Episode 3 - Utusan dari Seberang


Kepala Dusun Peledang Paus tersontak, matanya memicing. Semenit kemudian barulah matanya dapat menangkap dengan jelas titik hitam dari arah laut.* Jantungnya berdebar keras. Apakah mungkin yang selama ini ia tunggu akhirnya tiba…? 

Tidak lama titik hitam itu makin mendekat. Samar-samar terlihat sepasang sayap besar berwarna hitam. Kepala Dusun menghela napas. Bukan elang yang ia tunggu, yang ia nantikan adalah harapan bagi Dusun Peledang Paus.

Sepertinya sang elang semula hanya akan melintas di atas Pulau Paus, namun begitu menyadari ada dua orang memperhatikan, ia pun mengubah arah dan datang menghampiri. Sang elang memekik nyaring bersiap untuk mendarat. Di atas tubuh elang terlihat siluet dua orang yang sedang duduk. 

“Binatang siluman Elang Laut Dada Merah…” gumam Kepala Dusun kepada Bintang. Keduanya terpaku memandang elang besar tersebut. 

Sejurus sebelum mendarat, sang elang membentangkan sayapnya. Dengan pajang tubuh sekitar lima meter, rentang kedua sayapnya mencapai lebih dari lima belas meter. Akibatnya, pasir beterbangan kesana-kemari. Bintang melindungi wajahnya dengan lengannya, padahal tidak satu pun pasir menyentuh dirinya dan Kepala Dusun. 

Bagian atas Elang Laut Dada Merah berwarna abu-abu kebiruan, sedangkan bagian bawah, kepala dan leher berwarna merah. Matanya tenang, dengan iris kecoklatan. Kuku dan paruh yang tajam berwarna abu-abu. Tungkai tanpa bulu dan kaki berwarna abu-abu. Saat terbang, ekornya yang pendek tampak berbentuk baji dan sayapnya terangkat ke atas membentuk huruf V. Kecepatan terbangnya bisa mencapai 200 km/jam. Setelah mendarat, ekornya sedikit menyentuh pasir. 

Seorang lelaki berusia sekitar dua puluh turun dari Elang Laut Dada Merah. “Selamat Siang. Saya adalah utusan dari Perguruan Gunung Agung di Pulau Dewa. Kami sedang menuju ke Pulau Sabana... Hm, kami mungkin tersalah haluan sehingga tiba di sini. Sudi kiranya orang tua memberi arah.”

Meski nada bicaranya sopan, namun tidak menyembunyikan keangkuhan yang mendalam. Lelaki ‘utusan dari Perguruan Gunung Agung di Pulau Dewa’ ini dihadapan orang yang lebih tua mengajukan pertanyaan tanpa menyebutkan nama juga tidak menanyakan nama lawan bicaranya. Malah, ia memanggil Kepala Dusun dengan sebutan ‘orang tua’. 

Kepala Dusun terkejut, hampir mundur setengah langkah sebelum kembali memantapkan posisi berdirinya dan menjawab dengan nada yang sangat santun, “Ini adalah Pulau Paus, dan saya adalah seorang Lembata Keraf, Kepala Dusun Peledang Paus. Bila Tuan Muda dari arah Pulau Dewa hendak menuju ke Pulau Sabana, maka Tuan Muda terlewat satu pulau besar.” 

Meski hanya Kepala Dusun, Lembata Keraf tahu betul bahwa Perguruan Gunung Agung adalah salah satu perguruan silat besar di Negeri Dua Samudera. Meski statusnya tidak setinggi dengan perguruan-perguruan besar di Lima Pulau Utama, namun secara urutan kemasyuran tidak diragukan lagi bisa masuk dalam 10 besar di antara seluruh perguruan di Negeri Dua Samudera. Tentu seorang kepala dusun tidak ingin menyinggung perasaan utusan dari Perguruan Gunung Agung, meski utusan tersebut hanya anak muda angkuh. 

“Oh!” utusan dari Perguruan Gunung Agung di Pulau Dewa sedikit terkejut. “Apakah kiranya sesepuh ini seorang lamafa? Mohon maaf teramat besar atas kelancangan sapa saya sebelumnya. Saya bernama I Wayan Balik Anjana.”**

Meski pamor lamafa sudah redup dan tinggal sejarah masa lalu, namun siapa yang tak pernah mendengar keperkasaan dan ketajaman tikaman para Lamafa di wilayah ini. Pastinya tercatat dalam kitab-kitab sejarah, tertuang dalam lukisan-lukisan seni, bahkan mungkin tersurat dalam naskah-naskah daun lontar. Perubahan sikap I Wayan Balik Anjana sudah sewajarnya. 

“Orang tua ini hanyalah seorang Kepala Dusun. Kami memang berburu paus, tapi tidak berani menyebut diri sebagai lamafa. Tentu tidak layak dibandingkan dengan Tuan Muda I Wayan Balik Anjana yang berbakat,” jawab Lembata Keraf merendah. 

“Kali ini saya bertugas membawa pengumuman ke seantero wilayah, bahwa dalam enam bulan, Perguruan Gunung Agung akan membuka penerimaan murid baru. Bahwa barang siapa berusia di bawah 14 tahun dan setidaknya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 2, kiranya dapat mendaftarkan diri. Terakhir seorang lamafa muda mendaftar, dalam hemat saya, adalah tiga atau empat ratus tahun lalu,” ungkap I Wayan Balik Anjana setengah berharap. 

Lembata Keraf hanya terdiam. Dia tahu betul bahwa dibutuhkan bakat yang luar biasa untuk sampai ke Kasta Perunggu Tingkat 2 di bawah usia 14 tahun. Untuk memupuk ahli dengan Kasta Perunggu Tingkat 1 saja, diperlukan sumberdaya yang luar biasa besarnya. Manusia biasa, umumnya masuk mencapai Kasta Perunggu Tingkat 1 pada usia di atas 17 tahun. 

Dulu ketika para lamafa dalam masa puncak kejayaan, adalah hal mudah menyiapkan pewaris berusia 14 tahun untuk memasuki Kasta Perunggu Tingkat 2. Namun saat ini? Lembata Keraf yang sudah berusia 50 tahun saja, kini baru berada di Kasta Perunggu Tingkat 4. Untuk menghadapi binatang siluman Paus Surai Naga yang rata-rata berada di Kasta Perunggu Tingkat 8, diperlukan lebih dari 10 orang Lamafa dari dusun-dusun dan pulau-pulau tetangga bahu-membahu. 

“Saya juga kebetulan menemani Tuan Puteri cucu pimpinan Perguruan Gunung Agung mencari angin segar,” ujar I Wayan Balik Anjana berusaha memperkenalkan rekan seperjalanannya. 

Baru saat itulah mata Bintang menyapa seorang gadis berusia 12-13 tahun yang masih berdiri di atas Elang Laut Dada Merah. Tubuhnya ramping dibalut lapisan pakaian tenub berwarna biru muda. Rambutnya panjang dikepang ke belakang. Setengah wajahnya ditutupi cadar juga berwarna biru muda, hanya matanya saja yang menyapa Lembata Keraf sebelum menganggukkan kepala. Meski telah diperkenalkan, ia tetap berdiam di atas sang elang. 

Kemudian, sepasang mata tersebut bertatapan langsung dengan mata Bintang. Sepasang bola mata begitu indah selayaknya memandang langit malam tak berawan saat diterangi purnama. Sorot mata dipenuhi dengan keangkuhan. Pada saat yang sama, terdapat semacam tekanan yang melemahkan sekujur tubur Bintang. Tanpa bahasa tubuh apa pun, anak gadis tersebut secepatnya beralih menatap laut, mungkin tak kuat menahan derita bertatapan mata dengan seorang anak dusun. Sombong betul. 

“Jika demikian, kami tak bisa berlama-lama. Sesepuh Lamafa, kami mohon undur diri,” I Wayan Balik Anjana sedikit menundukkan kepala sambil memutar badan menuju tunggangannya. Belum rampung selangkah, ia kembali memutar menghadap Lembata Keraf, merogoh saku, lalu mengeluarkan sebuah lencana. “Mohon sesepuh Lamafa sudi menerima lencana ini. Bila kiranya ada lamafa muda yang cukup berbakat, berikan lencana ini dan tunjukkan saat ujian penerimaan murid baru di Perguruan Gunung Agung nanti,” tutupnya sambil menghela napas dan melirik kepada Bintang. 

Sedikit ragu, Lembata Keraf menerima lancana itu. Dengan demikian rombongan seekor binatang siluman, seorang pemuda, dan seorang gadis berlalu begitu saja. 

Bintang yang seumur-umur tak pernah meninggalkan Pulau Paus, tak dapat menahan rasa penasarannya. Meski ibunya rajin memberikan pelajaran, yang tentu saja menyangkut binatang dan tumbuhan siluman, rasa penasaran tetap menjulur di sekujur tubuhnya. 

“Kakek Kepala Dusun, apakah menjinakkan binatang siluman bisa dilakukan siapa saja?” 

Lembata Keraf sedikit sebanyak tahu bahwa menjinakkan binatang siluman tidaklah mudah, apalagi binatang siluman sekelas Elang Laut Dada Merah. Hanya kaum bangsawan dan perguruan besar saja yang memiliki sumber daya memadai untuk memelihara dan menjinakkan binatang siluman. 

“Tidak semudah itu,” jawabnya singkat. Melihat Bintang tidak terlalu puas dengan jawabannya, ia menyambung, “Diperlukan seorang Ahli Pawang binatang siluman dengan kesaktian Kasta Perak, setidaknya untuk menjinakkan elang tadi.” 

“Kasta Perunggu lalu Kasta Perak, apa maksudnya? Ibu tidak pernah, mungkin belum, mengajarkanku tentang kesaktian manusia.” 

Sambil tetap menatap ke laut, Lembata Keraf menjelaskan, “Siapa pun yang mendalami persilatan dan kesaktian dikenal sebagai ‘ahli’. Bukan pendekar saja, tetapi juga pawang, pemburu, prajurit, peramu, bahkan pedagang bisa disebut sebagai ahli silat atau ahli sakti.”

Lembata kemudian menjelaskan bahwa kesaktian dibagi dalam Kasta. Kasta Perunggu, Perak, lalu Emas. Masing-masing kasta memiliki 9 tingkatan. Jadi, bila seseorang mencapai Kasta Perunggu Tingkat 9, dan ia terus mengasah keahliannya, maka berikutnya ia akan naik ke Kasta Perak Tingkat 1, demikian seterusnya.

“Hal yang sama juga berlaku bagi binatang siluman. Tambahan lagi, bila mereka telah berusia 1.000 tahun atau lebih, binatang siluman akan berevolusi dan berubah menjadi siluman sempurna dengan setidaknya menyandang kesaktian Kasta Emas Tingkat 1. Mereka yang berkasta emas dapat hidup lebih dari 500 tahun. Menurut legenda, Sang Maha Patih, manusia terkuat sepanjang sejarah, bertengger di Kasta Emas Tingkat 9,” tutup Lembata Keraf. 

“Lalu, pada kasta apakah kesaktian kakek dan kedua orang tadi?” lanjut Bintang menunjukkan ketertarikan ibarat anak kecil diberikan mainan baru. 

“Aku yang berusia 50 tahun ini tersangkut di Kasta Perunggu Tingkat 3. Pemuda berbakat berusia sekitar 20 tahunan tadi setidaknya sudah berada pada Kasta Perunggu Tingkat 4,” Lembata Keraf menghela napas. 

“Sedangkan gadis kecil tadi… Kesaktian gadis kecil tadi mungkin berada di Kasta Perunggu Tingkat 5....”


Catatan:

*) Untuk memudahkan pengarang, eh pembaca, perhitungan waktu menggunakan standar detik, menit dan jam. Meski, bilamana perlu, digunakan pula hitungan, seperti: satu kedip mata atau dua tarikan napas, dst. 

**) I Wayan Balik Anjana: ‘I’ berarti anak laki-laki, ‘Wayan Balik’ anak kelima, ‘Anjana’ berarti ‘Perintah’ dalam bahasa Sanskerta