Episode 139 - Percikan Kecil



“Swush!” 

Sebuah gerbang dimensi tetiba berpendar dan membuka. Akan tetapi, gerbang dimensi ini berbeda adanya, karena berwarna keemasan. Dari dalam gerbang dimensi, terlihat latar belakang warna putih yang seolah hamparan cahaya tanpa batas. 

Dari balik gerbang dimensi tersebut, kemudian terlihat seorang remaja lelaki melompat lincah keluar. Ia mengenakan sebuah jubah berwarna gelap, hitam dan kelam. Rambutnya acak-acakan. Demikian, yang terlihat jelas adalah wajah sosok yang putih pucat, sangat kontras dengan warna jubah. Sorot matanya dingin, kantung matanya demikian hitam. Raut wajahnya meski tampan, menyibak bengis. 

Seorang gadis menyusul, ikut melompat keluar. Ia mengenakan pakaian kulit yang serba hitam nan mengkilap. Akan tetapi, bukanlah warna hitam tersebut yang menarik perhatian, melainkan betapa super ketatnya pakaian tersebut menempel di sekujur tubuh. Pakaian itu menutup dari tulang selangka di bawah leher, sampai ke ujung kaki. Di beberapa bagian pakaian, terlihat ikatan-ikatan pengencang mirip pengikat pada sabuk. Lalu, pada posisi leher, melingkar sebuah kalung tali kekang dengan duri-duri pendek dari besi yang tajam memantulkan cahaya! 

Tak lama, sesosok tubuh lain lagi, keluar dari dalam gerbang dimensi yang sama. Ia mengenakan kain kemben sampai ke bawah lutut. Akan tetapi, sekujur tubuhnya kemudian dibungkus oleh jubah berwarna hitam sampai setinggi betis. Sebentuk tudung yang melekat di sisi atas jubah, dikenakan demikian dalam. Sampai-sampai, tudung tersebut menutup setengah wajah, sehingga menyembunyikan parasnya yang elok. Dagu yang terlihat sungguh ramping, dengan hiasan bibir ranum yang merah merekah.  

Kum Kecho, Melati Dara dan Dahlia Tembang, keluar dari dimensi berlatih khusus milik Sang Maha Patih. Yang sulit dicerna, adalah ketiganya sudah berada pada… Kasta Perak Tingkat 1! 

“Apakah kita akan kembali ke wilayah Partai Iblis, Tuan Guru…? ujar Melati Dara. 

Di saat yang bersamaan, rambut di kepala Melati Dara memanjang perlahan. Jalinan rambut tersebut kemudian melingkupi seluruh tubuh yang dibalut pakaian super ketat, sampai ke mata kaki. Kemudian, jalinan rambut merangkai diri menjadi sebuah jubah nan hitam. 

“Tuan Guru, apakah sesungguhnya tujuan kita?” sambung Dahlia Tembang. Aneh, saat berbicara, Dahlia Tembang bahkan tak menggerakkan bibir merahnya. Unsur kesaktian bunyi dapat tercipta dan merambat melalui udara kosong! 

Pertanyaan yang diajukan Dahlia Tembang tadi lebih untuk mencari tahu alasan mengapa mereka selama ini berlatih setengah mati di dalam ruang dimensi. Dalam benaknya, pastilah Tuan Guru Kum Kecho memiliki tujuan yang lebih dalam dari sekadar hendak meningkatkan kemampuan bertarung, dan tentunya bukan karena untuk kembali ke Partai Iblis. 

“Kita akan mencari dukungan,” jawab Kum Kecho sembari memasang tudung Jubah Hitam Kelam, lalu melangkah pergi.  

Demikian, tiga tokoh berjubah hitam bergerak meninggalkan puing-puing ibukota lama, Sastra Wulan. 


===


“Duar! Duar! Duar!”

“Apa yang kalian perbuat!? BANGSAT!” seru seorang remaja. Dagunya panjang menatap ke depan. 

Sejumlah remaja lain terjungkal tak berdaya. Kesemuanya memuntahkan darah. Hantaman datang di saat tak terduga dan secara tiba-tiba. 

“Kami datang dari Perguruan Maha Patih!” 

“Mengakulah dan bertobatlah kalian!”

“Sejumlah ahli dari Perguruan Maha Patih menghilang! Perguruan kalianlah yang melakukan tindakan tak terpuji!” 

Diketahui bahwa ada hubungan yang rumit antara Perguruan Maha Patih dengan Persaudaraan Batara Wijaya. Persaudaraan Batara Wijaya memegang teguh status mereka sebagai perguruan yang memiliki hubungan darah dengan penguasa Negeri Dua Samudera di masa lalu, yaitu Sang Maha Patih. Sedangkan perguruan terbesar di Kota Ahli, mengambil nama sebagai Perguruan Maha Patih. 

Selama ini, yang terjadi di antara dua perguruan besar di tengah dan timur Pulau Jumawa Selatan hanyalah perang urat syaraf. Murid-murid dari kedua perguruan selalu terlibat dalam persaingan keahlian. Mereka berlomba-lomba untuk mengungguli satu sama lain dalam persilatan dan kesaktian...

Akan tetapi, mengapa hari ini Perguruan Maha Patih yang tersohor akan nilai-nilai kebajikan, menyerang Persaudaraan Batara Wijaya!?

Di pagi hari nan cerah, hampir seribu ahli yang berada pada Kasta Perunggu dari Perguruan Maha Patih telah mengepung pintu gerbang Persaudaraan Batara Wijaya. Sesekali, beberapa regu yang berjumlah lima orang merangsek maju. Mereka berupaya merusak gerbang besar Persaudaraan Batara Wijaya. 

Dalam dunia keahlian, pengrusakan terhadap gerbang perguruan berarti hinaan besar terhadap para murid-muridnya. Oleh karena itu pula, murid-murid Persaudaraan Batara Wijaya berupaya melindungi gerbang perguruan mereka. Seorang remaja berdagu panjang, berdiri di garis depan. Tak akan rela ia bilamana ada pihak yang datang hendak mencoreng arang atas harga diri perguruan! 

“Duar! Duar! Duar!”

Serangan demi serangan kembali dilancarkan! Murid-murid dari Perguruan Maha Patih merangsek maju, lalu mundur. Mereka memancing agar murid-murid dari Persaudaraan Batara Wijaya maju, untuk kemudian dikerubuti beramai-ramai. 

Peraturan tak tertulis dunia keahlian perihal sengketa antar dua perguruan sangatlah unik. Bilamana pertarungan berlangsung di antara murid-murid Kasta Perunggu, maka murid-murid Kasta Perak atau para petinggi pada Kasta Emas tidak diperkenankan untuk campur tangan. Pion berhadapan dengan pion. 

Campur tangan dari ahli yang lebih tinggi hanya akan menjadi cemooh dari dunia keahlian. Sederhana adanya.

Dengan demikian, Persaudaraan Batara Wijaya kalah jumlah. Perguruan ini sangatlah ketat dalam menetapkan murid. Dengan suatu cara, mereka memeriksa dan memastikan apakah di dalam nadi calon murid mengalir darah keluarga Sang Maha Patih. Murid Utama dan Murid Madya hanya mereka yang diketahui berdarah ‘biru’ sampai pada kadar tertentu. Bila tidak memiliki darah Sang Maha Patih, maka sehebat apa pun keahlian seorang murid hanya akan digolongkan sebagai Murid Purwa. 

Walaupun memiliki murid-murid dengan bakat dan tingkatan keahlian jauh di atas rata-rata, mereka kalah jumlah menghadapi Perguruan Maha Patih yang membuka diri dan tak melakukan diskriminasi terhadap murid-muridnya. Sebagaimana halnya Perguruan Gunung Agung, di Perguruan Maha Patih bakat dan kemampuan adalah yang utama. Murid-murid Kasta Perunggu Persaudaraan Batara Wijaya tak lebih dari limaratus ahli!

“Lancang sekali kalian menyerang Persaudaraan Batara Wijaya!” seru si Dagu Panjang, yang diketahui pernah berhadapan dengan Bintang Tenggara saat Kejuaraan Antar Perguruan di Kota Ahli. 

Remaja berdagu panjang lalu maju ke depan. Dengan percaya diri tinggi, ia melangkah keluar dari gerbang perguruan seorang diri. Seorang diri pula kini ia berdiri. Kepalan tangan kanannya diacungkan ke hadapan. 

“Itu adalah remaja sombong yang menguasai Tinju Super Sakti, jurus andalan Sang Maha Patih!” seorang murid dari kubu Perguruan Maha Patih mengingatkan temannya yang baru hendak melangkah maju. 

“Hati-hati!” 

“Tapi... tapi jurusnya belum sempurna. Saat Kejuaraan Antar Ahli, ia gagal melepaskan jurus tersebut... dan kalah saat berhadapan dengan seorang murid Kasta Perunggu Tingkat 5 dari Perguruan Gunung Agung....”

“Atas alasan apa kalian lancang menyerang Persaudaraan Batara Wijaya!?,” sergah si Dagu Panjang. “Perseteruan di antara kita selama ini berlangsung sehat di dalam bidang-bidang keahlian!?” 

“Jangan kau berpura-pura bodoh!” terdengar jawaban dari kubu Perguruan Maha Patih.” 

“Kalian diam-diam membunuh murid-murid dari Perguruan Maha Patih! Bahkan tindakan keji tersebut kalian lakukan di saat Kejuaraan Antar Perguruan berlangsung!” 

“Omong kosong!” hardik si Dagu Panjang. “Aku ikut serta dalam Kejuaraan Antar Perguruan. Aku berada di sana dan kami tak terlibat dalam apa pun yang berlangsung di Perguruan Maha Patih!” 

“Dusta! Tak ada maling yang akan mengaku!”   

“Apa bukti yang kalian miliki!?” Si Dagu Panjang berpikir logis. 

“Tak perlu bukti. Salah seorang sesepuh kami yang mengisyaratkan bahwa Persaudaraan Batara Wijaya adalah pelakunya!” 

“Duar! Duar! Duar!” 

Tukar-menukar kata-kata segera terhenti. Ledakan bertubi-tubi kembali terdengar. Karena menang jumlah, murid-murid Perguruan Maha Patih tak terlihat gentar. Berbagai macam jurus unsur kesaktian mengincar si Dagu Panjang. 

“Tinju Super Sakti! Gerakan Pertama: Badak Menghantam Gunung!” 

Si Dagu Panjang membalas dengan jurus andalannya. Akan tetapi, murid-murid Perguruan Maha Patih telah siap sedia. Beberapa dari mereka memasang formasi segel perlindungan, beberapa lagi menahan dengan perisai-perisai yang terlihat tak tergoyahkan. Dari manakah perisai-perisai tersebut berasal...?

“Hya!” 

Puluhan murid-murid dari Persaudaraan Batara Wijaya merangsek maju. Harga diri mereka terlalu tinggi untuk membiarkan seorang teman menjadi bulan-bulanan di depan gerbang perguruan sendiri. 

Ratusan murid dari Perguruan Maha Patih menghadang. Kedua kubu segera terlibat dalam pertarungan yang berat sebelah. Meski murid-murid dari kubu Persaudaraan Batara Wijaya terlihat lebih piawai, mereka terdesak karena kalah jumlah dan kalah senjata. 

“Duar! Duar! Duar!” 

Puluhan murid lain dari Perguruan Maha Patih memanfaatkan kesempatan untuk menyerang gerbang besar milik Persaudaraan Batara Wijaya. Mereka menghantam membabi buta dengan tujuan merusak. Meski demikian, serangan tersebut ditangkal oleh puluhan murid-murid yang merangsek keluar dari dalam gerbang. 

Titik-titik pertarungan terjadi di beberapa tempat. Suara bising terdengar kemana-mana. Teriakan-teriakan kesakitan terdengar memilukan. Kubu Persaudaraan Batara Wijaya hanya mampu bertahan! 

...


Di atas sebuah perbukitan di kejauhan, sebuah kereta kuda terlihat sedang parkir. Kereta kuda tersebut demikian mewah, dengan berbagai ukiran halus buah karya tangan-tangan terampil. Sepertinya kereta kuda tersebut sedang mengamati pertempuran yang sedang berlangsung antara murid-murid Perguruan Maha Patih dan Persaudaraan Batara Wijaya. 

Kusir kereta duduk di depan menyilangkan lengan. Ia mengamati wilayah di sekeliling, kemungkinan untuk menghapal wilayah dimana ia berada. Di belakang kereta, seorang remaja kurus kerempeng membalik lembaran-lembaran kertas kosong. Tugas sebagai juru tulis mengharuskan ia mencatat secara rinci setiap kejadian di depan mata. 

“Slurrp...” Seorang lelaki menyeruput santai secangkir teh di atas meja kecil di dalam kabin kereta kuda.. 

“Sudah cukup lama diriku tak mendengar musik merdu yang dihasilkan dari sebuah pertempuran. Sungguh melodi yang menghangatkan jiwa.” Seorang lelaki berkepala botak meletakkan cangkir teh. 

“Saudaraku Kertawarma, Sesepuh Ke-15 dari Perguruan Maha Patih, sungguh piawai dikau menyiapkan panggung,” sambungnya.

“Hahaha… Sahabatku Malin Kumbang, dikau terlalu berlebihan. Suguhan kali ini hanyalah percikan kecil. Sungguh… Sungguh tiada banding dengan dikau yang terbiasa mengadu domba kerajaan-kerajaan di berbagai Pulau Utama.” 

Meski sedikit merendah, terlihat bahwa Sesepuh Kertawarma demikian bangga akan pencapaiannya hari ini. Menyerang Persaudaraan Batara Wijaya memanglah perkara kecil baginya yang menyandang predikat tinggi di Perguruan Maha Patih.

“Apakah suguhan ini nantinya tak akan menyebabkan dikau ditimpa masalah di Perguruan Maha Patih…?” Malin Kumbang kembali menyeruput teh hangat. Matanya melirik tipis. 

“Hahaha… Penyerangan ini bukanlah atas anjuranku. Murid-murid menyerang atas prakarsa mereka sendiri…” 

“Hahaha… Bukankah dikau yang menyulut isu kebencian? Dikau pula yang menyebar desas-desus kematian anak didikmu yang disebabkan oleh murid-murid dari Persaudaraan Batara Wijaya.”

“Hahaha… Memanglah dikau tiada dapat dikelabui, wahai sahabatku. Mudah sekali bagi murid-murid itu termakan isu. Akan tetapi, bukanlah diriku yang memberikan perintah langsung kepada mereka, sehingga Perguruan Maha Patih tak akan bisa menuduh yang bukan-bukan….” 

“Dan di saat yang sama, aku dapat menguji coba perisai dan senjata yang baru saja diproduksi dari pabrik…,” sahut Malin Kumbang. 

“Sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui….”

“Hahaha…” 

“Hahaha…” 


“Beledar!” 

Salah satu sisi gerbang Persaudaraan Batara Wijaya hancur berhamburan. Serangan murid-murid Perguruan Maha Patih tak terbendung lagi! Situasi kalang-kabut beriak di hadapan gerbang perguruan yang terkenal akan harga diri tinggi setiap satu dari murid-muridnya. 

“Uhuk!” 

Remaja berdagu panjang tak kenal takut. Harga dirinya melarang akan kemungkinan tersebut. Dengan demikian, ia menerima banyak serangan dari lawan. Pada akhirnya, ia jatuh terjungkal, lalu memuntahkan darah!

“Pangeran!” 

“Duar!” 

Seorang gadis bertubuh bongsor dan berambut pendek berdiri membentengi si Dagu Panjang dari hantaman belasan ahli dari kubu lawan. Ia bahkan tak melakukan serangan balik. Ia hanya bertahan agar si Dagu Panjang tak menderita cedera lebih parah. 

“Bodoh! Mundur!” sergah si Dagu Panjang yang berupaya keras untuk bangkit berdiri. 

Murid-murid Perguruan Maha Patih tak hanya berbekal perisai, mereka juga menghunus berbagai jenis senjata sakti. Berbekal perisai dan senjata tersebut, serta keunggulan jumlah, murid-murid Persaudaraan Batara Wijaya tak dapat berbuat banyak. 

“Bum! Bum! Bum!”

“Seruni Bahadur… tak akan mundur!” * 

Keringat membasahi wajah dan tubuh sang gadis. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Ulu hatinya terasa perih sekali. Akan tetapi… ia tak peduli. Gadis itu terus berupaya melindungi. Tak hanya si Dagu Panjang, Seruni Bahadur juga berupaya melindungi murid-murid yang lain. Bermodal tubuh bongsor ia membentengi rekan-rekannya!

Hantaman demi hantaman mendarat di tubuh gadis yang hanya menyandang predikat Murid Purwa di Persaudaraan Batara Wijaya. Namun, kebanggaan sebagai seorang murid dan hutang budi kepada perguruan, tak akan lekang walau ia harus mengorbankan tubuhnya sendiri!  

“Hragh!” 

Tetiba seruni Bahadur berteriak setengah mengaum! Matanya memerah, kulit tubuhnya mengeras. Ia terlihat seperti telah kehilangan akal!

“Brak!”

Seruni Bahadur menyeruduk lawan! Tak hanya satu atau dua, ia berlari lurus ke arah lawan dan menyeruduk belasan murid Perguruan Maha Patih. Tak seorang pun dapat menahan laju langkahnya. Tak seorang pun yang dapat bangkit berdiri setelah diseruduk!

“Hentikan! Bodoh!” teriak si Dagu Panjang. “Kau hendak mati konyol!” 

Di saat yang sama, si Dagu Panjang menoleh ke arah gerbang Persaudaraan Batara Wijaya. Melayang di atas gerbang, puluhan murid Kasta Perak terbang tinggi. Jauh di belakang mereka, belasan Maha Guru dan Sesepuh yang berada pada Kasta Emas turut mengamati. Tak satu pun dari mereka hendak turun tangan dalam pertarungan murid-murid Kasta Perunggu. Kalau pun ingin, harga diri melarang tindakan mereka. 

Seruni Bahadur benar-benar kehilangan akal… Ia terus menyeruduk. Perisai tak mampu menahan langkahnya, senjata tak dapat melukai tubuhnya. Ia masuk ke dalam wilayah musuh dan saat ini terkepung seorang diri! 

“Kakak… bantu kami,” isak si Dagu Panjang ke arah murid-murid Kasta Perak yang masih tak bergeming. 

“Maha Guru! Sesepuh! Yang Mulia Penegak Perguruan!” teriak si Dagu Panjang putus asa. “Aku tak rela harga diri Persaudaraan Batara Wijaya diinjak-injak!” 

Si Dagu Panjang berupaya bangkit berdiri. Ia mengamati sekeliling. Teriakan terdengar pilu, rintih terasa perih. Satu demi satu murid-murid Kata Perunggu dari Persaudaraan Batara Wijaya dikerubungi, lalu berjatuhan. Meski, tak seorang pun meregang nyawa. Sangat jarang dalam pertarungan antar ahli Kasta Perunggu memamakan korban jiwa. Murid-murid Perguruan Maha Patih pun hanya melampiaskan amarah. Mereka sadar bahwa bila membunuh, maka bukan tak mungkin para ahli Kasta Perak dari Persaudaraan Batara Wijaya akan mengambil tindakan. 

Sambil menggeretakkan gigi, remaja berdagu panjang menghimpun tenaga dalam. Ditatapnya satu per satu wajah musuh di hadapan. Ia kemudian memantapkan niat di hati… dan bersiap melontarkan tubuh ke arah kerumunan musuh. 

Ia siap meledakkan diri, dan membawa bersamanya para begundal yang menginjak-injak martabat perguruan yang dicinta segenap hati. Ke akhirat adalah tujuan mereka nanti! 

“Swush!” 



Catatan:

*) Seruni bahadur pernah mengamuk ketika berhadapan dengan Bintang Tenggara saat Kejuaraan Antar Perguruan, dan Komodo Nagaradja memberi peringatan. Episode 103. 

**) penegak/pe·ne·gak/ n orang yang menegakkan (mendirikan).