Episode 3 - Dunia Darah dan Gadis Berkulit Pucat


Takut, gelisah, kecewa, marah, sedih, bingung, putus asa, sepi.

Semua perasaan itu menyatu dalam waktu yang sama pada diriku, jadi ini rasanya kematian? Sungguh rasa yang sangat tidak menyenangkan. Semua gelap, gelap yang menyesakkan! Gelap ini bukan seperti gelap di ruang yang hampa, tapi seperti gelap saat kau terjebak di dalam ruang yang sangat sempit. Sesak sekali. 

Kira-kira apa yang dirasakan oleh kedua orang tuaku seandainya mereka mengetahui anaknya tewas ditusuk pisau sepulang nonton bioskop, di sebuah ruangan bawah tanah yang misterius? Apakah mereka akan sangat sedih hingga menangis berhari-hari? Ataukah mereka hanya akan berkata, “Oh..” lalu merelakan kepergianku, seperti yang kulakukan saat mengetahui salah seorang teman sekolahku meninggal atau saat nenekku meninggal? Toh masih ada dua kakak dan satu adikku.

Lalu bagaimana dengan kakak dan adikku? Dan teman-teman sekolahku? Ah, tapi mungkin mereka tidak akan sesedih itu. 

Aneh, kupikir setelah mati, tidak akan ada lagi yang perlu kukhawatirkan karena semua urusan dunia telah terputus. Tapi ternyata masih begitu banyak hal yang mengganjal di hatiku, apakah aku akan menjadi hantu penasaran karena ini?

Belum selesai aku menerka-nerka, tiba-tiba saja muncul cahaya redup di kejauhan. Cahaya itu berwarna merah, mungkin itu warna paling merah yang pernah kulihat seumur hidup… dan setelah mati.

Tiba-tiba saja kegelapan yang mengikatku perlahan mengendur, aku dapat merasakan kembali tangan dan kakiku meskipun rasanya lemas sekali. Bahkan untuk menggerakkan jemari sedikit saja aku tidak sanggup. 

Cahaya merah itu bergerak mendekatiku, tapi setelah kuperhatikan lagi, warna merah itu sama sekali bukan cahaya. Karena warna merah itu mendekatiku sambil menderu-deru layaknya ombak raksasa. Dalam sekejap, kegelapan yang menyelimutiku berubah menjadi lautan merah. Kemanapun aku memandang, hanya ada warna merah, seakan dunia memang berwarna merah. Dari cairan pekat yang menyentuhku, kusadari kalau warna merah ini adalah darah. Semuanya darah. Aku sedang berada di dunia yang terbuat dari darah! Bumi dari darah dan langit dari darah.

Di hadapanku, muncul sosok raksasa dengan warna tubuh juga merah dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Ada satu tanduk besar mencuat dari keningnya. Begitu berada di hadapanku, sosok raksasa itu mendekatkan mukanya padaku, seperti memastikan sesuatu. Kemudian dia tersenyum!

Bersamaan dengan senyumannya, tiba-tiba aku merasa seperti tersedot oleh vakum besar. Seluruh tubuhku terasa sangat sakit, rasanya seperti seluruh bagian tubuh digerinding dari dalam, sedikit demi sedikit. Setiap milimeter tubuhku, mulai dari lapisan terluar kulit hingga sumsum tulang terdalam seperti di sayat-sayat dan di remuk-remukkan. Aku tak kuasa menahan rasa sakit ini dan berteriak sekuat-kuatnya, berharap dengan teriakan ini bisa mengurangi rasa sakit yang kuderita. Tapi ternyata dugaanku salah, aku tetap merasakan sakit yang luar biasa seperti sebelumnya. 

Di tengah rasa sakit ini, aku benar-benar marah. Karena kulihat sosok raksasa merah itu hanya tersenyum memandangiku. Aku marah karena sesudah matipun aku masih juga harus merasakan sakit yang luar biasa seperti ini. Tunggu! Jangan-jangan saat ini aku sedang berada di neraka?! dan sosok raksasa ini adalah iblis jahanam yang sengaja ditugaskan hanya untuk menyiksaku. Sial, dosa apa yang kulakukan sampai harus mengalami penyiksaan sepedih ini segera setelah aku mati? 

Disaat aku mengira akan mengalami siksaan di dunia darah ini selamanya, tiba-tiba saja mataku kembali melihat cahaya redup. Aku segera mengenali cahaya redup ini, ini adalah cahaya dari obor penerangan di ruangan bawah tanah. Tunggu, apakah ini berarti aku terbangun kembali, apakah aku bangkit dari kematian? Apakah karena penyiksaan yang begitu ganasnya ini hingga ruhku kabur kembali ke dunia?

Tentu aku merasa senang jika memang hidup kembali, tapi rasa sakit biadab ini tak juga mau pergi, malah semakin menjadi-jadi. Mungkin bagi orang lain, lebih baik mati daripada mengalami siksaan sepedih ini, tapi tidak bagiku. Karena saat ini hidup dan mati sudah sama saja bagiku, toh jika aku kembali mati aku tetap akan merasakan siksaan ini di neraka darah.

Namun tanpa kuduga rasa sakit ini tiba-tiba mereda, hingga akhirnya hilang sama sekali. Mungkinkah siksaan ini berakhir? Aku sungguh berharap demikian. Namun tetap saja aku masih belum bisa menggerakkan anggota tubuhku, rasanya masih lemas sekali. 

Dan yang lebih parah lagi, meski kukira siksaan yang kualami sudah berakhir, ternyata rasa sakit di sekujur tubuhku datang lagi. Kembali aku berteriak-teriak dan mengejang-ngejang, lalu seperti tadi, rasa sakit itu kembali mengendur dan hilang lagi. Tapi kemudian rasa sakit itu datang lagi, terus begitu hingga berulang-ulang kali. Aku sendiri sudah tidak dapat menghitung lagi berapa kali aku mengalami siksaan ini. 

Sungguh aku merasa siksaan ini sudah terjadi selamanya, hingga satu kali siksaan itu kembali mengendur dan menghilang lagi. Aku hanya diam, waktu-waktu hilangnya siksaan seperti saat ini telah menjadi sesuatu yang mewah bagiku. Sehingga aku berusaha menikmatinya sebisa mungkin. 

Namun setelah aku menunggu, siksaan itu tak lagi kembali. Biasanya hanya beberapa menit kemudian siksaan itu akan datang lagi. Aku terus menunggu. 

10 menit…

30 menit…

1 jam…

2 jam...

Siksaan itu sudah tidak datang lagi? Atau jangan-jangan intervalnya jadi lebih panjang, biasanya jika kondisinya seperti ini, siksaan berikutnya akan jauh lebih dahsyat. Huhhhh…. aku hanya bisa memejamkan mata sambil melenguh pasrah. 

Tiba-tiba saja aku bisa menggerakkan anggota tubuhku kembali meskipun tetap masih terasa lemas. Apakah ini artinya siksaan itu sudah selesai? Tanpa buang-buang waktu aku segera berusaha bangkit. Dengan sempoyongan, aku berhasil bangun, segera ku edarkan pandangan ke sekeliling. Pandanganku membentur sesosok tubuh yang duduk bersandar di tembok ruangan, tak perlu waktu lama untuk menerka kalau sosok tubuh itu adalah Sadewo. Apakah dia tertidur? Ataukah sudah mati?

Bau busuk yang merasuk ke lubang hidungku mengkonfirmasi kalau Sadewo yang duduk bersandar itu sudah jadi bangkai. Apa yang terjadi padanya? Apakah dia mati karena luka yang dialaminya waktu itu? Atau karena hal lain? Ah, aku tidak tahu dan tidak berminat untuk tahu. 

Pandanganku beralih pada pisau berbentuk aneh yang tergeletak di dekat tubuh Sadewo, aku segera bergerak mengambil pisau itu untuk jaga diri. Setelah kuperhatikan tidak ada orang lain selain diriku dan mayat Sadewo di ruangan ini, aku segera berjalan menuju pintu keluar. Ini adalah kesempatan terbaik untuk melarikan diri, pikirku. 

Dan seperti yang sudah kuduga, meskipun Sadewo sudah jadi bangkai, keluar dari labirin bawah tanah ini sama sekali bukan hal yang mudah. Aku sudah berusaha mengingat sekeras mungkin arah jalan keluar yang benar, tapi tetap saja aku tidak menemukan jalan keluar yang kutuju. Ah, seandainya saja aku berlaku sedikit cerdas dan menandai jalan-jalan di labirin ini ketika pertama kali datang. Mungkin akan lebih mudah bagiku mencari jalan keluar. 

Aku juga tidak tahu sudah berapa lama aku berada dalam labirin bawah tanah, mungkin seharian, mungkin dua hari, mungkin tiga hari, mungkin juga sudah seminggu. Di kegelapan ini, aku tidak bisa membedakan siang dan malam.  

Tenggorokanku terasa kering, aku haus sekali. Namun sayangnya tak setetes airpun dapat kutemukan. Terkadang aku heran pada diriku sendiri, kenapa aku bisa bertahan selama ini tanpa makan dan minum. Tapi biarkan sajalah, selama aku masih bisa bertahan hidup, pertanyaan-pertanyaan semacam itu tak penting bagiku.

Rasa lelah menyergap tubuhku, akhirnya aku menyandarkan diri pada dinding labirin. Kuperhatikan kedua tanganku, tampak begitu kering dan keriput, seperti mummy yang telah lama berkalang tanah. Saat kusingkap pakaianku, terlihat perut yang cekungnya, rasanya kulit perutku sudah bersentuhan dengan tulang punggungku, begitu juga dengan dadaku. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?

Aku ingin menangis, meskipun laki-laki, kurasa wajar jika aku menangis dalam situasi seperti ini. Namun tak ada air mata yang keluar, mungkin karena jauh di lubuk hatiku, aku tahu menangis tidak akan menyelesaikan masalah ini. 

Apakah sebaiknya aku menyerah saja dan membiarkan diriku musnah dalam labirin terkutuk ini?

Tapi tampaknya takdir senang berselisih pendapat denganku. Karena dengan pandangan mataku yang sudah buram ini, aku dapat melihat sesosok tubuh berjalan mendekatiku. Apakah itu Sadewo? Tapi itu tak mungkin, Sadewo sudah mati. Kecuali dia jadi mayat hidup? Eh, tapi sepertinya itu bukan Sadewo.

Aku memincingkan kedua mataku, mencoba mempertajam penglihatanku, pisau dari Sadewo telah tergenggam erat di tangan kananku. Jika sosok tubuh itu adalah kawanan Sadewo, maka kali ini aku harus melakukan perlawanan. 

Sosok itu terus mendekatiku, dia berjalan tidak cepat tapi juga tidak lambat. Lama kelamaan, bayangan tubuhnya semakin jelas, dia menggunakan pakaian yang didominasi warna putih dan tubuhnya semampai, rambut legamnya dikuncir dan disampirkan kedepan. Wajahnya cantik tapi begitu pucat. Pucat bukan karena sakit atau takut, tapi karena memang warna kulitnya pucat, hampir seputih salju. 

Dalam sekejap, dia telah berdiri tepat dihadapanku. Saat mata kami saling beradu pandang, dapat kurasakan aura dingin menyelimuti tubuhku. Namun juga ada kehangatan yang menjalar kesana kemari. Apakah gadis dihadapanku ini nyata? Atau hanya ilusi akibat rasa haus, lapar, dan lelah yang menjangkiti tubuhku?

“Siapa kau?” tanyaku lemas. 

Dia tak langsung menjawab, melainkan hanya memandangi sekujur tubuhku berulang kali, kemudian pandangannya berhenti pada pisau milik Sadewo yang tergenggam di tangan kananku. 

“Beritahu aku, siapa dirimu?” Perempuan dihadapanku seakan tidak mendengar pertanyaanku. Bukannya menjawab, dia justru balik bertanya padaku.

“Aku… Aku Riki,” jawabku masih dengan lemas.

“Riki, apa kau berasal dari Sekte Pulau Arwah?”

Aku menggelengkan kepala dengan perlahan.

Gadis itu tidak bereaksi pada gelengan kepalaku, dia justru kembali bertanya.

“Kau tahu dimana pemilik pisau yang tergenggam di tangan kananmu?” 

Aku terdiam sejenak, menimbang-nimbang apa perlu aku menjawab pertanyaannya. Tapi setelah kupikir-pikir, tak ada ruginya aku memberitahukan dimana Sadewo berada. 

“Dia ada di sebuah ruangan dalam labirin ini, tapi jujur saja, aku sudah tidak tahu lagi arah ruangan itu ada dimana.”

Gadis itu kembali menatapku, lalu pandangannya kembali pada pisau di tangan kananku sebelum kemudian berkata, “Apa dia sudah tewas?”

“Ya,” jawabku singkat dan jujur. 

Dia mengangguk-nganggukkan kepalanya. Kemudian kembali berjalan menyusuri lorong labirin tanpa memperdulikanku lagi. 

Aku hanya bisa memandangi kepergiannya dengan mata sayu. Aku benar-benar lelah dan haus sekali, aku hanya ingin minum sedikit air dan tidur. Setelah kupikir-pikir, semua kejadian yang menimpaku sejak pulang dari bioskop waktu itu sungguh aneh. Apalagi ditambah dengan kedatangan gadis berkulit pucat barusan. Firasatku mengatakan semua yang kejadian kualami ini masih menyimpan lebih banyak misteri lagi. 

Tapi sepertinya aku tidak akan mengetahui misteri dibalik peristiwa yang kualami. Perlahan kupejamkan mataku, memasrahkan diriku yang tak lagi memiliki banyak tenaga. Jikapun kali ini aku benar-benar mati, kuharap aku tidak merasakan neraka darah itu lagi. Tanpa kusadari aku telah tertidur, lelap sekali.