Episode 6 - Penyergapan di dalam Dunia yang Redup



Aku tak pernah menyangka, setelah segalanya mulai kembali berjalan normal, ketika mulai kukira peristiwa penculikan oleh Sadewo hanya imajinasi belaka, dan saat aku mulai berusaha melupakannya, tiba-tiba saja hantu-hantu peristiwa penculikan itu kembali menggentayangiku.

Aku langsung tahu pria asing yang datang secara tiba-tiba itu punya hubungan dengan Sadewo begitu dia menepuk pundakku. Meskipun penilaianku itu hanya insting tanpa bukti, tapi aku yakin 100% dugaanku benar. 

“Bisa ikut saya sebentar?” Pria tak dikenal itu menunjukkan wajah ramah yang kelewat palsu. 

Aku mencoba mundur darinya, namun dia tak juga melepaskan tangannya dari pundakku, membuat darahku berdesir lebih cepat. Sementara teman-teman sekolahku tampak mengamati kami dengan wajah tegang. Sebagian segera bangkit dari duduknya dan bergerak mengurungku dan laki-laki tak dikenal ini.

“Ada perlu apa bang?” Aku bertanya sambil menggerakkan tangan ke pundak, mencoba menepis tangan pria tak dikenal ini dari pundakku. Tak kukira dia menurut dengan melepaskan tangannya dari pundakku. 

“Cuma mau bicara sebentar aja,” ujar laki-laki itu lagi, sambil terus terlihat ramah.

“Maaf bang, kalau cuma mau bicara, di sini aja.”

Pria itu seolah tak mendengar kata-kata penolakanku, dia justru mengedarkan pandangannya ke arah teman-temanku yang telah berdiri mengurung kami berdua. Saat itu juga aku sadar kalau waktu itu, Sadewo bukan orang biasa. Aura mengerikan yang keluar dari tubuhnya bukan sesuatu yang bisa dimiliki semua orang. Bagaimana jika pria ini juga memiliki kemampuan seperti Sadewo? Berarti bukan hanya diriku, tapi nyawa teman-temanku juga dalam bahaya!

Namun kekhawatiranku terbukti salah, tepat pada saat kondisi semakin memanas, pria tak dikenal itu tampak sedikit terkejut. Kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun dia segera beranjak pergi menjauhi kami. Otomatis pandangan mataku dan semua temanku tak lepas dari sosoknya, dia berjalan terus hingga menghilang dibalik tikungan jalan.

“Rik, siapa tuh tadi?” 

Seorang temanku yang penasaran tak membuang waktu dan segera bertanya padaku sambil menepukkan tangannya ke bagian belakang pundakku. Suaranya membisik pelan, dapat kutangkap gemetar halus dari suaranya. Sama sepertiku, kuduga temanku ini punya firasat yang sama denganku, bahwa orang yang barusan bicara denganku memiliki hubungan dengan peristiwa hilangnya diriku.

“Gue juga ngga tau pasti…”

Mataku tetap tak melepaskan pandangan dari tikungan tempat laki-laki itu menghilang.

“Jangan-jangan dia ada hubungannya sama hilangnya elu selama sebulan. Kayaknya mending lu cepet-cepet pulang deh Rik, atau ke kantor polisi sekalian,” sambung temanku yang lain. 

Aku mengangguk mengiyakan saran temanku, tanpa buang waktu aku segera pergi meninggalkan teman-temanku. Sempat terlintas di pikiranku untuk melaporkan kejadian barusan ke kantor polisi, namun setelah kupikir-pikir lagi sebaiknya aku segera kembali pulang kerumah saja. Jika benar pria itu ada hubungannya dengan Sadewo, bagaimana aku menjelaskannya pada polisi dan orang tuaku? Apa mereka akan percaya pada ceritaku? Ataukah mereka justru akan marah karena selama ini aku telah membohongi mereka? 

Tanpa mengucapkan salam perpisahan pada teman-teman sekolah, segera kulangkahkan kakiku meninggalkan tempat tongkrongan. Karena tak lagi memiliki motor, aku harus pulang menggunakan angkutan umum. Cukup lama kutunggu kedatangan angkot yang mengarah pulang ke rumahku. Secara refleks, tanganku mengusap dahi yang telah dipenuhi bulir-bulir keringat dingin. Tak kusangka aku begitu tegang sampai-sampai keringat dingin bercucuran di tubuhku. 

Pikiranku kembali melayang pada kejadian ketika Sadewo menculikku, lalu membunuhku dengan cara menusuk jantungku, kemudian siksaan mengerikan di dunia darah yang menyebabkanku melarikan diri dari dunia kematian kembali ke dunia ini. Kejadian itu jauh dari akal sehat, di luar nalar. Jauh lebih misterius dari sekedar organisasi kejahatan, kemisteriusan itulah yang justru membuatku merasa sangat tegang. 

Kepalaku tak berhenti menoleh kekanan dan kekiri, memeriksa tajam-tajam situasi di sekelilingku. Pria tadi sama sekali tak terlihat, mungkinkah dia sudah pergi jauh dan semuanya sudah berakhir begitu saja? Sial, kenapa angkutan umum yang biasanya lewat terus menerus di jalan ini malah tak muncul sama sekali. Kenapa segala sesuatu yang ditunggu-tunggu justru tak kunjung datang?


****


Di sisi lain, pria yang tadi mengajak Riki berbicara kembali menemui Sarwo dan Udin dengan terburu-buru. 

“Ada apa bang?” Pria itu kembali karena saat berbincang dengan Riki tadi, telinganya menangkap bisikan jarak jauh dari Udin agar segera mundur dan kembali ke tempat Sarwo dan Udin bersembunyi.

Udin tak segera menjawab pertanyaan anak buahnya, melainkan mengalihkan pandangannya ke Sarwo. 

“Kita sedang berada di dunia awam, jangan membuat masalah yang tak perlu.” Sarwo terdiam sebentar seperti tengah memikirkan sesuatu, kemudian dia melangkah pergi sambil berkata lagi, “Siapkan pusaka pemisah alam.”


****


Ketika sedang menunggu sesuatu, apalagi menunggu dalam situasi sangat mendesak, waktu akan terasa jauh lebih lambat. Maka jangan heran jika waktu lima menit terasa seperti setengah jam karena otak kita begitu fokus menghitung detik demi detik. Hal itu pula yang kurasakan ketika menunggu angkutan umum yang menuju ke arah rumahku lewat. Rasanya telah begitu lama aku menunggu, tapi baru berlalu kurang lebih lima menit saat kulirik jam tanganku.

Akhirnya angkutan umum yang kutunggu-tunggu datang juga, aku segera masuk ke dalam angkutan umum dan mengambil posisi tempat duduk di bagian tengah, mencoba menyembunyikan diri dari pria yang mengajakku bicara tadi, kalau-kalau dia masih mengawasiku tanpa kuketahui. 

Begitu angkutan umum mulai berjalan lagi, perasaanku menjadi jauh lebih tenang. Segera kusandarkan badanku sambil menghela nafas, menikmati guncangan demi guncangan yang timbul dari perjalanan angkutan umum sambil mencoba melepaskan semua ketegangan yang menghinggapi tubuhku. 

Ternyata perjalanan angkutan umum berlangsung dengan mulus, meskipun sempat terjebak macet beberapa saat, namun tidak ada masalah yang berarti. Melihat mulusnya perjalanan pulangku, keraguan mulai menyeruak di hatiku, jangan-jangan pria tadi memang tidak ada hubungannya dengan peristiwa penculikan oleh Sadewo. Tapi, jika bukan karena peristiwa penculikan oleh Sadewo, lalu apa tujuannya berbicara denganku?

Sekitar hampir satu jam kemudian, angkutan umum yang kutumpangi telah sampai di lokasi tujuan. Aku segera meminta pada supir angkutan untuk menepi, tanpa banyak bicara aku segera turun dari angkutan sambil memberikan uang ongkos pada pak supir. Setelah turun dari angkutan umum, aku harus berjalan kaki cukup jauh untuk sampai ke rumah. Kembali kuedarkan pandangan ke sekeliling untuk memastikan tidak ada yang menguntitku. Setelah yakin pria tak di kenal tadi tidak mengikutiku, baru aku mulai melangkah cepat menuju rumah. 

Seiring dengan tiap langkah kakiku mendekati rumah, kurasakan hatiku menjadi lebih tenang. Aku mulai berfikir positif, mungkin ketakutanku sebelumnya memang benar-benar tidak beralasan. Mungkin memang benar pria tadi tidak ada hubungannya dengan peristiwa penculikan oleh Sadewo dan dia memang benar-benar hanya ingin berbicara saja padaku.  

Namun semua ketenangan itu tak berlangsung lama, karena tiba-tiba kulihat dunia di sekelilingku meredup seakan diliputi mendung yang begitu murung. Saat kutengadahkan kepalaku ke langit, aku sama sekali tak bisa menemukan matahari. Tak secercahpun cahayanya sampai ke bumi. Tapi anehnya situasi di sekelilingku sama sekali tidak gelap seperti halnya malam hari, hanya redup seperti mendung.

“Kenapa mendung secepat ini? Hanya dalam hitungan detik langit cerah langsung berubah seredup ini….” 

Belum sempat kutemukan jawaban dari pertanyaanku barusan, sekitar sepuluh meter di depanku telah berdiri lima orang laki-laki berdiri menghadang jalan. Deg! Jantungku serasa berhenti berdetak karena begitu kagetnya. Aku tidak kenal dengan empat orang lainnya, namun setelah kuperhatikan, satu pria yang berada di belakang adalah pria yang tadi mengajakku bicara!

Pria paruh baya berbadan kerempeng yang berada di depan maju tiga langkah mendekatiku, kedua tangannya di letakkan dibalik punggung. Sambil mengerenyitkan keningnya, dia memperhatikanku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Semakin lama dia mengamatiku, semakin tebal kerutan di keningnya. Lalu tanpa kusadari sama sekali, kedua tangan pria paruh baya itu telah menekan kedua pundakku. 

Aku sama sekali tak sempat bereaksi, jangankan mencoba menghindar, aku bahkan sama sekali tidak tahu kapan dia bergerak. Aku segera mencoba melepaskan diri, namun siapa sangka lelaki kerempeng ini begitu kuat cengkraman tangannya. Bahkan setelah mengeluarkan seluruh tenaga, tak semilipun tangannya bergeser dari pundakku. Seakan-akan kedua tangan itu bukan terbuat dari kulit dan daging, tapi besi baja.

“Lepaskan!” jeritku sambil terus berusaha melepaskan diri. 

Pria paruh baya itu tak menggubrisku, sambil terus mencengkram pundakku, pandangan matanya tetap terpaku pada tubuhku. Setelah beberapa saat, tiba-tiba dia membuka mulutnya.

“Kau… berasal dari Sekte Pulau Arwah?” Pria paruh baya itu tampak tidak begitu yakin dengan ucapannya sendiri.

Dia tahu tentang Sekte Pulau Arwah? Berarti dia dan pria lainnya benar-benar ada hubungannya dengan Sadewo! Meskipun terkejut setengah mati setelah mengetahui fakta ini, tapi aku tetap berusaha memasang muka setenang mungkin. Namun tak ayal pria paruh baya itu menangkap ekspresi kaget pada wajahku. Buktinya, cengkraman tangannya di pundakku semakin kencang, rasa nyerinya merambat hingga ke kaki. Empat orang lain yang tadi berada di belakangnya juga segera bergerak mendekatiku. 

Secara naluriah, tentu aku menyadari kalau situasi yang sedang kuhadapi sekarang adalah situasi berbahaya. Maka usahaku melepaskan diri dari cengkraman pria paruh baya kerempeng ini semakin keras. Kedua tanganku menggenggam keras kedua pergelangan tangan pria paruh baya yang mencengkramku, lalu dengan teriakan keras, aku membetot kedua tangan itu sekeras-kerasnya. 

Pada saat itu, entah dari mana asalnya, seperti ada gelombang pasang di dalam tubuhku, kemudian gelombang itu mengalir deras ke kedua tanganku. Tiba-tiba saja tangan pria paruh baya yang sebelumnya terasa sekeras besi terasa lunak. Dengan mudah jari-jariku meremas tangan tersebut dan menghempaskannya, menyebabkan pria paruh baya tersebut mundur beberapa langkah. 

“Apa!?”

Bukan hanya pria paruh baya itu, bahkan teman-teman yang berada di belakangnya juga terlihat sangat terkejut, mereka sampai menghentikan gerakannya demi melihatku berhasil mendorong tubuh seorang lelaki paruh baya bertubuh kerempeng. Belum habis rasa heranku melihat reaksi mereka yang kurasa terlalu berlebihan. Lelaki paruh baya itu kembali menggerakkan tubuhnya dan hilang dari pandanganku. 

Pada saat yang bersamaan, punggungku terasa dihantam dengan sangat kuat, hingga menyebabkanku terpental maju sejauh beberapa meter. Dadaku terasa sangat sesak, begitu sulit rasanya untuk bernafas, kepalaku juga rasanya sakit luar biasa, kurasakan ada cairan kental dan asin mengalir dari mulut dan hidungku. Apa yang terjadi? Apakah ada truk yang menabrakku dari belakang?

“Bunuh dia!”

Suara pria paruh baya itu berdengung di telingaku!