Episode 10 - Venus Trap


Bell yang baru saja melihat Neil pergi, terdiam membeku memasang wajah tak percaya. Kedua tangan yang masih memegang senjata direndahkan. Telapak tangan kirinya mengepal kuat dengan ekspresi terpojok.

Di sisi lain, Throta dan Oddy yang baru saja menyelesaikan urusannya, membunuh para Shadow mengambil istirahat singkat. 

"Bell, bensinnya!" Throta mendekati Bell yang masih memandang ke bawah, tempat saat Neil melompat ke dalam air. 

Di antara tiga orang agen baru yang masih baru, Neil memilih untuk menyelamatkan pemimpin mereka. Itu memang bukan pilihan yang mudah, tapi melihat reaksinya yang bertindak secepat itu, Neil pasti tidak berpikir panjang? Terlebih lagi dengan waktu yang terbatas.

Tidak seharusnya Neil meninggalkan Bell sendirian. Apalagi, tanggung jawab utamanya seharusnya adalah mengawasi Bell. 

Bukan berarti pilihan Neil salah, tapi ini adalah sifat egois Bell. Dengan sifat Bell yang sebenarnya sangat mudah tertekan, ia tidak bisa berbohong akan perasaan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi ke depannya.

Bell mengambil jerigen bensin dan menyebarkannya pada potongan-potongan Shadow yang menggeliat di tanah, lalu memberi percikan kecil untuk membakar semuanya. 

Tetes bensin terakhir baru saja digunakan. Yang tersisa hanyalah peluru tambahan di ransel yang sedang dibawa Bell. Itu pun tak banyak.

"Ugh, aku harap mereka berdua baik-baik saja." Oddy duduk bersandar pada tembok, menunjukkan wajah tak senang. 

"Yah, kuharap begitu." Throta membalas dengan wajah yang sama. "Pada akhirnya, ini terjadi lagi. Mungkin, setelah ini aku akan berhenti."

Throta berbisik dengan santai, seolah dirinya tahu kalau ini akan terjadi. Bagi agen khusus yang baru menjalankan misi beberapa kali, tidak ada yang aneh dengan berpikir negatif.

"Aku akan keluar." Dengan ekspresi kesal, Bell mengucapkannya. "Berdiam diri di sini bukanlah hal yang tepat."

"Huh... tapi, Neil bilang untuk menunggu di sini." Throta memasang wajah ragu. Di sebelahnya, Oddy muka yang sama. "Bagaimana jika nanti mereka kembali?"

"Bagaimana jika mereka tidak kembali?" Bell balik bertanya. "Bensinnya sudah habis. Perlengkapan yang kita miliki juga hampir habis. Tidak ada jaminan mereka berdua akan kembali. Selain itu," Bell memalingkan pandangan. "Neil bisa menjaga diri sendiri."

Jika harus mengaku, ucapan Bell ada benarnya. 

"Jika kalian berdua tidak ingin ikut, aku akan pergi sendiri!"

"T-tunggu sebentar." Throta mencoba menghentikkan Bell. "Bukankah ini sedikit terburu-buru? Bukan berarti aku tidak setuju, hanya saja dia itu pemimpin kami. Rasanya aneh meninggalkan kalau kami berdua meninggalkan dia begitu saja."

Throta memberanikan diri, menguatkan hatinya.

Bell tidak mengerti. Ia menggigit bibir dengan keras. 

Bell sendiri tidak bisa menyangkal, kalau meninggalkan Neil sendirian adalah pilihan yang bagus. Berdiam di satu tempat atau bergerak tanpa pengawasan Neil, keduanya bukan pilihan yang benar. Ini semua salah Neil bertindak seenaknya begitu saja, pikir Bell.

Semua kemungkinan buruk yang akan terjadi, Neil lah yang harus menanggungnya. Pilihan mendesak seperti inilah yang sangat dibenci Bell.

"Apa yang kalian berdua ingin lakukan?" tanya Bell dengan serius.

"Kita akan pergi mencari mereka berdua." Throta menyarankan.

Oddy bangkit. "Ya, aku setuju."

Bell yang tidak suka perdebatan mengikuti. "Terserah kalian saja. Tapi, jangan menyalahkanku jika sesuatu yang buruk terjadi pada kalian berdua." Bell memalingkan pandangan, menyembunyikan seluruh ekspresi wajahnya.

"Jangan berkata seperti itu. Setidaknya, cobalah berpikir positif." Throta menghela."


***


Suara hembusan angin bisa didengar dengan jelas. Juga suara-suara berisik mesin generator. Dari hal itu, Neil bisa tahu kalau mereka berdua dekat dengan ujung terowongan. Seharusnya, tidak jauh dari tempat ini adalah lautan lepas.

Dengan seluruh pakaiannya yang basah, butuh usaha yang keras untuk berenang mengejar Dira. Beruntung arus sungainya tidak deras, dengan berbagai jenis sampah yang mengambang, membuat pergerakan Dira melambat sehingga Neil bisa menggapainya.

Setelah berhasil memotong benda yang mengikat kaki Dira, Neil menarik keluar tubuhnya yang sudah tak bernapas. 

Setelah menggapainya dengan susah payah, tidak mungkin Neil menyerah begitu saja. Tanpa membuang waktu, ia membuka jaket Dira. 

Neil menaruh satu tangan di tengah dada Dira, lalu menindihnya dengan tangan yang lain. Neil memompa sambil memastikan agar tulang rusuknya tidak didorong dengan kuat. 

Satu… dua… tiga… dan seterusnya.

Merasa sudah cukup, Neil berhenti. Ia mendekatkan tangan pada hidung Dira mengecek bagaimana hasilnya. Namun, sia-sia. Dira tidak bernapas sama sekali.

Cara yang terakhir. Tidak ada pilihan. Napas Buatan.

Neil berpindah tempat. Kali ini ia menutup hidung Dira rapat-rapat agar tidak ada udara yang keluar. Neil menarik napas panjang. Tanpa ragu atau pikir panjang, Neil mendekatkan bibirnya pada bibir Dira. Kedua bibir yang saling bersentuhan dengan rapat tidak membiarkan udara masuk ataupun keluar. Neil secara perlahan mendorong udara dari mulut ke mulut.

Ketika napas Neil habis, ia berhenti, menarik napas kembali. Kemudian melakukan hal yang sama beberapa kali. 

Kedua mata Dira terbuka. Rasa terkejutnya yang tak bisa ditahan membuat Dira mengangkat kepalanya. Selagi Dira batuk mengeluarkan semua air yang menyumbat saluran pernapasannya, Neil menopang tubuhnya dengan kedua lengan.

Dira bernapas tak menentu menggunakan mulut. Rasa lelah kembali membuatnya berbaring di lantai yang dingin. Kali ini, napasnya sedikit lebih santai.

Sambil memejamkan kedua mata dan napas terengah-engah, Dira membuka mulut. “Ugh… a-aku kira… aku sudah… mati.” 

“Uuh, yah… aku kira juga begitu.” Neil duduk, melemaskan semua ototnya. Beberapa saat kemudian, tubuhnya ikut terbaring dan beristirahat.

Untuk menyelamatkan Dira, Neil harus berenang, memotong benda yang menariknya, menyeret tubuhnya ke daratan, lalu memberikan pertolongan pertama. Setelah melakukan itu, semua orang tentunya akan merasakan kelelahan.

“Ngomong-ngomong, di mana ini?”

Dira bangkit dari posisi terbaring ke posisi duduk. Dengan pakaian yang basah, rasanya jadi sedikit lebih berat. Suasananya tidak berbeda jauh dari tempat terakhir yang ia ingat. Namun, fakta bahwa di sana hanya ada mereka berdua membuatnya ragu. 

“Aku sendiri tak yakin.”

Ini pertama kalina Neil ke tempat ini. Selain itu, tab yang berisi map terowongan itu ia tinggalkan beberapa saat lalu. 

Neil berdiri sambil memandang ke bawah menuju Dira. “Bagaimana kakimu?”

Dira tidak menyadarinya, tapi ia ingat jelas bahwa kakinya ditarik dengan kuat.

Di salah satu bagian pergelangan kakinya ada memar biru dan juga bekas lilitan bisa dilihat dengan jelas. Bagian terburuk, tulang kakinya patah akibat tekanan dari lilitan. Dengan ini, Dira tidak bisa berdiri ataupun berjalan.

“Sepertinya sangat buruk.” Dira menghela napas panjang. “Aku masih lelah dan juga tidak bisa berjalan. Mungkin akan lebih baik jika kau meninggalkanku, Neil.” Dira memandang Neil tegas.

Kali ini, Neil yang menghela. “Kalau begini jadinya, aku tidak akan menyelamatkanmu.”

“Huh…?” Dira memasang wajah bingung. 

Entah apa maksud ucapan Neil, tapi sepertinya ia tidak bercanda. Yang namanya Manusia itu sering mengalami penyesalan. Jadi, tidak terlalu sulit untuk mengatakan bahwa orang itu menyesal atau tidak.

Neil memasukkan pisau miliknya di sabuk bagian belakang, lalu menyembunyikannya dibalik jaketnya. Senjata yang dibawa Dira lenyap mengikuti arus. Neil menyimpan pistol kecil yang disembunyikan di balik jaketnya. Jadi, senjata yang tersisa hanya senjata api kecil dan pisau yang entah akan berguna atau tidak nantinya.

Neil memeras syal merahnya yang panjang. Harus diakui, syalnya membuat Neil cukup kesulitan saat berenang tadi. Namun, karena suatu alasan ia tidak bisa melepasnya. Setelah semuanya selesai, Neil jongkok di hadapan Dira.

“Naiklah!”

“Huh… Neil, apa tidak salah?” Tatapan aneh dengan banyak pertanyaan terlihat di wajah Dira. “Tidak mungkin aku naik di punggungmu! Tidak, lebih tepatnya… aku tidak ingin seorang perempuan menggendongku di punggung!”

“Harga dirimu itu menganggu! Kita tidak punya banyak waktu. Semakin lama di sini, semakin berbahaya.” Karena Neil memunggungi Dira, wajah mereka berdua tidak saling bertemu.

“Kau yakin? Ini bukan masalah harga diri lagi. Maksudku, apa kau kuat?”

Tidak aneh jika Dira menanyakan hal itu. Perempuan yang bisa menggendong pria rasanya terdengar sedikit aneh.

“Berhentilah meremehkanku!” 

Tanpa melihat ekspresi wajah, Dira tahu Neil mulai kesal dari nada bicaranya.

Dira menyeret kakinya, lalu meraih pundak Neil. Setelah memegang erat, Dira merangkul satu tangan ke tangan yang lain. 

Neil menggunakan otot kakinya yang sudah terlatih untuk berdiri. Dengan kondisi tubuhnya yang sudah lelah dan juga pakaian mereka berdua yang basah kuyup, membuat Neil harus mengeluarkan hampir seluruh tenaganya hanya untuk berdiri.

“Waa… Neil, kau lebih kuat dari yang kukira!” Dira takjub. “Tapi, dengan kondisi seperti ini, apa kau tidak apa-apa?”

“Pastikan saja agar tanganmu tidak mencekik leherku!” 

Neil mulai berjalan. Tidak seberat saat ia berdiri, tapi tetap saja terasa berat.

“Neil, bagaimana caramu bisa sekuat ini?”

Untuk sesaat Neil menutup mulutnya rapat. Ia sendiri tak yakin harus berkata apa. Ia jarang melatih ototnya atau melakukan olahraga. Jadi, tidak mungkin ia bisa sekuat ini karena melakukan itu. Satu-satunya yang terpikir adalah karena itu, meski ia sendiri tak yakin.

“Aku sendiri tak tahu,” jawab Neil datar.

Bukan hanya Dira, tapi juga Navi, Rico, Arbi, Noxa, dan yang lainnya juga mengatakan sesuatu yang sama. Bahwa Neil kuat. Karena hal itu, Neil jadi merasa terganggu. Lagipula, bukan berarti ia bisa memukul dan membunuh Outsiders dengan tangannya itu.

“Ngomong-ngomong, yang tadi itu apa?” 

Neil berdeham tanpa menghentikkan langkah kaki. “Maksudmu yang menyerangmu?”

“Iya.” Dira mengangguk. “Aku tidak tahu banyak tentang Outsiders. Lagipula, tidak ada keterangan tentang hal ini di laporan.”

Dira mengingat-ngingat isi laporannya. Terlebih lagi yang menariknya hanya sebuah tentakel kecil berwarna ungu. Terlihat seperti gurita.

“Venus Trap. Justru jika Outsiders jenis ini ada di sini, kita tidak akan mengambil misi di tempat ini.”

Venus Trap, Rank B. Satu-satunya Outsiders berjenis tanaman yang tumbuh dengan bantuan matahari dan juga air. Biasanya mereka tumbuh di tengah-tengah hutan di dekat sungai yang memiliki lapangan terbuka. Menyerap unsur hara di sekitarnya. Karena itu, biasanya area yang ditempati mereka akan mati karena kekurangan makanan atau air.

Dilihat dari data, Neil hanya bisa berpikir kalau itu mustahil untuk Venus Trap hidup di sini. Meski banyak air, cahaya di sana terbatas. Juga tidak bisa menyerap makanan dari sekitar karena memang tidak ada makhluk hidup di sana. Jika benar Venus Trap hidup di tempat gelap itu, maka mereka kembali berevolusi lagi. Kejadiannya mirip seperti Black Horn yang Neil lawan beberapa hari lalu. Bukan hanya ukuran, tapi juga kemampuannya berkembang.

“Mereka biasanya memasang jebakan beberapa puluh meter dari tubuh utamanya. Ketika ada rangsangan, benda itu akan bergerak dan melilit mangsanya.”

“Uhm, kemudian?”

“Aku tidak tahu. Mungkin memakan mangsanya. Tapi, tidak ada organ pada Venus Trap untuk memakan makhluk hidup atau mencerna mereka.”

Neil sudah pernah melawannya satu kali, jadi ia bisa mengatakannya dengan yakin.

“Bukankah aneh jika mereka menarik makhluk hidup seperti itu tanpa alasan khusus?” 

Meski Neil merasa ucapannya benar, ia tidak punya pengetahuan yang cukup untuk menjawabnya dengna yakin. Tugasnya hanyalah membasmi Outsiders.

“Sebelum kita bertemu dengan Rank B, akan lebih baik kita keluar dari tempat ini.” Neil mempertegas suaranya. 

Tanpa senjata dan anggotanya, bertemu dengan tubuh utama Venus Trap hanya akan membawa kematian.

“Neil, maaf merepotkanmu.” Dira berbisik dengan suara pelan.

“Tidak jadi masalah. Ini tanggung jawabku.” 

Seandainya bukan tanggung jawab, bagaimana? Seketika Neil mengatakan itu, Dira bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

“Aku sedikit membuat kesalahan.” Neil menghela napas panjang. 

“Kenapa?”

“Saat aku mengejarmu, aku menyuruh anggota yang lain untuk menunggu. Seharusnya aku menyuruh mereka untuk pergi duluan.” 

Setelah bertemu dengan Venus Trap, keadaan mereka bertiga tentunya jauh lebih berbahaya.

“Ah, yah… jika itu Throta dan Oddy, kemungkinan besar mereka mungkin akan mencari kita.” Dira memasang senyum kaku. 

Itu bahkan jauh lebih buruk lagi.