku tak begitu ingat... Kejadiannya berlangsung demikian cepat,” ujarnya sambil memutar tubuh. 

...


Regu yang terbentuk karena tuntutan keadaan terus bergerak untuk mencapai wilayah pusat hutan lebat Alas Roban. Mereka selalu berhasil menghindar dari binatang-binatang siluman yang berkeliaran. Pengalaman, pengetahuan dan penelaahan cermat Lintang Tenggara menjadi salah satu penyebab mudahnya regu tersebut melangkah. 

“Apakah kau merindukan kasur nan empuk...?”

“Kau terlihat seperti hendak menangis...” 

“Tak bisakah kau bernapas dalam diam...?”

“Wajahmu membuatku muak, menghadaplah ke arah lain...”

Cemooh, cibiran, ejekan dan ledekan keluar bertubi-tubi dari mulut Lintang Tenggara. 

Bintang Tenggara menggeretakkan gigi. Ia segera memutar tubuh... 

“Hei, kau! Ada apa denganmu!? Hah!?” 

Bintang Tenggara sudah tak tahan lagi. Entah mengapa Lintang Tenggara tiada henti mengganggu dirinya. Kini, ia menudingkan jari telunjuk ke arah lelaki dewasa muda itu. Semut pun akan menggigit, bilamana diinjak. 

“Aku tak pernah mengenalmu! Mengapa kau menggangguku!? Aku yang seharusnya muak melihat orang yang berupaya menculikku!” 

“Kau menolak ajakanku!” sahut Lintang Tenggara. 

Bintang Tenggara masih mengacungkan jari telunjuk ke arah Lintang Tenggara. Petuah Raja Bangkong IV tentang ‘kekuatan adalah utama, dan kesabaran adalah kekuatan’ terlupakan sudah. 

“Siapa yang berpikiran waras akan rela mengikuti seseorang yang hendak menculiknya!? Lagipula, aku tak yakin apakah benar kau kakakku!” 

“Wajah kalian mirip…,” gumam Lampir Marapi. 

Sangara Santang menghela napas panjang. Cepat atau lambat, ia telah memperkirakan bahwa perselisihan ini tak terelakkan. 

“Cuih! Jangan merengek di hadapanku!” tanggap Lintang Tenggara, ia meludah ke samping. 

“Sialan! Ayo kita selesaikan perselisihan ini! Di sini! Saat ini juga!” hardik Bintang Tenggara, amarah memuncak. 

Suasana memanas, sebentar lagi mendidih. 

“Kau menantangku…?” cibir Lintang Tenggara sambil melangkah maju. “Jangan kau kira karena keahlian kita sama-sama tersegel pada Kasta Perunggu Tingkat 5, kau berani berlaku lancang!” 

Bintang Tenggara menyibak kembangan. 

“Hentikan… Hentikan....” gerutu Sangara Santang. 

Lelaki dewasa muda yang sekujur tubuhnya berbalut perban melompat di antara kakak-beradik, berupaya melerai perkelahian yang tiada perlu. Kakak-beradik ini tak jauh berbeda dari emak mereka. Malah, mereka berlaku sesuka hati di saat keadaan tak pasti, keluh Sangara Santang dalam hati. 

“Sangara Santang, menyingkirlah! Anak kurang ajar ini perlu diberi pelajaran!” 

“Kau yang kurang ajar! Monyet!” Bintang Tenggara tak tahu apa lagi yang keluar dari mulutnya. 

Daya Tarik Bumi!

Asana Vajra!

“Beledar!” 

Tetiba sebuah ledakan membahana. Bukan, bukan ledakan dari pertarungan kakak dan adik. Ledakan terdengar di wilayah tak jauh di depan sana. Lampir Marapi yang menenteng sebuah cermin kecil, segera melesat dan menghilang ke balik pepohonan. Sepertinya ia menyadari sesuatu yang tak biasa. 

“Tunggu!” teriak Sangara Santang yang berada dalam keadaan terjepit. 

Entah bagaimana ceriteranya, Sangara Santang seolah sedang terbebani tugas mengawasi bocah-bocah taman kanak-kanak yang tak akur dan sulit diatur. Dua hendak berkelahi, sementara yang satu lagi berlari pergi begitu saja. Apakah mereka lupa bahwa saat ini berada di dalam hutan angker Alas Roban!? Bocah taman kanak-kanak! 

“Kupersilakan kalian berkelahi! Tapi ingat bahwa kalian akan mengundang kedatangan binatang siluman. Selain itu, suku yang mendiami Alas Roban pun akan menyadari jejak keberadaan kita!” 

Dengan demikian Sangara Santang mengejar Lampir Marapi. 

“Hrargh!” 

Berdiri tegak dan garang, adalah seekor binatang siluman bertubuh besar! Moncongnya mirip anjing, rahang kuat dengan gigi taring yang tajam, serta sepasang mata yang berdekatan. Kecuali pada bagian moncong, rambut di sekujur tubuhnya tebal. Ekornya pendek hampir tak terlihat. Ia siap menyerang!

“Binatang siluman Babun Rambut Hutan,” bisik Sangara Santang. 

Lampir Marapi sedang mengintip dari balik sebuah pohon besar ketika Sangara Santang tiba. Di saat terdengar ledakan tadi, sepintas ia menangkap suara seseorang, dan cerminnya menunjukkan kehadiran akan seorang ahli. Itulah sebabnya mengapa ia mengejar ke arah binatang siluman tersebut. 

Di hadapan binatang siluman, seorang gadis belia terlihat siap bertarung. Wajahnya manis, hidungnya mungil, rambutnya hitam panjang. Ia mengenakan pakaian lengan panjang berwarna putih kusam. Bawahannya adalah rok lebar dan panjang yang bermotif batik biru tua. Seutas kalung melingkar di leher, serta sebuah buntelan kain menyelempang di pundaknya.

“Suku Badui…,” gumam Lintang Tenggara yang baru saja tiba. 

“Suku… Badui…?” ulang Bintang Tenggara terheran-heran. Ia yang terakhir menyusul. 

“Ck!” decak Lintang Tenggara membuang muka. Rupanya, kakak beradik itu tak jadi berkelahi! 

“Suku Badui awalnya mendiami wilayah di ujung barat daya Pulau Jumawa Selatan, dan merupakan bagian dari Kemaharajaan Pasundan. Di saat Perang Jagat, wilayah tempat tinggal mereka menjadi salah satu titik pertempuran sengit dan menjadi porak-poranda. Mencari tempat tinggal baru, mereka lalu hijrah ke Alas Roban,” papar Sangara Santang. 

“Mengapa menempati wilayah yang sulit menumbuhkan keahlian…?”

Bintang Tenggara penasaran. Karena, sebagaimana diketahui, Alas Roban memiliki segel alami yang unik. Di dalam wilayah hutan angker ini, segel alami membatasi keahlian manusia, siluman sempurna, dan peranakan siluman hanya pada Kasta Perunggu Tingkat 5. 

“Suku Badui, atau Urang Rawayan, menjaga diri dari pengaruh buruk dunia persilatan dan kesaktian. Alas Roban merupakan wilayah yang sangat cocok. Tak ada ahli yang akan dengan sengaja mengganggu.”

“Hm…?” Bintang Tenggara pun menyadari keanehan lain… Alas Roban menyibak aura mirip dengan dimensi ruang dan waktu milik Dewi Anjani. Akan tetapi, di saat yang sama, ia bukanlah dimensi ruang dan waktu. Yang jelas, kesadaran Super Guru tersegel, begitu pula ruang dimensi pada mustika retak. Sungguh aneh. Mungkinkah ini yang dimaksud dengan segel alami?

“Mereka tidak ikut serta dalam Perang Jagat. Pada dasarnya, suku ini merupakan sekelompok masyarakat yang menjunjung tinggi amanah dan nilai budaya leluhur. Salah satu dari nilai-nilai mereka adalah menjaga kelangsungan alam, karena menyadari bahwa mereka hidup oleh alam dan berdampingan dengan alam. Oleh karena itu pula, mereka tak akan merusak hutan atau melukai binatang siluman.”  

“Cih! Itu saja kau tak tahu…,” dengus Lintang Tenggara. 

“Dengusmu mirip babun itu…,” ejek Bintang Tenggara. 

“Apa katamu…!?”

“Sudahlaaaah….” Sangara Santang setengah memohon. 

Gadis yang diketahui sebagai bagian dari suku Badui tak gentar menghadapi binatang siluman di hadapan. Gerakannya lincah menghindar dari sergapan Iawan. Mulutnya terlihat berkomat-kamit. 

“Brrttt… ” 

Tanah bergegar dan tumbuhan hutan tersibak ketika tetiba seekor badak besar dan kekar melompat di antara gadis dan babun. Badak itu itu memiliki satu… dua… tiga cula! Dua di atas moncongnya dan satu cula tepat di dahi, sehingga mirip tanduk. Seutas kalung berwarna hitam melingkar di leher binatang siluman itu. 

Si badak mendengus berat ketika menyaksikan Babun Rambut Hutan di hadapannya!

“Badak Bercula Tiga…. Kasta Perak… Binatang siluman yang teramat langka. Baru kuketahui masih ada populasi mereka di dalam Alas Roban…,” bisik Sangara Santang. 

Babun Rambut Hutan melompat ke samping. Sepasang tangan besarnya bergerak membabi buta berupaya menakuti Badak Bercula Tiga. Ia melolong, menunjukkan taring-taring besar. Si badak mengais-ngais tanah menggunakan kaki belakangnya… Gumpalan-gumpalan tanah tersibak mengarah ke si gadis. 

“Hrargh…” Babun Rambut Hutan melolong lagi, lalu… lalu ia melompat ke semak belukar dan melarikan diri di balik pepohonan.

Badak Bercula Tiga memutar tubuh… binatang siluman yang diketahui berada pada Kasta Perak itu menghadap si gadis. Terlihat bahwa setelah babun melarikan diri, kini giliran si gadis yang menjadi incarannya…  

“Srak!” 

Kaki kanan si gadis Badui terperosok ke celah di antara akar-akar pepohonan. Sekonyong-konyong ia jatuh terjerembab di tempat. Di saat yang sama, seekor binatang siluman besar melompat ke arahnya. 

Peluru Api!

Asana Vajra!

Lampir Marapi menembakkan peluru-peluru api yang diambil dari dalam Kitab Kosong Melompong. Bintang Tenggara mencabik dengan cakar-cakar petir!

“Bodoh!” hardik Lintang Tenggara.

“Apa yang kalian lakukan!?” sergah Sangara Santang menepuk jidat.

Kombinasi serangan Lampir Marapi dan Bintang Tenggara … tiada berpengaruh terhadap si badak! 

“Siapa kalian!? Mengapa kalian menyerang Bacuga!?” Terdengar hardikan gadis yang masih terperosok. Badak Bercula Tiga yang kebal dari serangan, telah berada di samping gadis itu. 

“Hah!” Bintang Tenggara yang berada paling dekat dengan gadis Badui kebingungan. Ia dan Lampir Marapi berniat menyelamatkan jiwa gadis itu dari ancaman seekor binatang siluman…

“Lancang sekali kalian menyerang binatang siluman Alas Roban!” Gadis yang masih terduduk, marah bukan kepalang. 

“Salah paham… salah paham….” Sangara Santang mendatangi si gadis. Ia menjulurkan tangan hendak memberikan bantuan. 

“Jangan sentuh aku!” 

Badak Bercula Tiga mendengus siaga!

“Maafkan… maafkan…” Sangara Santang terlihat kikuk di saat terpaksa mundur.