Episode 2 - Dusun Peledang Paus


Gelombang air laut membelai tepian pantai dengan lugas. Setiap belaian menghasilkan suara gemerisik beriringan dan buih-buih kecil yang berlomba-lomba siapa dulu yang pecah dan menguap dibawa angin. Angin hari ini bertiup lembut, seolah turut mendukung kedamaian yang tercipta setelah abad-abad kegelapan berakhir 500 tahun lalu.

Seorang pria paruh baya menatap jauh ke arah laut. Ia menarik napas panjang. Aroma khas laut merayap melalui hidungnya dan berputar di paru-paru. Angin laut yang segar tidak dapat menghapus kecemasan yang menghantui dirinya. Kecemasan tercermin dari keriput yang semakin menumpuk di antara kedua alisnya. 

"Sudah 10 tahun berlalu, tak seekor pun kunjung berlabuh," gumamnya penuh harap. Ia berdiri di pesisir pantai sejak pagi, hampir setiap hari. 

Di belakang pria tersebut, sebuah dusun yang berisi tidak lebih dari tiga puluh gubuk terlihat renta. Kalau angin hari ini bertiup kencang, mungkin atap gubuk-gubuk tersebut akan bisa dengan mudah terangkat. Tapi, selama puluhan tahun, bahkan mungkin ratusan tahun, puting beliung besar sekali pun tak pernah dapat mengangkat gubuk, paling banyak menerbangkan beberapa helai atap daun rumbia. Anak-anak kecil berusia 10-13 tahun kemudian terlihat berhamburan dari gubuk-gubuk dusun berlarian menuju arah bukit di tengah Pulau Paus. 

Di daerah atas, sebuah gubuk kecil di perbukitan sama saja rentanya. Ukuran gubuk hampir sama sekitar 36 m persegi.* Di dalamnya terdapat sekat yang memisahkan dua kamar dan dapur. 

Meski hanya sebuah pondok, isi dalamnya tertata dengan baik. Di dapur, sebuah tungku memasak, meja dan rak susun sederhana untuk penyimpanan diletakkan sedemikian rupa sehingga membuat ruangan terasa lebih lega. 

Yang paling unik adalah salah satu ruang kamar. Posisi tempat tidur simetris di tengah kamar. Sisi kanan tempat tidur terdapat almari baju tua dari kayu. Pada sisi kirinya, terdapat sebuah meja yang lebarnya hampir sama dengan dengan almari. Beberapa buku ditumpuk rapi, disusun berdasarkan besar buku. Paling besar di bawah, berurutan ke atas sampai yang berukuran terkecil. Padahal, ruang kamar satunya lagi tidak serapi itu. 

Di teras gubuk, sepasang anak-ibu terlihat hidup sederhana. Pakaian sang ibu adalah terusan dengan kemben tenun ikat, sementara sang anak mengenakan sejenis baju kemeja tanpa lengan dan celana setengah tiang terbuat dari kain katun. 

Sang ibu terlihat masih muda. Usianya di awal 30 tahunan, roman wajah halus berbentuk oval dengan sepasang bola mata berukuran sedang yang dihiasi sepasang alis tajam mirip sepasang pedang. Hidungnya lentik, dengan sepasang bibir tipis berwarna merah. 

Hari ini rambut hitam dan ikalnya yang panjang, terurai menutupi bahu yang bernuansa cokelat muda nan lembut. Di leher sang ibu, seutas kalung rantai berwarna perak terangkai gemilang. Empat buah liontin berbeda ukuran bergelayutan di sisi bawah rantai kalung. Liontin paling kiri, dan paling besar, seukuran kuku jari manis, diikuti oleh yang paling kanan; sedangkan dua di tengah berukuran paling kecil, seukuran kuku kelingking. Masing-masing liontin memancarkan cayaha alami kebiruan, penuh dengan nuansa kehidupan. Biasanya empat buah liontin ini disembunyikan di balik baju. 

"Bintang, kitab apa yang kau baca semalam? Kau tidur lebih larut dari biasanya,” tanya sang ibu. 

"Aku membaca satu kitab sejarah tentang Negeri Dua Samudera,” jawab Bintang. 

Meski tinggal di dusun, entah didapat dari mana, sang ibu memiliki sejumlah kitab dan buku yang merupakan barang langka bagi penduduk Dusun Peledang Paus. Selain tidak setiap waktu ada yang membawa buku, harganya pun cukup mahal. Satu buku biasa saja bisa mencapai harga 20 keping perunggu.** 

Ibunya memiliki koleksi kitab tentang ilmu hitung, ilmu perbintangan, dan budi pekerti. Kemudian, beberapa kitab dan buku yang lembar-lembarnya telah lusuh, berisi informasi tentang sejarah. Mungkin ibu memang tertarik dengan kitab dan buku sejarah pikir si anak pada satu ketika.

“Apa yang kau temukan?” tukas sang ibu. 

“Bukan apa yang kutemukan, tapi... apa yang kucari dan belum kutemukan,” jawab Bintang cepat.

“Bila demikian, apa yang kau cari? Mungkin Bunda bisa membantu.” 

“Terima kasih, bunda. Aku sedang menelusuri benang merah antara Sembilan Jenderal Bhayangkara dengan lamafa.” 

Sebuah senyum bangga menutup jawaban sang anak. Tatapan matanya tajam mencerminkan kemampuan menganalisa di atas rata-rata anak seusianya.

Penampilan ayah anak ini pastilah sangat cakap, setara dengan kecantikan ibunya. Bentuk wajah sang ayah bisa diperkirakan sebagai tegas, dengan bentuk rahang yang kokoh namun tidak serta-merta berbentuk kotak. Hidungnya runcing dengan garis bibir yang tegas. Anehnya, kulitnya bernuansa kuning langsat. Meski perawakan anak berusia 12 tahun ini cukup berlawanan dengan sang ibu, tetap ada seberkas kemiripan, khususnya pada rambut yang sama ikalnya, serta alis dan bentuk kedua bola mata mereka.

Ketika sang ibu hendak menjawab, dari kejauhan mulai terdengar langkah kaki anak-anak yang tadi meninggalkan gubuk mereka. Belasan jumlah mereka, yang termuda berusia sekitar 6 tahun dan tertua sekitar 14 tahunan. Lebih dari setengahnya adalah gadis-gadis kecil. Mereka saling berlomba untuk secepatnya tiba lebih dulu. 

"Oh! Kalian tiba lebih cepat hari ini," ungkap si ibu seolah terkejut. Ia tahu persis bahwa setiap hari, sebelum siang, anak-anak dusun akan bertandang untuk belajar. Ia selalu senang melihat anak-anak penuh semangat. 

"Apakah yang akan kita pelajari hari ini, Bunda Mayang?" tanya anak pertama yang tiba sambil terengah-engah. Ia adalah anak perempuan berusia 13 tahun, namun sepertinya memiliki fisik terbaik, bahkan bila dibandingkan dengan anak laki-laki seusia. 

"Ayo duduk yang manis dulu," kata Bunda Mayang sambil menunggu anak-anak yang lain tiba. Begitu semua anak telah duduk dengan nyaman, ia pun memulai. "Hari ini kita belajar tentang Negeri Dua Samudera. Nah, siapa di antara yang tahu apa saja Lima Pulau Utama di Negeri Dua Samudera?"

"Bunda, izinkan aku pergi ke pesisir pantai untuk mememani kakek Kepala Dusun," sela sang anak.

Bunda Mayang tahu persis bahwa anaknya tidak tertarik mengikuti pelajaran dasar. Sejak berusia 5 tahun, Bunda Mayang rutin membekali sang anak dengan berbagai pengetahuan, mulai dari baca-tulis, berhitung, pengetahuan alam, budaya dan tata karma, sampai falsafah.

"Bintang, sampaikan salam bunda kepada Kepala Dusun," jawab sang ibu singkat. Seketika itu pula Bintang memberikan anggukan dan bergegas ke arah pantai.

Segera setelah Bintang melangkah pergi, anak perempuan yang tadi bertanya menjawab cepat tanpa ragu, “Lima Pulau Utama di Negeri Dua Samudera, terdiri dari: Pulau Barisan Barat, Pulau Belantara Pusat, Pulau Logam Utara, Pulau Jumawa Selatan dan Pulau Mutiara Timur.”

“Benar sekali, Lamalera. Lalu di manakah lokasi dusun kita di antara Lima Pulau Utama tersebut?” Bunda Mayang mengajukan pertanyaan susulan pada sang gadis. 

“Dusun Peledang Paus berada di Pulau Paus dan tidak terletak di satu pun dari ke-Lima Pulau Utama. Pulau Paus sangatlah kecil, ibarat satu butir pasir berhadapan dengan sebuah gunung bila dibandingkan dengan salah satu dari Lima Pulau Utama. Lokasi Pulau Paus berada di tenggara Negeri Dua Samudera. Pulau terbesar yang paling dekat adalah Pulau Dewa, namun Pulau Dewa pun masih kalah luasnya dibandingkan dengan Lima Pulau Utama.“


***


Di pesisir pantai, kakek Kepala Dusun masih memandang jauh ke laut. Ketika menyadari Bintang melangkah menghampirinya, ia hanya menarik napas panjang. Masih tetap memandang laut ia bergumam, “Dahulu kala, desa kita tumbuh makmur. Leluhur kita berburu paus secukupnya untuk memenuhi kebutuhan hidup, tentu masih ada sisa yang dapat kita jual ke pulau-pulau terdekat. Dalam setahun setidaknya kita bisa berburu enam sampai sepuluh paus.”

Seribu tahun lalu, saat Negeri Dua Samudera berjaya, para juru tikam paus asal Pulau Paus berburu binatang siluman, seperti Paus Surai Naga atau Paus Sperma Hitam. Risiko berburu memang lebih besar karena binatang siluman jauh lebih kuat dan agresif dibandingkan paus biasa, namun hasilnya sangat menggiurkan. Seekor Paus Surai Naga dapat menghidupi dusun selama beberapa tahun, dan masih ada sisa untuk dijual ke pulau-pulau lain, bahkan ke kota-kota. Nama besar para lamafa terdengar merdu jauh sampai ke Pulau Jumawa Selatan, bahkan Pulau Mutiara Timur.

“Kau tahu apa itu lamafa, hai Bintang Tenggara?” 

Bintang menganggukkan kepalanya, “Tentu. Lamafa adalah juru tikam paus. Keahlian dan kearifan seorang lamafa diturunkan dari leluhur kita dulu. Selain fisik yang kuat dan reflek yang cepat, seorang Lamafa harus memiliki keberanian dan kemampuan mengambil keputusan yang tepat. Salah sedikit saja, nyawa taruhannya.” Jawaban Bintang menyibak senyum kekaguman dan kebanggaan atas nama besar lamafa. 

“Ketika peperangan dengan Kaisar Iblis Darah, para lamafa turut bertempur melawan binatang siluman. Mereka bergabung di bawah panji-panji pasukan Sang Maha Patih. Keterampilan menikam tempuling, atau tombak panjang, yang mampu menyapu puluhan binatang siluman sekaligus, semakin mengangkat nama besar para lamafa dari Pulau Paus.”

Kepala Dusun hanya tersenyum pahit. Terlihat kebangggan pada dirinya, sekaligus rasa sedih yang tak dapat ia sembunyikan. Ia sadar betul bahwa lamafa dulu, dengan lamafa yang sekarang berbeda kualitasnya. Hampir seluruh lamafa yang berangkat dari Pulau Paus saat itu, dan ikut berperang selama 500 tahun, tumbang dalam pertempuran. Beberapa yang berhasil pulang ke Pulau Paus dalam keadaan terluka parah, cacat, bahkan sekarat. Jadi, keahlian dan kearifan para lamafa yang diucapkan Bintang tadi, tidak sepenuhnya menurun sampai ke generasi Kepala Dusun, apalagi generasi yang lebih muda nanti. 

“Apa itu!?” tiba-tiba Bintang berseru. Dari arah kaki langit muncul sebuah titik hitam. 



Catatan:

Kamus Besar Bahasa Indonesia mencatat, bila nama anak-ibu digabung menjadi ‘Bintang Mayang’, maka berarti: gugusan bintang rasi yang disebut Virgo (gadis).

*) Demi memudahkan pembaca, ukuran panjang dan jarak menggunakan satuan centimeter (cm), meter (m), dan kilometer (km). Meski demikian, terkadang pengukuran menggunakan jengkal, siku, hasta, langkah atau depa akan digunakan bilamana perlu.

**) Nilai tukar:

1 keping perunggu = Rp1.000

100 keping perunggu = 1 keping perak = Rp100.000

100 keping perak = 1 keping emas = Rp10.000.000