Episode 9 - Terowongan Bawah Tanah



Terowongan yang sudah berdebu dan memiliki retakan di sisi-sisi atapnya tidak patut disebut dengan terowongan lagi. 

Sudah delapan tahun tidak digunakan, tidak aneh jika rel kereta yang ada tidak terlihat akibat tertimbun tanah dan reruntuhan. Sebelum proyeknya diselesaikan, semuanya rusak begitu saja. Sangat disayangkan jika harus dikatakan.

Throta dan Oddy berjalan di depan diikuti oleh Bell yang sedang membawa tas ransel. Lalu, yang menjaga sisi belakang adalah Dira dan Neil yang berjalan saling berdampingan. Ini formasi yang biasa mereka gunakan ketika menjelejahi suatu tempat saat bertugas. Meski bagian belakang akan sedikit terbebani seandainya Neil tidak ada.

“Kalian belum pernah melawan Shadow, ‘kan?” tanya Neil yang kedua matanya tertuju pada layar tab. Beberapa kali, menggeser layar tab untuk membaca data yang lain.

“Belum pernah,” jawab Dira yang berjalan di samping Neil sambil membawa jerigen bensin. “Aku hanya membaca sedikit datanya saja kemarin karena kami mendapat tugas untuk menangani hal ini.”

“Yah, itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.” Neil memberi jeda. “Selain itu, yang kalian lawan adalah sesuatu yang bisa membunuh kalian juga.” 

Kata-kata yang dikeluarkan dari mulut Neil, seolah sengaja untuk memperingati semuanya. 

Shadow, satu-satunya masalah dari Outsider jenis ini adalah kulitnya yang hitam bersarang di tempat gelap pula dan lembab. Tidak mengeluarkan suhu tubuh dan bisa mengubah bentuk mereka menjadi apa pun. Rank C yang bisa dibilang merepotkan untuk dihadapi. Terutama, jika makhluk seperti itu hidup dalam kelompok yang berjumlah puluhan.

Membunuh mereka tidaklah sulit, tapi menemukan mereka yang bisa masuk ke dalam sela-sela ruang kecil membutuhkan waktu yang lama. 

Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, mereka tidak menemukan apa pun. 

Di sisi lain, semakin mereka masuk, semakin gelap juga ruangannya. Karena terowongan ini dibangun sekitar sepuluh meter di dalam tanah, tidak ada cahaya sedikit pun yang masuk kecuali dari pintu masuk dan juga pantulan-pantulan besi di dinding. Sisanya, masing-masing anggota membawa senter kecuali Neil yang fokus pada tabnya.

“Ugh, kenapa tidak ada yang muncul?” Satu dari orang yang berjalan paling depan—Throta. “Lagipula, bagaimana cara mencari makhluk itu di dalam kegelapan seperti ini?”

“Karena memang bukan di sini tempatnya,” jawab Neil yang merendahkan tabnya. “Aku pinjam senternya.” Neil mengambil senter yang di bawa oleh Dira.

“Huh…?” Throta membuat wajah bingung. “Kalau bukan di sini, di mana?”

Neil mengabaikan pertanyaan Throta yang kedua. Di sisi kanan terowongan, Neil meraba-raba tembok. Karena sudah beberapa tahun tidak digunakan, rasanya sedikit sulit untuk mencari sesuatu apalagi di tempat yang gelap.

“Neil, apa yang kau cari?” tanya Bell penasaran.

“Menurut map yang diberikan padaku, seharusnya di sekitar sini ada pintu.” Langkahnya bergeser sedikit demi sedikit sedikit. “Ketemu!”

Sebuah pintu yang terbuat dari besar dengan tebal sekitar lima senti. Tingginya sekitar dua meter dengan panjang satu meter. 

“Ugh, kenapa harus sesulit ini hanya untuk menemukan pintunya?” Kali ini, Bell yang mengeluh.

Neil mundur beberapa langkah. “Coba buka pintunya!” ucap dengan nada memerintah.

Throta maju menaruh kedua tangan di gagang pintu. Namun, setelah mengeluarkan hampir seluruh tenaga, pintunya tidak bergetar sedikit pun. Seperti dugaan Neil. Mengetahui bahwa tempat ini jarang didatangi atau digunakan, pintu yang sudah tertutup debu itu pasti macet.

“Bagaimana selanjutnya? Seharusnya, ada lebih dari satu pintu bukan?” Dira bertanya. 

Yang Dira ucapkan memang benar, tapi mencari pintu lain bukan berarti menyelesaikan masalah, menurut Neil. Bahkan, kemungkinan besar pintu lain pun tidak berbeda dengan pintu yang sedang mereka coba buka saat ini.

“Kalau sendirian tidak bisa, coba kalian berempat buka pintunya!”

“Huh?” 

Empat orang pria itu di saat yang bersamaan menatap Neil dengan wajah pasrah. 

“Sebelum kami mencobanya, apa mungkin ada kunci untuk membukanya?” Dira melihat satu-satunya lubang kecil yang ada di pintu. 

Bisa saja pintu itu terkunci dan tidak bisa dibuka. Jika seperti itu, berapa pun jumlah orang yang mencoba, hasilnya akan tetap sama.

“Aku sudah memastikannya, tidak ada kunci. Lagipula, itu bukan lubang untuk kunci, tapi lubang untuk udara.”

Neil membersihkan sebagian debu yang tertempel pada pintu. Beberapa lubang yang mirip bisa dilihat di beberapa sudut dan sisi pada pintu. Terdapat tulisan ‘warning’ pada bagian atas pintu.

“Ugh, bukankah akan lebih baik jika kita tidak masuk ke dalam?” Bell melihat tanda peringatan di pintu yang ditulis berwarna merah.

“Peringatan seperti itu bukan berarti menandakan kalau tempatnya berbahaya. Selain itu, menurut laporan targetnya ada di dalam. Bagaimana cara kita menyelesaikan misinya jika tidak masuk ke dalam?” Neil memberikan pandangan datar seolah-olah menganggap mereka semua seperti orang bodoh. “Berhenti bicara! Semakin cepat, semakin baik.”

Tidak berniat menghabiskan waktu, keempat pria yang sedang berkumpul akhirnya memutuskan untuk mengikuti perintah Neil. 

Sebelum mencoba, mereka menggantung senjatanya masing-masing di punggung. Bell meletakkan ransel yang di bawa di lantai, begitu juga dengan jerigen bensin yang sedang dibawa Dira. Setelah menyatukan tenaga, pintu besi yang dirasa sangat berat itu berhasil terdorong dengan susah payah.

Meski tidak terbuka lebar, celah dibuat cukup untuk dimasuki oleh manusia.

“Rasanya tenagaku sudah terkuras sampai setengahnya.” Dari wajahnya, Throta terlihat kelelahan. Namun, bukan hanya dia seorang. Ucannya mewakili semua orang yang ada di sana.

“Kenapa kalian lemah sekali?” Neil tak habis pikir dengan tingkah mereka yang bisa dibilang berlebihan. “Misinya baru dimulai. Jangan membuang banyak waktu di tempat ini.”

Dira yang sedang duduk bersandar pada tembok, bangkit melihat sekitar. Jika dibandingkan dengan terowongan yang sebelumnya, rasanya lumayan berbeda dengan yang mereka tempati saat ini. Menyadari kalau tempat yang mereka kunjungi tidak terlalu gelap, semua senter pun dimatikan.

“Neil, ini…?”

“Ini tempat pembuangan limbah. Semua limbah yang terkumpul di Jakarta, seharusnya ada di sini. Karena itu, tempat ini masih digunakan meski jarang dikunjungi.”

Di sisi kiri, air seperti sungai mengalir tidak terlalu deras. Di sisi kanan, bidang yang dbuat dari aspal untuk digunakan berjalan. Seperti sebuah lorong. Setiap beberapa meter, di langit-langitnya terdapat lampu berwarna kuning sebagai penerangan saat berjalan. Namun, tidak semua lampunya menyala. Di antara air dan jalanan tidak ada tiang pemisah sama sekali sehingga harus berhati-hati saat berjalan agar tidak terjatuh.

“Kita sedang di dalam tanah, kan? Rasanya sedikit aneh.” Dira terlihat berpikir lebih serius dari biasanya.

“Tempat ini sudah cukup lama dibuat. Gedung di mana-mana, membuat tempat ini dipertahankan. Selain itu, aku mendapat informasi dari salah satu anggotaku kalau ada bendungan di bagian hulunya. Pada kenyataannya, tempat ini tidak terlalu berbeda jauh dengan sungai.”

Dira yang mengerti penjelasan Neil bisa segera menyimpulkan. Tidak wajar jika Outsiders muncul di tengah kota. Namun, jika di tempat pembuangan limbah, itu akan menjadi hal yang normal. 

“Apa jalurnya terhubung dengan sungai?” 

Jika jalurnya terhubung dengan sungai asli, maka sungai itu pasti terhubung dengan laut. Dengan itu, Outsiders pasti menggunakan jalur seperti itu untuk sampai kemari.

“Ya, begitulah. Tapi, tidak hanya satu saja. Menyebutnya sebagai labirin pun terlalu berlebihan, tapi bukan berarti kita tidak akan tersesat.” Sambil menatap layar tabnya, melihat peta saluran, Neil menghela. “Hanya aku saja yang memegang petanya. Di saat yang sama, kalian semua menjadi tanggung jawabku. Jadi, jangan sampai membuatku kesulitan.”

Keadaan yang semakin menyulitkan Neil membuatnya bertingkah malas. Biasanya, ia jauh lebih suka berhadapan dengan musuhnya secara langsung tanpa perlu berkeliling menghabiskan waktu tanpa kepastian.

“Kita berangkat sekarang!” Neil memberi perintah.

Selama perjalanan, terlihat jalan bercabang tidak hanya satu kali. Karena tugasnya merupakan misi penjelajahan, maka pilihan jalan tidak terlalu penting selama bisa mengingat jalan kembali. Untuk itu, Neil menyuruh berpegang pada satu sisi—sisi kanan.

Berjalan cukup lama, mereka berhasil menemukan target.

Hitam seperti arang. Kedua mata berwarna merah pekat. Ada yang berukuran seperti anak manusia dan juga ada yang berukuran sampai dua meter tingginya. Setiap kali berjalan, tubuhnya bergerak seperti siput. Sejak awal, tubuh Shadow mirip dengan cairan, hanya saja jauh lebih kental dari oli. 

Gerakannya yang lambat dan juga tidak peka pada cahaya menjadi kelemahan utama mereka. Namun, jika sudah menempel pada Manusia akan sangat sulit untuk dilepaskan. Terlebih, jika dihitung beratnya mungkin sampai lebih dari seratus kilo tergantung dengan bentuk dan besarnya.

Jumlahnya ada delapan, berjalan secara bergerombol di sisi yang sama dengan Neil.

“Seharusnya kalian tidak kesulitan untuk membunuh mereka.” 

Hanya untuk berpindah sekitar satu meter, Shadow setidaknya membutuhkan waktu lima sampai tujuh detik. 

“Mereka seperti slime, jadi meski ditembak tubuh mereka tidak akan hancur dan kembali seperti semula. Sebelum mereka kembali bersatu, gunakan bensin untuk membakarnya.” Neil menjelaskan dengan singkat.

“Hmm, jadi bensin digunakan untuk itu, ya?” 

Dira membuka tutup jerigen, bersiap-siap di belakang. Selain itu, Throta dan Oddy yang menembek musuh hingga hancur berkeping-keping. Setelah itu, Dira mengguyur mereka dengan bensin yang ada lalu membakar Shadow yang masih bergeliatan di tanah layaknya cacing menggunakan korek api batang.

“Dira, sebisa mungkin hemat bensin yang kita punya.” Neil memperingati. 

“Huh…? Masih ada lagi?” 

“Justru aneh jika misi ini selesai begitu saja.” Neil memperhatikan Shadow yang sedang dibakar, memastikan kalau tidak ada yang lolos sedikit pun. “Akan lebih baik jika kita mengecek semua persimpangan yang sudah dilewati.”

Mendengar saran Neil, tidak seorang pun dari mereka yang bisa menahan rasa terkejutnya. 

“Ugh, bukankah itu sedikit berlebihan? Maksudku, kalau seperti itu kita mungkin membutuhkan waktu sampai seharian,” ucap Dira dengan suasana hati memburuk.

“Karena itu aku menyuruh kalian untuk bergerak lebih cepat. Yang kalian butuhkan saat ini adalah pengalaman, bukan penghargaan atau ranking. Lawan yang kalian hadapi hanya Rank C, musuh yang paling cocok dengan kalian. Semakin lama kalian turun di lapangan, semakin terbiasa juga.” Neil mendekap, merendahkan kedua bahu. “Kita akan melanjutkaannya sampai aku bilang cukup. Jika ada yang kelelahan, katakan langsung. Aku tidak ingin ada seorang pun yang mati dalam misi Rank C seperti ini.”

Semuanya mengangguk tanpa protes sedikit pun. Jika harus mengaku, rasanya aneh juga jika misi yang mereka kerjakan berjalan semudah walaupun itu hanya misi Rank C.

Mereka kembali melanjutkan perjalanan. 

Semakin ke dalam, semakin banyak jumlah Shadow yang mereka temui. Sama seperti yang Neil katakan. Misinya belum selesai hanya karena membunuh beberapa Shadow saja.

Entah sudah berapa puluh Shadow yang mereka kalahkan. Rasa lelah pun akhirnya nampak. 

“Neil, apa masih belum selesai?” Dira yang merasa bertanggung jawab, berniat mengambil keputusan.

“Yah, aku rasa ini sudah cukup. Tapi, sebelum kita kembali akan lebih baik jika kalian beristirahat terlebih dahulu.”

Dira mengangguk tanda setuju. Di ruangan yang rasanya semakin panas itu, mereka beristirahat, duduk bersandar pada tembok.

Neil mengambil jerigen bensin yang berada di samping Dira. Tersisa tinggal sedikit. Meski berusaha keras untuk mengehemat, seperti ini kejadiannya jika tidak menghitung seberapa banyak persiapan mereka. Akan sangat buruk keadaannya jika mereka sampai bertemu Shadow dalam jumlah puluhan sekaligus.

Neil kembali memeriksa tabnya. Jam tujuh malam. Sudah sekitar enam sampai tujuh jam mereka berada di terowongan bawah tanah. 

Sekitar tiga perempat waktu yang digunakan hanya untuk berjalan saja. Sisanya digunakan untuk melawan Shadow. Tidak buruk untuk sebuah tim yang baru saja menjadi Agen Khusus.

“Kita jalan lagi. Aku tidak ingin pulang terlalu larut.”

“Yah, dari awal ini adalah perintahmu. Lagipula, aku juga sudah lapar daritadi.” Bell mengeluh.

Belum satu menit berjalan, satu lagi komplotan Shadow terlihat. Kali ini menutupi jalan pulang mereka.

“Neil, apa bensinnya masih cukup?” Dira bertanya memasang wajah khawatir.

“Seandainya tidak cukup, kita hanya perlu melewati mereka.” Neil memberi intruksi. 

Seperti biasa, Throta dan Oddy yang berjaga di depan menghadapi para Shadow. Lalu, Dira yang berada di belakang berjaga-jaga.

Di saat semuanya terfokus pada Shadow yang datang, Dira yang sedang bersiap, tanpa sengaja menyentuh sesuatu yang tergeletak di lantai.

Sesuatu yang berlendir, lembut, dan juga berwarna ungu.

“Huh…?” 

Seketika Neil sadar apa yang baru saja terjadi, tanpa pikir panjang tangannya bergerak dengan cepat meraih Dira yang berjarak beberapa meter di depannya. “Minggir!”

Di saat Dira menghadap Neil yang sedang mencoba menggapainya, kakinya dililit oleh tali yang sangat keras. 

“Uwaa…!!” Dira menggigit bibir dengan keras 

Bunyi retakan terdengar menggema di kepala dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Tulang pergelangan kakinya baru saja dihancurkan seperti meremuk sebuah kaleng. Dira ingin terjatuh, tapi sebelum itu…

“Ne—“ Dira mengangkat tangan.

Sebelum Dira terjatuh, juga sebelum Neil bisa mencapainya. Tubuh Dira ditarik ke dalam arus air.

Semua pandangan terkejut tertuju pada Neil yang gagal menyelamatkan salah satu orang yang harus diawasinya.

Neil melempar tabnya. “Kalian bertiga, tunggu di sini!”

“Huh…?” Bell semakin terkejut. Ia tahu jelas apa yang dimaksud dengan ucapan Neil. “T-tidak… T-tunggu Neil! Jangan Me—“

Neil mengabaikan Bell. Tanpa melepas jaket ataupun sepatunya, Neil melempar tubuhnya sendiri ke dalam arus air.

Mata Bell membesar saat melihat Neil memilih untuk menyelamatkannya. “—ninggalkanku!”