Episode 6 - Secantik-Cantiknya Perempuan, Jika Dia Kentut Maka Akan Bau Juga



Study campus pun akan segera dimulai kembali setelah tadi terjadi banjir yang mendadak. Kini peserta study campus berkumpul di halaman samping masjid dan dikelompokkan sesuai dengan kelasnya masing-masing. Anak-anak IPA tujuh sekarang sedang berbaris rapih di hadapan dua mahasiswa. Satu mahasiswa berjenis laki-laki dan satu lagi perempuan. Mahasiswa laki-laki di hadapan mereka bertubuh kekar, berwajah tampan, mempunyai mata agak sipit, terus rambutnya menggunakan pomade. Mahasiswa laki-laki itu bernama Erik, para siswa perempuan IPA tujuh seakan terhipnotis dengan ketampanan yang dimiliki Erik.

“Ih, kakaknya ganteng bangeeet,” kompak Wakamiya dan Sweety.

Tapi sayang di balik wajah tampan yang dimiliki Erik, dia ternyata seorang pengupil. 

Di hadapan para anak IPA tujuh dengan nikmat dia mengorek-ngorek hidungnya sendiri pakai telunjuk.

“Ajiiib, enak banget ya gali emas sambil berdiri,” ucap Erik.

“Jorok banget lo, Rik!” gertak Okta di sampingnya.

“Yah ganteng-ganteng ngupil sih? Baru aja ada tokoh yang ganteng, eh dirusak lagi sama penulisnya,” ucap Sweety merasa geli.

Melihat Kak Erik yang lagi asyik ngupil membuat Coklat berinisiatif untuk membantu Kak Erik. Coklat enggak tega kalau tangan Kak Erik kotor dengan upilnya sendiri. 

“Kakak yang suka ngupil!” seru Coklat sambil mengangkat telunjuknya.

“Iya ada apa?”

“Ini ada bor, Kak. Siapa tahu bisa memudahkan Kakak dalam mengupil. Saya enggak tega melihat tangan Kakak kotor karena upil.” Coklat pun mendatangi Kak Erik sambil memberi bor.

“Makasih ya, kamu jahat banget. Pengin Kakak mati kali, mengupil kok disuruh pakai bor.”

“Bukan mengupil pakai bor, Kak, tapi bor dipakai buat mengupil.”

“Sama aja.”

Sementara mahasiswa perempuan yang berdiri di samping Erik itu bernama Okta atau biasa dipanggil Otek, dia adalah mahasiswi yang berhijab. Wajahnya cantik kayak Nabila JKT48, tapi dia itu ... galak.

“Cepat lo cuci tangan, jorok banget tahu enggak lo!” tegas Okta.

“Ah nanti aja, Tek.”

“Cepat, kalau enggak mau gue mutilasi lo!” seru Okta dengan wajah sangarnya.

“I ... iya ...,” ucap Erik ketakutan.

Seusai memarahi Erik, kini Okta memperkenalkan diri di hadapan anak-anak IPA tujuh.

“Perkenalkan nama saya Okta dan tadi itu Kak Erik.”

“Kak,” ucap Coklat mengancungkan tangan.

“Iya, kenapa?”

“Sekarang kan hari Selasa, lusa hari apa ya, Kak?”

“Hari Kamis, kenapa?”

“Oh hari Kamis, aku cuma mau bilang, Kak miss you. Hehehe.”

“Gombaaal!”

Merasa enggak senang digombalin, Okta menghampiri Coklat dan berdiri di belakangnya. Tanpa ampun Okta langsung menendang pantat Coklat, hingga terbang ke angkasa kemudian menghilang tanpa jejak, cling. Teman-teman satu kelas Coklat pun pada senang melihat Coklat hilang dari mereka.

“Ah tidaaak?” teriak Coklat.

“Horeee! Dia pergiii!” serentak anak-anak IPA tujuh sambil lompat mengangkat kedua tangannya.

“Saya tidak suka terhadap orang-orang slengean seperti dia, jadi saya harap kalian di sini bisa menjaga etika kalian. Mengerti!”

“Mengertiii!”

“Bagus. Sekarang ikut kakak. Kakak mau mengajak kalian ke Fakultas Pendidikan.”


***


Coklat pun telah kembali berkumpul dengan anak-anak IPA tujuh setelah tadi terbang melayang entah kemana. Kak Okta dan Kak Erik mengajak mereka ke fakultas pendidikan di kampus ini. Sampainya mereka di satu ruangan kelas fakultas ini, Okta langsung menjelaskan apa saja yang ada di dalam pendidikan, sementara Erik yang ganteng masih aja betah gali emas di hidungnya. Hal itu membuat ilfeel anak-anak perempuan IPA tujuh, rasa kagum yang sempat mereka miliki pun punah dan hilang tak berbekas.

“Hmmm, nikmatnya, Taaa.”

Please deh, Rik, jangan ngupil mulu kenapa?”

“Ah, gue ngupil pakai tangan gue sendiri, kenapa lo yang repot?”

“Masalahnya lo dilihatin sama anak-anak sekolah!”

Tak sabar menahan amarahnya, Okta yang berdiri di samping Erik pun langsung menendang pantatnya, hingga bernasib sama kayak Coklat tadi. Dia terbang tuiiing dan cling, menghilang.

“Ahh, nooooo?” teriak Erik yang terbang jauh entah kemana.

“Maaf ya, Adik-adik, biasalah dia itu pengacau. Oke, ini dia Fakultas Pendidikan dan ini kelasnya. Kalau adik-adik mau jadi guru atau dosen, di sinilah tempatnya.”

“Oh, jadi kita cuma masuk kelas ini terus keluarnya jadi guru ya, Kak?” tanya Coklat dengan wajah polos.

“Bukan gitu juga, maksudnya ya kalian belajar di sini.”

“Oh, jadi pagi-pagi kita masuk kelas ini dan terus pas keluarnya udah langsung jadi guru, ya?”

“Bukaaan, tapi kamu belajar dulu selama kurang lebih empat tahun di sini.”

“Oh, apa itu enggak pusing belajar selama empat tahun? Saya aja belajar dari pagi sampai siang, kepala udah keluar asap.”

“Maksudnya itu lulusnya setelah empat tahuuun!”

“Oh.”

Kak Okta lalu memasang wajah cemberut di hadapan mereka. Okta pun menarik napasnya dahulu, kemudian membuangnya kembali. 

“Kak, di tempat tinggal saya ada lima orang guru yang mengajar satu anak. Anak itu susah banget diajarinnya, disuruh baca dia enggak mau, disuruh nulis juga enggak mau. Maunya cuma makan sama tidur mulu, kenapa ya bisa begitu? Apa gurunya yang kurang profesional?” tanya Ival.

“Anak itu mungkin kurang normal?” tanya Kak Okta dengan wajah serius.

“Normal loh, Kak. Dia bisa beradaptasi dengan teman-temannya di luar.”

“Pasti anak itu malas belajar, memang anak siapa itu?”

“Anak macan, Kak, susah banget diajarinnya.”

Kak Okta lalu terhening mendengar ocehan yang enggak berbobot. Dia menundukkan kepalanya sambil berdoa.

“Ya Tuhan, makhluk jenis apa yang Engkau kirimkan padaku.” 

Setelah dari Fakultas Pendidikan dan muka Okta yang sudah agak kusut, mereka satu rombongan lalu pergi ke Fakultas Biologi. Mereka diajak ke sebuah lab yang biasa menjadi tempat penelitian makhluk hidup. Di dalam lab ini yang dihiasi oleh berbagai jenis hewan dan tumbuh-tumbuhan kecil.

“Ini Fakultas Biologi, jika kalian ingin mempelajari hewan, tumbuhan dan manusia di sini tempatnya.”

“Kak, tumbuhan sama manusia itu sama-sama makhluk hidup, ya?” tanya Coklat.

“Iya, kenapa?”

“Oh, berarti kalau tumbuhan udah besar, dia bisa disuruh belanja ke warung ya, Kak, terus lagi dia bisa mengerti pacaran juga ya?”

“Enggak, tumbuhan kalau sudah besar berarti dia sudah enggak lagi kecil!” jawab Okta greget.

Setelah dihadapkan oleh pertanyaan-pertanyaan enggak berbobot dari para siswa laki-laki, kini giliran siswa perempuan yang bertanya. Nah biasanya kalau siswa perempuan itu lebih berbobot pertanyaannya.

“Kak, apa tumbuhan itu mempunyai jenis kelamin seperti manusia?” tanya Sweety.

“Iya, tumbuhan itu mempunyai jenis kelamin.”

“Satu lagi, Kak, apa tumbuhan itu bisa mengendarai motor seperti manusia?”

“Itu tidak ada.”

“Oh, tapi di daerah tempat tinggal kami ada, Kak.”

“What, tumbuhan apa itu?”

“Cabe-cabean sama terong-terongan.”

“Haduh, itu tuh hasil perkawinan manusia dengan cabai, makanya kayak gitu. Udah apa jangan buat saya kesal. Please.”

Kak Okta sudah mulai enggak betah terus dekat-dekat sama mereka. Dia ingin semua penderitaan ini berakhir.

“Kapan ya ini udahan? Terus mana lagi si Erik,” ujar Okta.

“Kak, kodok itu hewan yang hidup di dua alam ya, Kak?” tanya Tiar.

“Iya, tepat sekali. Ini baru pertanyaan yang berbobot.”

“Oh, berarti sama dong kayak babi ngepet terus serigala jadi-jadian, mereka juga hidup di dua alam, alam gaib sama alam nyata, Kak,” lanjut Tiar.

“Emak tolooong, Okta udah enggak sanggup lagi ladeni merekaaa!”

Dikarenakan Kak Okta sudah tidak sanggup lagi mendampingi anak IPA tujuh, maka waktu dipercepat, akhirnya jam istirahat pun telah tiba. Mereka, anak-anak IPA tujuh kembali ke aula untuk menikmati isoma.


 ***


Sekarang sudah waktunya isoma, nah kalau urusan makan-memakan, orang-orang aneh itu jagonya. Mereka bertiga mengantri paling depan untuk dapetin nasi kotak terutama yang namanya Coklat. Nasi kotak dibagikan oleh kakak-kakak mahasiswa. Kebetulan saat itu Kak Okta yang membagikannya. Coklat berdiri di hadapan Kak Okta, tangannya menagih nasi kotak sambil tersenyum manis.

“Eh kamu lagi, sudah kali ini kamu jangan nanya yang aneh-aneh.”

“Iya santai aja. Kak, ini gratiskan?”

“Iya,” ucap Kak Okta sambil pasang wajah cemberut.

“Boleh bawa pulang enggak?”

“Enggak,” ucap Okta sambil memberikannya nasi kotak. 

“Isinya apa aja?”

“Udah cepat, yang lain udah pada antri noh!”

“I … iya, Kak.”

Coklat pun lalu pergi dari hadapan Okta, Erik yang berdiri di sampingnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Baru kali ini gue lihat lo dibuat stress sama tuh anak.”

“Makanya entar lo gantiin gue buat ngadepin tuh anak.”

“Tenang aja, bocah SMA kayak dia mah, kecil buat gue.”

Nasi kotak sudah dibagikan semua kepada para siswa SMA Harapan Nusantara. Di tempat duduk paling belakang, berkumpullah orang-orang aneh sedang menikmati makan siangnya. Dari cara mereka makan dengan begitu lahapnya, sudah dipastikan bahwa mereka sengaja tidak sarapan di rumah hanya untuk mendapatkan makanan gratis.

“Enggak sia-sia gue enggak makan dulu di rumah, enak banget nih makanan sumpah,” ujar Coklat dengan bangga sambil menyomot daging sapi dari kotak.

“Iya sama, gue juga udah lapar banget nih,” ucap Ival seraya seperti Coklat.

“Betul, kalau gue sih betah tinggal di sini, makanannya aja enak banget,” ucap Tiar.

Sweety dan Wakamiya yang duduk di depan mereka, rasanya kasihan mendengar ucapan mereka seperti orang yang baru pertama kali ketemu sama nasi.

“Kasihan ya mereka, Miya, kayak orang kelaparan.”

“Iya, Sweety, untung aja aku enggak kena virus aneh kayak mereka.”

“Eh ngomong-ngomong ruangan ini dingin ya, kayaknya enak nih buat makan yang pedas-pedas.”

“Kamu mau makan yang pedas-pedas?”

“Hmm… boleh.”

Kemudian Wakamiya mengambil sesuatu dari kantung plastik berwarna hitam. Wakamiya dengan entengnya menawarkan ratusan cabai rawit pada Sweety.

“Nih, Sweety, makanan yang kamu cari.” Senyum Wakamiya.

“Apaan nih?!”

“Makanan pedas, cobain deh pasti kamu ketagihan habis makan ini.”

“Et dah, kamu ternyata sama aja kayak mereka, masa aku ditawarin makan cabai? Yang benar aja!”

“Sudahlah, Sweety, enggak baikkan menolak tawaran dari teman sendiri.”

Akhirnya mau enggak mau, Sweety dengan senang hati memakan cabai pemberian dari Wakamiya. Sweety mengunyah cabainya penuh dengan rasa senang di hadapan Wakamiya, padahal dalam hatinya. Ya ampuuun, kenapa teman gue bisa polos kayak si Coklat ya, tidaaaak!

“Kamu senang banget sih, aku kasih cabai. Besok aku bawain ke sekolah buat kamu.”

“Enggak usah … enggak usah, mending kamu kasih sama Ival aja tuh.”

Lima menit kemudian, akibat kebanyakan makan cabai. Tampang Sweety mulas, dia memegangi perutnya. Dia sudah tidak tahan lagi menahan mulasnya dan keluarlah gas beracun dari salah satu lubang bagian tubuhnya. Gasnya menyebar ke seluruh ruangan aula ini.

“Aaaahh … legaaaa.” 

Ucup mengendus-ngenduskan hidungnya. Dia menghirup aroma aneh yang mengelilingi ruangan aula ini.

“Wangi apa ini?

Ini ceritanya yang salah apa hidung dia yang salah? Kalau Ucup menikmati aroma harum di hidungnya, berbeda dengan anak-anak lain. Napas-napas dari mulut mereka serasa mau berhenti. Mereka kompak terjatuh dari tempat duduknya sambil memegangi lehernya masing-masing.

“Bau apa ini? Uhuk … uhuk,” ucap salah satu siswa.

“Aduuh, Val, bau apa ini menyengat sekali uh … uh …,” ucap Coklat merintih.

“Entahlah, sepertinya ini gas beracun,” ucap Ival.

“Sepertinya kita akan tewas,” ujar Tiar.

Tidak hanya siswanya yang mati-matian untuk bertahan hidup dari gas beracun ini, tapi guru mereka juga.

“Uhuk … uhuk … ada apa lagi ini, Pak Kepala Sekolah?” tanya Bu Riny yang sudah tak sanggup menahan gas beracun ini.

“Entahlah, Bu.”

Sementara Wakamiya sudah tak sadarkan diri, dia pingsan tergeletak di lantai begitu juga dengan Sweety. Ternyata secantik-cantiknya perempuan, kalau kentut masih bau juga. Melihat kondisi yang semakin memburuk, pihak kampus segera memanggil ambulan.

“Gawat! Panggil ambulan sekarang juga!” teriak Kak Okta.

Pihak medis pun datang, mereka bergegas masuk ke dalam aula dengan menggunakan masker lalu menyemprotkan ruangan aula ini dengan gas pewangi ruangan. Setelah usai menyemprotkan aula ini, tim medis membawa dan mengevakuasi para korban yang rata-rata sudah tidak berdaya lagi ke tempat yang aman.

Di pelataran masjid kampus, para siswa SMA Harapan Nusantara tergeletak tak berdaya, begitu juga dengan guru-guru mereka. Di sisi lain, tim medis bersama kakak-kakak mahasiswa terus mengobati mereka. Coklat yang masih tertidur, tak sadarkan diri terus diobati oleh Kak Okta. 

“Haduh, baru kali ini ada sekolah yang nyusain kampus, mulai dari banjir iler sampai ada yang kentut di aula, haduh haduh.”

Kalau orang cantik itu sudah ketahuan dari wanginya. Wangi parfum Okta perlahan-lahan memasuki lubang hidung Coklat, hingga dia tersadar, namun dia sengaja mengintip Kak Okta dan tanpa basa-basi lagi, Coklat lalu memonyongkan bibirnya. Berharap Kak Okta mau menciumnya.

“Ayo dong, Kak, kasih napas buatan,” ujar Coklat di hatinya.

Dengan ekpresi geli, Okta melihat Coklat memonyongkan bibirnya.

“Idiiih … dasar orang aneh.”

Plak! 

Coklat pun terbangun oleh suara tadi. Dia hanya mengusap-usapkan pipinya yang memerah.

“Sakiiit, Kak.”   

“Makanya jangan suka cari kesempatan di dalam kesempitan! Itu akibatnya!” 

Dikarenakan para rombongan dari sekolah sudah tidak sanggup lagi melanjutkan kegiatan study campus, akhirnya para rombongan pun kembali ke dalam bus masing-masing. Wajah-wajah mereka terlihat pucat pasi tak bersemangat. 

Di waktu yang bersamaan, Coklat dan Ival yang sadar segera pergi ke toilet kampus. Akibat kebanyakan makan, perut mereka tidak bisa berkompromi dengan keadaan. Sayangnya mereka tidak tahu kalau teman-temannya sudah kembali ke bus. Di dalam toilet mereka menikmati sangat saat sebuah benda kuning jatuh ke dalam WC, plung!

“Nikmatnyaaa,” ujar Coklat nangkring di WC duduk.

“Woy! Siram napa! Bau banget tahu!” teriak Ival dari toilet sebelah.

“Udah jangan protes! Lo nikmati aja keharumannya, hahaha.”

Sementara para rombongan dari SMA Nusantara sudah meninggalkan kampus. Suasana di dalam bus terasa sepi, mereka semua masih merasakan pucat pasi gara-gara hampir diracuni sama kentutnya Sweety. Disaat bersamaan, Coklat dan Ival keluar dari toilet kampus sambil memegangi perutnya. Tanpa disangka-sangka, muncul Kak Erik di hadapan mereka sambil mengupil tentunya.

“Eh kalian ngapain masih di sini?”

“Habis boker. Maaf ya, Kak, ampasnya udah kita masukin ke jamban, kalau Kakak mau ambil aja,” jawab Coklat.

“Hah, palelu!”

“Udahlah, Kak, jangan malu-malu. Saya tahu Kakak mau ngambilin ampas kita berdua kan?”

“Dih, enggaklah! Kakak cuma mau kasih tahu kalau teman-teman kalian sudah pada pulang tuh, barusan naik bus.”

“Mereka ninggalin kita, Kak?” tanya Coklat.

“Iya, cepat kalian susul.”

“Hooreeee! Kita bakal tinggal di kampus terus tiap hari itu artinya kita bakal ketemu sama Kak Okta. Cihuuuy!” seru Ival dan Coklat kegirangan.