Episode 7 - Putri Teratai Salju



Kata-kata pria paruh baya itu menghentakku, suaranya terdengar dingin dan tenang. Dia memerintahkan orang lain untuk membunuh seperti orang yang sedang memerintah menyapu halaman. Saat aku menoleh kebelakang, kulihat bayangan pria paruh baya kerempeng itu. Sama sekali tidak ada truk atau kendaraan apapun, lalu apa kekuatan besar yang tadi menghantamku dari belakang?

Namun aku sama sekali tak sempat berpikir panjang karena kulihat kawan-kawan pria paruh baya kerempeng itu telah bergerak mendekatiku. Aku tidak lagi bisa berpikir jernih, seluruh gerakanku berdasarkan insting. Meskipun seluruh tubuhku terasa berat dan sakit, aku memaksakan diri segera bangkit dan melarikan diri.

Melihatku mulai bangkit, gerakan kawan-kawan pria paruh baya yang mulanya hendak menyerangku kembali tertahan. Air muka mereka menunjukkan rasa terkejut dan tidak percaya. Tapi bagiku, gerakan tertahan mereka adalah sebuah kesempatan. Segera kudorong tubuhku yang masih belum berdiri seimbang berlari secepat mungkin. 

“Tolong! Tolong! Tolooong!” Teriakanku terdengar parau dan tak begitu keras.

“Humph!” 

Pria paruh baya mendengus keras melihatku lari tunggang langgang, lalu tubuhnya kembali berkelebat dan menghilang dari pandanganku. Bersamaan dengan itu, pipiku dihantam sesuatu yang sangat keras. Awalnya kukira seseorang telah memukulku dengan balok besi, namun dugaanku salah, pria paruh baya itu kembali muncul dengan kaki teracung ke angkasa, sepertinya pipiku baru saja dihantam tendangannya.

Tubuhku kembali terpental tak terkendali untuk kemudian terjatuh dengan keras di tanah. Tak perlu kukatakan lagi betapa sakitnya pipi dan rahangku akibat tendangan tersebut, beruntung gigiku tidak ada yang tanggal.

“Gila, kenapa dia masih hidup setelah terkena pukulan dan tendangan bang Sarwo?” 

Kawan-kawan pria paruh baya kerempeng tak henti-hentinya tercekat, tampaknya mereka tidak bisa percaya aku masih bisa bertahan hidup setelah ditendang pria paruh baya berperawakan kerempeng. Sejujurnya ada rasa heran pada diriku melihat reaksi mereka. Jelas saja aku masih hidup! Yang menendangku hanya lelaki kerempeng! Dan dari ucapan mereka kuduga pria kerempeng itu bernama Sarwo.

“Kalian tunggu apa lagi, bunuh dia! Apa aku juga yang harus melakukannya?!” 

Sarwo kembali berteriak, tampaknya dia sudah benar-benar kesal melihat sikap kawan-kawannya yang hanya bisa bengong melihat dirinya menggebukiku. 

Teriakan Sarwo tampaknya berhasil mengembalikan akal sehat mereka. Keempat orang yang sejak tadi terdiam itu mulai kembali bergerak mengepungku, semua mengeluarkan golok dari balik pakaian mereka dan bersiap mengantarku ke pintu akhirat.

Tentu saja aku tidak ingin mati konyol, meskipun telah belepotan oleh darah dan rasa sakit menjalari sekujur tubuhku, aku tetap berusaha melarikan diri. Aku terseok-seok seperti anak ayam yang berusaha lari dari buruan musang. Entah karena kondisi tubuhku yang sudah begitu payah, atau memang para pemburuku mampu berlari secepat angin, yang pasti mereka dapat menyusulku dengan mudah. 

Bukk!

Suara hantaman keras kembali terdengar di telingaku, aku jatuh berguling di tanah. Salah satu dari para pemburuku berhasil mendaratkan tendangannya di punggungku, punggung yang tadi juga dihantam oleh Sarwo. Kali ini, aku tak sanggup lagi berdiri, dan hanya bisa memandangi orang-orang yang bergerak mendekatiku dengan golok terhunus. 

“Hebat kau bocah, masih bisa bertahan setelah menerima pukulan pendekar tingkat pemusatan energi… sayang sekali hidupmu akan berakhir sekarang.”

Pria yang paling dekat denganku segera mengangkat golok dan bersiap mencabik tubuhku goloknya. Aku sudah pernah mati ditangan Sadewo sewaktu didalam labirin bawah tanah, tapi bukan berarti setelah itu aku menganggap remeh kematian. Justru aku lebih menghargai nyawaku sekarang. 

Karena itu, menghadapi kematian di depan mata, tetap saja rasa gentar menyelimuti diriku. Aku segera menutup mataku, takut dan pasrah menerima apa yang akan terjadi selanjutnya. Hal terakhir yang kuingat sebelum menutup mataku adalah pandangan matanya yang begitu dingin, seakan baginya membunuh sama sederhananya dengan mencuci tangan setelah makan. 

Crass!

Habis sudah! Hidupku berakhir sampai di sini. Suara benda tajam merobek daging menggetarkan gendang telingaku. Tiba-tiba saja ingatanku melayang pada film Final Destination, sepertinya malaikat maut enggan merelakanku kembali ke dunia. Aku melarikan diri dari kematian hanya untuk tewas beberapa hari kemudian. 

Tapi anehnya aku tidak merasakan adanya benda yang merobek tubuhku. Apa mungkin karena sekujur tubuhku sudah sakit semua makanya tambahan rasa sakit dari tebasan golok tak terasa lagi?

“Siapa kau?!”

Di luar dugaan, malah terdengar teriakan panik dari salah satu anggota komplotan Sarwo. Aku segera kembali membuka mata. Pandanganku membentur sesosok tubuh yang terbaring bersimbah darah. Bukankah dia yang tadi hendak menebaskan goloknya padaku?! Sosok itu tertelungkup di tanah dengan darah masih mengalir deras dari tubuhnya, sudut mataku menangkap jari-jemarinya yang bergerak-gerak kaku. 

Di sisi lain, empat orang lainnya termasuk Sarwo tampak tertegun menatap seseorang berpakaian putih yang berdiri disebelah sosok yang terbaring. Gadis berkulit pucat itu lagi! Meskipun saat ini dia berdiri membelakangiku, aku tidak mungkin melupakannya. Dia gadis yang muncul didalam labirin bawah tanah waktu itu. 

Gadis itu hanya berdiri mematung tanpa mengucapkan sepatah katapun. Namun dapat kurasakan aura dingin kembali menyelimutiku seperti waktu pertama kali bertemu dengannya.

“Bangsat! Bunuh perempuan jalang ini!”

Merasa pertanyaannya tak digubris, amarah pria gempal yang tampaknya pemimpin kedua komplotan itu meledak, dia berteriak kencang memerintahkan dua anak buahnya menyerang gadis berpakaian putih.

Namun belum sempat mereka bergerak, Sarwo telah lebih dulu bertindak dan melayangkan tamparan.

Plak! Plak! Plak!

Akan tetapi bukan perempuan berpakaian putih yang menjadi sasarannya, melainkan pria gempal dan dua orang anak buahnya. Serta merta mereka bertiga terpental dan jatuh berguling-guling di tanah. Mata mereka bertiga melotot tak percaya atas perlakuan Sarwo. Aku sendiri juga tertegun melihat situasi tersebut. 

“Bang?” Pria gempal mencoba mempertanyakan kenapa Sarwo malah menampar dirinya, namun pertanyaannya terhenti di tengah jalan. Dia seakan mengerti sesuatu dan segera kembali mengalihkan pandangannya ke arah perempuan berbaju putih. 

“Humph!” 

Sarwo hanya mendengus dan tak menjelaskan apa-apa pada mereka bertiga, dia kembali melihat ke arah perempuan berbaju putih, tiba-tiba wajahnya menyeruakkan senyum ramah dan bersikap seakan-akan tengah menyambut tamu terhormat yang selama ini dia tunggu-tunggu.

“Maafkan aku jika salah, tapi apakah gadis cantik yang ada dihadapanku sekarang ini adalah Kinasih dari Istana Teratai Salju, yang berjuluk Putri Teratai Salju?”

Karena posisi gadis itu berdiri membelakangiku, aku sama sekali tidak bisa melihat ekspresi wajahnya, namun aku bisa melihat wajah ketiga orang yang baru saja ditampar Sarwo mendadak seputih kafan. 

“Putri Teratai Salju…,” kudengar pria gempal yang tadi mengancam hendak membunuh gadis berbaju putih itu berbisik lirih. Meskipun hanya sedikit, aku dapat melihat tubuhnya tampak gemetar. 

Gadis yang disebut Kinasih terdiam beberapa saat, namun kepalanya bergerak mengangguk pelan, masih tak mengeluarkan sepatah katapun. 

“Oh! Ternyata adinda benar Putri Teratai Salju. Maafkan karena kami berani bersikap lancang pada adinda…” ucap Sarwo sambil terus tersenyum ramah.

Aku sampai ternganga melihat sikap Sarwo yang tidak masuk akal. Maksudku, salah satu temanmu baru saja dibacok di depan matamu! Tapi bukannya marah pada pelakunya, kau malah memohon maaf karena merasa telah berbuat lancang? What the fuck….

“Tapi, kenapa adinda menyerang kami saat kami hendak membunuh anggota Sekte Pulau Arwah?”

Masih mempertahankan sikap ramahnya, Sarwo kembali berkata pada Kinasih. Namun Kinasih tak segera menjawab pertanyaan Sarwo, melainkan menengok ke arahku. Pandangan kami segera bertemu dan entah kenapa aku seperti melihat kebimbangan pada raut wajahnya. 


Tiba-tiba saja kabut berwarna putih menyelimuti tangan Kinasih, tanpa basa-basi, dia mengibaskan tangannya begitu cepat. 

“Tapak Awan Es!” 

Sarwo berjumpalitan menghindari serangan tak terduga dari Kinasih. Namun tampaknya bukan Sarwo yang menjadi sasaran serangan Kinasih, hanya dalam sekejap saja salah satu laki-laki yang tadi menerima tamparan Sarwo bergedebukan di tanah dengan kaku dan mengeluarkan asap putih dari sekujur tubuhnya. Beberapa saat kemudian tubuh kakunya retak dan pecah menjadi bongkahan-bongkahan kecil, kemudian bongkahan kecil itu pecah menjadi bongkahan yang lebih kecil lagi, begitu seterusnya hingga hanya tersisa bubuk keputihan yang terus mengeluarkan asap.

Lelaki yang barusan tewas sebenarnya baru saja berdiri kembali setelah di tampar oleh Sarwo, dia sama sekali tidak menyangka Kinasih akan melakukan serangan tiba-tiba, menyebabkan dirinya berlaku lengah. Namun meskipun dia bersikap penuh kewaspadaan, mengingat tingkat kesaktian Kinasih yang jauh lebih tinggi darinya, nasibnya tetap tidak akan berubah.

“Putri Teratai Salju, apa maksudnya ini?”

Sarwo masih bisa memaklumi kematian anak buahnya, toh menurutnya harga nyawa anak buahnya tidak lebih berharga dari seekor tikus. Namun dia tidak bisa menerima kelakuan Kinasih yang melakukan serangan tiba-tiba. Meskipun kelihatannya Kinasih memang mengincar lelaki yang barusan jadi korban, pada kenyataannya Kinasih hanya mengalihkan serangan saja. Jika saja Sarwo tidak segera menghindar dengan segala kemampuannya, sudah dapat dipastikan dia yang menjadi korban serangan Tapak Awan Es.

Akan tetapi Kinasih sama sekali tidak menggubris pertanyaannya, dia bergerak lincah menerjang pria bertubuh gempal yang tadi berteriak marah padanya. Namun ditengah jalan, Sarwo berhasil menghadang sambil memukulkan tangan kanannya ke arah Kinasih. Tangan kanan itu berpendar kemerahan.

Kinasih seakan tak peduli dengan serangan tangan kanan Sarwo, dia juga mengibaskan tangannya menyambut serangan Sarwo. Cahaya merah dan kabut putih saling menghantam satu sama lain.

Dess!

Suara letupan kecil terdengar seiring dengan beradunya pukulan Sarwo dan tapak Kinasih. Keduanya terpental mundur beberapa langkah, namun tidak sampai terjengkang ke tanah. Dada mereka berdua naik turun dengan cepat, tampaknya efek serangan adu kekuatan itu sedikit mempengaruhi organ internal mereka. Namun tidak sampai menyebabkan luka dalam. Mungkin mereka berdua masih belum mengeluarkan segenap kesaktian masing-masing.

Dengan muka merah padam entah menahan sakit atau karena amarah, Sarwo kembali bersuara, “Sialan! Biarpun kau murid nomor satu di Istana Teratai Salju, Lembah Racun Akhirat tidak akan tinggal diam melihat perbuatanmu! Begitu juga dengan Persekutuan Lima Gunung dan Wangsa Ismaya!”

Gerakan Kinasih sempat tertahan, tampaknya kata-kata Sarwo barusan memiliki dampak yang signifikan. Namun diluar dugaan, Kinasih hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum tipis. 

“Mereka tidak akan tahu selama tidak ada satupun dari kalian yang selamat.”

Balasan Kinasih membuat Sarwo tersentak. Namun wajahnya langsung berubah kelam, tampaknya dia menyadari Kinasih serius hendak membunuh mereka semua. Tanpa banyak bicara, Sarwo berkelebat cepat. Tapi bukan Kinasih yang menjadi sasarannya, tapi diriku!

“Makan Pedang Ular Api-ku!” teriak Sarwo, jilatan cambuk api setebal pergelangan tangan menderu dahsyat ke arahku! Jangankan menghindar, aku bahkan belum sepenuhnya sadar kalau serangan itu di arahkan padaku.