Episode 5 - Hari-Hari Pertama Kembali Sekolah


“Rik, gimana sih kejadiannya kok lu bisa ilang sebulan?”

“Ceritain dong, Rik.”

“Lu beneran ngga inget sama sekali?”

“Masa sih, pasti ada yang masih inget kan? Ceritain yang lu inget aja.”

Teman-teman sekolah melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu padaku sejak hari pertama kembali ke sekolah. Seakan-akan aku adalah pelancong yang baru pulang dari negeri asing nan misterius. Bahkan beberapa orang memandangiku seakan aku ini hewan langka yang berhasil lolos dari kepunahan. Takjub dan penuh rasa ingin tahu terpancar jelas dari sinar mata mereka. 

Mereka lebih tertarik pada cerita seru dibalik hilangnya diriku ketimbang pada kondisi fisik maupun kejiwaanku. Tak terkecuali para guru, mereka juga begitu antusias menggali informasi terkait hilangnya diriku. 

Meskipun telah berkali-kali kukatakan aku tidak ingat benar apa yang telah terjadi, namun hal itu sama sekali tidak mengurangi antusiasme mereka. Setiap kali aku berhadapan dengan seseorang di sekolah, kali itu juga pertanyaan-pertanyaan serupa dilontarkan padaku. 

Seiring dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, aku juga sempat mendengar berbagai spekulasi yang bermunculan. Mulai dari desas-desus bahwa aku telah menjadi korban perdagangan manusia hingga spekulasi ngawur yang melibatkan hantu dan alien. Tak pernah kusangka imajinasi kawan-kawan sekolahku bisa sampai seliar itu.

Tiba-tiba saja aku merasa menjadi seorang selebriti yang menarik perhatian semua orang di sekolah, sejak hari itu, tak seorangpun di sekolah yang tak kenal padaku. Bahkan adik dan kakak kelasku kenal siapa diriku. 

Namun bukan berarti aku merasa senang dengan popularitas dadakan ini, justru aku merasa sangat tidak nyaman dengan gangguan pertanyaan dan tatapan aneh dari semua orang. Sayangnya tidak banyak yang bisa kulakukan untuk mengatasi situsi ini. 

Beruntung hiruk-pikuk ini hanya berlangsung beberapa hari saja, setelah beberapa hari, semua hiruk-pikuk tentang menghilangnya diriku mereda hingga tak ada yang membahasnya sama sekali.

Aku juga mulai menjalani keseharian secara normal seperti biasanya, seperti sebelum aku diculik dan ‘dibunuh’ oleh Sadewo di dalam labirin bawah tanah terkutuk itu. Awalnya kupikir masalah yang menimpaku masih belum berakhir, mengingat masih ada perempuan pucat bergaun putih yang entah berada dimana dia sekarang. Namun dugaanku salah, hingga berhari-hari lamanya tidak terjadi apa-apa, seakan semua yang terjadi padaku di labirin bawah tanah itu sama sekali tidak nyata. 

“Riki, kamu mendengarkan saya?”

Bu Ratna, Guru Bimbingan Konseling menatapku dengan dahi berkerut. Guru muda yang kudengar usianya masih kepala tiga ini memanggilku datang ke ruangan BK untuk berkonsultasi siang hari ini. Sejenak aku terpana menatap wajahnya, aku akui Bu Ratna memang memiliki wajah yang menarik. Bisa dibilang, dia adalah guru primadona di sekolah.

Percaya atau tidak, bahkan beberapa murid laki-laki nekat melakukan kesalahan secara sengaja demi mendapat bimbingan konseling dari guru muda ini. Kenapa aku tahu hal itu? Ehem… karena aku salah satu pelakunya. Dimarahi secara lemah lembut oleh Bu Ratna terasa menyejukkan bagi kami.

“Iya bu,” jawabku segera.

“Ibu dengar kamu banyak berubah beberapa hari ini, semenjak… semenjak kamu menghilang kemarin.” 

“Berubah? Maksudnya bu?”

“Ya, kamu sekarang jadi lebih pendiam dan menyendiri. Kamu juga sering kelihatan melamun.”

“Eh…”

Aku tidak tahu mesti menjawab apa, aku tak pernah menyadari kalau orang-orang di sekitarku menganggapku sudah banyak berubah.

“Kamu juga lebih sering terlihat murung…” Bu Ratna menggeser duduknya lebih dekat padaku, kemudian kembali berkata dengan lembut, “Ibu mengerti pengalaman yang kamu rasakan sewaktu kamu menghilang pasti sangat tidak menyenangkan.”

Kata-kata Bu Ratna tidak sepenuhnya salah, meskipun dipermukaan aku selalu mengatakan bahwa aku tidak ingat dengan kejadian yang menimpaku ketika di culik, namun sebenarnya aku masih bisa mengingat kejadian tersebut. Jadi wajarnya jika aku mengalami trauma. Tapi sebenarnya, bukan kejadian penculikan itu yang menyebabkanku banyak merenung. 

Anehnya, aku tidak mengalami trauma berat akibat kejadian penculikan selama satu bulan itu. Setidaknya aku tidak dihantui mimpi buruk setiap malam akibat kejadian tersebut. Aku sendiri cukup terkejut pada betapa tenangnya diriku.

Yang menjadi penyebab utama kenapa aku lebih sering merenung adalah karena merasakan adanya perubahan pada tubuhku. Seakan tubuhku ada yang tidak sesuai dengan tubuhku. Meskipun saat di cek semua normal sebagaimana manusia biasa pada umumnya, tapi aku selalu merasa tubuhku terlalu lemah, begitu rapuh, begitu mudah dihancurkan. Ada sesuatu di bagian terdalam tubuhku, sesuatu yang kuat, yang dapat meledak dan menghancurkan tubuhku sewaktu-waktu. Namun kurasa tak perlu menceritakannya pada Bu Ratna. 

“Kalau ada yang mau kamu bicarakan, ibu bersedia mendengarkan. Mungkin ibu bisa memberikan solusi ke kamu,” sambung Bu Ratna.

Aku hanya bisa menundukkan kepala sedikit sambil tersenyum tipis. Tapi tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Dan tampaknya Bu Ratna mengerti kalau aku tidak ingin membicarakannya sekarang, dia tidak memaksa dan mempersilahkanku keluar dari ruang BK setelah memberikan beberapa nasihat tambahan padaku. Aku bergegas keluar dari ruang BK sambil mengucapkan terima kasih.

“Rik, kamu sebaiknya bergaul sama teman-teman kamu lagi. Jangan menghindari mereka. Itu bagus buat membantu menghilangkan trauma kamu.” Suara Bu Ratna kembali terdengar ketika aku melangkah keluar dari ruangan.

Karena masih belum jam pulang, aku segera kembali ke kelas dan melanjutkan pelajaran sekolah. 

“Kenapa Rik dipanggil Bu Ratna?” Adi, temanku sebangku segera menginterogasiku bahkan sebelum aku benar-benar duduk. 

“Biasa, ngomongin soal gue ilang sebulan.” jawabku sambil membuka buku pelajaran. 

“Ooo…” Adi tak lagi melanjutkan pertanyaannya. Mungkin karena dia segera sadar, jawaban barusan adalah informasi terbaik yang bisa dia dapatkan terkait soal perbincanganku dengan bu Ratna di ruang BK. 

Setelah itu, kembali kulewati hari ini secara normal hingga bel pulang sekolah berbunyi. Akan tetapi, mengingat pembicaraan dengan Bu Ratna siang tadi tentang betapa berubahnya diriku dimata teman-teman dan guru setelah hilangnya diriku selama sebulan, aku yang sebenarnya ingin langsung pulang ke rumah memutuskan ikut nongkrong sebentar bersama dengan kawan-kawanku sepulang sekolah. 

Tempat tongkrongan kami tidak terlalu jauh dari sekolah. Di depan sebuah warteg sekitar 200 meter dari gedung sekolah. Biasanya teman-teman sekolahku duduk atau nongkrong sambil bercanda, beberapa yang memiliki nyali lebih, setelah yakin guru-guru tidak akan ada yang lewat tempat tongkorangan, mencoba-coba menghisap sebatang rokok di mulut mereka, meskipun cara menyalakannya saja masih terlihat kaku. 

“Ton, motor lu masih belum keluar dari bengkel bro?” 

“Udah, tapi gue udah ngga boleh bawa motor lagi sama bokap.”

“Lagian si lu, naik motor udah kayak punya ilmu kebal aja. Untung lu masih hidup.”

Sewaktu aku menghilang dari sekolah, Toni, temanku beda kelas mengalami kecelakaan cukup parah. Motornya rusak parah karena masuk ke selokan setelah si pengemudi kehilangan kendali, beruntung dia hanya mengalami patah kaki dan luka sobek di tangan. Hingga kini jalannya masih terpincang-pincang menggunakan alat bantu jalan.

“Eh Rik, motor lu ngga ketemu lagi.” Tiba-tiba seseorang menanyakan soal motorku.

“Ngga ketemu, pasrah aja gue,” jawabku singkat.

“Tuh Ton, seenggaknya ada yang senasib sama lu,” celetuk yang lain. 

Beberapa orang tidak bisa menahan tawa mereka, tak perduli pada penderitaanku dan Toni, mereka terbahak-bahak sambil menunjuk kami berdua. Kami hanya bisa meringis sambil garuk-garuk kepala. 

Ternyata yang dikatakan Bu Ratna benar, ngobrol asik dengan teman-teman berhasil mengurangi beban pikiranku, perasaanku juga jadi lebih rileks.

Namun, tanpa disadari Riki yang sedang asik nongkrong dengan kawan-kawan sekolahnya. Beberapa orang laki-laki tampak serius memperhatikan dirinya dari kejauhan.

“Abang yakin anak sekolahan itu yang kita cari bang?” Laki-laki berbadan padat gempal yang berdiri di samping seorang lelaki paruh baya kurus bertanya sambil memiringkan kepalanya.

Laki-laki kurus yang ditanya tak segera menjawab, dia memanyunkan bibirnya sambil mengerenyit. Tampaknya dia sendiri bingung menjawab pertanyaan lelaki berbadan padat gempal disampingnya. Di belakang mereka, ada tiga laki-laki ikut memperhatikan Riki dengan wajah tegang. 

“Aku merasakan aura tenaga dalam dari tubuhnya, karakteristiknya mirip dengan tenaga dalam Sekte Pulau Arwah, tapi juga berbeda…” Akhirnya laki-laki kurus memberikan jawaban.

“Tapi…” Si laki-laki gempal tampak semakin ragu, “Sepertinya dia masih belum berhasil mencapai penguasaan tenaga luar… apa iya dia benar-benar murid Sekte Pulau Arwah?”

Si laki-laki kurus segera memalingkan wajahnya pada lelaki gempal disebelahnya, wajahnya memerah, entah marah atau malu karena lelaki gempal meragukan penilaiannya. 

“Udin, kau meragukan kemampuanku?”

Lelaki gempal yang ternyata bernama Sarwo terkesiap, dia segera menyadari kesalahan besar yang baru saja dilakukannya. Dia segera merapatkan kedua tangannya di atas dahi sambil menunduk ke arah lelaki kurus, “Ampun bang Sarwo, saya tidak berani… saya tidak berani.”

“Apa yang kau lakukan? Turunkan tanganmu! Ini dunia awam.” Lelaki kurus yang dipanggil bang Sarwo mundur setengah langkah sambil menunjukkan ekspresi jijik.

Udin segera menurunkan kembali tangannya, butir-butir keringat dingin membasahi punggung bajunya. Orang-orang yang berdiri di belakang Udin dan Sarwo hanya dapat menelan ludah, namun tidak mengatakan apa-apa. 

Sarwo mendengus pelan, “Bawa anak itu mendekat kemari.”

“Siap bang!” Udin segera memberi isyarat pada salah seorang lelaki yang berdiri di belakang dengan kepalanya. 

Orang yang dimaksud segera paham arti isyarat Udin, tanpa banyak bicara, dia berjalan cepat menuju tempat Riki dan kawan-kawannya nongkrong. Hanya dalam sekejap saja dia sudah sampai di depan warteg. 

Awalnya Riki dan teman-temannya sama sekali tak menaruh curiga terhadap orang itu, apalagi orang yang diperintahkan Udin berperawakan biasa-biasa saja. Tipe orang yang akan cepat dilupakan ditengah keramaian. Mereka tetap bercanda dan tertawa seperti biasanya. Namun tawa dan canda itu lenyap seketika saat orang suruhan Udin berdiri di hadapan Riki sambil menepuk pundaknya pelan.

“Bocah!”