Episode 4 - Normal, tapi Sedikit Berbeda



Aku masih ingat ketika pertama kali mengenal perasaan suka terhadap lawan jenis, pada saat itu aku masih kelas enam SD. Cepat sekali bukan? Tapi tidak juga, kawan-kawanku malah ada yang mengaku kalau dirinya sudah berpacaran sejak kelas dua SD.

Pada saat itu, ada murid baru di sekolah kami, dan akulah yang pertama melihat murid baru itu. Waktu itu aku terlambat masuk kelas setelah jam istirahat. Saat tengah berlari menuju ke kelas, tiba-tiba saja tali sepatuku lepas. Tentu saja aku segera merunduk dan mengikatkan kembali tali sepatuku. Pada saat itulah dia datang, gadis yang menjadi cinta pertamaku. 

Dia berjalan melewatiku bersama dengan seorang guru yang membimbingnya memasuki ruangan kelas. Meski hanya sekilas saja, aku segera terpana melihat wajahnya. Tapi jika kalian pikir kecantikannya itu seperti artis-artis terkenal, kalian salah besar. Dia seperti perempuan lain pada umumnya, hanya sedikit lebih imut. Yang paling menarik buatku adalah rambut hitamnya, dibelah pinggir dan dikuncir, kemudian rambut kuncirnya itu disampirkan ke depan.

Meskipun pada akhirnya kami sama sekali tidak pernah saling bicara dan dia justru berpacaran dengan orang lain, tapi ingatan tentang cinta pertamaku adalah sesuatu yang akan selalu kukenang. 

Demikian juga dengan gadis berpakaian putih yang mendekatiku di labirin bawah tanah itu. Peristiwa pertemuan dengannya di akhir hidupku akan menjadi kenangan tak terlupakan. Setidaknya, ada sedikit hal indah di akhir hidupku yang buruk. Sesuatu yang membuatku bisa tersenyum kecil pada saat-saat terakhir.

Mungkin karena memori itu pula aku tidak lagi terjepit dalam gelap dan tersiksa dalam dunia darah. Kali ini aku merasa seperti bayi yang tertidur di kasur empuk. Dalam kenyamanan itu, kubuka mataku perlahan-lahan dan menikmati cahaya putih temaram yang menyeruak masuk ke penglihatanku. Ada tirai putih di kanan dan selang infus di sebelah kiri. Nyaman sekali….. aku kembali memejamkan mataku perlahan. 

Tunggu dulu! Tirai putih dan selang infus? Segera kubuka lagi mata lebar-lebar. Aku tak lagi berada di dalam labirin bawah tanah terkutuk itu? Dan aku, lagi-lagi, belum mati!

Tak perlu waktu lama untuk menyadari kalau saat ini aku berada di ruang rawat rumah sakit. Kuedarkan pandangan ke sekitar, semuanya tampak normal. 

“Riki, kamu sudah sadar!” 

Tiba-tiba sebuah jeritan kecil terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu ruang rawat. Perempuan usia 40-an masuk dengan tergopoh-gopoh sambil berurai air mata, dia segera menubruk dan memeluk tubuhku erat-erat.

“Bunda...” aku bergumam kaget.

Dibelakang perempuan itu, seorang laki-laki paruh baya memandangiku dengan mata berkaca-kaca. Namun tak sepatah katapun keluar dari mulutnya, hanya sedikit senyuman yang bergetar. Ayah... 

Kemudian disusul masuknya seorang anak perempuan mengenakan seragam SMP. Dia memandangiku dengan khawatir dan penuh rasa ingin tahu. Dia adik perempuanku. 

“Riki, kamu tidak apa-apa nak? Syukurlah kamu baik-baik saja, bunda khawatir nak. Kamu kemana saja selama ini? Apa yang terjadi denganmu?” tanya bunda sesenggukan.

Aku memandangi sekujur tubuhku sendiri, semuanya utuh. Keriput di tubuhku juga sudah jauh berkurang. 

“Apa yang terjadi, kenapa Riki ada di rumah sakit Bun?” Aku tidak menjawab pertanyaan bunda, aku belum siap menjawabnya. Maka kuajukan pertanyaan pada orang tuaku, aku benar-benar ingin tahu kenapa tiba-tiba bisa berada di ruang rawat rumah sakit. Lengkap dengan kedua orang tua dan adik perempuanku. Meskipun sebenarnya belum terlalu lengkap karena aku tidak melihat kedua kakakku. 

“Kamu sudah menghilang selama sebulan Rik, sejak kamu nonton bioskop waktu itu. Kami sudah mencari kamu kemana-mana, tapi kami tidak berhasil menemukan kamu. Lalu dua hari yang lalu, tiba-tiba saja kamu ditemukan terbaring di depan kantor polisi di luar kota. Untung dompet kamu tidak hilang jadi polisi bisa cepat mengidentifikasi kamu,” ujar bunda sambil terus sesenggukan. Dia berhenti sebentar untuk bernafas, kemudian lanjut berbicara.

“Tapi waktu itu kamu kekurangan darah, kata dokter kemungkinan darah kamu di sedot sampai hampir habis. Untung stok darah untuk tipe O ada cukup banyak, jadi kamu bisa segera diselamatkan. Polisi bilang mungkin kamu jadi korban perdagangan manusia untuk di ambil organ tubuhnya. Tapi untungnya, setelah diperiksa oleh dokter. Organ tubuh kamu masih lengkap.” 

Pada saat itu, tangis ibuku langsung meledak. Dan adik perempuanku tampak sangat ketakutan sampai-sampai bersembunyi dibalik punggung ayahku. 

Mendengar cerita ibuku, entah kenapa aku bukannya takut atau gemetar ketakutan, justru aku malah ingin tertawa terbahak-bahak. Aku sendiri bingung kenapa aku malah ingin tertawa, harusnya aku bersimpati dengan kesedihan orang tuaku. Dan cerita yang barusan dituturkan ibuku sama sekali tidak lucu. Tapi aku ingin tertawa. Mungkin karena aku merasa bahagia berhasil lepas dari kematian, dua kali!

Tentu saja aku berusaha keras menahan tawaku, tapi tak ayal bibirku menyunggingkan sebuah seringai. 

Mungkin karena melihatku menyeringai aneh, atau karena hal lain, adikku segera berlari keluar dari ruang rawat. Ayahku segera menyusulnya. 

“Riki ngga papa bun, Riki baik-baik saja,” akhirnya aku berkata pelan, berusaha menenangkan bunda. 

Bunda mengangguk-ngangguk pelan, kemudian melepaskan pelukannya pada tubuhku. Aku merasa sedikit lega, jujur saja aku merasa sangat jengah dipeluk seperti itu. Meskipun oleh orang tuaku sendiri. 

“Sebenarnya, apa yang terjadi sama kamu Rik?” bunda kembali mengulang pertanyaan itu. 

Tapi aku hanya menggelengkan kepala dengan memasang wajah kosong dan bingung. Meskipun aku mengingat setiap detil kejadian yang kualami, tapi aku tidak berminat untuk menceritakannya. Karena itu lebih baik aku berpura-pura tidak mengingatnya. 

Bunda agak sedikit bingung, namun dia tak lagi mengejarku dengan pertanyaan mengenai kejadian yang kualami. 

“Polisi bilang mereka akan menanyai kamu setelah kamu sadar. Kamu jangan takut ya, mereka tidak akan memaksa kamu,” ucap bunda akhirnya. 

Aku mengangguk pelan. Aku tahu, cepat atau lambat pihak kepolisian akan menginterogasiku. Menghilang selama satu bulan dan tiba-tiba muncul di depan kantor polisi dalam keadaan hampir mati, mustahil jika mereka tidak berniat menginterogasiku. 

“O iya, teman-teman kamu juga kemarin sempat datang. Mereka mendoakan supaya kamu lekas sembuh.” 

Aku tersenyum tipis mendengar kabar tersebut, sedikit banyak aku merasa cukup senang mengetahui kawan-kawanku peduli pada keadaanku. Meskipun mungkin sebagian dari mereka datang karena terpaksa, mungkin saja. 

Tiba-tiba ayahku kembali datang ke ruang rawat, kali ini ada seorang dokter dan dua perawat bersamanya. Sang dokter segera mendekatiku, setelah permisi pada ibuku, dokter tersebut mulai melakukan pemeriksaan pada diriku.

“Ada keluhan?” tanya dokter sambil menyorotkan senter ke mata kiri dan kananku. Lalu memeriksa denyut nadiku.

“Ngga dok,” jawabku pelan.

“Coba ambil nafas dalam-dalam.” Ujar dokter lagi sambil meletakkan stetoskop ke dadaku. 

Kuturuti permintaannya dan menarik nafas dalam-dalam. 

“Pusing?” tanya dokter lagi.

“Ngga,” jawabku lagi.

Dokter itu mengangguk, lalu melepaskan stetoskop dari dadaku. 

“Anak ibu dan bapak sepertinya baik-baik saja, tapi perlu istirahat beberapa hari lagi. Asupan gizinya perlu dijaga supaya kondisi tubuhnya bisa kembali normal,” ujar dokter pada kedua orang tuaku.

Setelah itu, dokter dan kedua perawat kembali pergi meninggalkan ruang rawat. Aku kembali melihat tubuhku sendiri. “Normal?” ujarku dalam hati.

Jika tadi bunda berkata aku menghilang selama satu bulan, bukankah itu berarti aku tidak makan dan minum selama satu bulan? Karena selama di labirin bawah tanah aku sama sekali tidak makan dan minum. Bagaimana mungkin manusia normal bisa bertahan hidup tanpa makan dan minum selama satu bulan? Dokter pasti sudah melakukan general check up pada diriku, jika dia bilang kondisi tubuhku normal, berarti aku memang masih normal. Masih manusia biasa. Tapi mungkin agak sedikit berbeda. 

Aku menghela nafas perlahan. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhku, tapi kuharap semuanya akan baik-baik saja. 

“Sebaiknya kamu istirahat lagi, Rik,” ujar bunda sambil membetulkan letak bantalku. 

“Iya Bun,” ujarku sambil berbaring dan kembali memejamkan mata. 

Keesokan harinya, dua orang anggota polisi mendatangiku. Mereka menanyakan berbagai macam pertanyaan padaku, aku sampai heran darimana mereka bisa dapat pertanyaan sebanyak itu. Salah satu pertanyaan mereka tentu saja tentang kejadian yang kualami selama aku hilang, tapi aku katakan pada mereka aku sama sekali tidak ingat kejadian tersebut. 

Bukannya aku ingin berlagak menyembunyikan informasi pada pihak kepolisian, tapi karena aku yakin sekali seandainya kuceritakan kejadian sebenarnya pada mereka, bapak-bapak kepolisian ini justru akan menganggapku gila. Disisi lain, jika aku mengarang cerita palsu, aku yakin sekali mereka akan segera mengendus kebohonganku. Maka tak ada pilihan lain selain mengatakan kalau aku tidak ingat. 

Kurasa cukup wajar jika seorang yang mengalami kejadian luar biasa buruk tiba-tiba saja lupa pada kejadian itu. Mungkin itu semacam mekanisme pertahanan otak, lebih baik menghilangkan ingatan tak menyenangkan ketimbang menjadi trauma yang menghantui sepanjang hidup. 

Dan tampaknya bapak-bapak kepolisian memiliki logika yang tak jauh berbeda denganku, buktinya mereka tidak mengejarku dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut dan hanya mengangguk-ngangguk saja. Setelah beberapa lama, mereka pamit pergi. 

Tidak banyak yang bisa kuceritakan tentang hari-hariku selanjutnya di rumah sakit, aku hanya tidur berbaring sambil menonton youtube atau bermain game di smartphone sambil memulihkan stamina tubuhku. Oh ya, kawan-kawanku datang sekali lagi untuk menjengukku, kami berbincang-bincang cukup lama. Seperti yang sudah kuduga, mereka juga mengajukan pertanyaan yang sama seperti ibuku dan bapak-bapak kepolisian. Ku jawab pula seperti jawabanku pada Ibuku dan bapak-bapak kepolisian.

Namun perbincangan kami lebih banyak tentang kejadian di sekolah, ada beberapa hal yang kulewatkan selama kepergianku. Tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak. Lagipula, apa sih yang bisa terjadi di sekolahan? Kalau tidak ulangan, si A dan si B jadian, ya paling-paling perkelahian. 

Rutinitas seperti itu kulalui selama seminggu lebih. Setiap hari dokter memeriksa kondisiku, dan setiap kali itu juga dia akan mengangguk puas oleh perkembangan kesehatanku. Akhirnya, setelah memastikan bahwa aku sudah benar-benar sehat, dokter mempersilahkanku berkemas pulang.