Episode 4 - Dengarkan Saran Mereka Meski Tak Berbobot, Setidaknya Itu Menghargai Ucapan Mereka



 Hari Minggu pada cerita ini sementara dihapus, jadi langsung ke hari Senin. Ini dibuat demi memberi kenyamanan buat si Coklat yang lagi jomblo. 

 Seusai upacara Senin pagi ini, Ival, Coklat dan teman-teman satu kelasnya berkumpul di lapangan sepakbola yang berada di samping sekolah. Mereka sekelas bersiap menerima materi Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Mereka sekelas duduk di atas lapangan sambil mendengar arahan guru olahraga yang berdiri di depan. Guru olahraga nan tampan seperti Siwon membuat para siswa perempuan berteriak histeris melihatnya. 

 “Bapaaak! I love you, aaaaaaaa!” teriak siswi-siswi.

 “Bapaaak! Sarangheo!”

 “Love you, bapaaak!”

 “Love u too, semuaaaa!” teriak Coklat.

 Habis itu Coklat digebukin sama cewek-cewek lantas enggak terima dibalas love u too. Sontak saja, hidung, mata, mulut, telinga dan mulut Coklat lepas. Untung saja bagian muka Coklat yang lepas bisa balik otomatis ke tempatnya masing-masing.

  Coklat yang saat ini kebetulan duduk di samping Sweety hanya bisa memasang wajah manyunnya.

 “Pada lebay ya cewek-cewek IPA tujuh.”

 “Kenapa memangnya?” tanya Sweety.

 “Memang kamu belum sadar ya kalau ada yang lebih ganteng dari Pak Guru?”

 “Siapa, Coklat?”

 “Aku.”

 Seketika Sweety langsung hening, dia terdiam tak bisa membayangkan apa yang barusan Coklat katakan padanya.

 “Kenapa diam?”

 “Aku mau muntah dengarnya,” ucap Sweety sambil tertunduk lesu.

 “Kenapa ya cewek-cewek selalu bilang kayak gitu? Padahal aku sadar diri loh.”


 ***


 Pelajaran olahraga pun dimulai, semua siswa laki-laki berkumpul di lapangan. Mereka berkumpul untuk materi sepakbola. Terlihat guru olahraga dengan wajah cerianya berdiri di pinggir lapangan bersama para siswa perempuan di sampingnya.

 “Ahh, enaknya kalau tiap hari di sekolah kayak begini.” Senyum-senyum Pak Guru.

 Sementara Ival dan Coklat yang berdiri bersiap melakukan kick off memandang sinis Pak Guru yang di pinggir lapangan. Mereka berdua iri terhadap guru olahraga itu.

 “Dasar, guru modus,” ujar Coklat.

 “Iya, keenakan dia.”

 “Gue juga mau kayak gitu.”

 “Heh cepat mulai!” teriak Pak Guru.

 “Iya, Pak.”

 Priiit! 

 Peluit berbunyi, tanda kick off sudah dimulai. Coklat membagi bola kepada Ival. Ival lalu membagi bola kepada teman yang lain di belakangnya. Temannya itu menggiring bola ke daerah musuh dan lalu mengoper kepada Tiar. Kemudian mengoper pada temannya yang bernama Ucup. Tiba-tiba dari depan Ucup, Kojiro Yuga melakukan sliding dan priiit! Pelanggaran saudara-saudara. Ucup terjatuh. Sebagai kapten, Tisubasah Ozora tidak terima temannya di-sliding sama si Kojiro Yuga. Akhirnya mereka berdua ribut di tengah lapangan.

 “Eh, lo kalau main bola jangan kasar dong!” tegur Tisubasah pada Yuga.

 “Eh, yang namanya main bola itu wajar kalau di-sliding!” tegas Yuga.

 “Ribut hayolah!” Tisubasah enggak terima, lantas tangannya menampar pipi kanan Yuga.

 “Sakit tahu ditampar, kamu enggak merasakan apa yang aku rasakan sih. Kamu belum tahu ya, aku bisa jurus byakugan loh, aku kan keturunan Yuga,” ucap Yuga dengan berlinang air mata.

 Sejak kapan Kojiro Yuga jadi cengeng gitu?

 “Eh, itu kan Yuga yang ada di anime Naruto, lo beda keturunan!”

 “Kamu jahat!”

 Lalu Yuga berlari menuju pantai sambil memegangi pipinya yang ditampar, dia menitikan air mata. Tisubasah yang merasa kasihan sama Yuga, lalu mengejar Yuga.

 “Maafkan aku, Yugaaa!” teriak Tisubasah mengejar Yuga, dan hujan pun turun.

 Seluruh anak kelas XII IPA tujuh hanya berdiri melihat Tisubasah yang terus mengejar Yuga.

 “Hadeh, ini sebenarnya cerita apaan sih? Kemarin ada Susukue, terus sekarang ada Tisubasah sama si Yuga,” keluh Sweety, satu-satunya tokoh yang normal.


 ***


  Kita tinggalkan saja adegan menggelikan antara Yuga dan Tisubasah. Sementara itu, Coklat dan Ival sudah sudah membuat lubang berukuran 1 x 2 meter di tengah lapangan. 

 “Pak Guru, kuburan buat si Ucup udah siap nih. Kapan acaranya dimulai?” tanya Coklat.

 “Sekarang juga bisa dimulai acaranya.”

 “Eh, gue belum matiiii!” teriak Ucup.

 Ucup merintih kesakitan memegangi lututnya karena di-sliding sama si Yuga.

 “Aduh-aduh!” ujar Ucup.

 “Makanya kalau main bola jangan pelit, bagi ke teman, Cup. Tenang aja kuburan sudah siap kok, muehehehe,” ujar Coklat sambil cengengesan.

 “Dodol, gue belum matiiii!”

 Melihat siswanya merintih kesakitan, Pak Guru langsung berteriak.

 “Medis-medis! Tim medis masuk!”

 Tim medis yang diwakili oleh Sweety datang, dia membawa obat dan segera melakukan penyembuhan pada Ucup yang luka itu.

 “Sakitnya dimana?” tanya manis Sweety.

 “Sakitnya tuh di sini,” jawab Ucup sambil nunjuk hatinya.

 “Mau diobatin enggak! Becanda mulu!”

 “Iya-iya, sakitnya di sini,” kata Ucup sambil nunjuk lututnya.

 Melihat Ucup yang lagi diobatin oleh Sweety membuat Coklat juga ingin diobati. Tiba-tiba saja Coklat yang berdiri di samping Sweet langsung terjatuh sambil memegangi lututnya, dia merintih kesakitan.

 “Aduh … aduh … aduh … kakiku.”

 “Kamu kenapa, Coklat?” tanya Sweety.

 “Aku keseleo kayaknya nih.”

 “Aku obatin juga ya?”

 “Iya, boleh-boleh.”

 Melihat Coklat dan Ucup yang sedang diobati oleh Sweety, tiba-tiba saja siswa laki-laki yang lain pun turut mengeram kesakitan sambil memegangi kaki. Mereka yang kesakitan itu pada memasang wajah pilu, ada yang nangis kejer ada yang merintih sambil gigitin rumput lapangan dan ada juga yang nangis sambil guling-gulingan di lapangan.

 “Aduh … aduh … hatiku cedera.”

 “Argh … argh … medis … medis .…”

 “Aduh … aduh … hatiku ngilu nih, kayaknya keram deh.”

 Melihat siswanya pada tergeletak merintih di lapangan, Pak Guru pun langsung berlari masuk ke lapangan. Pak Guru berdiri di samping Coklat yang merintih kesakitan.

 “Gawat, mereka semua pada cedera,” ujar Pak Guru kebingungan.

 “Iya nih, Pak, kita kayaknya cedera parah aduh,” ujar Ival.

 “Hmmm, Bapak siapin kuburannya ya di tengah lapangan. Pada mau kan semua?”

 Mendengar ucapan Pak Guru barusan, akhirnya seluruh siswa laki-laki berdiri kembali dan tampak segar bugar, seperti tidak ada kejadian apapun.

 “Ah enggak, kita udah sembuh kok, Pak,” kata Ival.

 “Iya, kita sudah sembuh, Pak.”

 “Benar, kita baik-baik aja. Tuh kan enggak apa-apa, Pak,” ujar Coklat tersenyum.

 “Dasar ya, anak laki-laki IPA tujuh pada modus semua,” geram Sweety.


 ***


 Selesai pelajaran olahraga, anak IPA tujuh pada kumpul di kantin sekolah. Mereka semua masih mengenakan kaos olahraga tapi enggak termasuk yang jualan di kantin ya. Ival Coklat dan teman-teman lainnya masih duduk-duduk di bangku kantin, mereka menantikan salah satu dari teman mereka untuk membeli sebuah minuman segar. Kenapa mereka tidak langsung membeli? Karena itu bisa bahaya, ya contohnya seperti ini. Ketika itu seorang teman mereka yang bernama Ucup membeli segelas minuman segar di kantin. Dia berjalan menuju bangku kantin sambil membawa segelas minuman di tangannya. Suasana masih terlihat tenang, dia duduk dan kemudian menaruh minuman itu di atas meja. Coklat, Ival dan teman-temannya yang lain melihat Ucup dengan tatapan orang-orang yang haus.

 “Ucup udah duduk dan dia sekarang lagi bersiap-siap untuk minum, kalian tahu kan apa yang harus kita lakukan?” tanya Coklat.

 “Iya tahuuu!” serentak menjawab.

 “Seraaang!”

 Mereka serentak berlari mendekati Ucup dan tangan-tangan mereka kelaparan saling berebut minuman dari Ucup. 

 Bught baght bught baght

 Suasana yang tadinya tenang menjadi ricuh karena mereka pada rebutan segelas minuman. Ya ampun, anak IPA tujuh pada kere semua.

 “Jangan! Ini minuman akuuuu,” ucap Ucup.

 Gelas minuman itu berpindah tangan dari tangan yang satu ke tangan yang lain, hingga akhirnya sedikit demi sedikit minuman yang ada di dalam gelas itu muncrat dan habis tak tersisa. Dan ketika habis, gelas itu pun kembali ke tangan Ucup.

 “Yah minumannya habis, Cup,” kata Coklat.

 “Sorry, Cup, ya,” kata Ival.

 “Minumankuuu!” teriak Ucup sambil melihat gelasnya yang sudah kosong. 

 Sabar ya, Cup, anak IPA tujuh memang semuanya pada rese, dan semua anak-anak yang rusuh kembali berjalan meninggalkan Ucup yang masih bersedih melihat minumannya tumpah.

 Ya setelah berbuat gaduh di kantin, mereka kembali duduk di bangku kantin ini sambil menikmati segelas minuman. Ival dan Coklat yang duduk dalam satu bangku melihat Wakamiya berjalan mendatangi kantin. Dia hendak membeli sebuah rumah dan apartement. Wakamiya berjalan di hadapan Coklat dan Ival.

 “Ehmm cewek,” ujar Coklat menggoda.

 Wakamiya membiarkan godaan dari makhluk aneh bernama Coklat itu, dia terus berjalan mengalihkan wajahnya dari Coklat. 

 “Sombong nih enggak nengok,” ucap Coklat menggoda lagi.

 “Coklat, aku tuh bukannya sombong, tapi malas meladeni orang kayak kamu.”

 “Pantas aja kemarin aku manggil-manggil kamu lagi ngendarain mobil, kamu enggak nengok.”

 “Hehehe, amin kalau aku punya mobil. Gitu dong sekali-kali buat aku senang.” 

 “Eh kata kenek kamu, angkotnya udah penuh. Hahaha.”

 “Suwe!” ujar kesal Wakamiya sambil menyumpalkan buku ke mulutnya Coklat.

 “Emoh … moh … moh .…”

 “Coklat-Coklat, makanya lo enggak usah godain cewek gue, gini kan akibatnya,” kata Ival.

 “Hah? Cewek kamu! Nih makan!” Wakamiya sambil menyumpalkan buku lagi ke mulut Ival.

 “Hahaha, sukurin lo, Val.”

 Akhirnya Wakamiya berjalan kembali ke kelasnya, setelah memberi pelajaran pada dua orang aneh itu.


 ***


 Seluruh anak IPA tujuh kembali ke kelas mereka. Kini mereka sudah berganti seragam, mereka terlihat duduk rapih di bangku masing-masing. Mereka yang duduk manis bersiap-siap menyambut kedatangan Bu Riny, ya guru kesayangan Ival dan Coklat. Setelah bel tanda pergantian pelajaran berbunyi, Bu Riny pun masuk, dia masuk tepat waktu, itu terbukti ketika Coklat memegangi stopwatch di tangannya.

 “Ah tepat waktu,” kata Coklat.

 “Ini baru guru teladan,” sambut Ival.

 Mereka sampai segitunya menyambut Bu Riny tapi sudahlah. Kini Bu Riny duduk di bangkunya, dia tersenyum manis, wajahnya tampak ceria tak seperti kemarin.

 “Ibu sekarang ceria ya, enggak kayak kemarin, udah sembuh, Bu?” tanya Coklat.

 “Sudah, kamu perhatian ya sama Ibu.”

 “Ya dong, Bu. Aku tuh enggak bisa sehari aja tanpa diajarin sama Ibu, kalau enggak diajarin sama Ibu dunia ini terasa hampa. Kehampaan hatiku itu seperti malam tak berbintang, dan hanya kepiluan yang selalu menemani hari-hariku, Bu.”

 “Anak-anak, gimana kemarin diajar sama guru baru?”

 “Enggak enak, Buuuu.”

 Kasihan si Coklat dicuekin.

 Bu Riny lalu terbangun dari tempat duduknya sambil membawa selembar kertas. Di hadapan anak-anak IPA tujuh, Bu Riny memberi pengumuman.

 “Anak-anak ini ada pengumuman, bahwa besok itu hari .…”

 “Libur ya? Horeee!” celetuk Tiar kegirangan.

 “Bukan, sok tahu kamu deh. Besok itu hari .…”

 “Hari Selasa, Bu!” celetuk Coklat.

 “Huh … anak TK juga udah tahu kalau besok hari Selasa, bisa Ibu lanjutkan. Ok besok itu hari Selasa benar kata Coklat.”

 Bu Riny ternyata melawak di depan kelas. Bu Riny kembali melanjutkan pengumumannya di depan kelas.

 “Selasa besok ….”

 “Selasa besok dan Minggu itu kemarin, Bu!” celetuk Ival.

 “Iya deh, apa kata kamu aja. Selasa besok itu kita akan ada study campus di salah satu perguruan tinggi Jakarta.”

 Mendengar apa yang barusan Bu Riny katakan, seluruh anak IPA tujuh pada lompat kegirangan. Ya mereka menganggap ini sebuah liburan, dasar.

 “Horeee!”

 “Waw, jadi kita besok bakal ketemu mahasiswi kampus, Bu, ya?” tanya Coklat senang.

 “Iya betul, Coklat, kayaknya kamu senang deh kalau ketemu mahasiswi kampus.”

 “Iya dong, Bu, hehehe.”

 “Tapi sayang, mahasiswi kampusnya enggak senang ketemu sama kamu.”

 Seketika Coklat terhening, dia cuma diam sambil manyunin mukanya. Kasihan dia diledek sama Bu Riny. Bu Riny masih duduk di depan sambil membaca selembar surat di tangannya. Dia memberikan pengarahan apa-apa yang harus dilakukan dan dipersiapkan esok hari.

 “Oh iya, besok kita kumpul di sekolah jam enam pagi, itu dikarenakan perjalanan cukup jauh.”

 “Bukan jauh-jauh lagi, memang jauh banget apalagi kalau jalan kaki, beuh jauh banget,” celetuk Coklat.

 “Kamu aja yang jalan kaki sana!”

 “Bu, kita ke sananya naik apa?” tanya Sweety.

 “Kita naik bus, ramai-ramai kok, dan yang perlu diketahui kita naik busnya gratis alias tidak dipungut biaya, Ibu tahu kalau disuruh bayar kalian semua pada tidak ikut, ada alasan inilah itulah apalah. Satu lagi, kita ke sana bukan acara piknik atau rekreasi, kita belajar di sana mengenal seperti apa dunia kampus.”

 “Hmmm … berarti kalau bawa makanan ringan banyak-banyak enggak boleh ya, Bu?” tanya Tiar sambil bertopang dagu.

 “Iya, kita bawa secukupnya saja.”

 “Iyalah, Tiar, kalau bawa makanan ringan banyak-banyak itu udah jadi makanan berat,” celetuk Ival.

 “Betul, yang terpenting kita ke sana pakai baju, Bu!” seru Coklat.

 “Iya, betul itu.”

 “Pakai celana juga penting, gimana hayo kalau ke kampus cuma pakai baju doang enggak pakai celana juga? Hayooo,” ujar Ival.

 “Iya, anak SD juga tahu kalau itu mah, Ivaaal!”

 “Tapi ada yang lebih penting dari sekedar membawa baju sama celana, Bu!” seru Tiar.

 “Iya apa itu, Tiar?”

 “Bawa diri, Bu, itu penting soalnya kalau enggak bawa diri berarti enggak diajak dong, ketinggalan.”

 Bu Riny hanya terunduk lesu mendengar masukan dari mereka yang enggak berbobot.

 “Ya ya, saran dari kalian ini cukup bagus.”

 Dasar anak-anak IPA tujuh, mereka kasih saran yang enggak penting. Ada saran bawa bajulah, celanalah, bawa dirilah, memang enggak berbobot sarannya.

 Setelah memberi pengumuman untuk esok hari, kini pelajaran pun dimulai. Bu Riny membahas tentang materi matrik. Dia menerangkan di depan bla bla bla gitu. Sementara siswa-siswa memperhatikan dengan seksama dan serius. Akhirnya Bu Riny selesai menerangkan, padahal kan di kelas enggak gelap, kenapa mesti diterangkan? ‘Kan aneh.


 ***


 Sementara itu di suatu rumah, cowok yang mengaku sebagai pacarnya Bu Riny sedang berdiskusi bagaimana caranya untuk menyingkirkan seseorang yang bernama Coklat itu. Akhirnya cowok yang ngaku sebagai pacarnya Bu Riny ini punya akal, ya iyalah punya akal, namanya juga manusia.

 “Besok, kita akan ke kampus …,” kata cowok yang ngaku pacaranya Bu Riny.

 “Aduh, Bos, pusing gue sama skripsi direvisi mulu sama dosen, mending jangan ke kampus lah.”

 “Gue juga pusing sih sebenenya, tapi bukan ke kampus kita kok, tenang aja.”

 “Ngapain? Kuliah lagi? Oh tidaaaaaak!”

 “Ngawasin cewek gue, besok dia ada acara ke kampus di tempat dia ngajar, gimana? Lo semua harus ikut loh, sekalian ngerjain tuh bocah.”

 “Siap, Bos!”

 Ada rencana jahat yang akan dibuat oleh cowoknya Bu Riny terhadap Coklat dan Ival. Kira-kira rencana jahat mereka berhasilkan membuat Coklat dan Ival jera?