Episode 134 - Alas Roban


Sebuah gerbang dimensi baru saja dirapal pada sebuah prasasti batu. Lorong hitam dengan kilatan listrik berpendar dan membesar. Seorang lelaki dewasa muda terlihat berdiri di depan gerbang tersebut. Ia bersiap melangkah masuk ke dalam. Wajahnya tampan, seberkas harapan hinggap dalam tatapan matanya.

“Kakak Lintang… haruskah Kakak bepergian seorang diri…?”

“Pergerakan para tentara di Pulau Satu Garang sudah lebih tenang. Mereka lebih sibuk dalam suatu urusan di Negeri Dua Samudera. Keadaan Pulau Dua Pongah pun berangsur normal, meski keberadaan si Perawan Putih belum diketahui pasti.” Lintang Tenggara memutar tubuh.

“Hanya pada kesempatan ini aku dapat meninggalkan Pulau Lima Dendam.” Kini ia menghadap Anjana.

“Tugaskan saja diriku…,” aju Anjana.

“Aku harus bergerak cepat dalam mencari Intan Abadi. Mineral itu secara alami tak terdapat di Kepulauan Jembalang. Hanya ada beberapa tempat di Negeri Dua Samudera dimana intan tersebut dapat ditemukan. Lebih ringkas bagiku bergerak seorang diri.”

“Apakah ini terkait Segel Mustika?” lanjut Anjana.

“Bisa iya, bisa tidak… Terkait Segel Mustika, aku dapat merasakan bahwa segel tersebut sempat seolah melemah sejak beberapa waktu lalu,” ujar Lintang Tenggara sambil mengusap ulu hatinya.

“Melemah…? Mungkinkah Segel Mustika memiliki sifat keterikatan dengan perapalnya…?”

Sempat menyandang jabatan sebagai Guru Muda di Perguruan Gunung Agung, Anjana cukup memahami sifat-sifat dasar segel. Ada segel yang bersifat sekali rapal, yaitu akan bertahan selama tenaga dalam yang diimbuhkan bersamaan dengan segel terus bertahan. Ada pula segel yang secara khusus diberi syarat untuk hanya bertahan dalam jangka waktu tertentu. Selain itu, ada sifat segel yang perlu diperkuat dari waktu ke waktu agar terus bertahan. Terakhir, adalah segel yang terikat kepada sang perapal; dimana segel akan menghilang dengan sendirinya bilamana terjadi sesuatu pada perapalnya, misalkan meninggal dunia.

“Kemungkinan besar Segel Mustika masih terhubung dengan Ayahanda…,” Lintang Tenggara tak sepenuhnya pasti akan keadaan ini.

“Mungkinkah Segel Mustika dapat tercabut dengan sendirinya bilamana Balaputera meninggal dunia…? Mungkinkah…” Raut wajah Anjana berubah sejenak.

“Ayahanda Balaputera masih hidup. Dalam keadaan lemah, mungkin. Tapi… pastinya masih bernapas.”

“Bagaimana Kakak Lintang dapat berujar demikian yakin…?”

“Bila Ayahanda Balaputera menghembuskan napas terakhir dikarenakan suatu kecelakaan…. Maka pastilah kecelakan tersebut merupakan peristiwa yang menggemparkan Negeri Dua Samudera….”

“Hm…?”

“Bilamana ada ahli yang berhasil dengan sengaja membunuh Ayahanda, maka Negeri Dua Samudera akan lebih gempar lagi….”

“Maksud Kakak Lintang…?”

“Bunda Mayang dapat menjungkirbalikkan dunia persilatan dan kesaktian demi mencari pembunuh suaminya. Demikian gempar, sampai seolah sang rembulan turun ke bumi….”

Anjana terdiam. Meski tak mengetahui secara persis akan keperkasaan Mayang Tenggara, dirinya telah sejak lama memperkirakan bahwa perempuan itu bukanlah tokoh sembarang. Namun, apakah gerangan maksud dari kegemparan ibarat ‘rembulan turun ke bumi’? Bukankah keadaan yang sedemikian sama saja dengan kiamat mendekat? Sedigdaya itukah Mayang Tenggara…!?

“Sudahlah… aku hendak segera berangkat,” ujar Lintang Tenggara sambil melangkah ke arah gerbang dimensi. “Kutitipkan sementara tugas-tugas sebagai Bupati Selatan di Pulau Lima Dendam kepadamu.”

Dengan demikian, Lintang Tenggara melompat ke dalam gerbang dimensi. Tujuannya… Negeri Dua Samudera.

==

Mentari membumbung tinggi. Seorang remaja lelaki terkantuk-kantuk ketika rambut poni di keningnya dimainkan sentuhan angin. Ia masih bertugas sebagai pengawas di gerbang besar Perguruan Maha Patih.

“Kakak Poniman… kita kedatangan tamu!”

Poniman segera terjaga. Kedua mata merahnya mendapati sebuah kereta nan mewah yang ditarik sepasang kuda nan gagah. Pengemudi kereta kuda adalah seorang pelayan lelaki yang bertubuh besar. Di sisi belakang paling belakang kereta, sepasang remaja muda-mudi berdiri. Sepertinya mereka adalah pelayan bagi siapa pun itu yang bepergian menggunakan, dan berada di dalam kereta kuda.

Pelayan perempuan yang berdiri di belakang, adalah seorang gadis jelita. Dagunya mendongak ke atas. Di sebelahnya, seorang remaja kurus kerempeng, tergopoh-gopoh memegang buku catatan. Sepertinya ia sedang mendokumentasikan perjalanan mereka. Dari gelagat remaja kurus kerempeng itu, sepertinya ia adalah anggota baru di dalam rombongan itu.

“Dengan segala rasa hormat, siapakah gerangan Tuan dan Puan ahli di dalam kereta?” Terdengar sapa santun dari Poniman.

“Sampaikan kepada Sesepuh Ke-15 Perguruan Maha Patih, bahwa Tuan Saudagar Malin Kumbang hendak bersua!” sergah pelayan perempuan dari sisi belakang.

“Malin Kumbang, saudaraku!” Sesepuh Ke-15 Kertawarma melangkah pelan menyambut para tetamu. Mereka sudah berada di dalam salah satu balai megah Perguruan Maha Patih.

“Kertawarma!” Malin Kumbang melangkah seraya merentangkan kedua lengan demikian lebar. Ia hendak memberikan pelukan persahabatan.

Sesepuh Ke-15 Kertawarma tercekat. Ia berhenti di tempat.

“Hahaha…,” Malin Kumbang tertawa lebar. “Apakah kau khawatir aku akan mencuri usiamu…?”

Mendengar candaan dari Malin Kumbang, Sesepuh Ke-15 Kertawarma mau tak mau menerima pelukan persahabatan dari tamunya itu.

“Nyonya…,” Sesepuh Kertawarma tersenyum kepada istri Malin Kumbang. Sapaannya dijawab dengan anggukan kepala.

“Pastilah Nyonya lelah setelah menempuh perjalanan jauh dari Tanah Pasundan. Kami telah mempersiapkan penginapan. Silakan Nyonya beristirahat terlebih dahulu,” sambung Sesepuh Ke-15 Kertawarma. Ia melambaikan tangan memberi perintah kepada beberapa murid untuk mengantarkan istri dan ketiga pelayan Malin Kumbang ke penginapan mereka.

Suasana hening ketika kedua ahli tersebut ditinggal berdua.

“Saudaraku Malin Kumbang…. Usiaku berkurang beberapa pekan di saat bersentuhan dengan dirimu tadi!”

“Hahaha… apalah artinya beberapa pekan bagi seorang sesepuh digdaya dari perguruan nan demikian tersohor seperti dikau… Hahaha….”

“Sebagai seorang ahli, kau terlalu malas berlatih. Kau bahkan tak bisa mengendalikan unsur kesaktianmu sendiri….”

“Aku adalah saudagar…. Hahaha… Saudagar. Kesaktian dan persilatan bukanlah kelebihanku. Cukuplah kemampuan yang kumiliki untuk melindungi diri sendiri. Senjata utamaku adalah silat lidah dan keping-keping emas…,” gelak Malin Kumbang.

“Yang lebih aneh lagi, usia yang kau ambil dari ahli lain saat bersentuhan tiada bermanfaat bagimu. Entah kemana perginya, menghilang begitu saja… Sebagai seorang pengajar, aku melihat potensi besar dari kelebihanmu itu.”

Sesepuh Ke-15 Kertawarma sangat menyayangkan bahwa unsur kesaktian yang sangat langka, tak dikembangkan dengan maksimal. Sudah sering pula ia menyampaikan pandangannya sebagai sesama ahli, namun tak kunjung digubris. Bagi sang Sesepuh, dengan latihan yang benar, bukan tak mungkin Malin Kumbang dapat memupuk keahlian. Bahkan, Malin Kumbang bisa melebihi jajaran ahli-ahli digdaya di seantero Negeri Dua Samudera!

“Sudahlah… dikau mengetahui bahwa bukan perihal persilatan dan kesaktian tujuan dari kedatanganku.” Malin Kumbang mengalihkan pembicaraan.

“Raja Angkara Durhaka, Hang Jebat, telah mendapatkan tubuh yang sesuai. Ia sedang mengasingkan diri untuk mengembalikan keahlian.”

“Bagus… bagus…,” tanggap Malin Kumbang senang.

“Raja Angkara Durkarsa belum diketahui keberadaannya. Namun, pengamatanku menyimpulkan bahwa ia berada di sekitar Pulau Mutiara Timur.” Sesepuh Ke-15 itu menyajikan informasi terbaru.

“Dengan demikian, masih terdapat tiga Raja Angkara lagi sebelum waktu yang selama ini kita nantikan tiba….” Wajah Malin Kumbang terlihat sedikit kecewa.

“Meski lambat, rencana masih sesuai jadwal. Anggota-anggota Kekuatan Ketiga yang lain pun telah berupaya dengan sangat baik.” Sebaliknya, Sesepuh Ke-15 Kertawarma terlihat lebih optimis.

“Kita perlu menyulut percikan-percikan kecil jelang Perang Jagat II.” Malin Kumbang berubah serius.


===


Usai menuntaskan misi ke Sanggar Sarana Sakti, Embun Kahyangan sedang dalam perjalanan kembali menuju Padepokan Kabut. Kini, di wilayah pusat Pulau Jumawa Selatan, ia menelusuri sisi luar sebuah hutan lebat. Dari pergerakan langkah kakinya, terlihat jelas bahwa ia cukup waspada dengan selalu menghindari batas wilayah hutan yang ditandai dengan lekukan curam.

Pohon pinus menjulang tinggi-tinggi. Jika melongok ke dalam hutan maka akan terasa suasana yang membuat bulu kuduk berdiri. Bahkan, di tengah hari bolong pun, hutan tersebut memancarkan suasana angker. Bersama berbagai jenis pepohonan dan tetumbuhan di dalamnya, hutan tersebut seolah dapat melahap habis sesiapa pun yang tersesat masuk ke dalamnya.

Samar-samar terdengar suara gemericik air dari dalam hutan. Kemungkinan berasal dari aliran sebuah sungai kecil. Ingin rasanya berendam di air nan jernih lagi sejuk. Akan tetapi, ia tak hendak berlama-lama di jalan, kemungkinan besar misi selanjutnya sudah menanti di perguruan. Namun, yang terpenting, Embun Kahyangan mengingat betul larangan keras dari tokoh-tokoh di perguruan agar jangan melangkah masuk ke dalam hutan itu.

Di saat asyik menjaga jarak dengan batas hutan, Embun Kahyangan mendapati sesuatu berpendar di kejauhan. Kebetulan, lokasinya berada di arah dimana ia akan lewat, yaitu masih di batas luar wilayah hutan.

Embun Kahyangan segera merasakan keberadaan ahli Kasta Perak!

Lintang Tenggara melompat keluar dari dalam gerbang dimensi milik Partai Iblis. Ia mengamati sekeliling, guna memastikan di mana dirinya berada.

“Alas Roban…,”* gumam Lintang Tenggara kepada diri sendiri. Ia sedikit terkejut.

Kakak kandung Bintang Tenggara itu segera mundur beberapa langkah. Ia hendak memastikan bahwa dirinya tak berada dalam wilayah hutan. Di saat itu pula, mata hatinya mendapati keberadaan seorang gadis belia yang melenggak-lenggok santai, persis ke arah di mana ia berdiri.

Tak ayal, Lintang Tenggara segera mengenali gadis tersebut sebagai ‘gadis kabut’ dengan kemben berwarna ungu. Ia masih mengingat seorang pembunuh bayangan yang pernah menggagalkan upaya menculik Bintang Tenggara. Gadis yang kini diketahui berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9 itu, kemungkinan besar merupakan utusan dari Ayahanda Balaputera! **

Sang Titisan Ganesha, yang selalu haus akan ilmu pengetahuan, telah menyelidiki perihal selendang batik yang berwarna ungu itu. Demikian, Lintang Tenggara telah menyimpulkan bahwa selendang batik tersebut tak lain adalah Selendang Batik Kahyangan, salah satu dari Tujuh Senjata Pusaka Baginda.

Aksamala Ganesha!

Dewa Ganesha yang merupakan perwakilan ilmu pengetahuan, selalu digambarkan sebagai manusia berkepala gajah dan berlengan empat. Pada salah satu dari keempat lengan, Dewa Ganesha memang memegang seutas tasbih atau aksamala. Walhasil, seutas gelang keemasan yang melingkar di pergelangan tangan kiri Lintang Tenggara berputar deras. Ini adalah salah satu senjata Kasta Emas milik Perguruan Gunung Agung. Setelah mendapat aliran tenaga dalam dan menerima perintah menggunakan jalinan mata hati, gelang tasbih berubah bentuk menjadi sedemikian besar. Setiap manik-manik keemasan kini berukuran sebesar buah semangka.

Lintang Tenggara siaga!

Seperti biasa, kedua mata sayu Embun Kahyangan hanya melirik sekilas. Ia tak terlalu peduli dengan siapa pun itu yang sedang bersiap untuk bertarung. Embun Kahyangan melangkah persis di depan Lintang Tenggara. Jarak mereka hanya terpaut beberapa meter.

Lintang Tenggara terpana.

Embun Kahyangan melintas… lalu melewati Lintang Tenggara.

Lintang Tenggara tertegun.

Embun Kahyangan melenggak-lenggok semakin menjauh.

“Hei!” sergah Lintang Tenggara tak habis pikir. Meski demikian, ia belum menyerang.

Embun Kahyangan bahkan tak menoleh.

Daya Tarik Bumi, Bentuk Pertama: Tangan Menggenggam Tangan!

Lintang Tenggara membuka telapak tangan ke arah gadis belia itu, kemudian merapal jurus kesaktian dengan cepat. Sepasang telapak tangan ilusi mengemuka. Sekujur tubuh Embun Kahyangan segera berada di dalam genggaman, lalu ditarik ke bawah. Sebagai pengendali daya tarik bumi, Lintang Tenggara hendak menghentikan langkah lawan.

Panca Kabut Mahameru, Bentuk Ketiga: Kabut Kalimati!

Kabut menyibak pelan di sekeliling tubuh Embun Kahyangan, dan mencegah wujud telapak tangan yang hendak menggengam erat. Biasanya, Bentuk Ketiga ini merupakan serangan untuk menghentikan gerak tubuh lawan. Akan tetapi, siapa menduga bahwa kabut tersebut dapat menahan kekuatan daya tarik bumi yang dikerahkan oleh Lintang Tenggara!

“Berhenti!” hardik Bupati Selatan dari Pulau Lima Dendam itu. Kini, ia bersiap menyerang.

“Tiada permusuhan di antara kita… Tiada manfaatnya bagi kita bertarung. Aku tak mengetahui tentang keberadaan Paman Balaputera. Demikian pula, tak seorang pun dari para tetua di Padepokan Kabut mengetahui. Paman Balaputera datang dan pergi sesuka hatinya.”


===


“Hya!”

Melompat cepat, adalah seorang gadis belia yang sekujur tubuhnya berwarna hitam. Warna hitam tersebut sesungguhnya merupakan jalinan rambut. Bila diperhatikan, maka tak sulit untuk mengetahui bahwa hanya jalinan rambut itulah yang menjadi pakaian bagi sang gadis belia. Bila diteliti dengan lebih seksama lagi, maka dari waktu ke waktu jalinan rambut akan sedikit tersibak karena pergerakan tubuh, sehingga memaparkan kulit putih mulus.

Kembali kepada ‘gerakan’ gadis belia yang melompat lincah, bentuk tubuhnya sangat proporsional. Enam jalinan kesaktian unsur  kesaktian rambut menebar membentuk wujud kelopak bunga melati hitam, lalu mengembang ke segala penjuru arah. Ada yang digunakan untuk membantu gerak, serta ada yang dimanfaatkan untuk menyerang. Jalinan-jalinan rambut tersebut terlihat perkasa melibas dalam jarak menengah.

Di saat yang sama, alunan nada alat musik sampe, terdengar mengalun. Alunan musik tersebut datang dari seorang gadis belia yang lain. Mengenakan kemben yang membalut tubuh cukup berisi, ia pun memainkan alat musik sampe degan piawai. Sebagai pengingat, sampe adalah alat musik mirip gitar yang khas dan berasal dari Pulau Belantara Pusat. Meski demikian, cara memainkan sampe berbeda dengan cara memainkan gitar. Sampe mensyaratkan agar jemari-jemari di kedua belah lengan memetik dawai senar.

Unsur getaran bunyi yang dikeluarkan, kemudian terlihat mengambil wujud selembar daun raksasa yang bersifat ilusi. Uniknya lagi, karena merupakan unsur kesaktian getaran bunyi, daun raksasa dapat muncul dan hilang -- berpindah-pindah tempat -- sesuai kehendak perapalnya. Daun raksasa itulah yang membentengi tubuh gadis yang dibalut jalinan rambut dalam menghadapi lawan.

Kombinasi Melati Dara dan Dahlia Tembang menghasilkan serangan dan pertahanan yang berkesinambungan. Jalinan rambut menyerang, getaran bunyi bertahan. Berkat perisai getaran bunyi yang berwujud daun raksasa, jalinan kelopak rambut yang berwujud melati dapat sepenuhnya diarahkan untuk menyerang.

Di hadapan kedua gadis belia tersebut, seorang remaja lelaki bergerak tangkas. Rambutnya acak-acakan, walau wajahnya demikian tampan. Berwajah putih pucat dan terdapat garis hitam di kantung matanya, sehingga sedikit menodai ketampanan karena memberi kesan kejam dan dingin. Sebagai tambahan, saat ini remaja tersebut tiada mengenakan Jubah Hitam Kelam untuk menyamarkan aura dan sedikit mengubah penampilan.

Remaja lelaki itu tak lain adalah Elang Wuruk, Putra Mahkota Negeri Dua Samudera. Ia adalah keturunan langsung dari Gadjah Mada Sang Maha Patih dan Tritungga Bhuwanadewi Sang Permaisuri. Kedua tokoh tersebut sempat bertahta dan memerintah di Negeri Dua Samudera.

Elang Wuruk, meski demikian, telah melepas status sebagai Putra Mahkota. Baginya, nama Elang Wuruk mewakili sosok masa lalu yang telah lama mati. Demikian, bukan hanya nama yang sudah mati, ia juga telah menanggalkan nilai-nilai kebenaran, serta meninggalkan prinsip Sejak terbebas dari Kepompong Sutera Lestari secara tak disengaja, ia telah menyatakan diri sebagai… Kum Kecho!

Kum Kecho meladeni Melati Dara dan Dahlia Tembang dalam latih tarung. Ketiganya masih berada di dalam dimensi berlatih yang serba putih nan bercahaya. Ruang dimensi ini diketahui sebagai milik Sang Maha Patih karena dihadiahi oleh istrinya, Sang Permaisuri. Unsur tenaga alam di dalam sini melimpah-ruah.

Biasanya, Kum Kecho bertarung dengan memanfaatkan berbagai jenis binatang siluman. Tidak kali ini. Remaja tersebut bergerak lincah. Meski tak terlihat senang, ia menghunuskan telapak tangan dalam melancarkan jurus Tapak Suci. Walaupun demikian, ia masih terlihat canggung dalam bergerak. Ia menyadari bahwa tubuhnya masih perlu banyak berlatih gerak akibat selama ratusan tahun tertidur di dalam kepompong raksasa yang berfungsi sebagai segel ruang dan waktu.

Enam jam berlalu. Ketiganya masih bertarung seperti biasa.

Duabelas jam berlalu. Tenaga alam yang melimpah-ruah dan mengisi mustika tenaga dalam membuat ketiganya dapat bertarung terus-menerus.

Sehari semalam berlalu. Mental Dahlia Tembang mulai kelelahan, dan tubuh Melati Dara mulai kepanasan. Walau mustika tenaga dalam dapat terus terisi, berlama-lama bertarung justru melemahkan kondisi mental dan tubuh.

Dua hari dua malam berlalu. Dahlia Tembang jatuh terjerembab, kepalanya seolah sebentar lagi akan pecah. Tak jauh, Melati Dara tertelungkup tak berdaya. Bahkan, jalinan rambut sudah tak lagi dapat melilit tubuh yang telanjang bulat.

“Kita hanya akan meninggalkan ruang dimensi ini bilamana kalian dapat bertahan bertarung selama tiga hari dan tiga malam.”

Kedua gadis belia, lawan bicara dan latih tarung Kum Kecho, bahkan tak kuasa menanggapi. Yang terdengar hanyalah deru suara napas, seolah menentang habis-habisan akan keputusan berlatih tarung selama ‘tiga hari dan tiga malam’.

“Di saat itu… kita akan mengambil alih sebuah perguruan.”


Catatan:

*) Di dunia paralel yang berbeda, ‘Alas Roban’ merupakan jalur perjalanan yang dikenal angker. Jalanannya agak curam dan berkelok-kelok, serta di sisi kiri dan kanan sepanjang jalan banyak ditumbuhi pohon-pohon besar nan tinggi. Di jalur yang menghubungkan Jawa Barat dan Jawa Tengah ini, sering berlangsung kejadian-kejadian mistis yang tidak bisa dijelaskan.

**) Episode 54-57


Cuap-cuap:

Babak Kelima dari Buku 1 – Perunggu, akhirnya rampung sudah. Kita akan segera masuk ke Buku 2 – Perak. Ya, Bintang Tenggara memang belum berada pada Kasta Perak. Di Buku 2 inilah nantinya ia diharapkan naik kasta. Itu pun hanya dapat tercapai jikalau ia rajin berlatih dan mendengar arahan Super Guru Komodo Nagaradja.

Sayangnya, pengarang yang budiman ini terpaksa mengambil waktu untuk beristirahat karena kebetulan ada penugasan ke luar kota. Sebenarnya bukanlah kebetulan, namun sudah direncanakan agar pekerjaan dan menulis tak saling bertabrakan.

Legenda Lamafa akan kembali pada Senin, 13 November 2017.

Silakan bagi para ahli baca sekalian memanfaatkan kesempatan yang tersedia untuk kembali membaca ulang kisah Legenda Lamafa ini. Hahaha…

Untuk kesekian kalinya, terima kasih sudah bersedia dan setia mengikuti.

Tabik.