Episode 27 - Asrama Siang dan Teman-Teman Baru



“WHOAH! Jadi ini yang namanya asrama siang?!”

Bentang langit cerah menanti, bersama gedung-gedung pencakar angkasa. Tatkala mata Arya mendelik ke jalan beraspal di depan, maka ia dapat memastikan kalau asrama siang tidak berbeda jauh dari tempatnya berasal, bumi. Kendaraan yang berseliweran pun sama pikuknya dengan Kotabaru, hanya saja tiada asap yang mengawang.

“Ini bahkan lebih baik,” ujarnya.

Kendati demikian, Arya sama sekali tidak tahu tujuan setelah ini. Tidak ada panduan ataupun kompas Maha Tahu, melainkan segelintir manusia yang berjalan hilir-mudik. 

Termakan gugup, pemuda berkulit sawo matang itu beringsut ke tempat ramai. Kerumunan orang, ia meracau tak jelas di sana.

“Jackal! Jackal! Aku harus ke mana?” Arya kerap kali berantuk bahu dengan para penduduk kota. “Hey, Jackal! Bisakah kau dengar aku?”

Terus dan terus saja, tidak terasa ia sudah melintasi dua blok, dan masih berjalan melewati sebuah kafe romantis, di mana pasangan muda-mudi asyik bermesraan.

“Mereka benar-benar merancang tempat ini senyata mungkin,” komentarnya. “Tapi, aku harus menemui Jackal. Eh! Tunggu. Mungkinkah ini babak selanjutnya?” Selintas, Arya jadi beranggapan dirinya tengah diuji untuk menemukan asramanya sendiri. 

Udara panas kian menyiksa, terlebih dalam kerumunan orang yang tiada habisnya. Arya nyaris menyerah sesaat desau angin kemarau menyapa kulit berkeringatnya. Namun, tiba-tiba saja pemuda beraut datar itu berpapasan dengan sosok yang familiar. Ya! Dialah yang membocorkan rahasia seleksi pintu keberuntungan tempo hari.

“Oy, Arya!”

“Ru-Ruhai! Kau juga tersesat?” Mata Arya membulat.

“Sepertinya begitu. Kita sekonyong-konyong dikirim ke sini lalu dilupakan begitu saja.” Ruhai mengusap-usap dagunya.

“Aneh, sih.”

“Apanya yang aneh?” Lelaki berambut jabrik itu tampak penasaran.

“Sebelumnya kau tahu banyak hal mengenai turnamen ini. Tapi, kenapa sekarang kau malah kebingungan? Apakah pengetahuanmu sudah habis?”

“Tidak, tentu saja. Aku tahu banyak karena informasi dari guruku. Sayangnya, saat sampai di sini, kejadiannya benar-benar di luar dugaan. Dia bilang aku akan masuk asrama malam, tetapi nyatanya aku dikirim ke sini.” Ruhai menuturkan. “Ya, orang itu memang aneh.”

“Owl?” Arya coba memastikan.

“Benar. Duta Pandora kedelapan, Owl.”

Pembicaraan kian berlarut-larut. Arya membahas banyak hal dengan teman barunya ini, seperti kehidupan mereka di dunia nyata, alasan ber-lucid dream, hingga ambisi masing-masing. 

Dari perbincangan tersebut, diketahui Ruhai adalah calon kepala suku di daerahnya. Meski terkesan muda, sebenarnya lelaki berkulit cokelat itu sangat arif dan pemberani. Banyak masyarakat yang memujanya, bahkan terkadang mereka juga membawakan makanan enak. Namun, Ruhai sama sekali tidak suka. Menjadi sosok yang disanjung memanglah hal hebat, tetapi sarat akan kesombongan, begitulah pendapatnya.

“Jadi itu yang membuatmu berambisi menjadi rakyat jelata? Kau ingin mengatur ulang ingatan rakyat-rakyatmu,” tukas Arya.

“Bukan hanya mengatur ulang ingatan mereka. Aku juga ingin daerahku makmur di tangan pemimpin yang bijaksana, sehingga mereka tidak perlu mengeluh dan mencari-cari sosok lain untuk dipuja.”

“Begitu, ya. Omong-omong, aku jadi penasaran mengapa kita bisa mengerti pembicaraan satu sama lain. Bukankah para lucid dreamer datang dari negara yang berbeda-benda?”

“Meski datang dari penjuru yang berbeda, pada akhirnya kita berkumpul di tempat yang sama. Pandora, sektor terdalam dunia mimpi yang menyimpan sejuta keajaiban.” Ruhai tersenyum seraya menengadah ke langit biru. “Kalau kau masih mempermasalahkannya, aku bisa memberi alasan bagus. Secara tidak sadar, kita bicara menggunakan bahasa alam bawah sadar. Itulah mengapa pembicaraan bisa berlangsung lancar.”

Terik matahari kian menyengat, sementara keadaan kota masih sama sibuknya. Tak diduga, bayangan besar tiba-tiba terpeta di pusat kota, tempat di mana Arya dan Ruhai duduk santai. Mereka spontan menengok ke atas, dan mendapati sesosok naga mendarat pelan. Seakan terbiasa, penduduk kota cuma menjauh tanpa panik sedikit pun. 

Tidak sampai sepuluh detik, kadal raksasa itu menapakkan kaki di antara rumah-rumah minimalis yang bergetar kuat. Berbeda dari Goro, tubuhnya diselubungi sisik putih mengilap. Pun tanduk bergerigi itu, menjulang tegas sebanyak dua pasang di dahi kasarnya. Kala manatap, maka mata lebar Sang naga seolah memancarkan pantulan permata indah.

“Izinkan saya memandu tuan-tuan sekali,” katanya seraya membungkukan badan.

Arya dan Ruhai saling menatap, mereka sama sekali tidak menyangka kalau kasus ini disebabkan oleh keterlambatan transportasi. Bahkan, mereka sampai berpikir yang tidak-tidak. Ujian dadakan? Apa-apaan itu, pikir Arya.

“Terima kasih.” Ruhai menyahut. Ia memberanikan diri naik ke atas tubuh Sang naga yang ditumbuhi bulu setumit.

Serasa duduk di karpet tebal, demikianlah kalimat yang terlontar dari mulut Arya manakala duduk di belakang Ruhai. Mereka siap berangkat, disusul raungan Sang naga yang terdengar menyerupai desing gergaji mesin.

SWUSH!

Lepas landas di jalan raya barangkali akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Gedung-gedung tinggi dilintasi sebegitu cepatnya, hingga embus angin saja sampi mengobrak-abrik rambut Arya dan Ruhai. 

Setidaknya, panorama kota yang padat membuat Arya sedikit betah berlama-lama di dunia mimpi. Berbeda bagi Ruhai, dia harus beradaptasi secepat mungkin. Lupakan pepohonan serta gubuk-gubuk reot, mulai besok lelaki itu harus belajar nongkrong di kafe.

“Kami lucid dreamer terakhir?” Ruhai bertanya. 

“Iya. Sebelumnya, maafkan atas keterlambatan saya. Pihak penyelenggara sempat keliru menentukan koordinat keberadaan tuan-tuan sekalian. Jadi, saya terpaksa melakukannya sendiri.” Sang Naga menyahut sembari mengepakkan sayap melengkungnya.

“Siapa namamu?” Pertanyaan kedua terlontar dari mulut yang sama.

“Dion. Saya penanggung jawab sekaligus pemandu lucid dreamer di asrama siang.”

“Baiklah, Dion.” Geligi putih Ruhai menyelinap di balik bibirnya yang terbuka. “Tolong antarkan kami ke asrama siang.”


~~Para Pengendali Mimpi~~


Kekaguman pada asrama siang mulai tergerus. Lumrah saja, bila mengamati tempatnya yang diisi penuh oleh gedung-gedung. Sepuluh meter, Dua puluh, tiga puluh, sejauh apa pun mereka mengudara tetaplah perkotaan yang menjadi santapan mata. Kalau begini, Arya sampai berbaring saking bosannya. Pun demikian, Ruhai coba mengurangi kebosanan dengan berbincang bersama Dion.

“Apakah setiap asrama dikawal naga yang berbeda?”

“Ya, kami ada berempat. Biasanya, naga-naga asrama akan memantau perkembangan lucid dreamer dan menyampaikannya pada dewan seleksi. Akan ada banyak penilaian selama di sini, juga sanksi dan penghargaan.” 

“Sanksi? Penghargaan?” Dahi Ruhai mengernyit.

“Asrama menerapkan sistem peringkat. Setiap menyelesaikan seleksi, daftar-daftar lucid dreamer akan diumumkan berdasarkan kontribusi mereka terhadap tim. Bilamana menduduki peringkat pertama, maka dia berhak menerima penghargaan. Selain itu, sanksi tertentu akan dijatuhkan pada lucid dreamer di urutan paling bawah.” Kala menjelaskan, deret gigi Dion yang didominasi geraham tampak ketara.

“Jadi, itu artinya kami harus bersaing dengan teman seasrama?” Arya menceletuk. Dia terkesan tidak terima terhadap pernyataan Dion.

“Tidak ada istilah teman di dunia ini. Kalian semua musuh, dan kalian diwajibkan bersaing sekuat tenaga.” Dion menggeram. “Ingatlah ini! Teman adalah musuh yang belum menyerang.”

Baik Ruhai maupun Arya sama-sama bungkam. Tak bisa dipungkiri, turnamen Oneironaut memang dirancang untuk satu juara. Menjadi juara artinya menyingkirkan pesaing satu per satu. Dan, menyingkirkan bukanlah kata yang selaras dengan pertemanan.

Dion perlahan merendahkan posisi, disusul desau angin panas. Tatkala menjulurkan kepalanya, Arya tahu di bawah sana berdiri sebuah bangunan. Bukan gedung seperti dugaannya, melainkan vila besar di taman kota.

Halaman luas menjadi area mendaratnya kaki-kaki bercakar tajam, sudah tentu menyebabkan pepohonan di sisinya berguncang hebat. Langsung saja, beberapa penghuni asrama siang menyambut kedatangan anggota terakhir. Berdiri paling depan, Vida seketika berlari menghampiri mereka.

“Arya Kusuma!” Ia memeluk pemuda itu, sungguh erat sampai-sampai pipi Arya memerah.

“Ada apa ini!” ketusnya. “Kita baru bertemu, tahu!”

“Dua lagi lucid dreamer manja yang datang,” gumam Taki. Ia bersandar di salah satu tiang bangunan. “Entah aku harus senang atau malah kesal.”

Ada delapan orang yang resmi menjadi penghuni asrama siang. Tiga merupakan anak didik duta Pandora, sementara sisanya adalah lucid dreamer beruntung. Ya, mereka beruntung bisa masuk ke dalam asrama yang paling mendominasi pada turnamen sebelumnya.

Ekor berbulu Dion menggeliat manakala semua lucid dreamer berbaris di hadapannya. Sebagai penanggung jawab, ia berhak menyampaikan beberapa peraturan serta ketentuan selama orang-orang baru itu menginap di kediamannya.

“Selamat datang di asrama siang. Saya harap Anda sekalian bisa mengharumkan nama asrama ini seperti tahun-tahun sebelumnya,” ucapnya coba berbasa-basi. “Ada beberapa ketentuan yang perlu diterapkan, di antaranya, setiap asrama harus mempunyai ketua.”

“Ketua?” Seorang lelaki berkacamata mengulang, penuh tanda tanya.

“Benar. Saya tidak sanggup melakukan penilaian seorang diri, maka dari itu dibutuhkan ketua yang mampu mengamati perilaku rekan-rekannya dari dekat lalu melaporkannya kepada saya. Kendatipun, Sang ketua dibebaskan membuat laporan, tidak terikat pada objektivitas apabila ia mau.”

Mendengar keuntungan semacam itu, sontak saja para lucid dreamer berlomba mengajukan diri. De Santos, si pebasket jalanan yang merasa paling tua, bersikeras menonjolkan dirinya dan memaksa penghuni lain menyerah. Berbeda jauh, kelihatannya penawaran Dion tidak cukup menarik bagi Arya, Ruhai, dan Vida.

“Kau tidak tertarik?” Ruhai mengerling pada Arya.

“Tidak. Menjadi anak didik duta Pandora nomor satu sudah cukup bagiku,” sahutnya. “Kalau kau bagaimana?”

“Aku juga merasa cukup berada dalam bimbingan guruku. Dia orang yang hebat.” Ruhai berkecak pinggang.

“Haduh, emangnya nggak ada yang mau nanyain aku?” Vida menghela napas, wajahnya sedikit kecewa.

“TIDAK ADA!” Kedua pemuda itu sepakat menjawab.

Mata bersinar Dion mengamati wajah lucid dreamer satu per satu. Ia berusaha menemukan kepercayaan di dalam diri mereka melewati tatapan. Sebab, mata manusia jarang mengingkari tindakan. 

Nahas, De Santos yang paling antusias justru dilewatinya begitu saja. Lelaki berbibir tebal itu sempat mengomel, tetapi langsung bungkam setelah jengkelnya hilang.

“Ambisi yang besar.” Sepenggal kalimat terucap sesaat ia menatap Taki. “Mata yang penuh penderitaan.”

Arya terperangah menyaksikan Taki yang tiada rela terpejam di hadapan Sang naga. Ia membusungkan dada, menatap mata Dion sepenuh hati. Apakah itu tatapan seorang pemimpin? Apakah Dion menemukan sesuatu di balik tatapannya?

“Pandangan Anda cukup tegas. Bisakah saya mempercayai Anda?”

“Bi-bisa." Taki tergagap.

“Jawaban seburuk itu, apakah Anda serius?” Mata Dion melebar, membiarkan cahayanya kian menusuk.

“Aku bersungguh-sungguh!” Taki tetap bertahan tatkala matanya diterpa sinar menyilaukan.

“Benarkah?”