Episode 3 - Kadang, Jus Bisa Menggoda Iman Kita



 Di malam Sabtu yang dingin, Coklat berteman sepi. Dia lagi duduk-duduk di depan rumahnya sambil berharap ada cewek cantik yang lewat, tapi itu hanyalah sebuah harapan palsu. Enggak ada satu pun cewek cantik yang lewat depan rumah Coklat, kasihan. Dalam kesendiriannnya itu Coklat membayangkan sosok Bu Riny yang dirasa tepat untuk mengisi kekosongan hatinya. Kasihan ya Bu Riny disuruh mengisi kekosongan hatinya Coklat.

 Waktu semakin malam, Coklat bergegas pindah dari teras rumah menuju kamarnya sendiri. Di dalam kamarnya, terbesit sebuah ide untuk menuliskan puisi untuk Bu Riny. Puisi itu mengungkapkan betapa kagumnya Coklat kepada Bu Riny sejak pandangan pertama. Dia pun lalu mengambil sebuah pena dan kertas lalu tidur. Woy mana puisinya?!


 ***


 Kini di hari Sabtu pagi Coklat dan Ival sudah sampai di kelasnya. Mereka sudah duduk rapih di bangku dengan wajah yang dihiasi oleh senyuman. Di jam pertama, mereka berdua kembali bertemu dengan Bu Riny. Bel tanda masuk telah berbunyi, dan Bu Riny masuk ke kelas ini. Kali ini tampak sekali wajah murung dari Bu Riny, di tangannya terdapat goresan luka akibat terjatuh dari sepeda motor yang dikendarainya. Terus mobilnya kemana? Mobilnya sedang diservis di bengkel. Dia masuk ke kelas dan kemudian duduk di bangku depan. 

 “Yah, ketemu kalian berdua lagi,” ucap lesu Bu Riny.

 “Itu artinya kita jodoh,” kata Coklat.

 “Huek.”

 Melihat ada luka di tangan Bu Riny, Ival bergegas bertanya pada Bu Riny.

 “Ibu kenapa kok tangannya pada luka begitu?” tanya Ival.

 “Iya nih, Val, tadi pagi pas berangkat ke sekolah, Ibu jumping bawa motor.”

 “Wah, Ibu ternyata kuat ya bisa bawa motor,” celetuk Coklat.

 “Haduh, maksud Ibu itu motornya dikendarai, Naaak.”

 “Cepat bawa ke klinik itu motornya, biar dikasih obat!” seru Ival.

 “Hadoooh kamu ini, Val, Ibu yang sakit, Ibu yang lecet, Ibu yang seharusnya diobati.”

 “Tapi kan kasihan motornya juga, apalagi kalau motornya masih kredit. Rasanya itu ngenes, belum lunas belum apa eh sudah lecet duluan,” kata Coklat.

 “Iya juga sih. Benar kata kamu.”

 Wajah ceria urung disematkan Bu Riny, tampaknya luka yang dia derita membuatnya tidak bisa mengajar hari ini. Untung tak bisa ditolak rugi harus pergi itulah kata yang tepat untuk Bu Riny. Di saat bersamaan ada dua orang laki-laki paruh baya memasuki kelas ini. Satu lelaki berpenampilan rapih dengan menggunakan jas dan berkumis, satu lagi agak berwajah tua tapi tidak berkumis dan memakai sebuah peci. Dua laki-laki berjalan di depan kelas mendekati Bu Riny.

 “Hey, Anda siapa berani-beraninya deketin Bu Riny! Sini kalau berani lawan si Ival!” tegas Coklat sambil berdiri menunjukkan telunjuknya ke arah dua lelaki itu.

 “Lah, kok gue sih,” kata Ival.

 “Gue takut, Val, makanya elo aja yang lawan mereka berdua.”

 “Dih.”

 Lelaki yang berkumis itu lalu memandangi Coklat dengan tatapan serius.

 “Coklat, kamu enggak usah marah, ini kan Pak Kepala Sekolah,” ucap Bu Riny.

 “Hah? Maaf maaf, saya enggak tahu,” ucap Coklat dengan menundukkan badannya.

 Coklat duduk kembali. Kemudian Pak Kepala Sekolah memberikan pengumuman kepada siswa yang ada di dalam kelas. Entah apa itu pengumumannya, yang jelas Coklat dan Ival tidak bisa menerima kenyataan yang pahit baginya.

 “Hari ini Bu Riny tidak bisa mengajarkan kalian, karena beliau mau kencan sama Bapak, eh harus diobati maksudnya. Bapak harap kalian mengerti, mengerti semua?”

 “Tidaaak!” serentak siswa menjawab.

 “Kenapa?”

 “Karena hanya Bu Riny yang bisa mengerti perasaan kami, Pak, apalagi dikala susah dan sedih. Da itu selalu menyemangati kami, memelihara kami dengan cinta dan kasih sayangnya,” kata Coklat.

 Mendengar kata-kata dari Coklat Bu Riny pun terbang melayang, perasaannya berbunga-bunga seperti bunga bangkai yang sedang bersemi.

 “Aduh!” ucap Bu Riny yang barusan terbang terus terpentok atap kelas.

 “Kenapa, Bu?” tanya Pak Kepala Sekolah.

 “Ini lho, kata penulisnya saya disuruh terbang eh kepentok atap.”

 Waduh, kok penulis malah disalahin lagi sih? 


 ***


 Bu Riny pun meninggalkan kelas ini bersama Kepala Sekolah dan meninggalkan guru pengganti untuk siswa kelas ini. Terlihat wajah-wajah mereka bersedih melihat Bu Riny tak mengajar. Wajah mereka ada yang memble, ada yang berubah juga jadi jelek dan ada juga yang memainkan benda kental naik turun naik turun di lubang hidung.

 “Bu Riny, jangan tinggalin aku …,” ujar Coklat.

 Bu Riny tak menoleh ke arah Coklat, Coklat pun bersedih.

 Sang guru pengganti pun bersiap mengajari siswa kelas ini. Beliau duduk di atas bangku. Sebelum memulai pelajaran matematika yang akan guru itu berikan, beliau mengabsensi para siswanya terlebih dahulu.

 “Bagi nama yang bapak sebut, diharapkan bersuara ya menjawab,” ujar sang guru lelaki itu.

 “Iya, Paaak!” serentak siswa menjawab.

 “Coklat!” lantang suara Pak Guru.

 “Hadiiir!” lantang pula Coklat menjawab.

 “Yang namanya Coklat, tolong jawab hadir.” 

 “Iyaaa! Saya yang namanya Coklaaat!” 

 Meskipun Coklat sudah berteriak Pak Guru itu tetap santai menjawabnya seperti ini.

 “Sepertinya yang namanya Coklat tidak masuk hari ini, ada yang tahu dia kemana?” ucap Pak Guru sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 “Busyet dah, saya yang namanya Coklaaat!” 

 Si Coklat rupanya sudah merasa kesal ucapannya diabaikan oleh Pak Guru. Karena merasa kesal Coklat pun berdiri dan berjalan mendatangi Pak Guru yang sedang duduk di depan.

 “Pak, saya yang namanya Coklat!”

 “Kamu siapa?” 

 “Saya Coklat, Pak!”

 “Iya tenang, nanti kamu bakal diabsen juga kok, sabar ya.” 

 “Saya yang namanya Coklat, yang tadi Bapak abseeen!” 

 “Iya bapak tahu, nanti juga kamu bakal diabsensi sama Bapak, silahkan duduk kembali.”

 “Et dah, tadi nama saya udah dipanggil sama Bapak. Saya Coklaaaaaat?!” Coklat pun berteriak.

 Sabar ya Coklat sama guru seperti itu. Melihat Coklat yang memerah di depan Pak Guru, Ival sebagai temannya pun turut maju menenangkan Coklat.

 “Kamu siapa?” tanya Pak Guru.

 “Saya temannya Coklat, Pak,” jawab Ival.

 “Silahkan ya tapi jangan lama-lama ke toiletnya.” 

 “Hah? Siapa yang mau ke toilet, Pak?” Ival melongo.

 “Tuhkan, Val, ini guru kupingnya harus digali dulu biar bisa dengar!” Coklat merintih kesal.

 “Kamu juga mau ke toilet? Enggak bisa, satu-satu kalau mau ke toilet, jangan bersamaan,” ucap Pak Guru.

 Melihat Ival dan Coklat yang sudah mulai kesal sama Pak Guru yang satu ini, ada seorang perempuan teman satu kelas mereka yang bernama Sweety. Perempuan yang anggun dan manis ini berjalan mendekati Pak Guru, suara halusnya terdengar sampai ke telinga Pak Guru.

 “Pak Guruuu ….” Alunan nada manja perempuan itu menyebut Pak Guru.

 “Iya kenapa?” jawab Pak Guru.

 “Dia ini yang namanya Coklat,” ujar perempuan itu tersenyum sambil nunjuk Coklat.

 “Oh ini toh, ngomong dong dari tadi,” ucap santai Pak Guru.

 “Dari tadi udah ngomong, bapaknya aja yang enggak dengar,” ucap Coklat sambil manyun.

 “Kalau yang ini?” Pak Guru nunjuk Ival.

 “Saya Ival, Pak.”

 “Iya, iya kamu siapa namanya? Jawab.”

 “Ival, Paaak!” teriak Ival.

 “Aduh, kamu ini, Nak. Bapak kan menanyakan nama kamu, kenapa kamu jawab alamat? Aneh kamu ya.”

 “Bapak yang aneeeh!”

 Sekarang giliran Ival yang urat suaranya hampir putus karena ucapannya enggak didengar sama Pak Guru yang satu ini. Melihat itu, Sweety langsung berbicara lagi kepada Pak Guru.

 “Pak Guruuu, nama dia Ival,” ucap perempuan itu sambil tersenyum.

 “Oh Ival, ngomong dong, Val, jangan diam saja,” tandas Pak Guru.

 “Iya deh, terserah kata Bapak ajaaa!”

 “Kalau kamu sendiri siapa namanya?” tanya Pak Guru pada siswa perempuan itu.

 “Nama saya Sweety, Pak.”

 “Oh pantas, manis kayak orangnya. Ternyata namanya Sweety toh.”

 Wajah kesal terlihat dari Ival dan Coklat, gimana enggak kesal kalau sama perempuan cantik saja Pak Guru langsung ngeuh.

 “Besok-besok gue berubah jadi cewek cantik niiih!” kesal Coklat.


 ***


 Seusai mengabsensi siswa kelas ini, Pak Guru pun bersiap memulai pelajaran. Pak Guru mengambil sebuah buku pegangan dalam tasnya. Sebelum Pak Guru menyampaikan materi, tiba-tiba Uciha Susukue menyerang telinga Pak Guru tersebut dengan chidori. Alih-alih bukan budegnya yang sembuh, Pak Guru malah mati di kelas. Seluruh siswa yang berada di dalam kelas pun meneteskan air mata bahagia atas kepergian Pak Guru. 

 “Yes, dari tadi dong kayak gini. Diajarin sama dia, bisa-bisa kita mati bunuh diri. Betul enggak, teman-teman?” tanya Coklat.

 “Betuuul!” seru para siswa yang ada di dalam kelas.

 Dasar bocah durhaka! Habis itu Susukue pun pergi meninggalkan kelas tanpa merasa berdosa sedikit pun.

 “Akhirnya, aku mendapatkan mangekyu sharingan,” ucap Susukue dengan tenang kemudian pergi begitu saja.


 ***


 Istirahat tiba, Coklat tak beristirahat bareng Ival. Coklat lebih memilih menghabiskan waktu di kantin, sementara Ival di dalam kelasnya. Saat Coklat di kantin, dia duduk di bangku kantin sendirian sambil memegang selembar kertas yang berisikan puisi karyanya sendiri.

 “Kertas, kamu tahu enggak? Aku ingin sekali memberikanmu kepada Bu Riny, tapi apadayaku, aku masih diselimuti rasa takut. Aku harus bagaimana?” tanya Coklat pada selembar kertas yang dia pegang.

 “Berikan saja aku pada Bu Riny,” jawab Coklat sendiri yang mewakili si kertas.

 “Wah, kamu bisa bicara. Hebat ya.”

 “Iya dong.”

 “Tapi aku takut, bagaimana kalau kamu yang pergi sendiri ke mejanya Bu Riny di ruangan guru?"

 “Ah, aku tidak mau.”

 “Kenapa?”

 “Aku takut orang-orang melihat aku, nanti mereka kaget melihat ada kertas yang bisa jalan sendiri.”

 “Oh, iya juga ya. Baiklah, nanti aku saja yang akan mengantarkanmu kepada Bu Riny.”

 “Makasih, aku sayang kamu, mmmuuaacchh.”

 “Muuuuaaccchhh juga.”

 Para siswa yang berada di kantin cuma bisa geleng-geleng kepala.

 “Bro, beliin si Coklat obat tuh. Masa dia ngomong sendiri sama kertas.”

 “Biarin aja, nanti juga kumatnya sembuh, santai aja. Lagian juga dia enggak ganggu kita kok, masing-masing alamnya aja lah.”

 Tak berapa lama datanglah seorang yang bernama Tiar, dia pun langsung duduk berhadapan dengan Coklat. Tiar itu nama temannya yang berjenis kelamin lelaki. Dia berperawakan gemuk, ya dia paling gemuk di sekolah ini.

 “Tir, lo udah pulang lagi ke rumah?”

 “Udah, memang kenapa?”

 “Loh! Lo enggak takut kalau misalnya ada yang cari lo? Gue khawatir sama lo.”

 “Hahahaha, tenang aja gue besok kabur lagi.” Tiar ketawa senang.

 “Gue harap sih gitu, jadi lo enggak bisa disembelih, lagian juga kalau lo disembelih goloknya bisa patah, Tir.”

 “Dasar alay, hahaha.”

 “Hahaha, lo alay.”

 “Wkwkwkwkwk.” Tiar ketawa ngakak sampai guling-gulingan di bawah lantai.

 “Wkwkwkwkwk, parah lo guling-gulingan, Tir.” Coklat pun ikut-ikutan.

 “Wkwkwkwkwk, bodo amat!”


 ***


 Sementara Ival yang ada di dalam kelas berniat ingin bertemu dengan seseorang yang bernama Wakamiya, ya seorang perempuan yang pernah mereka temui ketika pulang sekolah waktu lalu. Perlu Anda ketahui Wakamiya adalah siswa sekolah ini juga, ya dia perempuan kelas dua belas IPA enam. Ival sudah sampai dan langsung duduk di samping Wakamiya dengan senyumnya yang manis, iya yang manis menurut dia tapi menurut Wakamiya senyumnya Ival pahit, pahitnya kayak pare seladang.

 “Eh, ada Ival datang, Ival mau ngapain?” tanya Wakamiya.

 “Abang Ival kangen sama kamu.”

 “Tapi aku enggak loh.”

 Entahlah saat kedatangan Ival, Wakamiya senang atau sedih hanya dia yang tahu tapi kelihatannya dia sedih dah.

 Ya ampuuun kenapa orang ini ke kelas gue, ujar Wakamiya dalam hati.

 “Betewe, kamu enggak makan di kantin?”

 “Ah enggak, aku sebenarnya lagi pengin makan martabak telur, nih tapi enggak dijual di kantin,” ucap Wakamiya sambil berharap dibelikan martabak oleh Ival.

 “Memang kamu doyan?”

 “Doyan pakai banget lagi.”

 Kenapa Wakamiya berkata seperti itu? Asal kalian tahu Wakamiya berharap dibelikan martabak oleh Ival.

 “Sebenarnya enggak enak tahu, apalagi kalau martabaknya habis.”

 “Ya iyalah kalau sudah habis enggak enak, apa yang mau dimakan?”

 “Sebenarnya ada martabak yang lebih enak dari martabak telur, kamu mau tahu itu apa?”

 “Wah, memang ada, hmmm … martabak apa?”

 “Martabak yang enak itu pas beli martabak kita lupa bayar sama abangnya enak tuh.” 

 “Enak tuh, yang ada kamu disumpahin sama tukangnya!” seru Wakamiya gregetan.

 “Kebetulan abang pernah disumpahin sama tukang martabak, katanya brengsek lo ya beli martabak enggak bayar, gue sumpahin ganteng lo! Nah itu kata tukangnya, ya abang sih terima saja sumpah kayak gitu dengan pasrah.”

 Mendengar perkataan Ival seperti itu, rasanya Wakamiya ingin muntah, kasihan dia ditemani makhluk seperti Ival.

 Itu dia Ival dan Wakamiya sedang asyik-asyiknya mengobrol, sementara di kantin Coklat dan Tiar kembali bangun setelah tadi guling-gulingan di atas lantai. Mereka kembali duduk di atas bangku melanjutkan pembicaraan mereka.

 “Tiar, gue cabut dulu ya,” ucap Coklat.

 “Sip, Klat.”

 Rupanya Coklat bergegas pergi dari kantin. Seiring langkahnya, dia berjalan menuju ruang guru untuk menemui Bu Riny. Ada senyuman yang terurai dari wajahnya ketika dia sampai di depan ruang guru. Tok tok tok, Coklat mengetuk pintu sebelum masuk. Namun sayang, Bu Riny tidak ada di dalam ruang tersebut. Dikarenakan Coklat tidak tahu mana tempat duduk Bu Riny, dia pun bertanya kepada salah satu guru.

 “Mau tanya, Pak.”

 “Iya, Coklat, tanya apa?”

 “Kursi Bu Riny yang mana ya, Pak?”

 “Oh Bu Riny itu tidak punya kursi, semua kursi di sini itu punya sekolah.”

 “Haduh, maksud Coklat tempat duduk Bu Riny yang mana, Pak?”

 “Oh bilang dong, yang di sana itu,” jawab Pak Guru sambil menunjuk tempat duduk di pojok ruang ini.

 “Makasih, Pak.”

 Apa yang dilakukan Coklat saat ini? Perlahan-lahan dia mengambil sepucuk surat dari dalam saku bajunya. Cie-cie rupanya dia menulis puisi semalam buat Bu Riny, cieee. Setelah diambil, kemudian Coklat menaruh sepucuk surat itu tepat di atas meja Bu Riny dengan harapan Bu Riny bisa membacanya. Enggak usah diharapkan, Bu Riny juga udah bisa baca, Klat. 


 ***


 Kembali ke kelas IPA enam dimana Ival masih mengobrol dengan Wakamiya. Ival begitu tampak senang bisa istirahat dengan Wakamiya yang duduk di sampingnya. Saat ini Wakamiya mengambil sebotol jus mangga buatannya sendiri, dia taruh di atas meja. Jus yang berwarna oren ini sungguh menyegarkan apalagi kalau dinikmati ketika suasana sedang panas-panasnya, nyeees segernya tuh di sini, sambil nunjuk tenggorokan.

 “Waw jus mangga, buat aku ya?” ucap Ival.

 “Enak saja buat kamu! Ini jus buatan aku sendiri tahu.”

 “Buatan kamu? Wah enggak enak tuh.”

 “Enak lah.”

 Kenapa Ival bilang enggak enak? Karena dia pengin merasakan jus buatan Wakamiya. Di hadapan Ival, Wakamiya pun langsung meminum jus buatannya.

 “Kamu pengin ya?” ucap Wakamiya menggoda Ival.

 “Enggak! Lagian buatan kamu itu enggak enak.”

 “Enak lah, cobain deh, kalau kamu minum jus ini segarnyaaaaa.”

 Ival pun tak bisa menahan keinginannya untuk mencicipi jus buatan Wakamiya, apalagi setelah digoda seperti itu. Keinginannya pun terungkap di hadapan Wakamiya.

 “Bagi dooong, kalau kamu bagi jusnya buat aku, kamu cantik deh.”

 “Aku mah udah cantik dari dulu.”

 “Kring kring kring!”

 Bel berbunyi tiga kali tanda jam istirahat sudah selesai dan semua siswa pun kembali ke kelasnya masing-masing, termasuk Ival. Ada kesedihan dalam hatinya saat dia tidak bisa mencicipi setetes jus buatan Wakamiya. Perasaan sedih itu terbawa-bawa sampai ke rumahnya. Hingga pada malam hari, Ival enggak bisa tidur gara-gara kepikiran terus sama jus buatan Wakamiya. Eh busyet sampai segitunya.