Episode 2 - Pewaris Sekte Pulau Arwah



Lorong bawah itu jauh lebih dalam dari perkiraanku, tidak hanya itu, lorong tersebut bercabang dan berkelok-kelok seperti labirin. Aku menduga jika ada orang lain yang masuk ke dalam lorong ini, kemungkinan besar dia akan tersesat. Sekali-kali aku melihat ke arah bawah, mengantisipasi kalau-kalau ada kerangka seseorang yang terjebak dalam labirin ini. 

Akhirnya kami tiba di salah satu ruangan yang cukup besar. Ada satu tempat tidur yang terbuat dari gundukan tanah dan rak-rak kosong terbuat dari kayu yang menempel pada dinding ruangan. Tapi selain itu tidak ada apa-apa lagi. Berbeda dengan penerangan di lorong yang menggunakan api memanjang di dalam cekungan. Penerangan di ruangan ini menggunakan empat buah obor disudut ruangan yang baru dinyalakan setelah kami masuk ke dalam ruangan. 

Pria itu segera duduk di atas ranjang dari gundukan tanah. Lalu duduk bersila sambil mengatur pernapasan, tak berapa lama kemudian dia terbatuk-batuk dan memuntahkan darah. Tapi mulutnya menyeringai sambil bergumam pelan, entah apa yang digumamkan olehnya. 

Tiba-tiba dia mengalihkan pandangannya padaku.

“Siapa namamu?” tanyanya padaku. 

“Ah…” Aku sama sekali tak menyangka dia akan menanyakan namaku. Sehingga aku tidak langsung menjawab pertanyaannya. Tapi dia hanya tetap diam menunggu jawabanku.

“Namaku Riki.” Akhirnya aku menjawab pelan. 

“Hmm, Riki, seperti nama anak jaman sekarang pada umumnya,” balas pria itu pelan. Kemudian dia bertanya lagi, “Berapa usiamu?” 

“Tujuh belas tahun,” jawabku jujur. 

Pria itu mengangguk-ngangguk pelan. Seringai di mulutnya masih belum juga hilang, membuat nyaliku semakin ciut. Sejak pertama kali melihatnya, aku merasa seperti ada aura aneh yang terpancar dari dirinya, yang membuat diriku selalu diselimuti rasa takut. Seakan-akan yang ada dihadapanku bukanlah manusia, tapi predator yang bisa memangsaku kapan saja.

“Aku Sadewo.” Tiba-tiba dia memperkenalkan dirinya. 

“Eh, iya, salam kenal,” refleks kujawab.

“Riki, apa kau punya keluarga?”

“Ya, punya.” 

“Siapa saja? Orang tua? Kau juga punya adik dan kakak?”

“Bapak, Ibu, dua kakak dan seorang adik.”

Aku sama sekali tidak tahu arah pembicaraan Sadewo, kenapa tiba-tiba dia menanyakan anggota keluargaku? Kuperhatikan, nafas Sadewo yang tadinya berat semakin berat. Aku juga bisa melihat dibawah pencahayaan obor, kedua mata Sadewo semakin memerah. Secara refleks aku melangkah mundur. Mata Sadewo bergerak memperhatikan kedua kakiku, namun dia tetap tidak berbuat apa-apa. 

Tiba-tiba Sadewo mendongakkan kepalanya dan mengambil nafas panjang sambil memejamkan matanya, lalu dia kembali terbatuk dan menyemburkan darah. 

“Pak Sadewo tidak apa-apa?” Entah kenapa melihat dia memuntahkan darah membuatku khawatir dan gelisah.

Sadewo tidak menjawab pertanyaanku, dia justru tertawa mengekeh sambil menatapku. 

“Riki, apa kau tahu tentang Sekte Pulau Arwah?” tanya Sadewo tak melepaskan pandangannya dariku.

“Tidak, aku tidak tahu,.” jawabku sambil menggelengkan kepala.

Tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan aneh, Sekte Pulau Arwah? Apa itu? Sekte? Jangan-jangan Sadewo pengikut aliran sesat! Dan dia menculikku untuk di jadikan anggota atau mungkin malah dijadikan korban persembahan! 

Mendengar jawabanku, Sadewo hanya menyeringai saja. Kemudian dia kembali berbicara.

“Sekte Pulau Arwah berdiri 450 tahun lalu, sekte itu begitu termasyur di dunia persilatan, siapa yang tak tahu nama besarnya? Anggotanya mencapai ribuan orang. Dari rahimnya lahir pendekar-pendekar terhebat!”

Sdewo menceritakan Sekte Pulau Arwah dengan mata berbinar-binar meskipun wajahnya terlihat pucat. Namun tak lama kemudian air mukanya berubah sedih, tapi juga ada kemarahan di situ. 

“Sejarah panjang Sekte Pulau Arwah… Apakah pada akhirnya akan musnah hari ini?” Sadewo bergumam di sela-sela tawanya, jika diperhatikan lebih seksama, maka kau akan lihat matanya berkaca-kaca, “Aku tidak rela… aku tidak rela Sekte Pulau Arwah dihancurkan. Aku tidak rela!”

Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dia bicarakan, tapi juga tidak perduli. Secara perlahan aku kembali melangkah mundur, kukumpulkan semua keberanian yang kumiliki dan segera membalikkan badan. Namun belum sempat aku mulai berlari, tiba-tiba saja seluruh tubuhku terasa lemas. 

Aura itu lagi, aku merasa seakan ada mahkluk hitam besar dengan taring-taring ganas mencuat berdiri tepat dibelakangku. Nyawaku serasa lepas ketika Sadewo merenggut tengkuk bajuku dan melemparkanku ke belakang. Disertai suara gedebuk keras, aku terkapar di tanah. 

Seluruh tubuhku terasa sakit dan pandanganku berkunang-kunang. Tapi aku tidak punya waktu merasakan semua itu, dengan segala sisa kekuatan yang kumiliki, aku berusaha bangkit dan kembali berlari. Aku memang takut, takut sekali, gemetar ditubuhku juga belum hilang. Tapi keinginanku untuk hidup tampaknya jauh lebih kuat dari rasa takutku.

Sayangnya, gerakan Sadewo jauh lebih gesit dariku. Dengan cepat dia menginjak dadaku, kakinya terasa berat sekali, aku sama sekali tidak bisa bangkit. Ya Tuhan, apakah hidupku akan berakhir hari ini?

“Riki, aku terluka parah, hidupku tak akan lama lagi. Sayang sekali karena aku tidak akan bisa membalaskan dendamku, dendam saudara-saudaraku. Tapi Sekte Pulau Arwah tidak akan hancur, selama jurus-jurus sekte pulau arwah masih ada di dunia ini,” ujar Sadewo sambil menatapku nanar.

Kulihat tangan Sadewo bergerak ke balik pakaiannya, lalu muncul lagi dengan menggenggam pisau aneh berbentuk pasak yang tadi dia genggam saat pertama kali kami bertemu. Belum sempat aku menduga apa yang akan terjadi selanjutnya, pisau itu sudah terhujam didadaku, tepat di bagian jantung!

“Aaaaaargh….. AAAAAARRRRGHHHHHHHHHHHHH!” Aku berteriak sekuat-kuatnya. 

Rasanya tidak sesakit yang kubayangkan, tapi rasa takut akan kematianlah yang membuatku berteriak keras. Aku akan mati. Pisau itu menghujam tepat dijantungku! Di ruang bawah tanah ini aku akan menghembuskan nafas terakhirku. 

Tiba-tiba saja perjalanan hidupku selama tujuh belas tahun ini melintas di pikiranku, cepat sekali. Semua kenangan-kenangan yang membekas dalam hatiku muncul bertubi-tubi. Bayangan-bayangan orang-orang yang kucintai, dan orang-orang yang kubenci, semuanya muncul dipelupuk mataku. Jadi, ini rasanya kematian…

Tangan Riki menggenggam erat pisau yang menghujam di dadanya, kakinya menendang-nendang, kemudian mengejang. Sadewo sama sekali tidak terganggu dengan perlawanan Riki, tangannya kokoh menghujamkan pisau pasak ke jantung Riki. Perlawanan Riki tidak berlangsung lama, tangannya melemas dan kakinya berhenti mengejang. 

Setelah memastikan Riki tak lagi bergerak, Sadewo mencabut dengan kasar pisau dari jantung Riki. Darah segar segera menyembur deras dari luka di jantung Riki. Lalu, Sadewo membuat gerakan mencengkram di udara. Bersamaan dengan itu, darah yang masih ada dalam tubuh Riki seakan tertarik keluar oleh cengkraman tangan Sadewo. Terus keluar hingga seluruh tubuh Riki mulai mengkerut dan keriput. 

Setelah beberapa lama, Sadewo menghentikan gerakan mencengkramnya dan membiarkan darah yang mengalir keluar menggenangi lantai ruangan. Kemudian Sadewo menarik nafas panjang, sebelum secara mendadak menghujamkan pisau ke jantungnya sendiri!

Sambil menggigit bibirnya, Sadewo kembali mencabut pisau tersebut. Lalu seperti yang dilakukannya pada Riki, dia kembali membuat gerakan mencengkram dan memaksa darah dalam tubuhnya mengalir keluar. Namun berbeda dengan yang dia lakukan pada Riki, Sadewo tidak membuang darah yang keluar dari tubuhnya. Dengan kedua tangannya, dia membentuk darah yang melayang keluar dari tubuhnya menjadi bola. 

Lama-kelamaan bola darah tersebut semakin mengecil hingga seukuran tetesan air. Pada saat itu, muka Sadewo sudah seputih kafan. Dengan luka dalam yang dideritanya ditambah keluarnya seluruh darah dari dalam tubuhnya, harusnya dia sudah mati sejak tadi. Dia masih dapat bertahan hidup semata-mata karena tekadnya. Dengan sisa terakhir kekuatan yang dimilikinya, Sadewo mengarahkan darah yang telah dimurnikan olehnya ke jantung Riki. 

Segera setelah memasukkan darah tersebut ke dalam jantung Riki, Sadewo berbisik pelan, “Aku telah menurunkan jurus-jurus Sekte Pulau Arwah padamu. Sekarang tergantung dirimu sendiri, apakah kau sanggup bertahan dan menyerap semua ilmu tersebut. Tapi aku sangat berharap kau berhasil… Selama jurus-jurus itu ada dalam dirimu, Sekte Pulau Arwah tidak akan musnah. Riki, kini kau adalah pewaris terakhir Sekte Pulau Arwah.”

Setelah itu, dia berjalan tertatih-tatih menuju tembok ruangan kemudian duduk bersandar disana sambil memandangi tubuh kaku Riki. Berharap dapat melihat proses asimilasi jurus-jurus Sekte Pulau Arwah ditubuh Riki, namun harapan terakhir Sadewo tak terkabul karena sesaat kemudian kepala Sadewo langsung tertunduk dan tak bergerak lagi. Hanya hening yang tersisa di ruangan tersebut dan dua tubuh tanpa nyawa, satu dalam posisi terlentang dan satu lagi dalam posisi terduduk. 

Akan tetapi keheningan itu tak berlangsung lama terlalu, tubuh Riki yang telah mulai kaku tiba-tiba saja mulai gemetar. Semakin lama getarannya semakin keras, disertai dengan lolongan panjang mengerikan yang keluar dari mulut Riki. Tubuhnya mengejang keras hingga bagian perutnya terangkat keatas dan kedua tangannya mencengkram lantai tanah kuat sekali. 

Entah berapa lama RIki mengejang, tiba-tiba tubuhnya melemas dan terhempas kembali ke lantai. Suara lolongannya telah berubah menjadi suara erangan lemah. Cahaya kehidupan dimata Riki yang sempat tadi menghilang tiba-tiba kembali bersinar meskipun tidak terlalu kuat. Dadanya bergerak naik turun menandakan kalau dia kembali bernafas. 

Luka di jantung Riki secara ajaib mulai menutup kembali meskipun tidak begitu sempurna, namun keriput di tubuhnya karena kehilangan banyak darah tidak menghilang. 

Tak berapa lama kemudian Riki mulai berteriak-teriak lagi dan tubuhnya kembali mengejang kesakitan seperti tadi. Setelah itu dia kembali tenang selama beberapa saat sebelum kemudian berteriak dan mengejang lagi. Hal itu terus terjadi berulang kali hingga membentuk siklus, terus seperti itu hingga matahari terbit dan terbenam lagi. 

Waktu dengan cepat berlalu, Riki terus mengalami siklus mengerikan tersebut hingga tiga hari lamanya. Kalau saja saat itu Sadewo masih hidup, tentu dia akan sangat terkejut dengan apa yang dialami oleh Riki. Karena proses seharusnya tidak seperti yang dialami oleh Riki. Memang pihak penerima ilmu akan mengalami rasa sakit yang luar biasa akibat proses penyatuan energi dalam tubuh yang dipaksakan. Tapi tidak sampai terjadi berulang kali dan membentuk siklus seperti yang dialami oleh Riki, apalagi sampai berhari-hari.