Episode 135 - … Bumi *



Aku tiada mengetahui siapa sesungguhnya jati diri ini. 

Sebagaimana semua kisah anak manusia, ceritera tentangku berawal pada hari tatkala aku dilahirkan. Ada yang aneh di kala hari kelahiran ke dunia pada suatu pagi, duapuluh lima tahun lalu. Aku mengingat jelas kejadian itu. Panca inderaku tersadar. 

Sekujur tubuhku dilindungi dan dibungkus ari-ari nan sempit. Tetiba kurasakan diterpa cahaya yang tetiba datang menyilaukan. Kemudian, aku menghirup dan memperoleh sensasi yang baru akan aroma yang dibawa udara. Aku mendengar berbagai suara hiruk-pikuk kamar persalinan. 

Aku dahaga. Aku hendak mengecap rasa. Akan tetapi, kata-kata untuk mengantar kehendakku tiada mengemuka, mungkin karena keterbatasan tubuh seorang bayi yang baru hendak berkembang. Sehingga aku berteriak, menangis sekencang mungkin. Orang-orang di sekeliling rupanya dapat membaca kehendakku. 

Aku kebingungan. 

Sepekan setelah peristiwa kelahiran, aku membuka indera keenam. Sensasi lain lagi yang kurasa. Berbekal mata hati, aku dapat mencerna lebih dari yang disampaikan oleh panca indra. Dunia seolah berada dalam jalinan kesatuan yang saling terhubung. 

Di usia satu tahun, aku mulai dapat bergerak leluasa. Aku menyadari bahwa manusia memiliki tujuan. Demikian, aku pun mulai mencari sebuah tujuan, mencari nilai-nilai. Entah dari mana, aku menyadari bahwa tujuan itu sendiri terbagi dalam dua jenisnya, yaitu: tujuan sementara dan tujuan akhir. 

Tujuan sementara merupakan sarana dalam menentukan tujuan selanjutnya, bertumpang-tindih namun dapat dicapai dalam waktu yang singkat, atau melalui tindakan yang ringkas. Mencari makan dan minum, beristirahat, berbicara, menikah, adalah di antara jutaan tujuan sementara dalam menjalani satu siklus kehidupan. 

Tujuan akhir adalah sesuatu yang dapat memuaskan dahaga akan kehidupan itu sendiri. Tujuan-tujuan sementara pada akhirnya merupakan sarana mencapai tujuan akhir. Bilamana tujuan ini tercapai, maka tak ada lagi hal-hal lain yang dibutuhkan. Ada banyak versi tujuan akhir dalam kehidupan manusia. Bila dikerucutkan, maka tujuan tersebut mencakup tahta, harta dan cinta. Bila dipersempit lagi, maka seorang filsuf besar di masa lalu telah menyimpulkan bahwa tujuan akhir akan kehidupan manusia adalah mencapai ‘kebahagiaan’.**

Aku tak tahu kebahagiaan seperti apa yang menjadi tujuan akhirku. Demikianlah pemikiran tak lazim dari seorang anak yang baru berusia satu tahun. 

Pada tahun kedua hidupku, mustika tenaga dalam Kasta Perunggu terbentuk. Di saat itu terjadi, mata hatiku mengunduh berbagai informasi tentang dunia persilatan dan kesaktian. Mengunduh entah dari mana… Bagai air bah yang merangsek deras, telah tersedia banyak informasi, menanti saat yang tepat untuk memberkahi. 

Terkait dengan tujuan kehidupan manusia, aku pun mulai menyadari bahwa hidup berlandaskan moral dapat membuat manusia mencapai kebahagiaan. Moral menjadi semacam rambu-rambu dalam berpikir, berucap, berperilaku, dan bertindak. Meski sebagaimana kebanyakan manusia, aku cukup banyak menabrak rambu-rambu moral itu sendiri. Cukup senang, bahkan.

Aku mulai menyadari. 

Aku menyadari bahwa kebahagiaan tiada akan terwujudkan bilamana manusia bermalas-malasan. Kebahagiaan mewajibkan upaya pengembangan diri. Demikian, di usia yang ketiga tahun, aku mulai gigih berlatih persilatan dan kesaktian. Perkembanganku teramat sangat pesat. Pemahaman, penafsiran dan pencerahan atas berbagai jurus persilatan dan kesaktian berlangsung serta-merta. 

Kala itu, banyak ahli yang mulai menyebutku sebagai…. ‘Si Anak Ajaib’. 

Setelah membekali diri dengan nilai moral dan upaya, nyatanya jalan menuju kebahagian membutuhkan arah. Arah pertama adalah menuju yang di atas, yaitu Yang Maha Kuasa. Hanya dengan kesadaran akan maha kekuatan yang menaungi semesta alam, maka kebahagiaan akan mengarah ke jalan yang benar. 

Arah kedua merupakan hubungan sejajar, yaitu menjalin kerja sama antar sesama makhluk hidup. Di dalam perjalanan hidup maka manusia tiada mungkin tidak berpapasan dengan manusia lain. Kawan, keluarga, masyarakat, bahkan lawan dan musuh akan menjadi penentu arah dalam menelusuri jalan kebahagiaan. 

Sampai pada tahap ini, aku yakin bahwa para ahli baca di suatu dunia paralel mulai ikut linglung. Aku tiada peduli. Kisah lamunanku akan terus berlanjut. 

Genap berusia delapan tahun, aku sudah berada pada Kasta Perak! Kisah Si Anak Ajaib sudah menjalar ke seluruh pelosok Negeri Dua Samudera. 

Terlepas dari itu, aku beruntung dibesarkan di dalam lingkungan istana kemaharajaan. Kebutuhan lahiriah terpenuhi dengan mudahnya. Segala apa yang kukehendaki dapat disajikan hanya dalam satu kedipan mata. Pun, kebutuhan jasmaniah tersedia tanpa batas nyata, baik itu kasih sayang keluarga dan teman, maupun ilmu pengetahuan yang tersedia di pustaka istana. 

Banyak guru, maha guru, sesepuh serta maha sepuh yang didatangkan untuk mendampingi pertumbuhanku. Aku pun bergabung dengan salah satu perguruan ternama. Namun demikian, tiada aku terpuaskan. Kebahagian masih terasa teramat jauh. 

Walhasil, di usia 14 tahun aku memulai pengembaraan ke seantero Negeri Dua Samudera. Tujuanku masih sama… mencari tujuan, menapaki arah, berupaya meraih kebahagian. Aku bertemu kawan, juga lawan. Sebagaimana hidup dalam dunia keahlian, pertarungan demi pertarungan kujalani tanpa pernah mempertanyakan mengapa…. 

Berbekal pengetahuan dan pengalaman yang selalu mengisi di dalam benak, yang entah berasal dari mana, beserta kondisi mental yang membuat tak gentar, serta sedikit keberuntungan… aku terus-menerus meraih kemenangan. Tak pernah sekali pun aku takluk.

Dari Si Anak Ajaib, kabar berita tentangku perlahan bertambah dan ditambah-tambahkan. Aku kemudian diwartakan sebagai seorang ahli yang ‘tak mengetahui warna darahnya sendiri’. Memang demikianlah adanya, aku adalah seorang ahli yang tak pernah terkalahkan dalam pertarungan. 

Di usia 23 tahun, aku membuka Kasta Emas! Sebuah pencapaian yang tak pernah tercatat dalam sejarah Negeri Dua Samudera. Di saat itu, aku mulai menyadari bahwa ada sebuah tugas yang kuemban. Tiada kuketahui tegas, tugas apakah gerangan itu. Semua masih samar jauh di alam bawah sadarku. 

Aku pun tak tahu, mengapa di pagi ini, di persimpangan jalan ini, aku menanti kehadiran dirinya…? Beliau adalah seorang ahli yang kemungkinan besar dapat memberi petunjuk akan tujuan hidupku. Seorang ahli yang kuperkirakan dapat menuntunku menjadi manusia yang utuh. 

Nah…. di sana! Beliau sudah tiba!


“Salam hormat hamba haturkan kepada Maha Sepuh, Pendiri Pasukan Telik Sandi. Hamba, Sangara Santang, sedari tadi menanti hendak bertukar pikiran,” ungkap Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti, yang sebelum ini melamun cukup panjang. 

Perempuan dewasa nan cantik itu hanya menoleh ringan. Setelah terbang santai melintasi Selat Pasundan, ia mendarat di pesisir barat laut Pulau Jumawa Selatan. Perjalanan jauh dari Pulau Barisan Barat, baru saja ia tempuh. Tiada ia mengira bahwa setelah menapaki wilayah pesisir, telah menanti seseorang di persimpangan jalan ini. Sungguh pelik. 

“Pasukan Telik Sandi…,” gumam perempuan dewasa itu pelan. 

“Mohon maaf atas kelancangan hamba yang menegur Maha Sepuh. Mohon maaf bila keberadaan hamba mengganggu perjalanan Maha Sepuh.” Maha Guru Kesatu Sangara Santang terdengar demikan santun. Ia bahkan menundukkan kepala seusai menyampaikan kata-kata. 

“Kau adalah Sangara Santang, Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti, serta anggota Pasukan Telik Sandi…?”

“Benar, Maha Sepuh.”

Perempuan itu menatap dalam. Ia teringat akan peristiwa ratusan tahun lalu. Di saat itu, seorang diri ia menjelajahi Negeri Dua Samudera mencari jejak dua tokoh yang teramat ia kasihi. Tokoh pertama adalah seorang ayah yang menghilang tanpa jejak, bernama Gemintang Tenggara. Tokoh kedua adalah sahabat masa kecil, pewaris tahta, Putra Mahkota Negeri Dua Samudera, Elang Wuruk. 

Pencarian berubah menjadi petualangan. Pada satu periode dalam hidupnya, Mayang Tenggara banyak bertemu kawan dan lawan. Akan tetapi, tujuan dirinya tiada pernah berubah. Ia menelusuri dan berbagi informasi, meninggalkan pesan, membuka jaringan komunikasi dengan banyak pihak. Segala daya upaya dikerahkan demi mencari jejak Gemintang Tenggara dan Elang Wuruk. 

Tanpa ia sadari, jaringan komunikasi yang ia bangun terus bertambah besar dan luas… Hampir di seluruh pelosok Negeri Dua Samudera tersedia tokoh-tokoh yang merupakan perwakilan Mayang Tenggara dalam mengumpulkan informasi. Sehingga, pada akhirnya, terbentuklah sebuah organisasi, dengan dirinya secara tak langsung berperan sebagai pendiri. 

Mayang Tenggara tiada pernah mengira bahwa jaringan komunikasi yang ia bangun tersebut, kemudian resmi dikukuhkan oleh pemerintahan baru Negeri Dua Samudera sebagai Pasukan Telik Sandi. Pasukan ini kemudian banyak berperan dalam menangkal gerakan bawah tanah yang dikerahkan Partai Iblis. 

Mayang Tenggara menoleh ke atas, ke samping, lalu ke bawah. Ia seolah sedang memastikan keberadaan akan sesuatu. 

Sangara Santang menatap Mayang Tenggara. Ia mencoba membaca arah pemikiran tokoh tersebut. Meski belum mengajukan pertanyaan, terlihat bahwa ia demikian penasaran….

Daya Tarik Bulan, Bentuk Pertama: Tangan Menggenggam Tangan!

“Duar!” 

Serta merta tubuh Sangara Santang terhenyak ke dalam tanah! Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti itu bahkan tak sempat terkejut, apa lagi berbuat apa-apa! Tubuhnya ditarik keras. Mayang Tenggara menyerang!

“Duar! Duar! Duar!” 

Berkali-kali Mayang Tenggara mengibaskan ringan telapak tangan. Berkali-kali dan beruntun pula, tubuh Sangara Santang dilambungkan lalu dihenyakkan kembali ke tanah. Tindakan ini menciptakan sebuah kawah kecil di permukaan tanah. 

Bila Lintang Tenggara memiliki kesaktian unsur daya tarik bumi, maka Mayang Tenggara adalah pengendali daya tarik bulan. Nama Bentuk Pertama dari jurus unsur kesaktian Daya Tarik Bumi dan Daya Tarik Bulan pun sama adanya. Tak sulit dan berlama-lama untuk menyimpulkan bahwa…. Lintang Tenggara sempat dilatih langsung oleh ibundanya. 

“Uhuk!” 

Sangara Santang terbatuk dan memuntahkan darah. Wajah tampannya berubah memilukan, ketika darah bercucuran membasahi mulut dan hidung. Ia bahkan tak memiliki tenaga untuk menyeka darah. Seorang tokoh yang selama ini terkenal karena ‘tak mengetahui warna darahnya sendiri’, justru sedang bersimbah darah. Merah warnanya! 

“Maha Sepuh… apakah… maksud…?” rintih Sangara Santang yang masih terlentang tak berdaya dan terpasung di tanah. Siapa mengira dirinya yang selama ini berpikiran cerdik meramu muslihat, berubah sedemikian mengenaskan! 

Unsur kesaktian daya tarik bulan sangatlah unik. Daya tarik bulan diketahui mempengaruhi pasang surut air laut. Selain daya tarik, dengan demikian, unsur kesaktian ini mempengaruhi cairan di permukaan bumi. Cairan di dalam tubuh makhluk hidup tak terkecuali. Kelebihan terkait cairan inilah yang membuat tubuh Sangara Santang semakin tak berdaya. Ia merasakan darah di tubuhnya bergejolak tak terkendali. 

“Siapa jati dirimu sesungguhnya…?” aju Mayang Tenggara tenang, mengabaikan pertanyaan Sangara Santang. Tindakannya menyerang merupakan bukti nyata akan perilaku ‘hajar dahulu, bertanya kemudian’. Sungguh kebiasaaan para ahli perkasa yang demikian semena-mena.

“Hamba tiada mengetahui….” Terdengar rintih jawaban. 

“Membuka mata hati di usia setahun, membentuk mustika tenaga dalam di usia dua tahun, memulai berlatih persilatan dan kesaktian di usia tiga tahun. Di usia delapan tahun, kau menerobos Kasta Perak dan di usia 23 tahun berada pada Kasta Emas.” Mayang Tenggara berhenti sejenak. 

“Siapa jati dirimu sesungguhnya…?” 

Mayang Tenggara, meski telah membangun jaringan komunikasi yang luas, tak kunjung memperoleh informasi akan keberadaan Gemintang Tenggara dan Elang Wuruk. Setengah putus asa, ia pun memutuskan untuk mengasingkan diri ke tanah kelahiran di Pulau Paus. Selama ratusan tahun hidup dalam pengasingan, meskipun demikian, ia tetap memperoleh berbagai informasi seputar Negeri Dua Samudera dari Pasukan Telik Sandi. Keberadaan Si Anak Ajaib, tentu tak lepas dari pengamatannya. 

“Hamba tiada mengetahui….” Terdengar rintih jawaban yang sama dari tubuh yang masih terhenyak dan terpasung di tanah. 

“Apakah tubuhmu dirasuk oleh ahli digdaya, ataukah engkau adalah reinkarnasi dari tokoh masa lampau…?” Mayang Tenggara mengubah pertanyaan. Sepanjang pengalaman hidupnya, keberadaan tokoh seperti Sangara Santang merupakan sesuatu yang mustahil, kecuali dikarenakan peristiwa perasukan atau reinkarnasi. 

“Hamba tiada mengetahui….” 

Lagi-lagi Sangara Santang memberikan jawaban yang sama, karena memang demikianlah adanya. Kalau pun tidak, pastinya ia tak akan berani berbohong atau menyusun tipu muslihat terhadap tokoh sekelas Mayang Tenggara. Tindakan Mayang Tenggara menyerang secara tiba-tiba, pun disadari memiliki tujuan untuk menegaskan bahwa ia bukan tokoh yang bisa dipermainkan. 

Mayang Tenggara melepas belenggu daya tarik bulan. Sangara Santang bangkit perlahan. Ia tak kuasa berdiri, sehingga hanya bersandar pada sisi kawah di bawah tanah. Sekujur tubuhnya terlihat dipenuhi luka karena dihempas-hempaskan berkali-kali ke tanah. Pada bagian-bagian tertentu tubuhnya, terasa mati rasa.

Mayang Tenggara menatap ringan dari atas. Dingin sekali pembawaannya. Ia lalu duduk perlahan di gundukan tanah pada sisi atas kawah kecil itu. Perempuan cantik itu sengaja memberi waktu bagi Sangara Santang memulihkan diri.

 

“Lalu, apa tujuanmu menantikan kedatanganku…?” Satu jam telah berlalu, sebelum Mayang Tenggara kembali menyapa lawan bicaranya. 

“Hamba juga ingin mengetahui tentang jati diri ini…,” Waktu selama satu jam yang diberikan, cukup mewah bagi Sangara Santang untuk dapat menyembuhkan diri. Kini ia tak lagi tersandar di tanah, ia sudah dapat duduk tegap bersila. 

“Apa yang membuatmu percaya bahwa aku akan mengetahui tentang jati dirimu?”

“Kekuatan masa lampau Negeri Dua Samudera tak banyak bersisa. Diketahui bahwa masa puncak pengetahuan tentang keahlian terdapat di saat sebelum Perang Jagat berkecamuk. Maha Sepuh Yang Terhormat adalah salah satu tokoh yang mengetahui banyak tentang peristiwa masa lampau dan masa kini….”

“Maksudmu…?”

“Kemungkinan Maha Sepuh mengetahui perihal jati diri hamba.” Sangara Santang menutup dengan menyeka darah yang membasahi hidung dan mulutnya. Kelihatan sukar baginya melakukan tindakan yang demikian sederhana. 

“Apakah kau memiliki ingatan masa lalu. Ingatan di saat sebelum engkau dilahirkan.”

“Tiada ingatan masa lalu, Maha Sepuh. Akan tetapi, hamba memiliki banyak pengetahuan tentang persilatan dan kesaktian di dalam benak, yang tak diketahui berasal dari mana.” 

“Apakah ada tokoh lain yang mengetahui perihal keadaan ini?”

“Maha Sepuh adalah yang pertama dan satu-satunya….” 

Mayang Tenggara berpikir sejenak. “Kurasa tubuhmu tidak dirasuki oleh jiwa tokoh tertentu…,” ujarnya menyimpulkan. 

Sangara Santang mengangguk petanda setuju.

“Bukan pula reinkarnasi biasa…,” sambung Mayang Tenggara.

“Hm…?”

“Menurut hematku, kau adalah reinkarnasi terencana dari seorang tokoh digdaya di masa lampau. Bukan hanya pengetahuan, namun juga ragamu sangat pantas, seolah telah dipersiapkan untuk memupuk keahlian….”

“Reinkarnasi terencana…?” Pupil di kedua mata Sangara Santang membesar. 

“Yang menarik bagiku bukanlah reinkarnasi terencana itu sendiri… melainkan siapakah jati diri tokoh yang sengaja menyiapkan keberadaaan ahli perkasa di masa depan? Atas tujuan apa? Dan di pihak manakah tokoh tersebut berdiri…?”

Sangara Santang mengangguk. Kali ini sebagai sebuah reaksi spontan yang biasanya terjadi ketika seseorang terlalu kebingungan. Perlu beberapa waktu baginya untuk mencoba mengaitkan reinkarnasi terencara dengan tujuan hidupnya saat ini. 

“Jikalau tokoh tersebut berada di pihak yang berseberangan, maka hari ini kau akan mati di tanganku….” Mayang Tenggara berujar ringan, raut wajahnya datar-datar saja. Betapa mudah baginya mencabut nyawa ahli Kasta Emas Tingkat 1, tak peduli apakah nyawa itu milik sosok pembesar di sebuah perguruan yang tersohor sekalipun.  

Kedua mata Sangara Santang membesar. Raut wajahnya kecut. Baru kali ini dalam sepanjang hayatnya dimana ia benar-benar merasakan ketakutan karena ancaman kehilangan nyawa. Sensasi yang demikian baru baginya, merayap pelan dan menjalar dingin di sumsum tulang belakang. Otak pun serasa membeku.

“Apakah kau tahu pada Kasta apa peringkat keahlianku…?” Mayang Tenggara hendak menguji pengetahuan lawan bicaranya.

“Maha Sepuh Mayang Tenggara, setidaknya berada pada ‘Kasta Bumi’ tingkat menengah…”



Catatan:

*) Judul lengkap: Episode 135 – Kasta Bumi. 

**) Falsafah tentang tujuan, arah dan kebahagiaan disarikan dari buku filsafat bertajuk “Menjadi Manusia, belajar dari Aristoteles” karya Frans Magnis-Suseno yang diterbitkan oleh Kanisius, Yogyakarta; 2009. Semoga tak salah interpretasi.