Episode 2 - Bersabarlah, Hidup Itu Penuh Cobaan

 


 Sekitar jam dua siang, bel tanda pulang sudah berbunyi. Coklat dan Ival berdua keluar kelas sama-sama, tapi ketika mereka sampai di pintu kelas, langkah mereka berhenti. Mereka saling pandang-memandang satu sama lain. Mungkinkah mereka sedang jatuh cinta?

 “Eh, Val, gue duluan yang keluar!” tegas Coklat sambil desak-desakkan badan dengan Ival.

 “Eh enggak bisa, kata yang nulisnya kita keluar bareng-bareng!”

 Enggak muat tong! Pintunya saja sempit mau keluar bareng-bareng. Haduh. 

 Akhirnya mau enggak mau, Ival mengalah. Dia mundur beberapa langkah dan membiarkan Coklat keluar terlebih dahulu, nah begitu dong baru akur.

 Setelah dari kelas, mereka berdua jalan ke parkiran sekolah. Di parkiran sekolah yang luas tersebut terpampang ratusan jenis motor. Mulai dari motor yang sudah lunas, motor hasil begal sampai motor yang masih kredit ada semua di sini. Tepat di tempat mereka berdiri, mereka merasa wah melihat banyak motor di parkiran ini, ya maklumlah selama ini mereka enggak pernah melihat motor segitu banyaknya.

 “Waaw.” Coklat terkesima.

 “Kenapa lo?” tanya Ival.

 “Motor gue tadi parkir dimana ya? Akibat kebanyakan motor, gue lupa taro motor gue di mana, dan satu lagi motor gue itu yang paling bagus di sini,” kata Coklat clingak clinguk melihat motor yang diparkir.

 “Hmmm.” 

 “Kenapa lo hemmm?”

 “Emang lo punya motor? Ngaku-ngaku punya motor bagus.”

 “Enggak.”

 “Haduh, ini lagi orang padahal enggak punya motor ngaku-ngaku punya motor. Pasti lo juga ngaku-ngaku ganteng ke semua cewek-cewek di sekolah ini.”

 “Kok lo tahu, Val?”

 “Lo kan begitu orangnya.”

 ***

 Akhirnya mereka berdua jalan meninggalkan parkiran ini, ya mereka jalan kaki. Mereka dengan akrabnya jalan kaki berdua seperti orang pacaran. Langkah mereka sudah tak terasa jauh meninggalkan sekolah. Ketika mereka sudah jauh dari sekolah dan berada di pertengahan jalan antar rumah mereka dan sekolah, tiba-tiba dari belakang terdengar suara klakson mobil. 

 Teeeeeet!

 “Minggir, Coklat, ada mobil mau lewat!” ujar Ival di sampingnya

 “Lah, enggak bisa, mobilnya aja suruh minggir.”

 “Lah?” Ival cengo.

 “Iya tadikan kata penulisnya kita ada di tengah jalan.”

 Maksudnya itu di pertengahan jalan bukannya ada di tengah-tengah jalan, kalian berdua tetap di pinggir jalan! 

 Mau enggak mau, mereka berdua pun sudah ada di pinggir. Mobil itu berhenti di samping Coklat dan Ival. Kaca mobil itu perlahan-lahan terbuka, dan terlihat Bu Riny yang ada di dalam mobil tersebut.

 “Hy, Coklat … hy, Ival …,” sapa Bu Riny.

 “Waw, Bu Riny punya mobil toh!” Coklat terkejut.

 “Iya kenapa? Kaget ya hahahaha.” Bu Riny tertawa jahat.

 “Enggak pantas, seharusnya yang punya mobil itu saya, Bu,” ujar Coklat.

 “Hahaha, kalian pengin ya? Iri ya, Ibu punya mobil terus kalian enggak punya.”

 “Oh enggak, enggak salah lagi.”

 Bu Riny terlihat gembira dari dalam mobil yang dia kendarainya itu, sepertinya dia senang meledek anak muridnya yang dua ini. Ival dan Coklat masih berdiri melongo melihat Bu Riny.

 “Bu, kita boleh numpang enggak?” tanya Ival.

 “Oh, kalian mau numpang toh, boleh. Kalian mau di depan apa mau di belakang mobil?”

 “Asyik, Val, lo mau di belakang apa di depan?” tanya Coklat.

 “Ah gue mah mau di depan aja, biar ditemani sama Bu Riny. Hehe.”

 “Oh iya, ya udah, gue juga mau. Mehehe.” 

 “Gimana, kalian mau di depan apa di belakang?” tanya kembali Bu Riny.

 “Di depan, Bu!” serentak Ival dan Coklat.

 “Oke, kalau kalian mau di depan.” Senyum Bu Riny.

 ***

 Mereka berdua terlihat tampak bahagia berada di depan mobil yang Bu Riny kendarai. Saking bahagianya, mereka berdua sampai tak bisa menahan napas yang terengah-engah. Begitu juga dengan Bu Riny, dia pun terlihat senyum-senyum sendiri.

 “Ibu enggak salah lho, ini kan kemauan kalian minta di depan mobil, hehehe,” ucap Bu Riny yang mengendarai mobilnya.

 “Hosh … hosh … kalau kayak gini mah gue enggak mau di depan mobil … hosh … hosh …,” ujar Coklat sambil engos-engosan.

 “Hosh … hosh … sama gue juga … hosh … hosh ….” 

 “Kalian sih enggak minta di dalam mobil, hehehe. Cepat larinya nanti tertabrak lho, hahaha,” ujar Bu Riny merasa senang.

 “Iyaaa, Buuu!” teriak mereka berdua.

 Ya ampun, ternyata di depan mobil itu adalah dikejar-kejar sama mobil maksudnya. Terus kalau di belakang mobil apa ya? Kita tanya sama Bu Riny kalau di belakang mobil itu apa?

 “Kalau di belakang mobil itu, mereka yang mengejar-ngejar mobil, hahaha.”

 Waduh, Bu Riny jahat. 

 Untungnya setelah mereka dikejar-kejar dalam beberapa waktu yang lumayan lama, mereka bisa menghindar dengan bersembunyi di suatu gang, gang itu membuat mobil Bu Riny tidak bisa masuk.

 “Ah, mereka masuk ke dalam gang lagi!” kesal Bu Riny.

 Sementara di dalam gang yang sempit, kumuh dan bau, mereka mencari napasnya yang hilang. Itu napas emang kebuang di mana? Kok bisa hilang.

 “Val, napas gue mana ya napas gue?”

 “Enggak tahu, lo naronya dimana?”

 “Tadi ada di mulut gue.”

 “Nah terus?”

 Coklat sejenak berpikir.

 “Oh iya, gue lupa kalau napas gue ilang, gue udah mati kali.”

 “Hah, lo bikin gue enggak jantungan aja.”

 Ketika suasana dirasa aman, mereka berdua pun meninggalkan gang ini. Mereka bergegas mencari air untuk melepas dahaga, ya tempat yang tepat di mana ada air yaitu warung.

 ***

 Seusai mereka engos-engosan di kejar sama mobil Bu Riny, mereka berniat untuk pingsan namun berhubung enggak ada satu pun cewek yang lalu lalang di sekitar mereka, akhirnya enggak jadi. Keduanya pun berhenti di suatu warung kecil yang ada di pinggir jalan lalu mereka memindahkannya ke tengah jalan dan wuuuz, seekor mobil container menabrak warung tersebut. Mobil container-nya hancur seketika. 

 Mereka berdua duduk di depan warung tersebut sambil memakan sebuah minuman segar untuk melepas rasa haus.

 “Rese tuh ya Bu Riny, gue kira benaran kita mau diajak, eh enggak tahu mah kayak gitu,” ujar Ival.

 “Iya, Val, gue juga sama, sama-sama cape huh.”

 Dari kejauhan dimana Coklat dan Ival sedang berteduh di warung, rupanya pria yang mengaku sebagai cowoknya Bu Riny sedang mengawasi mereka berdua. Dengan wajah penuh dendam, si cowok berucap sendiri.

 “Ini kesempatan gue buat kerjain tuh anak ingusan, gue akan lap ingus mereka supaya enggak ingusan lagi, aduh bukan deh. Gue akan berpura-pura sebagai sales mobil, habis itu gue tipu mereka dan mengambil semua uang mereka.” 

 ***

 Ketika mereka santai-santai di warung kecil itu, tiba-tiba ada seseorang sales datang menghampiri lalu berdiri di hadapan mereka. Sales yang berjenis kelamin laki-laki itu memakai kemeja biru, berkacamata hitam serta rambutnya yang tersisir kelimis. Pantulan sinar dari rambut sales tersebut menyilaukan mata mereka.

 “Et dah apaan tuh bikin silau?” ujar Coklat sambil tutupin matanya pakai tangan.

 “Mungkin itu matahari, ya siapa tahu mataharinya bisa pakai jurus seribu bayangan.”

 “Lagi cari mobil? Atau ada keluarga dan kerabatnya yang lagi butuh mobil? Hubungi saya, pasti saya bisa bantu,” ujar sales itu sambil memberikan selembar brosur pada mereka.

 “Sales ya, Mas?” tanya Coklat.

 “Iya, kalau mau bisa hubungi saya di nomor dalam brosur itu.”

 “Yah nomor cowok sih, coba kalau nomor cewek cakep, udah saya hubungi tuh, suer.”

 “Sama saya juga enggak apa-apa, Dek.”

 “Enggak! Saya masih normal kok.”

 “Hah!”

 Sementara Ival masih membaca brosur yang ada di tangannya itu.

 “Mobilnya dijual, Mas?”

 “Enggak dipajang doang di brosur, ya iyalah dijual. Mau pesan?”

 “Mas, kalau mobilang cinta ke gebetan tapi susah bisa bantu enggak? Tolong ya bantu saya, please,” ucap Ival.

 “Ngenes itu namanya, lagian saya ini sales mobil bukan ngurusin hal yang begituan.”

 “Ya udah, bercanda kok, hehehe. Mas, kalau saya pesan mobil jenazah satu buat si Coklat bisa?”

 “Heh, apa lo kata, Val?”

 Nyesel saya ngasih tahu ke anda ini, ternyata makhluk aneh semua yang nongol ucap dalam hati si sales sambil memasang wajah kesal kepada mereka berdua. Lalu wajah sang sales itu tertunduk di hadapan mereka.

 “Si Mas ini kayaknya senang banget layani konsumen kayak kita-kita,” ujar Coklat santai.

 “Gigi looo!”

 Terik matahari kala siang hari ini sedikit mengucurkan keringat di dalam tubuh seorang sales itu ditambah lagi bertemu dengan Ival dan Coklat yang buat dia naik darah. Untuk menenangkan emosinya, sales itu pun duduk di samping Coklat.

 “Pulang sekolah ya, De?”

 “Wih hebat si Mas bisa tahu. Pesulap ya, Mas?” tanya Coklat.

 “Bukan, kan situ pakai seragam. Eh gimana mau cari mobil atau pesan mobil enggak nih?”

 “Saya sih pengin gitu pesan mobil tapi mobilnya enggak mau saya pesan, gimana tuh?” tanya Ival.

 Sales itu hanya terdiam mendengar ocehan tak berarti dari mulut Ival.

 “Mas, kenapa diam? Saya mau cari mobil nih!” seru Coklat.

 “Mau cari mobil apa?!”

 “Saya mau cari mobilnya Bu Riny, Mas, bisa kan tolong dicari ya soalnya tadi mobilnya Bu Riny ngejar kita untungnya kita berdua bisa ngumpet.”

 “Haduh, cobaan apa lagi ini. Kok kayak beginian semua, haduh haduh.”

 “Sabar ya, hidup ini memang penuh cobaan,” ujar Coklat seraya mengusap pundak sang sales.

 Akhirnya karena enggak kuat sama keadaan, si sales pun mengangkat tangannya ke depan kamera eh enggak gitu deh, si sales itu kemudian berdiri dan dia pamit meninggalkan Coklat dan Ival yang masih di warung.

 Coklat dan Ival kemudian melanjutkan perjalanan pulang kembali. Ya mereka meninggalkan warung itu. Langkah mereka berdua teriring waktu semakin dekat dengan rumah masing-masing. Sekitar lima puluh meter lagi Coklat dan Ival sampai di rumahnya, ketika menuju jalan itu mereka tak sengaja bertemu dengan seorang perempuan yang sedang berdiri di pinggir jalan sambil senyum-senyum tapi dia enggak gila ya, perempuan itu di pinggir jalan tepat di depan rumahnya. Perempuan manis berwajah agak kejepang-jepangan, rambutnya sedikit agak kebule-bulean dan memakai baju kerombeng-rombengan. Nama perempuan itu adalah Wakamiya.

 “Hy.” Coklat menyapa.

 “Hy juga, Coklat.” Senyum Wakamiya.

 “Lagi nungguin abang ya, Neng?”

 “Huh, mimpi apa deh gue semalam ketemu lo di depan rumah,” ucap Wakamiya sambil pasang wajah tak bersemangat.

 “Senang ya ketemu abang.”

 “Au ah.” Wakamiya lalu memasang wajah cemberut. Sebenarnya sih dia malas ketemu dua orang ini tapi mau apalagi, sudah terlanjur bertemu.

 “Kamu lagi apa?” tanya Ival.

 “Aku mau pergi nonton nih tapi enggak ada yang mau bayarin, eh temani.”

 “Oh aku enggak mau loh bayarin, eh temani kamu!” seru Coklat bersemangat.

 “Ya ampun kalau enggak mau nganterin kenapa semangat banget.”

 Tanpa sebab yang jelas, Coklat lalu jongkok di depan pohon rambutan yang tak jauh dari rumah Wakamiya. Dia menangis-nangis di depan pohon itu, ketika melihat pohon rambutannya belum berbuah, gagal rencana seorang Coklat buat menyolong rambutan. Sementara Ival dan Wakamiya masih saling mengobrol.

 “Gimana kalau sama abang?” Ival menawarkan diri.

 “Yah, sama lo lagi. Lo sama dia sama-sama enggak bisa diharapkan.”

 “Padahal abang mau ngajak neng pakai mobil Lamborghini, eh nengnya enggak mau, ya sudah,” ucap Ival.

 “Prett!”