Episode 29 - Babak Baru



“Menara asrama siang diserang!”

“Gawat! Kita kecolongan,” tukas Arya. “Ayo kembali!”

“Tunggu! Vida ada di garis belakang. Dia petarung yang hebat.” Ruhai menyanggah. “Tugas kita adalah menerobos masuk ke markas musuh.”

“Tapi, bagaimana bisa orang-orang dari asrama sore bisa memasuki markas kita tanpa ketahuan?” 

“Entahlah. Mungkin salah satu dari mereka punya kemampuan seperti Taki.” 

Arya mengangguk, meski tidak yakin sepenuhnya. Satu hal yang pasti, kini mereka berada di tengah jalur berlumpur. Tiada pemandangan awam, selain deret beringin, berdaun lebat serta ranting menyerupai bilah pedang.

Sudah dua bulan semenjak jabatan ketua asrama siang dilimpahkan kepada Ruhai. Pada dasarnya, Pandora tidak punya penghitungan spesifik mengenai waktu. Maka dari itu, di saat-saat tertentu akan ada pemberitahuan jikalau mereka anggap satu hari telah terlewat. Dari situlah para lucid dreamer dapat menerka-nerka sudah seberapa lama berada di dunia mimpi.

Dua hari lalu, Dion sempat bertamu ke asrama siang. Dia membawa kabar perihal babak turnamen Oneironaut selanjutnya. Jalur Menara, demikianlah nama yang disepakati dewan seleksi. Dalam babak tersebut, masing-masing asrama akan diadu demi menjadi yang teratas. 

“Berhenti!” Ruhai mendesis, langkahnya berehat sejenak.

“Ada apa?” Arya ikut-ikutan siaga.

“Kita benar-benar sial. Asrama sore terkenal akan orang-orang yang cepat. Mereka senang menyelinap, lalu menyergap selagi sempat. Maka dari itu, dibutuhkan kewaspadaan ekstra.”  

Benar, merupakan petaka beradu dengan asrama sore di sesi pertama. Kendati asrama siang juga punya orang-orang hebat, anggota asrama sore justru punya kekuatan yang merata.

Sebagai ketua, Ruhai selalu memastikan asramanya menjadi nomor satu. Dia ingat betul peraturan pertama di pertandiang ini: Untuk memenangkan pertandingan, masing-masing tim harus berlomba menghancurkan menara lawan. Tidak peduli bagaimana pun caranya, yang jelas asrama dengan peringkat terendah terpaksa mengeleminasi salah satu anggotanya.

Vida beserta lima lucid dreamer lain ditugasi menjaga menara, sementara Arya dan Ruhai berusaha masuk ke wilayah musuh. Rencana yang terkesan gegabah, setidaknya begitulah argumen Taki. Dua orang bukanlah jumlah yang pantas menyerbu jantung pertahanan lawan. Namun, pada akhirnya Ruhai berhasil memantapkan hati rekanannya.

"Ayo jalan!" Lelaki berkulit cokelat itu kembali mengayun kaki, disusul langkah Arya.

"Kebetulan sekali." Secara mengejutkan, dua orang menyelinap dari pepohonan dan berhasil menghadang mereka.

"Sial!" Visual Ruhai meruncing. "Duo Demigod dari asrama sore. Ternyata kalian yang menjaga jalur tengah."

"Kau salah." Lynch, pemuda Yunani yang pernah berhadapan dengan De Santos menyahut. "Hanya ada satu jalur di pertandingan ini. Hutan, itulah jalan alternatif yang disediakan dewan seleksi."

"Aku mengerti. Itulah sebabnya anggota asrama sore yang lain berhasil melewati kami tanpa ketahuan." Ruhai bersedekap. "Haduh, kenapa tidak kepikiran, ya?"

"Hey, Ruhai!" ketus Arya. Rautnya masih datar. "Kau serius 'kan waktu memberitahu rencananya pada kami?"

"Jujur, aku cuma asal bicara." Ia terkikik. "Tapi, kita akan tetap menang."

"Menang, katamu?" celetuk Heintz, lucid dreamer yang kalah telak oleh Vida di seleksi asrama. "Kalian terlalu optimis."

Ujung bibir Ruhai terangkat seiring kedua lengannya yang menjulur ke depan. Arya lekas mengambil langkah mundur seraya memikirkan atribut apa yang musti dipakainya. 

Sementara itu, Duo Demigod sibuk menyiapkan diri guna menyongsong pertarungan besar. 

"Aegis!" Lynch membuka mata, sejurus seperangkat zirah berkilauan melekat di tubuhnya. Kostum yang teramat megah, tatkala besi putih tersebut dilumat pendar menyilaukan. Pula, percikan petir biru acap kali menyeruak dari kesepuluh jarinya. 

"Keren!" Arya menyanjung tanpa sadar. 

"Bahutai!" Ruhai pun tak sudi kalah. Begitu piawai dirinya memainkan mandau sepanjang tongkat golf, menambah semarak ketakutan di hati Heintz.

"Weapon milik lucid dreamer istimewa tidak bisa diremehkan," ujarnya ketika menyaksikan corak kuning-biru yang menyelimuti bahutai. Selain itu, ada simbol serigala hitam di ujung mandau tersebut.

Secepat kilat, Ruhai menyergap Lynch dari depan. Mandaunya berayun, sungguh cepat, hampir-hampir membagi musuh jadi dua. Namun, Lynch sukses berkelit. Sedikit condong ke kiri, lengannya sontak memuntahkan sambaran petir.

ZBLAR!

Ruhai terpental sesaat menahan serangan barusan dengan mandaunya. Cukup kuat, tetapi belum pantas menjuarai duel. Tidak sampai sedetik, anak didik Owl itu bangkit dan melancarkan bertalu-talu tebasan ke zirah Lynch. Gema benturan logam berkumandang, menyisakan percikan api untuk dikagumi.

"Halilintar!" Corak kuning bahutai menyala, dan dalam sekejap menciptakan cambuk-cambuk petir.

"Mustahil!" Lynch yang terdesak cuma merapatkan tangannya ke wajah, bersikeras bertahan meski zirahnya mulai bergemertak.

Cambuk-cambuk itu berdengung, layaknya sepasukan lebah ganas. Pun demikian, Ruhai belum puas menyabet sang musuh dengan mandau besarnya. Alhasil, Lynch terpaksa bertindak nekat.

Di tengah dera serangan beruntun, tiba-tiba benda keramat melesak dari tangannya. Sepanjang tiga puluh senti dan dilingkupi aliran listrik, tetap saja Ruhai enggan mewaspadainya.

"Makan ini!"

"SIAL!"

BRAK!

"Ruhai!" jerit Arya.

"Cincin vulkan!" Heintz sigap menebar asap ke sekeliling area.

Kejadian yang begitu cepat. Arya terbeliak mendapati benda bercahaya di genggaman Lynch tiba-tiba dilemparnya ke arah Ruhai. Letupan kecil tercipta, membawa Ruhai jauh ke belakang. Kini, situasi kian buruk di tengah kepulan asap pekat.

"Ternyata lucid dreamer istimewa itu lemah." Lynch bersuara. "Kukira bakal ada pertarungan sengit. Nyatanya, kalian kalah cuma kecoak."

Arya dapat melihat kilatan-kilatan biru di depan sana. Pasti senjata milik Lynch, pikirnya. Entah isyarat bahaya atau keberuntungan, yang jelas Arya berusaha menjauhi kilatan tersebut untuk memastikan dirinya tetap aman.

"KAU TAK BISA LARI!"

"A-akhh!" Pemuda itu tercekat ketika tangan Heintz mencekik lehernya. Sang lawan adalah menifestasi dari asap itu sendiri, sehingga jarak pandangnya tidak terganggu.

"Aku ingin menang di babak ini. Jadi, jangan halangi kami," bisiknya diwarnai tawa bengis.

"Pe-pengecut!" Arya terbatuk-batuk. "Me-menyerang diam-diam."

"Aku memang pengecut," tandasnya. "Maka dari itu, aku tidak mau bertarung sendiri."

Cekikan Heintz semakin kuat, diperburuk lagi oleh lapisan asap hitam. Arya harus berupaya demi membela diri. Namun, dia terlalu panik untuk membayangkan Garuda atau kendi besi. Di benaknya, segelumit opini pesimis menghantui. Bisakah pemuda beraut datar itu bertahan di bawah tekanan semacam ini? Rasanya cukup sulit.

"Habisi dia, Heintz! Kita akan menyerbu markas musuh secepatnya." Suara Lynch menggema.

"Tentu."

Detik-detik paling mencekam datang. Arya dihadapkan pada kondisi di mana dirinya tak kuasa berupaya sedikit pun. Sosok Jackal yang selama ini selalu berdiri di puncak tampak kontras dengan posisinya sekarang. Sungguh, mereka terkesan tidak pantas disandingkan.

"A-aku ... ka-kalah."

ZRASH!

"Apa itu?"

"Awas!"

Sekepal tinju kekar menghantam wajah Lynch. Sontak saja pemuda itu terpental berpuluh-puluh meter ke dalam hutan. Heintz terperangah, sampai-sampai lupa menuntaskan tugasnya. Pun bagi Arya, dia gemetar menyaksikan tibanya bala bantuan misterius.

Makhluk itu meraung-raung di antara asap tebal. Gedebuk seram yang acap kali terdengar seolah mengisyaratkan ancaman besar. Termakan gugup, Heintz bersikeras menemukan sosok penggangu itu. Namun, sesaat ia sadar, terjangan maut menimpa tubuh bangsainya duluan hingga terseret amat jauh.

"Ungu!" Arya termangu, mengingat warna tersebut begitu identik dengan Jackal. "Jangan-jangan!"

Asap pekat berangsur sirna, menyisakan Lynch dan Heintz yang terkapar tak berdaya. Tiada monster atau makhluk bermuka gahar, melainkan Ruhai yang berlari kecil menghampiri Arya.

"Siapa yang melakukan ini?" katanya penasaran.

"Aku tidak tahu." Mata Arya terpaku pada lawan-lawannya yang dilumpuhkan secepat kilat. "Ada seseorang di luar sana yang tidak rela kita kalah."

"Baguslah. Ayo pergi!"

"Tu-tunggu! Kau tidak apa-apa?" 

"Tenang saja." Ruhak tersenyum. "Aku lebih tangguh dari kelihatannya."

Perjalanan berlanjut. Setelah memastikan Lynch dan Heintz tak kuasa membalas, mereka pun segera menuju markas musuh. 

Tiada yang tahu pasti lawan macam apa yang menunggu di depan sana, atau bantuan macam apa lagi yang berpotensi muncul. Ruhai dan Arya, keduanya saling bekerja sama untuk memenangkan Jalur Menara.

"Menara asrama siang berhasil diamankan." Pemberitahuan berkumandang indah, setidaknya bagi anggota asrama siang.

"Vida dan yang lain berhasil," ujar Arya.

"Ya, sekarang giliran kita."

Dari kejauhan, membayang sebuah pilar hitam. Itu puncak menara musuh, pikir Ruhai. Langkah keduanya semakin cepat, menapaki genangan keruh di sepanjang jalur. Seri bahagia pun tidak terelakkan, bahkan bagi Arya sekali pun.

Akan tetapi, sesaat mereka melintasi garis wilayah musuh, puluhan bola api sontak berguguran cepat. 

"Astaga!" Arya melompat ke sisi kiri, tersembunyi di balik semak belukar.

Di sisi lain, Ruhai memutuskan bertahan di balik mandau besarnya. Dari mana bebatuan panas itu berasal? Rupanya dari meriam di pucuk menara.

Lelaki asal Kalimantan itu mendecak jengkel. Setahunya, pihak penyelenggara tidak menyediakan meriam untuk menara mereka. Tapi, mengapa menara musuh justru kelewat sulit didekati?

"Menyerahlah sekarang!" 

Mengejutkan! Seorang gadis berjaket kulit tampak dari belakang meriam. Agaknya ia berjongkok sedari tadi, berusaha mengamati musuh. Namun, kini rambut jabrik hijaunya terpampang jelas di mata Ruhai.

"Jangan hentikan tembakanmu, Yelena!" serunya, sesekali terkikik pongah. "Aku tidak akan membiarkan orang asing melewati batas wilayah ini."

"Siapa kau?" Ruhai menggebuk salah satu bola api hingga terlontar ke kanan. "Aku tidak tahu mesin bisa dijadikan guardian."

"Namaku Natasya." Dia membusungkan dada. "Tidak ada batasan dalam berimajinasi, begitulah yang kupelajari di Rusia."

Meriam otomatis itu kembali berdentang, serta-merta melontarkan puluhan bola api seukuran melon. Terlalu berbahaya, Ruhai terpaksa mundur. Ia berlari ke sisi kiri, menemui Arya yang was-was mengamati pertarungan.

"Aku tidak bisa mencapainya di atas sana. Kalau tidak salah, guardianmu bisa terbang, 'kan?"

"I-iya, tapi a-aku belum mahir memanggilnya." Arya tergugup-gugup.

"Mau tidak mau, kau harus bisa. Kami mengandalkanmu, Arya!" sanggah Ruhai.

"Itu sulit! Garuda takkan sanggup mengalahkannya."

"Tidak perlu mengalahkan siapa pun!" Ruhai menandas. "Kau hanya perlu mengalihkan perhatian gadis rusia itu, sementara aku berusaha menghancurkan menaranya."

Walaupun terdengar mudah, Arya tetap saja ragu dirinya mampu. Apalagi, sosok Jackal yang terlalu sempurna membuatnya kian jatuh pada gelap keputusasaan. Kini, celoteh Ruhai terkesan seperti angan-angan belaka. 

Mungkinkah Garuda bisa dipanggil? Sanggupkan Arya melaksanakan tugasnya dengan mulus? Keraguan senantiasa mengekangnya pada titik stagnan. Satu langkah ke depan, sepuluh langkah ke belakang. Jika terus-terusan begitu, Arya tidak akan berkembang.

"Arya! Cobalah sekali saja."

"A-aku ...."

"Berjuanglah. Kau akan memenangkan pertandingan kali ini."