Episode 138 - Regu Terpaksa



Tiga hari yang lalu... 

Saat berpapasan dengan Embun Kahyangan, Lintang Tenggara sempat penasaran akan alasan seorang pembunuh bayangan yang merusak rencananya di Perguruan Gunung Agung. Mendengar kata-kata acuh tak acuh si Gadis Kabut, ia mendapat kepastian bahwa memanglah Ayahanda Balaputera yang mengirimkan bantuan untuk Bintang Tenggara. Meski, masih menjadi tanda tanya besar, dari mana Ayahanda Balaputera dapat membongkar rencana yang telah tersusun cermat? 

Lintang Tenggara juga menyadari bahwa Embun Kahyangan tidaklah berbohong ketika mengatakan Padepokan Kabut tiada mengetahui tentang lokasi keberadaan Ayahanda Balaputera. Ayahanda Balaputera memang selalu bergerak dan tak pernah berdiam lama di satu tempat. 

Karena pertimbangan waktu dan tujuan dirinya mencari Intan Abadi, Lintang Tenggara memutuskan untuk saat ini tak berurusan dengan Embun Kahyangan. Mereka pun berpisah arah. 

Walhasil, Lintang Tenggara bergerak ke arah barat. Sehari semalam berlalu. Ia bergerak berhati-hati mengitari hutan lebat Alas Roban. Sepertinya ia berupaya menghindari sekaligus mencermati tempat itu. Di saat itulah, kedua matanya menangkap seorang gadis yang melangkah bergegas ke arahnya, kemudian tetiba tersentak berhenti...

...


Sekembalinya di Sanggar Sarana Sakti, Lampir Marapi tak bisa tidur nyenyak. Di Gunung Perahu, ia bertemu dengan sekelompok serdadu bayaran. Ketika pihak-pihak di Negeri Dua Samudera berupaya mencari tahu jati diri para serdadu bayaran yang telah dibantai di kaki Gunung Perahu, dirinya diam membisu. Hanya Lampir Marapi yang tahu persis bahwa para serdadu bayaran tersebut berasal dari Pulau Satu Garang. 

Informasi terakhir yang Lampir Marapi miliki adalah Pangeran dari Kerajaan Garang hendak mempersunting dirinya. Karena Ayahanda menolak, maka Kerajaan Garang segera menghimpun kekuatan perang untuk mengambil paksa dirinya dari Pulau Dua Pongah. Inilah alasan utama dirinya dititipkan ke Sanggar Sarana Sakti.

Nah, sejak bertemu para serdadu bayaran tersebut, benak Lampir Marapi berkecamuk. Mungkinkah mereka secara khusus datang ke wilayah Tanah Pasundan karena mengincar dirinya? Dari mana mereka tahu keberadaan dirinya di sini? Apakah mereka memperoleh informasi tersebut setelah memporak-porandakan Pulau Dua Pongah!? 

Lampir Marapi sangat mengkhawatirkan keselamatan Ayahanda dan Bunda di Pulau Dua Pongah. Karena hendak menenangkan kecemasan di hati, si Perawan Putih akhirnya memutuskan untuk diam-diam meninggalkan Sanggar Sarana Sakti, tempat dimana ia dititipkan. 

Gerbang dimensi milik Partai Iblis terdekat diketahui berada di wilayah perbatasan antara wilayah barat dan tengah Pulau Jumawa Selatan. Tanpa Lampir Marapi ketahui, gerbang dimensi tersebut merupakan gerbang dimensi yang sebelumnya digunakan oleh Lintang Tenggara untuk tiba di Negeri Dua Samudera. 

Setelah melarikan diri dari Sanggar Sarana Sakti, Lampir Marapi menempuh perjalanan berhari-hari. Sedikit lagi akan tiba di lokasi gerbang dimensi, gadis tersebut mendapati seorang lelaki muda di kejauhan. Pakaiannya terang, rambutnya panjang tertata rapi ke belakang. 

Lampir Marapi terkejut bukan kepalang! Ia mengetahui bahwa sosok tersebut adalah Bupati Selatan dari Pulau Lima Dendam. Gubernur Pulau Dua Pongah, setelah bertarung melawan Lintang Tenggara, mewanti-wanti tentang keberadaan lelaki yang sangat mencurigakan tersebut. Demikian, Lampir Marapi dibekali ciri-ciri fisik Lintang Tenggara. 

Tanpa pikir panjang, Lampir Marapi segera melarikan diri. Ia melompat ke arah hutan!

“Hei! Jangan ke masuk sana!” seru Lintang Tenggara. 

Terlambat. Dalam keadaan panik, Lampir Marapi telah melompat masuk ke dalam Alas Roban! 

Lintang Tenggara mematung. Selama ini ia tak begitu peduli dengan mitos Perawan Putih. Akan tetapi, karena peristiwa besar yang akan melibatkan dua kekuatan di Kepulauan Jembalang, maka ia pun menelusuri lebih dalam tentang keberadaan si Perawan Putih. Meskipun belum pernah bertemu muka, ia tahu pasti bahwa gadis yang baru saja melarikan diri ke dalam Alas Roban adalah Lampir Marapi. 

Wajah Lintang Tenggara kusut. Ia tak hendak melangkah ke dalam Alas Roban. Akan tetapi, ia tak mungkin membiarkan gadis tersebut mati konyol di dalam sana. Walhasil, Lintang Tenggara memutar langkah. Ia kembali mengamati Alas Roban dari sisi luar hutan nan lebat dan gelap itu. Tujuan kedatangannya bukanlah menyelamatkan si Perawan Putih. 


===


Sehari hari yang lalu...

Seorang ahli terlihat terbang berputar-putar tinggi di angkasa. Sepertinya ia tak memiliki tujuan pasti, bahkan mungkin sedang kebingungan. Berhari-hari sudah ia terbang mencari-cari. Tetiba ia berhenti. Lalu segera melesat turun. 

“Salam hormat Kakak Lintang Tenggara...,” sapa ahli yang baru saja mendarat. “Apakah gerangan yang membawa Bupati Selatan Pulau Lima Dendam jauh-jauh bertandang ke wilayah Negeri Dua Samudera?”

“Salam hormat wahai Sangara Santang...,” jawab sang Petaka Perguruan dari Perguruan Gunung Agung. “Sungguh lama tiada bersua. Oh? Mengapakah sekujur tubuhmu berbalut perban...?”

Siapa nyana, Lintang Tenggara dan Sangara Santang saling kenal! Bahkan, keduanya tak terlihat bermusuhan. 

“Panjang ceriteranya...,” tanggap Sangara Santang tersenyum kecut. Sebulir keringat mengalir di pelipisnya. 

“Hm...?”

“Apakah Kakak Lintang Tenggara melihat seorang gadis melintas seorang diri di wilayah ini...?”

“Hm...? Seorang gadis? Seorang diri? Siapakah gerangan gadis tersebut...?” Nada bicara Lintang Tenggara meninggi. Ia mengangkat satu alisnya, seolah memasang kuda-kuda. 

Sangara Santang segera menyadari akan kejanggalan. Lintang Tenggara jelas mengetahui, dan hendak menakar dirinya. 

“Kakak Lintang Tenggara, diriku mencari Lampir Marapi... Si Perawan Putih dari Pulau Dua Pongah.” Sangara Santang melancarkan sebuah serangan lurus.

“Oh... Lampir Marapi? Hm...? Bukankah seharusnya ia berada di Pulau Dua Pongah...?” Lintang Tenggara berada di atas angin. Tak ada salahnya menyarangkan pukulan-pukulan tipuan untuk menjebak lawan terlebih dahulu. 

“Kakak Lintang Tenggara... dikau meninggalkan Pulau Lima Dendam pastilah karena urusan mendesak yang harus ditangani seorang sendiri...,” pancing Sangara Santang. “Hm...? Apakah perburuan dari segenap ahli dari wilayah barat dan tengah Pulau Jumawa Selatan terhadap seorang anggota Partai Iblis akan mengganggu apa pun itu kegiatanmu...?”

Sangara Santang membalikkan keadaan. Ia menyerang melalui sebuah pukulan menohok. Jelas sekali bahwa ia ingin cepat-cepat menyelesaikan pertarungan silat lidah yang sedang berlangsung.

Lintang Tenggara menangkap kecemasan di hati Sangara Santang. Meski lawan bicaranya sedang berupaya semaksimal mungkin menyembunyikan kekhawatiran di hati, pengamatan Lintang Tenggara sungguh tajam.

“Hm...? Bila demikian, aku harus bergegas kembali ke Pulau Lima Dendam. Tentunya diriku tak hendak menjadi bulan-bulanan banyak ahli perkasa,” ujar Lintang Tenggara santai, ia menangkis lalu bergerak mundur. 

“Kakak Lintang Tenggara... Kumohon... Sebagai balasan atas informasi, diriku akan memberikan imbalan terkait sesuatu yang sedang Kakak cari.” 

Pertarungan silat lidah, berubah menjadi tawar-menawar. Sepertinya, Sangara Santang cukup mengenal kepribadian Lintang Tenggara. 

“Katakan tempat terdekat dimana diriku dapat menemukan Intan Abadi...,” aju Lintang Tenggara. 

“Lokasi Intan Abadi terdekat berada di pusat Alas Roban.” Sangara Santang mengacungkan ibu jari ke arah hutan lebat nan gelap. 

“Sehari yang lalu, Lampir Marapi melompat ke dalam Alas Roban.” Giliran Lintang Tenggara mengacungkan ibu jari ke arah hutan lebat lagi gelap.

Keduanya melompat bersamaan ke dalam Alas Roban. 


===


Bintang Tenggara tersadar… Ia mendapati bahwa dirinya sedang terbaring di atas sebuah meja. Tak bisa bergerak, pikirnya. Kedua kaki dan kedua tangan terikat! Ruangan apakah ini… Mengapa sepertinya aku pernah berada dalam situasi ini!?

Dari balik kegelapan, terdengar suara langkah kaki mendekat perlahan-lahan. Sesosok bayangan datang semakin mendekat. Bintang Tenggara menebar mata hati, namun tak dapat mencerna. 

“Siapa di sana…?” hardik anak remaja tersebut. 

Hening. 

“Super Guru!” panggilnya.

Hening. 

Sesosok tubuh tetiba muncul di samping Bintang Tenggara. Ia mengenalnya! Sosok tersebut tersenyum ramah, lalu mengangkat tangan kanan. Sebilah belati tajam tetiba berkelebat menyilaukan mata… 

Lintang Tenggara siap membedah!

“Aaaakkkhhh!” 

“Kakak Gemintang! Kakak Gemintang! Sadarlah!” terdengar suara seorang gadis memanggil-manggil. 

Bintang Tenggara terbangun. Peluh bercucuran di sekujur tubuhnya. 

“Kakak Gemintang! Kau sudah sadar!” 

“Hah!? Dimanakah ini!?” sergah Bintang Tenggara yang baru tersadar dari mimpi buruk.

“Kau berada di dalam hutan bernama Alas Roban,” terdengar suara yang menenangkan. Sangara Santang mencondongkan tubuh sambil tersenyum ramah. 

“Coba periksa celananya... kemungkinan ia mengompol...,” cibir suara lelaki dewasa muda lain. 

Bintang Tenggara segera bangkit berdiri! Di hadapannya, adalah Lampir Marapi dan Sangara Santang yang duduk di akar besar dari sebuah pohon yang jauh lebih besar lagi. Tak jauh dari mereka, Lintang Tenggara berdiri menyilangkan lengan di depan dada, dan bersandar pada pohon lain.  

“Waspadalah!” sergah Bintang Tenggara. Ia segera menyibak kembangan. 

“Tenang, tenang...,” ujar Sangara Santang, sambil bangkit berdiri. 

“Apakah yang terjadi...?”

Sangara Santang lalu menjelaskan bahwa mereka kini berada di dalam wilayah hutan yang dinamakan Alas Roban. Letaknya berada di antara wilayah barat dan tengah Pulau Jumawa Selatan. Alas Roban dikenal angker karena memiliki segel alami yang mengelilingi wilayah hutan. 

Bintang Tenggara mendengarkan dengan seksama. Akan tetapi, kedua matanya tak lepas mewaspadai keberadaan Lintang Tenggara. 

Segel alami Alas Roban membatasi mustika dalam. Siapa pun ahli yang masuk ke dalam wilayah Alas Roban, akan mengalami situasi dimana mustika tenaga dalam mereka kembali pada Kasta Perunggu Tingkat 5. Akan tetapi, kondisi ini hanya berlaku bagi manusia, peranakan siluman, dan siluman sempurna. Binatang siluman sama sekali tak terpengaruh. 

Bintang Tenggara menebar mata hati. Ia segera menyadari bahwa dirinya, Lampir Marapi, Sangara Santang, serta Lintang Tenggara... kesemuanya benar-benar berada pada Kasta Perunggu Tingkat 5! 

Pantas saja Sangara Santang dan Lintang Tenggara terlihat kepayahan ketika berhadapan dengan seekor binatang siluman Kasta Perak. 

“Dan kau melompat ke dalam wilayah Alas Roban tanpa mengetahui hal ini...? Lalu kau merapal Tinju Super Sakti sesuka hati... ceroboh sekali,” terdengar sebuah cemooh, yang datang tak lain dari Lintang Tenggara. 

Bintang Tenggara melotot. Hanya serangan melotot yang bisa ia arahkan saat ini kepada Lintang Tenggara. Demikian, ia juga menyadari alasan dirinya kelihangan kesadaran. Ia kehabisan tenaga dalam akibat melancarkan Tinju Super Sakti. Dari mana Lintang Tenggara mengetahui bahwa jurus yang dirinya lepaskan adalah Tinju Super Sakti!?

“Hehe... aku tak hendak ikut campur dalam perselisihan di antara kalian berdua kakak beradik. Akan tetapi, sebaiknya kita bekerja sama bila hendak keluar dari Alas Roban.” 

“Keluar...?” gumam Bintang Tenggara. 

“Setelah melangkah masuk ke dalam Alas Roban, kita tersegel. Satu-satunya jalan keluar adalah melalui gerbang dimensi alami yang terletak di wilayah pusat hutan lebat ini,” lanjut Sangara Santang menjelaskan. 

Bintang Tenggara melangkah ke arah sisi luar hutan. Ia hendak mencermati segel alami yang membentengi Alas Roban dari dunia luar. 

“Heh... tak ada gunanya kau memeriksa. Tak sedalam itu pengetahuanmu seputar keterampilan khusus segel untuk mencoba menembus segel alami Alas Roban,” dengus Lintang Tenggara. 

Bintang Tenggara tak mempedulikan. Ia terus melangkah pergi. 

“Ada apa di antara kalian kakak beradik...?” ujar Sangara Santang kepada Lintang Tenggara, di saat Bintang Tenggara menghilang di balik pepohonan lebat.

“Kakak Lintang telah membantu menyelamatkan diriku, yang adalah orang lain. Mengapa Kakak bermusuhan dengan Kakak Gemintang?” Lampir Marapi terdengar khawatir. 

“Gemintang adalah nama kakek kami....,” dengus Lintang Tenggara setengah hati. “Nama anak itu adalah Bintang.”

“Ya, sudahlah....” Sangara Santang menyerah.

Sekira setengah jam berlalu sebelum Bintang Tenggara kembali. Sambil menyelidiki segel alami yang memang tak memiliki celah untuk ditembus, Bintang Tenggara menyadari kenyataan pahit lain.... bahwa kesadaran Super Guru Komodo Nagaraja juga tersegel! Hal ini berarti dirinya juga tak dapat mengeluarkan Tempuling Raja Naga dari dimensi penyimpanan di dalam mustika retak. Peringatan inilah agaknya yang hendak disampaikan sang Super Guru sejurus sebelum Bintang Tenggara melompat masuk ke dalam hutan....

Pahit rasanya mengakui bahwa kecerobohanlah yang mengantarkan dirinya dalam kondisi ini. Lintang Tenggara benar adanya. 

“Puaskah hatimu menyadari bahwa segel alami Alas Roban tak bisa ditembus...?” cemooh Lintang Tenggar di saat mendapati adik kandungnya kembali. 

Sangara Santang hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala. Raut wajah Lampir Marapi masih terlihat khawatir, meski tak dapat melunturkan keanggunannya. 

“Kakak Sangara Santang... mohon jelaskan tentang cara keluar dari tempat ini...?” Bintang Tenggara malas menanggapi Lintang Tenggara. Ia bahkan tak menoleh ke arah lelaki dewasa muda itu. 

“Lokasi gerbang dimensi alami untuk keluar dari Alas Roban terletak di pusat pulau. Akan tetapi, banyak berkeliaran binatang siluman Kasta Perak di dalam hutan ini. Semakin dalam, semakin tinggi peringkat binatang-binatang siluman. Bahkan, di pusat hutan, dikatakan terdapat sejumlah binatang siluman Kasta Emas.” 

Bintang Tenggara mengangguk. 

“Kita perlu waspada dalam melangkah. Jika tak ada kendala berarti, diperlukan waktu sepekan untuk tiba di pusat hutan. Sebagai catatan, tak banyak ahli yang berhasil keluar selamat dari dalam Alas Roban.” 

“Sudah selesaikah sesi belajar-mengajar kalian,” sela Lintang Tenggara. “Sekarang, jabarkan kemampuan kalian masing-masing. Kita perlu saling menjaga. Aku tak hendak dibebankan oleh anak ingusan.” 

“Diriku masih bisa menggunakan Kitab Kosong Melompong,” sahut Lampir Marapi, berupaya mencairkan ketegangan. “Di dalamnya terdapat Peluru Api, Sirih Reka Tubuh, Segel Kotak, Segel Penempatan, Segel Petir...”

“Jurus-jurus persilatanku masih seperti biasa adanya. Hanya terhambat Kasta Perunggu Tingkat 5. Karena terburu, diriku tiada membawa senjata,” sambung Sangara Santang. 

“Bagaimana denganmu, wahai bocah ingusan...?” sela Lintang Tenggara. 

“Tinju Super Sakti, Silek Linsang Halimun, Asana Vajra, Segel Penempatan, Segel Petir...,” gerutu Bintang Tenggara. Ia sengaja menyembunyikan keberadaan jurus Delapan Penjuru Mata Angin dan Pencak Laksamana Laut.

“Ketidakjujuran akan membawamu ke jurang bencana...,” cibir Lintang Tenggara. 

Bintang Tenggara hanya dapat membalas cibiran dengan tatapan tajam. Bila tatapan mata dapat mencabik-cabik, maka tubuh Lintang Tenggara saat ini pastilah sudah bergelimang dengan darah. 

“Tak dapat mengeluarkan senjata,” tutup Bintang Tenggara. 

“Daya Tarik Bumi bisa dikerahkan meski terbatas.... Senjata Kasta Emas Aksamala Ganesha tak bisa digunakan. Segel Kerangkeng dan Segel Rantai dapat dirapal dengan mudah.”

Dengan demikian, segera disepakati taktik bertarung dalam regu. Tiada guna terburu-buru dalam bergerak. Sebisa mungkin mereka akan menghindar dari pertarungan menghadapi binatang siluman. Bergerak memutar, atau bersembunyi, adalah pilihan terbaik. 

Bila terpaksa bertarung, maka tak ada peredam serangan di antara mereka. Oleh karena itu, Lintang Tenggara akan memusatkan diri dalam mengunci gerak lawan dengan mengandalkan jurus Daya Tarik Bumi serta segel-segel yang ia miliki. Tergantung keadaan, Lampir Marapi bertugas melindungi dari ancaman, atau melancarkan serangan jarak jauh menggunakan Peluru Api. Sangara Santang dan Bintang Tenggara menjadi penyerang jarak dekat. 

Rombongan empat ahli, yang kesemuanya tersegel pada Kasta Perunggu Tingkat 5, mulai melangkah bersama-sama. Sangara Santang melangkah paling depan, disusul oleh Bintang Tenggara dan Lampir Marapi yang berjalan berdampingan di tengah. Paling belakang adalah Lintang Tenggara. 

Sungguh sebuah regu yang terbentuk karena dipaksa oleh keadaan.