Episode 136 - Teleportasi vs … *



“Swush!”

Sebuah bilah panjang berwarna putih bersih, dengan guratan-guratan halus berbentuk mirip jalinan tulang belakang menusuk deras. Benar… menusuk, bukan menikam. 

Di hadapan Bintang Tenggara, sesosok tubuh bergerak tangkas. Sosok tersebut merangsek maju dengan menghunuskan sebilah tombak panjang. Meski tak sepanjang tempuling, namun tetap panjang adanya bilamana dibandingkan dengan rata-rata tombak biasa. 

“Hop!” 

Lima segel penempatan telah tersedia ketika Bintang Tenggara menghindar dari rentetan tusukan tombak yang dihunus oleh Asep. Melenting-lenting di udara, Bintang Tenggara lalu mengangkat tempuling dengan kedua lengan tinggi di atas kepala. Tempuling Raja Naga bersiap melakukan serangan balik. 

“Berhenti!” hardik seorang lelaki berperawakan sederhana. 

Bintang Tenggara mendarat ringan di rerumputan. Diketahui bahwa anak remaja tersebut saat ini berada di padang rumput yang cukup luas. Akan tetapi, padang rumput tersebut tidak seperti padang rumput kebanyakan, karena letaknya di dalam sebuah bagunan maha luas dan megah. 

“Grab!” 

Raja Bangkong IV segera merampas tempuling dari genggaman Bintang Tenggara. Sang Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu itu lalu mengangkat tempuling dengan dua lengan, kemudian menempatkan ke samping, sejajar dengan posisi telinga. 

“Kau lihat!” sergah Raja Bangkong IV. “Tiada gunanya mengangkat tempuling tinggi ke atas kepala… cukup sejajar telinga. Demikian, kau juga dapat menikam dengan lebih terarah!” 

Raja Bangkong IV terlihat cukup mahir dalam memberi tunjuk ajar cara menggunakan tempuling dengan baik dan benar. Arahan yang ia berikan sungguh bermanfaat. Pengalaman menjadi incaran tempuling hampir setiap hari di masa kecil, agaknya membekas teramat dalam di sanubarinya. 

“Baik, Guru!” Bintang Tenggara mengangguk. 

“Aku bukan gurumu! Aku Raja Bangkong IV, Sang Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu!” 

“Baik, Guru Raja Bangkong IV! Sang Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu!” 

“Kau hendak mempermainkan aku…!?”

“Bum!” 

Bintang Tenggara belum sempat menjawab ketika sebuah hentakan tenaga dalam menhantarkan tubuhnya jatuh terjerembab. Akan tetapi, tenaga hentakan sengaja dibatasi sehingga tidak membuat anak remaja tersebut kehilangan kesadaran atau mengerita luka dalam. Sebagai tambahan, bahkan Asep, yang berperan sebagai lawan latih tarung dan dekat berdiri, ikut jatuh terjerembab. 

Dua tabib terlihat berlari tergopoh mendatangi tubuh Bintang Tenggara dan Asep. Karena kedua remaja tak menderita cedera sama sekali, kedua tabib hanya berperan membantu mereka bangkit berdiri. 

“Kau berlebihan….” Terdengar suara malas dari singasana besar berbentuk dipan. Sosok berwarna merah sedang berselonjor santai. 

Simkuring tak percaya bahwa pengetahuan dan kemampuannya sangatlah terbatas.” **

“Anak itu terlambat memulai,” sahut Komodo Nagaradja santai.

“Apa yang sudah Mamang ajarkan…?”

“Ibunya tak mengajari persilatan dan kesaktian….” Komodo Nagaradja berupaya menyalahkan pihak lain. Padahal, dirinyalah guru resmi dari Bintang Tenggara. 

“Cih! Mayang Tenggara… Mengapa tetiba simkuring mendapat firasat buruk…?” 

“Hm…?”


“Mulai!” 

Bintang Tenggara dan Asep melanjutkan latih tarung di Istana Utama Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Raja Bangkong IV masih menjadi pelatih yang sangat tegas. 

Dilihat dari teknik pengajaran, Komodo Nagaradja cenderung pemalas. Tunjuk ajar yang ia berikan terbatas adanya. Di sisi lain, Maha Guru Keempat, Berawa, di Perguruan Gunung Agung sangat baik hatinya. Tunjuk ajar diberikan secara hati-hati serta demikian lemah dan lembut. Baru kali ini Bintang Tenggara mendapat tunjuk ajar dari ahli yang memiliki pendekatan dengan cara yang ‘berbeda’ (baca: ‘galak’).   

Bilamana disanggah, maka Raja Bangkong IV menghentakkan tenaga dalam terbatas. Bilamana merasa ditentang, dipertanyakan, diragukan, dipermainkan, dicibir, bahkan dilirik… maka Raja Bangkong IV akan menghantamkan tenaga dalam. Singkatnya, apa pun yang Bintang Tenggara lakukan selain berlatih tarung, maka ia akan terpental jatuh. 

Jual-beli serangan semarak terjadi antara tombak panjang dan tempuling. Tidak sedikit pun celah yang terbuka dari pertahanan rapat Asep. Ia menghunuskan tombak semudah menggerakkan lengan, menyabet dengan leluasa. Olah tubuhnya luwes, tenaga hantamannya menggetarkan tempuling. 

Bintang Tenggara pun menyadari bahwa saat pertama berhadapan dengan Tempuling Raja Naga, maka siluman-siluman kodok remaja akan merasa tertekan oleh aura siluman sempurna nan digdaya. Namun demikian, dengan berselangnya waktu, maka mereka akan menjadi terbiasa. Lihat saja Asep, yang sudah tak terpengaruh akan aura dari senjata pusaka pemberian Super Guru Komodo Nagaradja itu.

Pertukaran serangan masih berlangsung apik. Meski demikian, Asep pun tak kunjung menemukan celah untuk masuk ke dalam wilayah pertahanan tempuling. Jadi, ia memilih bersabar untuk menunggu kesempatan terbuka. Sungguh sabar. 

Di atas singasana, Raja Bangkong IV menatap dalam diam. 

Segala cara telah Bintang Tenggara tempuh, mulai dari Segel Penempatan, Asana Vajra, Segel Petir… Tak satu pun jurus membuahkan hasil. Bahkan, perlahan namun pasti, asep mulai menekan.

Pencak Laksamana Laut, Gerakan Ketiga: Patah Tumbuh Hilang Berganti!

Bintang Tenggara kalah dalam pertarungan panjang yang menguji kesabaran. Asep jauh lebih sabar. Walhasil, ia mengorbankan tenaga dalam cukup banyak untuk meningkatkan kekuatan dan kecepatan tubuh di saat yang bersamaan. Sekedar mengingatkan, bahwa berkat kesempatan berlatih di dalam dimensi ruang dan waktu milik Dewi Anjani, tubuh Bintang Tenggara sudah tak merasakan derita dari merapal jurus ini. Dengan catatan, jurus dirapal dalam jangka waktu terbatas saja. Sekitar tiga menit adalah waktu yang Bintang Tenggara miliki.

“Hm…?” Raja Bangkong Bangkit dari kursi singasana ketika menyadari keberadaan jurus persilatan yang digdaya milik Laksamana Hang Tuah. Wajah sang raja terlihat keheranan mendapati jurus yang dikira hilang bersama kematian pemiliknya, kini dirapal di depan matanya. 

“Mamang...,?” 

“Jangan tanyakan padaku…,” potong Komodo Nagaradja. “Kebetulan demi kebetulan terjadi selama perjalanan kami….”

“Hya!” dengus Bintang Tenggara. 

Satu jam berlalu, Bintang Tenggara merangsek laju. Penggunaan Pencak Laksamana Laut dirapal silih berganti. Ada saat dimana ia menggunakan, ada pula saat dimana ia tidak. 

Bintang Tenggara berhasil memperpendek jarak hanya dalam hitungan detik. Upaya ini perlu dilakukan untuk meraih kemenangan. Kemenangan berarti kesempatan berdiskusi dengan sang penguasa wilayah. Raja Bangkong IV, hanya meluangkan waktu selama dua jam, tiga kali dalam sepekan, untuk memberikan tunjuk ajar. Sangat disiplin pula pengaturan waktunya. 

Sejauh ini, waktu dua jam habis tersita oleh Asep. Hanya dengan meraih kemenangan dalam kurun waktu kurang dari dua jam, maka akan terbuka peluang bertukar pikiran dengan Raja Bangkong IV. Asep harus ditumbangkan!

Kekuatan dan kecepatan berlipat ganda secara bersamaan dengan merapal Pencak Laksamana Laut, Gerakan Ketiga: Patah Tumbuh Hilang Berganti. Berbekal kelebihan tersebut, Bintang Tenggara aktif menyerang. 

“Brak!” 

Tempuling Raja Naga tertancap perkasa, ketika Asep menghindar ke samping. Bintang Tenggara melepaskan genggamannya, karena tempuling sengaja difungsikan untuk mengalihkan perhatian sejenak. Segel Penempatan kemudian dipasang mengelilingi tubuh Asep, sehingga menutup ruang geraknya. Bintang Tenggara menyerang dengan tangan kosong!

Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak!

Tak tanggung-tanggung. Jurus-jurus yang sangat menyita tenaga dalam pada jumlah besar dari mustika Kasta Perunggu Tingkat 7 dirapal beruntun. Bila serangan mendadak ini gagal, maka Bintang Tenggara hanya akan memiliki sisa kurang dari sepuluh persen tenaga dalam. Apakah nantinya ia sempat membuka jurus Delapan Penjuru Mata Angin, adalah perkara lain…

“Asep!” hardik Raja Bangkong IV keras. 

“Kinja Sirna!” teriak Asep merapal jurus. 

Gerakan Pertama Tinju Super Sakti sedikit lagi mendarat ketika Asep usai merapal jurus. Ia yang selama ini hanya mengandalkan jurus-jurus persilatan dalam menggunakan tombak, tetiba merapal jurus lain…

“Syut!” 

Tinju Super Sakti kehilangan sasaran ketika tubuh Asep menghilang! Di tempatnya tadi berdiri dan terhambat oleh Segel Penempatan yang melingkari dan membatasi ruang gerak, hanya tersisa tombak yang tergeletak di atas rerumputan. 

Tanpa sasaran untuk meledakkan gelombang kejut, Gerakan Pertama dari jurus Tinju Super Sakti pupus dengan sendirinya. Tenaga dalam yang telah dikerahkan pun lenyap kembali ke alam. Menyadari kegagalan, spontan Bintang Tenggara melompat mundur. 

“Syut!” 

Tubuh Asep tetiba muncul persis di hadapan Bintang Tenggara! Pada saat yang bersamaan, bogem mentah melesat ke arah dada. Bintang Tenggara segera memasang kedua lengan di depan dada. Hantaman tinju diredam dengan mudahnya oleh sepasang Sisik Raja Naga yang membungkus di kedua lengan tersebut. 

Bintang Tenggara kemudian memanfaatkan tenaga pukulan Asep untuk melontarkan tubuh ke belakang. Ia berniat menjaga jarak dan segera membuka jurus Delapan Penjuru Mata Angin untuk menyerap tenaga alam demi mengembalikan tenaga dalam yang terbuang. 

“Syut!” 

Asep tetiba muncul di samping Bintang Tenggara! Bintang Tenggara mati langkah. Hantaman tinju yang keras tak terhindarkan dan terasa demikian perih di bahu. Tubuh Bintang Tenggara dibuat terpental lebih dari sepuluh langkah. Anak remaja tersebut tersungkur tak berdaya di atas rerumputan hijau. 

Bintang Tenggara tiada menyangka bahwa Asep juga menguasai salah satu dari lima jurus khas siluman kodok Gunung Perahu. Dengkang Dirgantara mendatangkan hujan lebat, sehingga menciptakan situasi bertarung yang menguntungkan bagi siluman-siluman kodok. Raga Danawa mengubah bentuk tubuh siluman kodok menjadi gembul dan gempal, sehingga tubuh mereka menjadi kebal dari serangan-serangan jurus lawan….

Sedangkan jurus ini, adalah sesuai dengan namanya. ‘Kinja’ berarti lompat dan ‘sirna’ berarti hilang. Asep tadi melompat dan menghilang secara beruntun sebanyak tiga kali. Maka, Kinja Sirna adalah jurus yang menghasilkan tiga teleportasi jarak dekat secara beruntun!

Bila selama ini waktu untuk bersua dengan Raja Bangkong habis akibat anak remaja tersebut tak dapat menumbangkan Asep… maka kali ini Bintang Tenggara justru kalah telak! 


Dua hari berlalu. Bintang Tenggara kembali berhadap-hadapan dengan Asep di padang rumput di dalam Istana Utama Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Wajahnya kusut. Hari ini ia harus menang. 

“Raga Danawa!” Tubuh Asep berubah gembul dan gempal. 

“Kinja Sirna!” Tiga teleportasi jarak dekat melesat cepat. 

Dengan demikian, Bintang Tenggara seolah berhadapan dengan raksasa! Celakanya lagi, raksasa tersebut melompat dan menghilang dalam rentetan tiga teleportasi jarak dekat. Serangan Asep seolah terlihat datang dari tiga penjuru! 

Demikian, Bintang Tenggara kembali menelan pil pahit kekalahan di bawah telapak kaki lawan. Secara harfiah, memang Bintang Tenggara tak berdaya diinjak Asep!


Dua hari kembali berlalu. Bintang Tenggara sedikit putus asa. Siapa yang mengira Asep menguasai dua jurus khas siluman Gunung Perahu…? Siapa pula yang menyangka bahwa Asep dapat mengerahkan kedua jurus tersebut di saat yang bersamaan!?

“Yang Mulia Raja Bangkong IV, apakah hari ini kita dapat memulai dengan diskusi sahaja…?” pinta Bintang Tenggara. 

“Masihkah kau ingat kata-kataku tentang kekuatan…?” Raja Bangkong IV berujar tegas dari atas kursi singasananya. Dahinya sedikit berkerut ke atas. 

“Bahwa kekuatan adalah utama, Yang Mulia Raja Bangkong IV…”

“Lalu, apakah kau sudah memiliki kekuatan yang memadai…?”

Bintang Tenggara memutar tubuh. Ia segera menghadap Asep dan membuka kembangan. Tiada guna berdebat dengan Raja Bangkong IV, karena jawabannya pastilah hentakan tenaga dalam. Demikian, anak remaja tersebut bersiap untuk kembali berhadapan dengan Asep dalam latih tarung.

Kalah. 


Dua hari berlalu lagi. 

“Super Guru… apakah ada petunjuk?” Bintang Tenggara berharap akan panduan dari gurunya, Jenderal Ketiga Pasukan Bhayangkara. 

“Tetaplah semangat!” Komodo Nagaradja terdengar bersorak. 

“Hmph….” Bintang Tenggara hanya mampu bersungut-sungut. Guru seperti apakah itu yang memberi semangat namun tak membekali dengan petunjuk…? Tak layak disebut sebagai guru!

Kalah lagi. 


Siklus dua hari kembali datang. Entah sudah berapa lama Bintang Tenggara menetap di Kerajaan Siluman Gunung Perahu… bahkan dirinya sudah tak menghitung. 

Bintang Tenggara masih dibuat penasaran oleh Asep. Berkat kombinasi dua jurus khas siluman kodok Gunung Perahu, Asep demikian digdaya. Ditambah dengan perbedaan kasta keahlian, sunggul kecil kemungkinan meraih kemenangan menghadapi Asep. 

“Aku mulai bosan…,” gerutu Komodo Nagaradja. Suaranya terdengar seperti sedang menguap dan mengantuk. 

“…” Bintang Tenggara tak hendak menanggapi. Tak ada gunanya juga. 

“Jagalah jarak… cipatakan kesempatan…,” keluh Komodo Nagaradja, seolah anak didiknya itu seharusnya telah menyadari sesuatu sejak lama. 

“Hya!” 

Asep terlihat demikian gembul dan gempal berkat jurus Raga Danawa. Sebentar lagi pasti siluman sempurna remaja itu akan mengerahkan jurus Kinja Sirna untuk menyerang. Sungguh kombinasi dua jurus yang seolah tiada banding.  

Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana!

Bintang Tenggara melingkupi kedua kaki dengan aliran listrik. Kemudian, ia melompat mundur sejauh mungkin. Menjaga jarak adalah pilihan yang ia ambil untuk menguji perkiraannya. Petunjuk dari Super Guru Komodo Nagaradja pun mengisayaratkan hal senada. 

Asep yang telah beralih wujud menjadi gembul dan gempal melompat maju. Bintang Tenggara yang praktis lebih cepat berkat unsur kesaktian petir kembali menjaga jarak. Mereka terpisah sekitar duapuluh meter. 

Tergopoh-gopoh, Asep kembali memperpendek jarak. Bintang Tenggara melesat menjauh. 

Perkiraan Bintang Tenggara benar adanya. Dalam wujud Raga Danawa, Asep sangatlah lambat karena tubuh yang besar. Di lain sisi, tiga rentetan teleportasi jurus Kinja Sirna, sesuai namanya, adalah teleportasi jarak dekat. Paling jauh, setiap satu gerakan teleportasi hanya memungkinkan perpindahan spontan dalam jarak tiga atau empat meter. Selain itu, Asep memerlukan waktu yang cukup panjang untuk merapal jurus tersebut.

Dengan kata lain, supaya kombinasi kedua jurus kekuatan dan kecepatan khas siluman kodok Gunung Perahu dapat berfungsi dengan baik, maka Asep perlu memastikan agar lawan setidaknya berada dalam jarak kurang dari limabelas meter. Bintang Tenggara akhirnya dapat memastikan bahwa syarat tersebut wajib terpenuhi. Demikian, ia terus menjaga jarak agar mereka terpisah lebih dari duapuluh meter. 

Kendatipun demikian, Bintang Tenggara juga menyadari bahwa ia hanya memiliki waktu dua jam. Dengan terpisah jarak sekitar duapuluh meter, dirinya justru yang akan kehabisan waktu, karena tak bisa menyerang. Mungkin lain ceriteranya bila ia menguasai Bentuk Ketiga dari Tinju Super Sakti, seperti halnya Raja Bangkong IV, yang dapat menyerang dari jarak jauh.

Pertarungan telah berubah menjadi permainan kucing-kucingan. Asep, yang biasanya sabar, mulai terpancing jua. Di saat ada kesempatan, ia segera melepas jurus Kinja Sirna, masing-masing empat meter jarak tempuh pada teleportasi pertama, kedua dan ketiga. Secara total, duabelas meter jarak lurus ditempuh dengan teleportasi jarak pendek… hanya untuk mendapati bahwa Bintang Tenggara telah berada di luar jangkauan. 

Padahal, kelebihan jurus Kinja Sirna bukanlah gerakan lurus ke depan. Kelebihan jurus Kinja Sirna adalah ketika ketiga lompatan teleportasi mengepung lawan dari tiga sisi…. 

Asep mulai geram. Gerakannya serampangan. Ia mengeluarkan tombak, lalu melempar ke arah Bintang Tenggara. Langkah ini diambil untuk menutup gerak lawan. Langkah kaki petir Utkatasana masih terlalu tangkas menghindar dari tombak. Akan tetapi, seketika Bintang Tenggara hendak kembali menjaga jarak…

“Kinja Sirna!” teriak Asep yang sudah sepenuhnya naik pitam. 

Lompatan teleportasi pertama… kedua… 

Silek Linsang Halimun, Bentuk Ketiga: Kata Berjawab, Gayung Bersambut!

Teleportasi jarak dekat berhadapan dengan tiga rentetan teleportasi jarak dekat. Saat yang dinanti telah tiba. Bintang merapal jurus yang sangat boros tenaga dalam. Meskipun demikian, ia berani bertaruh karena telah dapat memperkirakan dengan tepat di mana Asep akan muncul pada lompatan teleportasi ketiga… 

Tempuling Raja Naga telah menanti ketika keduanya bertemu muka. Asep terkejut bukan kepalang karena lawan dan dirinya muncul berhadap-hadapan secara bersamaan. Perbedaannya, Asep berniat memperpendek jarak sehingga tak siap menyerang, sedangkan Bintang Tenggara memanglah menyerang!

“Brak!” Sisi tumpul tempuling telak mendarat telak di dada Asep. Siluman sempurna kodok remaja tersebut terpentak tak berdaya. Ia jatuh terjengkang di atas rerumputan. 

Berhasil meraih kemenangan perdana saat berhadapan dengan Asep, Bintang Tenggara memutar tubuh guna segera menghadap Raja Bangkong IV… Betapa terkejutnya ia ketika mendapati bahwa sang raja sudah memutar tubuh, kemudian segera menghilang ke balik semak belukar yang menjadi latar belakang singasana….

Dua jam waktu, tak terasa telah berlalu.


Catatan:

*) Judul lengkap: Episode 136 – Teleportasi vs Teleportasi.

**) Simkuring (halus). Bahasa Sunda. Kata ganti orang pertama yang biasanya digunakam dalam berbicara resmi dan terhadap lawan bicara yang lebih tua.