Episode 8 - King Shoebill



Entah karena yang namanya Global Warming atau apa, tapi sepertinya Bumi semakin lama semakin panas. Karena bukan hanya satu atau dua saja penyebab, menanggulanginya pun sangatlah sulit. Terlebih dengan keadaan kota yang bisa dibilang berbeda dari kondisi sebelumnya.

Saat-saat seperti ini, orang-orang hanya bisa mengeluh. 

Tempat parkir bawah tanah yang biasa digunakan untuk memarkir mobil tidak memiliki pendingin sama sekali. Dengan asap kendaraan yang tersisa dan ruangan tertutup, tidak perlu ditanya seberapa tinggi suhu udara di sana.

Mengenakan jaket tebal dengan syal merah panjang hingga mulutnya sedikit tertutup. Dibandingkan dengan orang lain, Neil harus merasakan hawa panas dua kali lipat jauh lebih panas. Keringat yang tak bisa ditahannya mengucur bagai hujan.

Neil hanya bisa memasang ekspresi datar sambil menahan penderitaan dengan beribu keluhan di dalam hatinya. Ingin sekali rasanya melepas syalnya yang merepotkan itu, tapi tidak bisa dan tidak mungkin. 

Seandainya Manusia menciptakan sebuah pakaian yang bisa mengatur suhu tubuh, ia akan sangat berterima kasih. Pikir Neil dengan desah panjang.

“Katakan padaku kalau kalian sudah tahu namaku,” ucap Neil sambil melihat benda persegi yang sedang dibawanya. Sebuah tab khusus.

“Ya, kami tahu.” Satu dari tiga pria yang berdiri di depan Neil menjawab. Dari kata-katanya yang mewakili, dia pasti pemimpin dari timnya.

Tanpa memalingkan pandangan dari tab, Neil melanjutkan. “Arbi seharusnya sudah menjelaskan semuanya pada kalian. Kalian bertiga akan mendapatkan anggota baru.” Neil memberikan tatapan pada Bell yang sedang berada di sampingnya. “Lakukan dengan cepat!”

Bell mengangguk. 

“Aku Bell, mulai hari ini aku akan menjadi salah satu dari kalian.” Bell memberi senyum persahabatan. 

Ketiga orang itu saling memandang satu sama lain. Tak lama kemudian, salah satu dari mereka—si Ketua, menyambutnya dengan menjulurkan tangan. Bell dengan senang hati menjabat tangannya, lalu masing-masing dari mereka memperkenalkan diri masing-masing. 

Neil menggeser tabnya beberapa kali, memerhatikan dengan seksama. Isinya informasi tentang tim yang akan diawasinya. 

King Shoebill. Itulah nama timnya. Mengenakan jaket sama seperti tim lainnya, hanya saja berwarna hitam dengan garis-garis biru tua. Angka ‘23’ di bagian lengan menunjukkan urutan tim mereka. Di bagian belakang jaket, ada sebuah gambar burung yang memiliki paruh cukup besar seperti bebek, tapi bukan bebek.

Terdiri dari tiga orang pria yang baru lulus dari Agen Pelatihan, mungkin sekitar satu bulan yang lalu. Namun, justru di sinilah masalah utamanya. Pengalaman mereka saat turun ke lapangan masih sangat sedikit. Tidak lebih dari tiga kali. 

Tugas Neil adalah mengawasi Bell, tapi jika seperti ini jadinya ia harus benar-benar mengawasi ketiga orang lainnya. Ini memberi beban lebih pada Neil. Entah apa yang dipikirkan Arbi, menyuruhnya untuk melakukan pekerjaan lebih seperti ini. 

Dira—pemimpin dari kelompok King Shoebill. Lalu, dua anggota yang lainnya, Throta dan Oddy. Tidak ada yang spesial atau pun aneh dari mereka. 

“Siapa dari kalian bertiga yang biasa berjaga di belakang?” tanya Neil menatap ketiganya bergantian.

Yang berjaga di belakang biasanya hanya bertugas membawa barang-barang perlengkapan, seperti amunisi, senjata tambahan, peledak, dan juga kotak p3k sebagai pertolongan pertama. Dalam tim Flame Liliy, Nadia adalah orangnya.

“Soal itu, kami belum memutuskannya.” Dira sebagai pemimpin mewakili. Wajahnya yang tidak yakin, meyakinkan Neil ada sedikit masalah dengan kelompok mereka.

Neil tidak yakin harus berkata apa. Tidak seharusnya seperti ini. Meski terlihat seperti pesuruh, orang yang memegang tugas ini sangatlah penting. Tidak mungkin, mereka yang membawa senjata untuk bertarung harus membawa tas berat yang berisi perlengkapan.

“Hmm…” 

Karena hal ini terlalu penting, Neil jadi tidak memikirkannya. Namun, di saat yang sama, justru karena ini adalah hal yang mudah, tidak butuh waktu lama untuk mencari solusinya. 

“Bell, kau yang akan melakukannya!” Neil memberi perintah.

Saat hawa panas sedang menyelimuti Neil, ia tidak ingin ambil pusing tentang hal ini. Semakin lama mereka berdiskusi, semakin lama juga waktu yang terbuang. Neil sendiri tidak suka menghirup asap kendaraan berlama-lama di tempat parkir bawah tanah seperti ini.

“Ah, yah. Terserah, aku tidak keberatan.” Meski awalnya ragu, Bell memberi anggukan. Ia tidak ingin melawan perintah orang yang menolongnya.

Neil kembali mengangkat tabnya.

Biasanya ia menggunakan file, tapi karena tugasnya hari ini mengawasi, menggunakan tab jauh lebih mudah.

Dira, Throta dan Oddy yang akan fokus menghabisi target. Lalu, Bell yang akan membantu dari belakang. Menjaga di belakang bukan berarti tidak membawa senjata.

“Misinya hanya Rank C. Targetnya adalah kelompok Shadow.” Neil membaca beberapa kalimat berikut yang terpampang di layar. Menyatakan bahwa tidak ada yang penting, ia menurunkan tabnya. “Seharusnya tidak akan sesulit itu. Tapi, bukan berarti kalian tidak bisa terbunuh. Jadi, berhati-hatilah.”

Neil tidak mengucapkannya dengan serius, tapi juga tidak bercanda. 

Shadow seharusnya tidak sekuat Manusia. Mengetahui hal ini, Neil sedikit lega.

Akan tetapi, Manusia tetap bisa membunuh Manusia. Dengan kata lain, hal ini juga berlaku sama dengan Shadow. Atau lebih tepatnya, Manusia bahkan bisa dibunuh oleh benda sekecil apa pun.

Kali ini bukan Dira yang menjawab, tapi pria di samping kanannya. “Ya, tanpa diberitahu pun, kami sudah tahu!” Jawaban serius itu keluar dari mulut Oddy. Ia memalingkan mata, menghindari tatapan Neil.

Dira mengangkat tangan, membuat Neil merasa aneh.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” 

“…” Neil tidak ingin menghabiskan tenaga untuk mengatakan sesuatu ataupun mengangguk.

“Jika salah satu dari kita mati, siapa yang akan bertanggung jawab?” 

Bertanggung jawab? Sesaat Neil memikirkannya, tidak mungkin ia menjawab pertanyaan seperti itu. Tidak, bukan itu. Dirinya terpikirkan sesuatu yang lain. Tugasnya adalah mengawasi mereka, jadi akan masuk akal jika ia yang harus menanggung beban hal itu. Mungkin, ini yang ini Navi katakan malam itu. 

Kenapa dirinya harus mengambil tanggung jawab, hanya karena ia diberi tugas untuk mengawasi? Tidak masuk akal. 

“Aku yang akan bertanggung jawab.” Ada jeda sebentar. “Tapi, jika kau sudah merencanakannya dari awal, aku tidak peduli.” Neil mengatakannya setengah serius.

Neil ingat, alasan kenapa ia melakukan hal ini adalah karena ingin memberikan sebuah keamanan untuk anggota timnya. Ini juga termasuk tanggung jawab. Jika seseorang dari mereka mati, Neil akan terkena dampaknya dan ia tidak ingin sampai hal itu terjadi.

Akan tetapi, selama itu tidak mempengaruhi kehidupannya, ia tidak perlu terlalu peduli. 

Neil mengambil pekerjaan ini bukan karena Navi, tapi karena dirinya sendiri. Ia menjadi Agen Khusus untuk dirinya sendiri. Ia juga melakukan tugas ini demi dirinya sendiri. Namun, beberapa dari hal itu secara tidak langsung melibatkan orang dekatnya. 

Sama seperti sekarang. Ia berani mengambil tanggung jawab untuk kematian mereka juga demi dirinya sendiri. Di atas semua itu, yang terpenting adalah keinginan untuk hidup. 

Seandainya saja kematian itu sudah direncakan dari awal, maka tidak ada gunanya bagi Neil untuk mengatakan hal itu. Kenapa? Karena bagi mereka yang berani sampai melakukan hal itu tidak bertanggung jawab atas nyawa mereka sendiri.

Merencanakan kematiannya sendiri. Terlihat bodoh memang, tapi Neil sudah pernah melihatnya beberapa kali. Jika Neil bertemu dengan orang seperti itu lagi, maka ia tidak keberatan untuk membantunya mati.

“Ada pertanyaan lagi?” Neil mendekap.

Karena suatu alasan yang tak bisa dijelaskan, Neil tiba-tiba merasa kesal. Ia menarik napas dalam untuk mencium aroma syal merah yang selalu dikenakan. Entah karena hawa panas atau mengingat pertanyaan beberapa saat sebelumnya.

Hening, tanda mengerti.

Neil melanjutkan. “Kalau begitu, siapkan semua perlengkapannya. Tempatnya tidak jauh dari sini, kita akan menggunakan mobil. Jika tidak ada yang bisa menyetir, aku yang akan melakukannya.

Neil yang mengambil beberapa langkah untuk memberi mereka waktu, kembali berhenti. Ia ingat satu hal penting lainnya yang hampir terlupakan.

“Di gudang seharusnya ada bensin. Bawa itu juga!” 

“Hah… untuk apa?” tanya Bell yang nampak tak mengerti.

“Kau akan segera tahu nanti.” Tanpa memberi penjelasan lebih, Neil pergi meninggalkan mereka berempat.

Karena Neil yang menyetir dan bukan menggunakan mobil miliknya, ia harus memeriksa semuanya terlebih dahulu. 

Seperti mobil tentara. Tanpa atap dengan ban yang lumayan besar. Beruntung tempat tujuannya tidak terlalu jauh, hingga ia tidak perlu duduk di joknya yang keras. Beberapa saat kemudian, keempatnya kembali dengan senjata masing-masing. Selain membawa senjata yang tidak seberat biasanya, Bell juga membawa tas perlengkapan. 

Di sisi lain Throta dan Oddy yang membawa minyak. 

“Apa ini sudah cukup?” tanya Dira.

“Ya, bahkan lebih dari cukup.” Neil duduk di kursi pengemudi. “Hmm, ngomong-ngomong, siapa yang seharusnya mengawasi tim kalian saat ini?”

Dari awal, Neil sudah penasaran tentang hal ini. Seharusnya, sampai empat misi pertama berhasil, mereka akan diawasi oleh seseorang entah selalu sama atau bergantian. 

“Sebelumnya, Noxa dari tim dua yang mengawasi kami.”

Noxa, pemimpin dari tim dua, digantikan oleh seseorang yang memiliki tingkat di bawahnya. Terdengar aneh, tapi Neil tahu alasan khususnya.

“Hanya Noxa saja?” Satu kali lagi, Neil bertanya.

Mereka sudah menjalani misi pengawasan selama dua kali, jadi ada kemungkinan kalau selain Noxa ada orang lain juga yang mengambil tugas itu.

“Memang masih ada lagi.” Dira memasang wajah seirus. “Tapi, apa hal ini penting untuk dibicarakan?” Dira balik bertanya terlihat sedikit terganggu.

“Tidak juga. Tidak perlu dijawab jika kau tidak ingin menjawabnya.” Neil memandang Bell yang sedang memegang senjata di kedua tangan. “Berikan itu padaku!”

“Eh, tu-tunggu sebentar. Bagaimana denganku?” Bell tak mau memberikannya.

“Yah, terserahlah.” Neil menyerah dengan mudah. “Taruh saja semuanya di belakang. Kita akan segera berangkat. Semakin cepat, semakin baik.”

Menuruti perintah Neil, tas perlengkapan dan tangki bensin yang dibawa ditaruh di belakang. Setelah itu, semuanya naik mobil. Dira di depan bersama dengan Neil. Lalu yang lainnya, duduk di belakang.

Menggunakan mobil yang nampak tua itu, tidak membutuhkan waktu sampai dua puluh menit untuk sampai.  

Tempat yang mereka datangi adalah satu dari beberapa bagian yang dilarang untuk dikunjungi oleh orang biasa. Bisa dibilang, seperti tempat terlarang. Meski begitu, tempat itu tidak dijaga ketat oleh tentara ataupun Agen Khusus yang berasal dari OFD.

Jalan menuju bawah tanah dengan tangga yang dikotori dengan tanah dan debu. 

“Ini…?”

“Ini stasiun kereta listrik bawah tanah,” Neil berbicara sambil melangkah turun menuruni tangga. “Kalian belum membaca laporannya, ‘kan?”

Akibat penyerangan yang terjadi delapan tahun lalu, beberapa rel kereta hancur atau tidak bisa dijangkau jadi jumlah stasiun yang aktif tidak banyak. 

Akan tetapi, yang satu ini sedikit berbeda. 

Yang mereka masuki bahkan belum pernah dilalui oleh kereta sekali pun. Bisa dibilang, projek kereta bawah tanah sebelum berhasil diselesaikan sudah hancur duluan karena penyerangan saat itu. 

“Kenapa bisa ada Outsiders di tempat ini? Kukira mereka datang dari laut.” Dira yang tak mengerti, bertanya.

“Yah, ada beberapa alasan khusus.” Neil mengangkat tab dan mengaktifkan sistem navigasi yang ada di dalamnya. “Akan kujelaskan selagi kita berjalan ke dalam.”