Episode 28 - Pandora yang Rapuh



Lucid dream adalah kemampuan seseorang untuk meraih kesadaran ketika bermimpi. Bukan kemampuan magis atau semacanya, melainkan berkat yang dianugerahkan Tuhan guna mengeksplorasi diri lebih dalam. Namun, sesuai kodratnya, manusia yang penasaran bersikeras mengadakan berbagai eksperimen demi mencapai hasrat mereka.

Orang-orang cerdas yang berdedikasi pada impian mereka mulai mencari potensi yang disembunyikan oleh satu-satunya makhluk tercerdas di muka bumi, ras mereka sendiri. Meski pada dasarnya lucid dream merupakan menifestasi dari buah khayal dan hanya mampu dirasakan per individu, tetap saja para ilmuwan berhasil membongkar sebuah rahasia. Rahasia yang selama ini terselubung tabir kemandekan berpikir.

Alam bawah sadar manusia memiliki titik di mana semua mimpi serta angan-angan terkoneksi satu sama salin. Layaknya sistem pengiriman data pada berbagai perangkat, otak memungkinkan terjadinya pemindahan mimpi dari satu manusia ke manusia lain untuk dinikmati bersama-sama. Itulah titik yang digembar-gemborkan dunia sains sebagai Pandora, tempat di mana logika dengan imajinasi berbaur.

Segera setelah diresmikannya teori lucid dream sebagai bagian dari sains, para ilmuwan berbondong-bondong menggelar proyek berinisial P4H (Pandora For Human) demi menguji apakah titik terdalam dunia mimpi tersebut bisa digunakan sebagai pelarian manakala bumi sudah tak layak huni

"P4H aman bagi siapa pun. Tidak ada risiko, tidak ada kerugian. Kami murni memanfaatkan subjek dari kalangan ilmuwan untuk meraih fakta terbaik." Begitulah klarifikasi yang diberikan ketua proyek kepada media yang sebelumnya meragukan P4H.

Aman, tidak ada resiko, tidak ada kerugian. Sebaik itukah P4H? Menurut salah satu anggota proyek; alih-alih sebagai sarana pengembangan potensi, P4H lebih menjurus pada antisipasi akhir zaman. 

Jika proyek berhasil, maka pemerintah akan mengadakan simulasi di sejumlah negara. Beberapa orang akan dimasukkan ke dalam ruangan bersuhu rendah hingga tubuh mereka terselubung es. Alat-alat penunjang lucid dream disiapkan guna menstimulasi gelombang otak. Dengan begitu, umat manusia dapat menikmati suasana baru, berbagi mimpi, dan hidup makmur di Pandora.

Akibat prosedurmya yang ekstrim, segelintir pihak terang-terangan mengecam P4H. Mereka bilang manusia takkan bertahan seumur hidup di dalam es. Manusia bukan makhluk yang sanggup berhibernasi selama jutaan tahun. Dan, salah satu sanggahan terbaik—sekaligus berasal dari mantan penyelenggara proyek—bahwa Pandora yang selama ini berusaha dieksplor adalah alam yang rapuh.

Percobaan sebelumnya, tiga orang sempat dikirim untuk menelisik tempat tersebut. Hasilnya, Pandora tak berbeda jauh dari ide-ide murni serta kreatif. Sesuatu yang berkesan, lalu lenyap dalam sekejap. Pandora tidak konstan, Pandora senantiasa berubah-ubah sesuai kondisi penghuninya.

"Pandora takkan bertahan jika dihuni lebih dari tiga orang. Pandora bukan tempat layak huni."

Publik dicengangkan oleh opini termutakhir pada masa itu. Akhirnya, pemerintah mulai menutup berbagai institut yang berhubungan dengan proyek P4H. Sebagian pihak menyambut dengan suka cita, sebagian lagi bersikeras bekerja dalam bayang-bayang.

Hingga hari ini, sesuatu yang bersangkutan dengan lucid dream mulai jarang disinggung. Manusia terlena akan kehidupan dunia, dan melupakan potensi terbesar mereka. 

"Dunia di dalam kepala, bukankah kita masih memegang motto itu?"

"Selalu. Pandora memang tidak stabil, tetapi masih layak disebut rumah." Jackal bersedekap sambil mendongak.

Lawan bicaranya, seseorang berjubah gelap—sedikit gurat putih di bagian lengan—serta mengenakan topeng gagak. Paruh hitam mengacung tegak, sudah bagaikan gagak sungguhan.

"Menyangkut argumen Goro, kupikir kau tidak salah sepenuhnya." Pandangan Si topeng gagak tegak ke depan, kendati yang diajak bicara ada di sampingnya. "Aku yakin kau tidak bertindak bodoh, Jackal."

"Dengarkan saya, Crow! Dari dulu, saya tidak pernah berniat menghancurkan Pandora. Tempat ini, rasanya sudah bagaikan tanah kelahiran. Andai keputusan yang saya ambil pada akhirnya merugikan kita, maka saya siap keluar dari P4H."

"Keluar?" Crow terkekeh kecil. "Bukankah itu artinya kau akan dibunuh? Semenjak dilarang pemerintah, kita memang tidak pernah membiarkan mantan anggota berkeliaran."

"Jika itu yang terbaik, selongsong peluru di kepala bukanlah masalah."

Lagi-lagi Crow terkekeh, bahkan lebih keras. Tawanya mengisyaratkan kebahagiaan dari sosok yang selama ini bersembunyi di balik topeng.

"Kau selalu saja begitu, Temanku. Kalau begini, rasanya tidak pantas mencurigaimu."

SWUSH!

Puluhan naga berseliweran di langit mendung. Sebagian bergerombol dalam jumlah besar, sisanya menguasai udara dengan ukuran tubuh abnormal. Ada satu yang sebesar paus tengah menggeliat di tanah, lalu terbang menggunakan sepasang sayap raksasa. Sebelahnya saja sanggup membayangi ratusan kilometer ke barat.

Sebuah jamur setinggi menara seratus tingkat menjulang di tengah belantara. Di atas sanalah Crow dan Jackal menjalin perbincangan barusan. Akar-akar jamur yang menghujam tanah menimbulkan bengkang yang cukup besar, hampir-hampir membelah hutan menjadi dua bagian.

"Penyakit telah menjangkiti dunia kita," ujar Crow seraya mengusap pijakannya yang bernoda merah. "Dan, aku sepakat berhenti meributkannya sampai kandidat duta Pandora berikutnya diumumkan."

"Terima kasih." Jackal menyahut, terkesan berat hati.

"Namun, apabila jumlahnya sudah tak tertolong, maka Owner berhak tahu."

"Saya sanggup mengurusnya sendiri. Secepatnya, Owl akan mendapatkan lisensi keanggotaan duta Pandora." 

"Jangan biasakan mengurus sesuatu sendiri, Jackal. Kau punya rekan, dan dia akan setia di sisimu."


~~Para Pengendali Mimpi~~


“Aku bersungguh-sungguh!” Taki tetap bertahan tatkala matanya diterpa sinar menyilaukan.

“Benarkah?” Sorot Dion kian tajam, nyaris menyerupai pendar mercusuar.

Selagi matanya menyipit kesilauan, bibir Taki bersikeras menguatarakan tekad. Sungguh, dalam benaknya tertanam ambisi untuk memimpin sesuatu. Paling tidak, Taki bisa membayar kekalahannya di seleksi asrama.

"Bolehkah saya meragukan jawaban Anda?" Suara Dion bergaung, hanya dalam batin orang yang ditatapnya.

"Ti-tidak. Ti-tidak boleh!" Kelopak mata Taki sebisa mungkin membuka. Dia ingin terus menatap mata Sang naga.

"Benarkah?"

"Be-be—" Kilatan putih seketika menyambar indra visualnya. Daya kejut merebak, melemahkan mental Taki. "Apakah aku sanggup?" lirihnya, tiba-tiba ambruk ke tanah.

"Hey!"

"Kau tak apa?"

"Ayo berdiri!"

Sinar mata Dion kembali meredup, seiring tatapan yang beralih ke kandidat berikutnya. Orang kali ini terkesan dingin. Bahkan, kacamata kotaknya berkilat-kilat.

"Anda punya ambisi yang besar." Dion bersuara. "Bisakah saya memberi kepercayaan?"

"Terserah saja." Jawaban sok sibuk mengganjar pertanyaan yang didambakan penghuni asrama lain. Seraya merapikan poni rambut klimisnya, pria berjaket jins tersebut menyeringai. "Kau ini cuma menguji, 'kan? Mana mungkin kalian memercayai kami."

"Saya bersungguh-sungguh. Sudah kententuan, bagi siapa pun yang beruntung, untuk menjadi perwakilan dewan asrama."

"Aku tidak percaya." Bibirnya menggeliat angkuh. "Naga tetaplah naga, dan sampah tetaplah sampah. Kami ini sampah, mustahil bisa sebanding dengan naga."

Dion sontak menggeram. Mata berkilauannya mendelik tajam, barangkali bisa membunuh kalau itu pisau. Akan tetapi, sedetik kemudian dia berangsur tenang.

"Sampah atau naga? Saya tidak peduli. Pada dasarnya, kami memang lebih rendah dari sampah," katanya. "Perihal mandat istimewa, saya berani jamin itu benar adanya."

"Benarkah?" Ujung bibir si lelaki melengkung culas. "Jangan-jangan kau cuma mengujiku."

Mendengar opininya, Arya seketika tercekat. Sebuah ujian, bagaimana mungkin dirinya tak sadar? Mungkin saja apa yang diungkapkan si lelaki berkacamata benar. Dion sengaja menginterogasi kontestan satu per satu guna memberi penilaian.

Sesaat hati Arya kian gusar, tepukan ringan di bahunya menjadi isyarat dari Ruhai sebagai penawar cemas. Orang itu tersenyum, sarat akan ketenangan.

"Jangan cepat-cepat menyimpulkan sesuatu, Arya. Mereka tidak mungkin mengadakan ujian semudah ini."

"Ta-tapi—"

"Haruskah kubuktikan padamu?"

Arya bungkam, kendati kakinya bergetar hebat. Selalu seperti ini. Keraguan, prasangka-prasangka buruk menghantui benaknya hingga tak kuasa memahami situasi. Dengan keterbatasan ini, mungkinkah berhasil mencapai puncak kemenangan, pikirnya was-was.

"Hoy, Dion!" Ruhai menyeru. "Aku ingin jadi ketua."

Mulanya tertunduk lemas, tetapi secepatnya kepala Arya mendongak. Genang keringan di pelipisnya pecah, seiring langkah Dion mendekati Ruhai.

"Tidak perlu, Ruhai," tandasnya.

"Tenang saja. Akan kubuktikan bahwa meraih kemenangan itu tidaklah sulit."

Akhirnya, kilau tatapan Sang naga menghampiri sorot matanya. Ruhai terenyak, tentu kaget mendapati suasana yang berbeda dari dugaannya. 

Ternyata mata Dion sanggup membawa korban menuju lingkaran dilema. Suatu kondisi di mana seseorang dipaksa menentukan pilihan, tanpa sempat mempertimbangkannya.

"Mata yang berharga," sanjungnya. "Nyaris sesuai." Geligi naga itu mengatup bertalu-talu.

"Aku siap menjadi ketua."

"Benarkah?" Pertanyaan yang sama seperti sebelumnya bergaung.

"Tentu saja. Aku tidak gentar pada matamu, Dion! Jadi, jangan meragukan tekadku." Ruhai berkecak pinggang sembari menajamkan tatapan.

Cakar-cakar Dion bergemeletuk selagi matanya membulat. Selama sepersekian detik mereka saling tatap. Lucid dreamer lain jadi ikut-ikutan tegang menanti keputusan Dion.

"Seperti lomba menatap saja," komentar si lelaki berkacamata.

Desau angin membawa serta aroma melati dari pekarangan villa, hingga—secara mengejutkan—Dion menundukkan kepalanya. Naga itu terpejam, sementara Ruhai menghela napas kemenangan. 

Semua lucid dreamer terbeliak, mendapati seseorang sebegitu mudahnya menaklukkan tantangan naga bermata cahaya. Bahkan, Taki yang masih terduduk semakin takjub akan kemampuan sosok yang dianggapnya lucid dreamer manja.

"Anda berhak menduduki jabatannya." Dion tersenyum tipis. "Selamat."

"Kau lihat, 'kan, Arya? Asalkan yakin, kemenangan hanya semudah bernapas."

Alih-alih merayakan keberhasilan bersama, Arya justru terperangkap dalam pergolakan batin. Dia senang, sekaligus jengkel. Bagaimana Ruhai bisa meraih segalanya dengan mudah? Sementara, dirinya masih kewalahan mengikuti arus persaingan.

Andai waktu itu Jackal tidak datang. Andai waktu itu Arya tidak menjadi lucid dreamer istimewa. Andai dirinya menjadi kontestan di babak duel tiga pihak. Tidak mungkin! Tidak mungkin Arya berhasil melewati banyak rintangan tanpa bantuan orang lain.

"Bodoh!" geramnya. "Aku memang bodoh!"

"Eh!" Ruhai menengok.

"Ke-kenapa, Arya?" Vida ikut-ikitan cemas.

"Kalian terlalu hebat. Ta-tapi kenapa malah aku yang dipilih?" tukasnya. "Menjadi anak didik Jackal, dengan batas kemampuan sebesar ini, rasanya seperti sebuah penghinaan."

"Arya—"

"Sudahlah! Memang mudah bertingkah pongah di saat orang-orang menyanjung dirimu, Ruhai. Seharusnya kau yang menggantikan posisiku. AKU INI—"

"Kau adalah anak didik Jackal! Tidak ada yang bisa mengubahnya. Ketika Jackal memilihmu, itu artinya ia melihat potensi yang dilewatkan oleh orang lain." Ruhai menuturkan kata demi kata berapi-api. "Dengarkan aku, Arya! Kita ada di Pandora, tempat yang tidak mengenal batas. Maka dari itu, berhentilah bersikap pesimis!"

Keheningan melanda, bersambut cucuran keringat di dahi Arya. Segala hal mengenai Jackal terdengar abu-abu baginya. Orang itu selalu tidak tertebak. Bahkan, alasannya memilih Arya sekali pun.