Episode 5 - Berbagi Itu Tak Hanya Kebahagiaan Tapi Juga Kepahitan



Selang hari berganti. Pagi ini sebelum jam enam, seluruh siswa SMA Harapan Nusantara berkumpul di lapangan samping sekolah menunggu bus yang akan mengantarkan mereka ke kampus. Mereka semua sudah rapih dengan seragam sekolahnya. Terlihat Coklat, Ival, Tiar, Wakamiya, Sweety dan teman satu kelasnya membentuk kelompok. Mereka berbaris rapih. 

Sambil menunggu bus datang, Coklat sengaja membuat tebak-tebakan kepada teman-temannya.

“Eh tebak, kenapa sopir bus nyetir sendirian di depan? Hayo kenapa?”

“Karena dia sopir makanya di depan coba kalau di belakang pasti disebut penumpang,” jawab Ival.

“Salah.” 

“Karena memang tugas sopir nyetir di depan,” jawab Tiar.

“Masih salah.”

“Karena dia sopir makanya nyetir sendirian di depan,” jawab Ucup.

“Salah juga, nyerah semua?”

“Ya nyeraaah!”

“Karena kalau nyetir rame-rame repot, enggak kebagian setir, wkwkwkwkwk.” 

Coklat menjawabnya sampai guling-gulingan di lapangan, sementara teman-temannya yang lain hanya diam, enggak mengerti apa yang di jawab Coklat barusan, kasihan dia dikacangin. 

Tak berselang lama, bus yang akan mengantarkan mereka pun telah datang. Semua siswa mengangkat kedua tangannya sambil berteriak hore menyambut kedatangan bus.

“Horeee! Horeee! Horeee!”

Mereka sudah pada jenggotan kumisan tapi kelakuan kayak anak TK. Pasti dalam hidup mereka belum pernah naik bus, kasihan ya.

Pembagian bus sudah ditentukan kemarin, anak-anak IPA tujuh menumpangi bus bernomor tujuh sesuai dengan kelas mereka. Satu persatu anak-anak IPA tujuh memasuki bus. Di depan pintu masuk bus, Bu Riny mengabsensi siswa yang masuk ke dalam bus. Saatnya Coklat masuk dan saat dia masuk, Bu Riny menceklis namanya di absensi.

“Hah, kamu ikut ya,” ucap lesu Bu Riny.

“Iya dong, Bu, saya harus ikut, kenapa? Senang ya?”

“Pasti kamu bikin ulah di kampus nanti.”

“Ah si Ibu suudzon aja nih.”

“Huh, kenapa sih orang-orang aneh kayak kamu ikut?”

“Saya juga punya niat kuliah, Bu.”

“Hebat kamu, semoga niatan kamu bisa terwujud.”

“Amin, kebetulan dulu bapak saya di UIN dan ibu saya di UI.”

“Kuliah?”

“Enggak, Bu, tapi jualan.”


 ***


Sementara itu di lain tempat, cowoknya Bu Riny sedang mengawasi Coklat melalui televisi pengawas dari Planet Namex. Dia cemburu lantaran Coklat lagi-lagi menggodai pacarnya. Berbekal tembakan laser yang dia sewa dari makhluk Planet Namex, cowoknya Bu Riny bersiap-siap memberi perintah kepada salah satu makhluk Planet Namex yang duduk di sampingnya.

“Lo yakin nih, dengan sekali tembak tuh orang bisa mati?” tanya cowok Bu Riny kepada makhluk hijau yang berwarna merah tersebut.

“$*%#^*^*$%(%^&,” jawab makhluk Planet Namex bernama Namex 1918 yang merupakan ahli tembak menembak di planetnya.

“Lo ngomong apaan sih?”

“(^*&%$%^^*&%^^$&^*&(*& ut8u^&*%$$%^(*&*(^#*(.”

“Ya udah terserah lo aja, yang penting tuh orang mati.”

“(u*&^%727378&^%^)(.”

“Ok.”

Dan Namex 1918 pun menekan tombol merah yang berarti laser siap ditembakan. Laser itu merupakan senjata rahasia dari Planet Namex, yang sekali ditembakan dari jarak jutaan kecepatan cahaya mampu mematikan targetnya tanpa merusak benda-benda di sekitar target.

Wuuush! 

Kira-kira kayak begitu suara laser yang keluar. Laser yang berwarna hijau dari planet Namex itu meluncur deras ke bumi, tepatnya ke arah Coklat dengan kecepatan 1.232.993.232.232.546.768.343.878 km/detik. Coklat yang hendak masuk ke bus pun seketika terkena laser tersebut dan langsung tewas. Untung saja semalam Coklat baru mengisi ulang nyawanya sebanyak tiga buah, jadi dia bisa hidup kembali dengan dua buah nyawa cadangan di dalam dirinya. Nyawa cadangan, kualitas terjamin, mampu menghidupkan kembali nyawa orang ketika mati. Dapat dibeli di toko-toko sekitar rumah Anda. Buruan beli, sebelum mati!

 ***

Dan anak-anak IPA tujuh sudah memasuki busnya, perjalanan ke kampus pun akan segera berangkat. Di dalam bus itu anak-anak lelaki IPA tujuh memasang wajah ceria. Dalam keceriaan mereka, mereka kompak menyanyikan lagu naik-naik ke puncak gunung, kan padahal mereka mau ke kampus ya? Kok nyanyi lagu itu? Ah terserah mereka lah.

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali, karena tinggi-tinggi sekali, akhirnya kita turun lagi ....”

Sementara Bu Riny yang duduk di samping Pak Sopir yang mengendarai bus hanya memasang wajah lesu mendengar nyanyian anak muridnya.

“Lagu orang kok main ganti-ganti aja.”

“Bu, itu anak muridnya?” tanya Pak Sopir yang berkumis tebal.

“Iya, kenapa?”

“Hahahaha, kayak anak TK ya?”

“Memang, Pak.”

Jika anak laki-laki pada kompak bernyanyi, beda dengan anak perempuan. Mereka semua pada sibuk dandan, mereka berlomba-lomba tampil cantik di mata kakak-kakak mahasiswa. Dasar anak IPA tujuh, enggak ada yang benar.

“Aku harus tampil cantik nih di hadapan kakak-kakak mahasiswa,” ujar Sweety sambil ngaca, “semoga aja dia, ya dia enggak merusak suasana di kampus nanti,” lanjut Sweety sambil melihat Coklat dan Ival.

Bus terus berjalan mengantarkan mereka ke kampus. Sudah dua jam berlalu, mereka belum sampai juga di tempat tujuan. Lihat pantat-pantat mereka semua sudah pada tepos, karena kelamaan duduk di bangku. Kasihan ya, yang punya pantat saja tepos, apalagi kalau enggak punya pantat, bisa-bisa enggak kelihatan pantatnya.

Selama dua jam itu pula anak-anak lelaki IPA tujuh masih bersemangat menyanyikan lagu naik-naik ke puncak gunung.

“Naik-naik ke puncak gunung, lama-lama sekali sampainya .…”

Wah ternyata suara mereka sudah pada lesu karena terus bernyanyi tanpa henti. Sementara anak-anak perempuan tak kalah lesunya dengan anak-anak lelaki, wajah mereka tampak kusut. Make up mereka perlahan-lahan luntur. Bu Riny pun tak kalah kusut dengan anak-anak muridnya, dia yang masih duduk di depan bertanya pada sang sopir.

“Pak, masih lama ya sampainya?”

“Tenang, sebentar lagi.”

Bu Riny lalu mengintip suasana jalan dari pinggir jendela dalam bus ini, dia tampak bingung dengan keadaan jalan sekitar yang tampak sudah dikenali.

“Pak, kayaknya kita sudah melewati jalan ini tadi?”

“Ah masa sih, Bu?”

“Benar, Pak.”

Pak Sopir pun menengok suasana jalan yang di laluinya itu. Dia melihat jalan yang sama seperti yang sudah dilaluinya beberapa waktu lalu.

“Oh pantas,” ucap Pak Sopir merasa tak berdosa.

“Kenapa, Pak?”

“Kita kesasar, Bu,” ucap enteng Pak sopir.

Seluruh anak IPA tujuh yang mendengar ucapan santai Pak Sopir terjatuh semua dari bangkunya masing-masing. Dasar sopir bus ini enggak merasa berdosa pas mengucap kata nyasar, seenak-enaknya dia berucap kayak gitu.

“Sudah saya kira, Pak,” ucap Bu Riny.

Pak Sopir tak kehilangan akal, sebab kalau kehilangan akal dia bisa gila. Dengan jurus yang dia miliki, dia coba menggunakan jurusnya itu. Perlu diketahui, Pak Sopir ini adalah keturunan Uciha. Pak Sopir sudah mampu menguasai jurus Kamui. Kamui ini merupakan jurus yang dapat memindahkan objek ke dimensi lain. Berkat jurusnya itu, tidak sampai satu detik, busnya dapat dia pindahkan dan langsung sampai di kampus. Nah kalau punya jurus ini kenapa pakai acara kesasar segala?


 ***


Rombongan bus yang membawa mereka diparkirkan di parkiran kampus, ya iyalah parkiran kampus enggak mungkin kan di parkiran mall atau pasar. Satu persatu siswa Harapan Nusantara turun dari bus yang mereka tumpangi. Sebelum para siswa ini memasuki gedung kampus, terlebih dahulu mereka berkumpul di lapangan parkir untuk diberi arahan oleh Pak Kepala Sekolah. Pak Kepala Sekolah berdiri di hadapan anak-anak Harapan Nusantara dengan didampingi oleh guru-guru lainnya.

“Anak-anak, sebelum kita masuk Bapak ingin memberikan arahan kepada kalian.”

“Iya, Paaak.”

“Bapak harap kalian di sini tidak membuat ulah, misalkan kalian manjat gedung terus lompat dari atas, gubrak! Dan akhirnya mati. Itu jangan ya, bahaya.”

“Iya, Paaak.”

“Satu lagi, kalian juga dilarang keras untuk bertelanjang-telanjang ria di area kampus, kenapa? Nanti kalian disangka orang gila. Jangan itu, memalukan nama sekolah kita saja.”

“Oh, ada lagi yang enggak boleh, Pak!” sahut Coklat.

“Apa, Coklat?”

“Itu, kita enggak boleh jajan di kantin kampus kalau niatnya cuma ngutang.”

“Iya itu betul, tumben omongan kamu enggak berbobot.”

Ini Kepala Sekolah sama muridnya sama saja ya, sama-sama kasih arahan yang enggak berguna. 

Setelah diberi pengarahan yang berbobot mereka pun bubar. Didampingi oleh para guru, mereka serombongan berjalan menuju aula kampus. Tawa-tawa senang terlihat dari wajah Coklat, Ival dan Tiar. Mereka bertiga sepertinya betah dengan keadaan di sini. Pantas saja mereka bertiga betah, toh ketika rombongan jalan ke aula, mereka selalu disuguhkan oleh cewek-cewek kampus.

“Ini baru segaaar,” kata Coklat.

“Yoai, kalau gue ngampus di sini, gue rela dideketin sama cewek-cewek,” ujar Ival.

“Ya, tapi sayang cewek-ceweknya enggak rela dideketin sama lo, Val. Hahaha.” Tiar tertawa.

“Ah, gitu lo sama teman.”

Sampai di depan pintu aula, mereka serombongan masuk ke dalamnya. Dan bisa tebak karena masuknya serombongan, enggak satu persatu, ya jadinya mereka desak-desakkan deh di depan pintu. Padahal mereka sudah besar, tapi enggak ada yang mau mengalah.

“Woy, gue dulu yang masuk!” teriak Coklat.

“Ah, Coklat, kamu harusnya ngalah dong sama anak perempuan!” teriak Sweety.

“Enggak bisa, kan nama gue dulu diabsensi!”

“Dimana-mana itu ladies first!”

“Cowok itu kan imam rumah tangga, Neng.”

“Lah apa hubungannya?”

“Ya siapa tahu nanti kita punya hubungan jadi suami istri gitu, muehehehe.”

Plak!


 ***


Sementara Bu Riny dan guru yang lainnya seolah tak percaya melihat kelakuan anak-anak muridnya seperti itu. Bu Riny dan guru-guru yang melihatnya pun hanya bisa menutup wajah sambil menahan malu.

“Bu, ini murid kita ya?” tanya guru yang lain.

“Iya, benar. Kasihan ya mereka tingkahnya kayak anak TK.”

“Sabar ya, Bu,” ucap guru itu sambil mengelus pundak Bu Riny.

Di dalam aula yang luasnya seperti lima kali lipat dari luas lapangan yang ada di samping sekolah, mereka duduk dengan tertib di sebuah kursi yang sudah disediakan. Ya biasalah kalau anak laki-laki itu suka main di belakang. Coklat, Ival dan teman laki-laki yang lainnya duduk paling belakang, hingga ada yang duduk di belakang gedung kampus, yaitu Ucup.

“Busyet dah, aku ngapain ya sendirian di belakang kampus!” kata Ucup yang baru sadar kalau dia duduk di belakang gedung kampus.

Kasihan Ucup merasa terasingkan sendiri, dan dia pun segera meninggalkan belakang kampus untuk segera ke aula. Mereka yang ada di dalam aula duduk dengan rapih. Di dalam aula ini sudah tampak beberapa orang dari perwakilan kampus duduk rapih di depan dengan kursi yang sudah tersedia, suasana pun menjadi tenang ketika ada seorang perwakilan dari kampus yang memakai jas hitam, berdasi dan sedikit berkumis memberi sambutan di depan mereka. Bla bla bla gitu, entahlah apa yang dia ucapkan. Yang jelas saat ini, Coklat sedang menikmati Bu Riny yang dia pandangi di depannya. Pandangan dia terus tertuju pada Bu Riny, dia tak menghiraukan sambutan yang diberikan. Perhatian Coklat terus tertuju pada Bu Riny hingga mulutnya pun terbuka. Tak sadar, air liur Coklat sudah membasahi dan membanjiri seluruh ruangan aula ini, hingga akhirnya mereka yang ada di dalamnya pun tenggelam.

“Tolooong, gue enggak bisa berenaaang!” teriak Coklat.

“Iuuuh, iler siapa sih nih bau bangeeet!” teriak Sweety.

“Uweee! Uweee!” ucap Wakamiya serasa ingin muntah.

“Anjiiir, asem banget dah ini iler!” kata Ival.

“Huh, pasti orang aneh lagi nih kerjaannya,” ucap Bu Riny.

Untung saja semua yang ada di aula bisa berenang, coba kalau enggak bisa berenang masa mereka pada tewas akibat tenggelam di iler, kan enggak lucu. Ketika ruang aula banjir dipenuhi oleh air liur Coklat, Ucup tiba-tiba sampai di depan pintu aula, dia terkejut melihat air liur deras mengalir keluar dari aula.

“Busyet dah, apaan nih?”

Dikarenakan tadi ada banjir yang tak terduga, padahal enggak ada hujan enggak ada apa bisa tiba-tiba banjir, akhirnya para rombongan dari SMA Harapan Nusantara dengan terpaksa mengeringkan baju terlebih dahulu di pelataran kampus sebelum acara dimulai, begitu pula dengan beberapa orang dari pihak kampus. Mereka yang kebanjiran hebat lho bisa bertahan dari baunya iler Coklat yang merajalela.

“Baru kali ini di kampus ada banjir yang enggak terduga,” ucap Pak Kepala Sekolah sambil memeras jasnya.

“Iya, ini di luar logika, Pak,” ucap guru yang lain.

“Betul, Pak,” ucap Bu Riny.

“Apa kita lanjutkan study campus ini, Pak?” tanya guru yang lain.

“Oh, tentu. Jalan yang sudah kita tempuh pantang untuk mundur Langkah ini akan menjadi saksi, keringat bercucuran bagian dari sebuah perjuangan, terik matahari hanyalah ujian dari langkah-langkah kita!” tegas Pak Kepala Sekolah.

Prok prok prok

Para guru memberi aplaus kepada Pak Kepala Sekolah. Bu Riny pun tak sungkan maju mendekati Kepala Sekolah dan mengalungkan sebuah besi sebarat 1000 ton di lehernya.

“Bu, berat niiih.”

“Lagian, udah tua masih aja becanda.”


 ***


Sementara itu, Coklat dan Ival sedang duduk di samping Wakamiya dan Sweety. Tumben-tumbenan, cewek-cewek itu mau duduk di samping dua orang aneh.

“Ini gara-gara kamu, Coklat, make up aku jadi pada luntur,” keluh Sweety.

“Iya ini gara-gara lo, makanya kalau ngiler jangan lebay kayak gitu,” ucap Wakamiya.

“Gue cuma berbagi kebahagiaan sama kalian semua, biar disangka enggak pelit.”

“Gigi lo baik hati, kalau bagi kebahagiaan itu bukan bagi iler kayak tadi! Koplak!” teriak Ival.

“Berbagi itu enggak cuma kebahagiaan, seoarang sahabat rela berbagi kepedihan dengan sahabatnya, hehehe.”

Sekarepmu waelah,” serentak mereka bertiga.