Episode 137 - Maha Maha Tabib Surgawi



“Yang Terhormat Bintang Tenggara….” Terdengar suara menyapa, dari seorang kakek tua. 

“Kakek Duta Utama…?”

“Kakek tua ini memperoleh pesan dari Yang Mulia Putri Mahkota….” Kakek Duta Utama lalu menyodorkan sebuah lencana. 

“Rekan Bintang Tenggara… berikut pesan yang baru saja diterima dari Perguruan Gunung Agung…,” terdengar suara Citra Pitaloka dari lencana tersebut. 

“Bintang Tenggara! Apakah kau pergi berplesir? Apakah kau bersenang-senang menikmati pemandangan lembah dan ngarai? Apakah hawa sejuk pegunungan membuatmu lupa akan sebuah pulau? Segera kembali ke Perguruan Gunung Agung! Tahun ajaran berakhir dalam satu purnama!” 

Bintang Tenggara terdiam. Suara tersebut sangat tak asing. Tak diragukan lagi siapa pengirimnya… Bahkan di saat mengirimkan pesan, Canting Emas mencibir, meledek, mencemooh, sepuas hatinya. 

Tak terasa telah beberapa bulan berlalu sejak Bintang Tenggara meninggalkan Perguruan Gunung Agung. Dirinya tiba di Tanah Pasundan atas undangan Maha Guru Kesatu, Sangara Santang. Di Sanggar Sarana Sakti, ia menghabiskan waktu sekitar sebulan berlatih bersama Regu Perdamaian. Kemudian, sebulan lagi menanti di Istana Kedua Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Usai menuntaskan misi, anak remaja itu lalu menerima undangan Raja Bangkong IV untuk tinggal sejenak dan berlatih. 

Lebih lebih kurang sebulan waktu dihabiskan berlatih tarung bersama Asep. Waktu selalu berlalu demikian cepat, gumam Bintang Tenggara dalam hati. 

“Dan… Raja Bangkong IV memanggil Yang Terhormat Bintang Tenggara untuk segera datang ke Istana Utama,” sambung kakek tua itu. 

Bintang Tenggara bergegas ke Istana Utama Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Panggilan ini sungguh tak lazim. Raja Bangkong IV diketahui sangat disiplin. Bintang Tenggara hanya diperkenankan berlatih di hadapannya setiap dua hari sekali, selama dua jam. Baru sehari yang lalu Bintang Tenggara akhirnya meraih kemenangan dalam latih tarung berhadapan dengan Asep. 

“Yang Terhormat Raja Bangkong IV,” sapa Bintang Tenggara. Di dalam Istana Utama tersebut kini hanya mereka berdua… serta kesadaran Komodo Nagaradja. 

“Kekuatan adalah utama…,” ujar Raja Bangkong IV tanpa menjawab salam anak remaja itu. “… dan kesabaran adalah kekuatan.”

Bintang Tenggara mendengarkan dengan seksama. Memang benar adanya. Dalam latih tarung berhadapan dengan Asep, karena kurang sabar maka dirinya dengan mudah dikalahkan. Sedangkan di saat Asep yang kehabisan kesabaran, kemenangan pun berhasil dicapai.

“Kau tahu dari siapa kupelajari pandangan ini?”

“Mungkinkah dari Super Guru Komodo Nagaradja?” jawab Bintang Tenggara. Walau, setelah dipikir-pikir lagi, ia mulai meragukan jawabannya sendiri. 

“Cih!” Tetiba Komodo Nagaradja, yang sedari awal berdiam seribu bahasa, terdengar tak senang. 

“‘Kekuatan adalah utama, dan kesabaran adalah kekuatan.’ Ini merupakan sebuah nasehat yang disampaikan kepadaku oleh seorang tokoh digdaya bernama… Gemintang Tenggara!” 

“Gemintang Tenggara… Pimpinan Pasukan Lamafa Langit!?”

“Benar. Kakekmu….” 

Bintang Tenggara tertegun. Selama ini ia hanya mengira-ngira perihal nama Gemintang Tenggara. Pertama kali, adalah Lampir Marapi yang berceritera tentang Sang Lamafa Mata Api. Ammandar Wewang sebelumnya pun pernah berujar tentang Pasukan Lamafa ‘dan’ Langit. Setelah ditelusuri di beberapa pustaka, nama Gemintang Tenggara sama langkanya dengan nama Komodo Nagaradja. Ke manakah perginya catatan sejarah tentang mereka…?

“Apakah Yang Mulia Raja Bangkong IV mengenal kakek hamba…?” Bintang Tenggara berharap akan penjelasan tambahan. 

“Kondisi di Kerajaan Siluman Gunung Perahu sudah lebih stabil.” Lagi-lagi Raja Bangkong IV tak mengindahkan kata-kata Bintang Tenggara. Ia berujar sekehendak hatinya. 

“Aku tak bisa memberikan petunjuk seputar Gerakan Kedua, maupun Gerakan Ketiga dari Tinju Super Sakti,” sambung Raja Bangkong IV, kembali melompat ke topik pembicaraan yang lain lagi. 

“Selayaknya, engkau telah menyadari bahwa tenaga dalam yang dibutuhkan bagi Tinju Super Sakti adalah teramat besar. Untuk Gerakan Kedua, setidaknya kau harus berada pada Kasta Perak. Sedangkan untuk Gerakan Ketika, kau harus sudah berada pada Kasta Emas.”

Bintang Tenggara mengangguk. Tentu ia menyadari akan hal ini. Awalnya, ia hendak mengajukan pertanyaan kepada Raja Bangkong IV, tentang kemungkinan merapal jurus tanpa menunggu kenaikan kasta mustika tenaga dalam. Seperti diketahui, Raja Bangkong IV membatasi diri pada Kasta Perak saat melepas Elang, Bentuk Ketiga dari Tinju Super Sakti. Bagaimana hal ini dapat dilakukan bilamana diketahui bahwa Elang hanya dapat dirapal ketika memiliki mustika tenaga dalam Kasta Emas…?

Meski demikian, Bintang Tenggara mengurungkan niat bertanya, apalagi setelah mendengar petuah tentang kesabaran. 

“Aku telah mendengar ceritera dari Mamang Komodo Nagaradja. Tentang kondisi tubuh, mustika dan jiwanya.” 

Bintang Tenggara spontan menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia hendak memastikan bahwa tak ada sosok lain yang mendengarkan. Sepengetahuan Bintang Tenggara, para punggawa dan bangsawan menghormati sang Pamong, Saudara dan Wali karena mengira Komodo Nagaradja sedang berada di suatu tempat, serta masih memantau keadaan di puncak Gunung Perahu. Tiada mereka ketahui kondisi menyedihkan dari Jenderal Ketiga Pasukan Bhayangkara tersebut…

Jikalau para punggawa dan bangsawan yang sempat menentang Raja Bangkong IV mengetahui fakta ini, apakah mereka akan duduk diam? Bukankah kenyataan tersebut akan menyulut mereka untuk kembali angkat suara? Kemungkinan jawabannya… Kedaulatan Raja Bangkong IV akan kembali dipertanyakan, batin Bintang Tenggara.  

“Kau tak perlu khawatir,” tegas Raja Bangkong IV, seolah dapat membaca pikiran lawan bicaranya. “Aku memiliki caraku sendiri dalam menjaga keberlangsungan Kerajaan Siluman Gunung Perahu.” 

Bintang Tenggara mengangguk. 

“Ada dua fakta yang telah kita ketahui,” lanjut sang penguasa kerajaan siluman. “Pertama, Mamang Komodo Nagaradja didera jurus kesaktian unsur racun. Kedua, raganya terluka parah.

“Kemudian, ada dua hal yang tidak kita ketahui… Pertama, unsur kesaktian racun apakah gerangan, karena ada berbagai jenis kesaktian unsur racun? Kedua, sedalam apakah dampak dari racun yang menggerogoti raga?” 

Bintang Tenggara kembali mengangguk. 

“Oleh karena, ada dua langkah yang perlu ditempuh. Pertama, mencari tahu jenis dan penawar racun. Kedua, mengobati cedera yang telah lama mendera raga.” 

“Hmph… apakah maksudmu meminta pertolongan dari si bangsat itu…?” sela Komodo Nagaradja. 

Bintang Tenggara menyimak dalam diam. Ia hampir putus asa dalam mencari informasi perihal tubuh Komodo Nagaradja yang saat ini berdiam di Pulau Bunga. Mendengar kata-kata Raja Bangkong IV, secercah cahaya harapan menyibak perlahan. 

“Benar. Mencari tahu jenis kesaktian unsur racun dan penawarnya, serta mengobati cedera, dapat dicapai sekaligus oleh…”

“Aku tak sudi!” sergah Komodo Nagaradja. “Aku tak sudi tubuhku digerayangi!”

Raja Bangkong IV terdiam sejenak. Terlihat seperti ia sedang menimbang-nimbang. Antara menyelesaikan persoalan atau memenuhi kehendak Komodo Nagaradja… Pada akhirnya, yang terpenting adalah tujuan utama dapat tercapai. Proses mencapai tujuan yang tak menyenangkan, sementara dapat diabaikan saja. 

“Adalah salah satu tokoh dalam jajaran Sembilan Jenderal Bhayangkara yang dapat mencapai tujuan tersebut. Tokoh tersebut dikenal dengan nama... Maha Maha Tabib Surgawi!” 


===


Bintang Tenggara meninggalkan Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Secara resmi, hanya Asep yang mengantarkan keluar. Akan tetapi, anak remaja tersebut menyadari akan tekanan berat dari belasan pasang mata yang mengamati dari kejauhan. Sejumlah punggawa dan bangsawan di Kerajaan Siluman Gunung Perahu sebenarnya sangat ingin mengenal anak didik Yang Sani Komodo Nagaradja. Akan tetapi, tak satu pun dari mereka yang mendatangi Bintang Tenggara. Kemungkinan besar karena mereka dilarang oleh Raja Bangkong IV. 

Bintang Tenggara menyadari bahwa bukan tak mungkin sang penguasa melarang sesiapa berinteraksi dengan dirinya. ‘Wajib lapor’ dalam kemasan latih tarung bersama Asep dua hari sekali di Istana Utama, adalah bukti nyata pengawasan Raja Bangkong IV atas dirinya. Dengan cara tersebut, Raja Bangkong IV dapat terus memantau keadaan Bintang Tenggara selama berada di dalam wilayah Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Apa pun itu, kemungkinan ada saja pihak-pihak yang tak puas sehingga akan melampiaskan amarah kepada anak didik Komodo Nagaradja. Kekhawatiran Raja Bangkong IV sangat berasalan. 

Pintu gerbang besar di salah satu sisi tebing yang mengelilingi puncak Gunung Perahu, perlahan membuka. Di luar, sebuah prasasti batu telah menanti. Prasasti tersebut telah disiapkan untuk membuka gerbang dimensi menuju kaki gunung. Sepertinya prasasti ini telah dibuat permanen, sebagai bukti perdamaian antara Kemaharajaan Pasundan dan Kerajaan Siluman Gunung Perahu. 

Wajah Kakek Duta Utama sumringah. Selama ini ia khawatir akan keselamatan Bintang Tenggara. Kepergian anak remaja itu menghapus kerisauan akan keamanan selama berada di dalam wilayah Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Di samping si kakek berdiri seorang petugas gerbang dimensi.

“Yang Mulia Bintang Tenggara, sekali lagi kakek tua ini menghaturkan rasa terima kasih yang tiada terkira.” 

Bintang Tenggara tersenyum dan mengangguk pelan. 

“Rekan Bintang Tenggara… aing menantikan latih tarung kita selanjunya. Di saat itu, aing akan meraih kembali kemenangan yang sempat lepas!” ujar Asep sambil menjulurkan lengan. 

Bintang Tenggara segera menangkap telapak tangan dari lengan yang mendongak ke atas. Jabat tangan persahabatan, mirip dengan sepasang petarung yang sedang beradu panco. 


“Selamat datang, rekan Bintang Tenggara. Abdi menghaturkan terima kasih atas bantuan yang diberikan kepada Tanah Pasundan!” Jaka Soreang, Si Jajaka Merah, telah menanti di kaki gunung. Ia ditemani oleh beberapa murid dari Sanggar Sarana sakti. 

Kakek Duta Utama rupanya telah mengatur kehadiran regu penjemputan. 

Membenahi tas panggul kecil yang biasa menggantung di bahu, Bintang Tenggara lalu mengikuti langkah Jaka Soreang menuju Sanggar Sarana Sakti. Dari sana, nantinya ia berencana mampir sejenak ke Istana Utama Kemaharajaan Pasundan, guna memenuhi undangan dari seseorang yang tak dikenal. Kemudian, dirinya akan melompat ke gerbang dimensi menuju Kota Ahli. Setelah transit di kota tersebut, barulah ia akan melompat ke gerbang dimensi lain untuk kembali ke Pulau Dewa. Paling lama, dalam dua hari dirinya sudah akan kembali berada di Perguruan Gunung Agung. Canting Emas pastilah akan puas. 

Demikianlah rencana Bintang Tenggara, bila tak ada kendala. 

Hmm… Siapakah gerangan Maha Maha Tabib Surgawi…? Benak Bintang Tenggara dipenuhi tanda tanya. Bila benar merupakan salah satu dari Sembilan Jenderal Bhayangkara, pastilah merupakan tokoh digdaya. Meskipun demikian, Raja Bangkong IV dan Super Guru Komodo Nagaradja tiada memberi penjabaran lebih lanjut. Dimana dan bagaimana caranya menemui tokoh tersebut? Mungkinkah harus memanfaatkan jaringan Pasukan Telik Sandi? 

Kemudian, Maha Maha Tabib Surgawi… Mengapa perlu dua kali menyebutkan kata ‘Maha’… Apakah satu ‘Maha’ saja tiada mencukupi? Lalu, apa yang dimaksud dengan kata ‘Surgawi’? Apakah ia memiliki kemampuan mengirim pasiennya ke surga? Tentunya Maha Maha Tabib Surgawi bukanlah nama sebenarnya, melainkan sebuah julukan. Sungguh julukan yang aneh, batin Bintang Tenggara. 

“Swush!” 

Lamunan Bintang Tenggara menetas. Spontan ia mendongak. Jauh tinggi di udara, seorang ahli melesat cepat ke arah timur. Samar-samar, Bintang Tenggara mendapati bahwa sekujur tubuh ahli tersebut berbalut jalinan perban. 

“Hm…? Maha Guru Kesatu Sangara Santang…,” gumam Jaka Soreang. 

“Hah!?” Bintang Tenggara sempat menangkap suara Jaka Soreang. “Benarkah ahli yang tadi melintas adalah Maha Guru Kesatu Sangara Santang? Apakah gerangan yang telah terjadi dalam sebulan terakhir…?” aju Bintang Tenggara. 

Wajah Jaka Soreang terlihat kecut. Ia seperti sangat khawatir. 

“Katakan padaku…,” desak Bintang Tenggara. 

“Sekira sebulan yang lalu, Maha Guru Kesatu Sangara Santang disergap seorang ahli tak dikenal… Karena serangan mendadak, Maha Guru Kesatu Sangara Santang menderita luka-luka…”

“Lalu, hendak ke manakah beliau dalam keadaan terluka…?” sambung Bintang Tenggara. 

Wajah Jaka Soreang semakin kecut. Beberapa murid Sanggar Sarana Sakti yang berdiri di belakangnya juga berubah khawatir. Hal apa lagi yang membuat murid-murid lelaki tersebut lebih khawatir selain kondisi Maha Guru Kesatu Sangara Santang!? 

“Sepekan yang lalu... Rekan Lampir Marapi menghilang....” Akhirnya Jaka Soreang membuka mulut. 

Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana!

Petir menari di kedua belah kaki Bintang Tenggara ketika ia melompat gesit. Anak remaja itu menuju ke arah dimana Maha Guru Kesatu Sangara Santang menghilang. 

“Rekan Bintang Tenggara…,” teriak Jaka Soreang. 

“Jangan khawatir! Aku hanya hendak memastikan apa yang sesungguhnya terjadi. Aku akan segera kembali!” sahut Bintang Tenggara meninggalkan Jaka Soreang dan regu penjemputan. 


Sungguh keputusan spontan yang salah kaprah, keluh Bintang Tenggara. Sehari semalam berlalu, dan dirinya masih belum berhasil mengejar Kakak Sangara Santang. Bahkan setelah berakselerasi dengan jurus kesaktian unsur petir dan kini berlari berjingkat seperti babi, tak juga ia menyusul. Bagaimana mungkin bagi ahli Kasta Perunggu yang hanya berlari, dapat mengejar ahli Kasta Emas yang melesat terbang. Ada-ada saja. 

Dua hari dua malam berlalu. Bintang tenggara tiada lagi berlari. Ia melangkah perlahan sambil menebar mata hati sejauh mungkin. Tiada tanda-tanda kehidupan di semerata penjuru. 

Hari ketiga, jelang petang. Bintang Tenggara tak menyadari bahwa dirinya telah berada di perbatasan antara wilayah barat dan timur Pulau Jumawa Selatan. Baru hendak memutar langkah dan kembali ke Sanggar Sarana Sakti, ia mendapati bahwa di hadapan terbentang hutan lebat. 

Berdiri diam, anak remaja tersebut mengamati pohon pinus menjulang tinggi-tinggi. Bersama dengan berbagai jenis pepohonan dan tetumbuhan lain di dalamnya, hutan tersebut seolah dapat melahap habis sesiapa pun yang tersesat serta masuk ke dalam wilayahnya. 

Murid kesayangan Komodo Nagaradja itu lalu mendapati lekukan curam, seperti parit lebar, yang seolah memisahkan dirinya dengan hutan itu. Tak berani ia melongok ke dalam hutan, karena suasana yang demikian angker seolah menjalar dan membungkus sekujur tubuh. Dingin. Bulu kuduk dibuat berdiri ngeri.

“Alas Roban…,” gumam Komodo Nagaradja pelan. “Sebaiknya kau jangan nekat melangkah ke dalam sana.”

Bintang Tenggara sepakat dengan sang Super Guru. Buat apa masuk ke dalam wilayah yang tak dikenal, malah nanti mencelekai diri sendiri. Baru saja hendak memutar tubuh, ketika sayup ia mendengar suara teriakan dari dalam hutan…

“Kyaaa….!” 

“Hop!” Bintang Tenggara serta-merta melompat ke dalam wilayah hutan! 

“Bocah teng…” Kesadaran Komodo Nagaradja yang hendak memberikan peringatan, tetiba terputus! 

Bintang Tenggara merasakan keganjilan di tubuhnya. Namun, ia tak memperdulikan dan tetap berlari ke dalam hutan, ke arah sumber suara teriakan. Ia cukup mengenal suara teriakan tersebut, dan tak diragukan lagi bahwa datangnya dari… Lampir Marapi! 

Di dalam hutan, kedua mata Bintang Tenggara lalu mendapati dua orang lelaki dewasa muda sedang berhadapan dengan seekor binatang siluman gajah raksasa. Lelaki pertama mengenakan pakaian berwarna terang, layaknya seorang cendekia. Rambutnya panjang, tertata rapi ke belakang. Aura terpelajar menyibak dari dalam dirinya. Di samping, berdiri lelaki kedua yang berbalut perban. Wajahnya terlihat gelisah. Di belakang mereka, adalah seorang gadis yang demikian anggun, yang terlihat baru hendak bangkit berdiri. Gadis tersebut sedang memegang Kitab Kosong Melompong!

Bintang Tenggara mengenal ketiga sosok tersebut! 

Kendatipun demikian, ia merasa ganjil. Mengapa kedua lelaki dewasa muda tersebut kelihatan kepayahan ketika hanya berhadapan dengan binatang siluman Kasta Perak. Yang lebih aneh lagi, mengapa kedua lelaki dewasa muda tersebut terlihat seolah bekerja sama!?

Bintang Tenggara memacu langkah. Dengan percaya diri tinggi, ia lalu menyerang binatang siluman di depan mata...

“Badak!” 




Cuap-cuap:

Setelah membaca beberapa episode ke belakang, seorang teman menyarankan untuk menuliskan tentang petualangan Mayang Tenggara. Dengan kata lain, menulis prequel atau kisah sebelum Legenda Lamafa. Sesungguhnya rencana tersebut telah ada, bahkan judulnya pun telah terpikirkan. Akan tetapi, apalah daya, waktu menjadi penghalang utama. Untuk sekedar diketahui, judul ceritera bersambung sebelum Legenda Lamafa adalah... ‘Perang Jagat’. 


Mohon maaf, belum mampu menyajikan Episode Banyangan...