Episode 133 - Netral



Di tengah lautan, sebuah perahu pinisi dengan layar berwarna biru tua melempar sauh. Perahu tersebut dikelilingi oleh puluhan perahu dan kapal berbagai ukuran. Agaknya armada perang telah diturunkan untuk menemani pelayaran Pinisi Penakluk Samudera kali ini. Dari formasi perahu dan kapal yang kesemuanya telah merapat dan turut melempar sauh, sebentar lagi akan segera terjadi pertemuan. 

Seorang lelaki tua bertubuh besar terlihat terbang melesat dari salah satu kapal perang besar yang mengelilingi Pinisi Penakluk Samudera. Sejumlah ahli lain pun turut melesat dari kapal-kapal lain.

“Apakah kalian yakin di wilayah ini tempat salah satu Raja Angkara berdiam…?” dengus lelaki tersebut tanpa basa-basi, sesaat ia mendarat di geladak Pinisi Penakluk Samudera. 

“Yang Terhormat Laksamana Yos, kami tiada ragu. Di sinilah tempat kami berhadapan dengan Raja Angkara tersebut?” jawab Keumala Hayath sembari memberi hormat. 

“Bukan saatnya meragukan mereka…,” seorang perempuan dewasa mendarat ringan. 

“Laksamana Rantana… Sudah lebih dari sepekan kita menelusuri!” sahut Laksamana Yos. 

“Bukankah bangkai berbagai binatang siluman yang mendiami wilayah ini menjadi bukti nyata? Tak diragukan akan keberadaan ahli digdaya sekelas Raja Angkara yang sempat memangsa.” Laksamana Rantana menjawab. 

“Hmph!” 


===


“Siapakah gerangan kalian…?”

“Nenek yang siapa!? Telapak tangan kirimu aneh! Masa ada dua telapak tangan kanan di kedua lengan!?” 

“Haha… ini adalah kenang-kenangan dari seorang permaisuri…” 

“Sudah berhari-hari nenek mengikuti kami….” Sebutkan jati dirimu wahai makhluk aneh!” Si Kancil terdengar gelisah. 

“Tak penting siapa diri ini…,” tanggap perempuan setengah baya. Tubuhnya terlihat renta dan sudah bungkuk. Ia berdiri di atas seekor binatang siluman ikan pari raksasa yang melayang di udara. 

“Memang nenek tak penting!”

“Apa yang kalian lakukan di sini…?” 

“Bukan urusanmu! Mungkinkah nenek ini salah satu penggemarku? Apakah nenek hendak mendengar ceritera tentang petualangan seru nan penuh rintangan…? Ataukah hendak dikarangkan ceritera baru…?”

“Hm…?”

“Atau mungkin nenek terus mengikuti karena hendak meminta tanda tangan dari idolamu ini…?”  

“Kau cukup berani… walau hanya binatang siluman Kasta Perak Tingkat 9….” Perempuan itu melangkah maju, meski masih tetap berada di atas binatang siluman yang menjadi tunggangannya. 

“Jangan nenek remehkan aku… Aku tak gentar walau harus berhadapan dengan siluman sempurna sekalipun….” Si Kancil mundur setengah langkah. Kata-kata yang disampaikan dan tindakan yang diambil, bertentangan adanya. 

“Raja Angkara Durkarsa….” Seorang lelaki dewasa bergumam. Sedari tadi,  ia hanya mengamati dan sedang duduk bersandar di sebatang pohon besar. Kelelahan sekali sepertinya ia. 

“Oh…?” perempuan setengah baya itu tertegun. 

Setelah keberadaannya ditemukan oleh Lima Sekawan Penakluk Samudera di perairan antara Pulau Belantara Pusat dan Pulau Logam Utara, ia pun berupaya mengembalikan kekuatan. Raja Angkara Durkarsa yang dalam kondisi lemah itu memburu berbagai binatang siluman yang berdiam di lautan. Ia menyerap tenaga dalam dari mustika binatang siluman. Mulai dari binatang siluman kasta perunggu sampai binatang siluman kasta perak, bertahap ia lahap. 

Berbekal tenaga dalam seadanya, perempuan setengah baya itu kemudian bergerak cepat ke arah timur, menuju Pulau Mutiara Timur. Dalam perjalanan tersebut, ia menahan diri dari berburu binatang siluman. Karena bilamana berburu, maka akan meninggalkan jejak yang kemungkinan besar akan ditelusuri. Hal ini menjadi perlu diwaspadai karena kelima remaja yang awalnya hendak dimangsa, telah berhasil melarikan diri. Bukan tak mungkin mereka kembali dengan membawa pasukan untuk mengejar. 

Rencana Raja Angkara Durkarsa adalah melanjutkan perburuan di perairan timur, jauh dari tempat dimana dirinya diketemukan. Toh, diketahui bahwa di wilayah tersebut, jumlah binatang siluman yang mendiami lautan melimpah-ruah. Akan tetapi, saat baru mulai berburu dan menyerap mustika binatang siluman di pesisir barat Pulau Mutiara Timur, dirinya malah mendapati akan kejanggalan…

Adalah aura formasi segel yang demikian pekat terasa, tetiba binasa!

Karena penasaran, maka ia pun tertarik mencari tahu. Penyelidikan tersebut mempertemukan Raja Angkara Durkarsa dengan Si Kancil dan Balaputera. Meski tak yakin akan apa yang terjadi, ia percaya bahwa dua ahli tersebut merupakan penyebab dari kejadian janggal tersebut. Oleh karena itu, Raja Angkara Durkarsa membuntuti dari kejauhan, sampai akhirnya yak sabar mendatangi.  

“Kumohon lepaskan kami,” ucap Balaputera ringan, masih duduk bersandar di pohon. “Saat ini kau bukan lawan yang setimpal bagiku…. dan bukan pula kewajibanku untuk melibatkan diri dalam dunia persilatan dan kesaktian.” 

Raja Angkara Durkarsa tercengang. Ia tahu betul bahwa kondisi dirinya saat ini memang jauh lebih lemah daripada saat Perang Jagat dulu. Sangat, sangat lemah. Namun, hal tersebut bukan berarti ia dapat diremehkan sedemikian rupa. Saat ini, siluman sempurna yang berwujud perempuan bungkuk setengah baya tersebut berada pada Kasta Emas Tingkat 1!

“Kau menyegel aura keahlianmu sendiri. Bahkan, mata hatiku tak dapat mencerna peringkat keahlianmu….” Perempuan itu cukup waspada saat berujar kepada Balaputera. 

“Jikalau sudah tahu demikian, segera enyah dari hadapan kami!” tanggap Si Kancil penuh semangat. 

“Oh…? Sebaliknya… Hanya ahli perapal segel tingkat tinggi yang dapat menyamarkan aura keahlian tanpa bantuan benda-benda pusaka. Kalian justru membuatku penasaran!” 

“Cih!” Si Kancil mundur setengah langkah. 

“Hya!” Raja Angkara Durkarsa menghentakkan tenaga dalam. Aura kekuatan terasa demikian kental dan perkasa!

“Kancil…. Mohon ulur waktu sejenak… sembari aku melanjutkan istirahat.”

“Apa!?” 

“Blub!” tetiba sekujur tubuh Si Kancil terbungkus buih-buih kecil berwarna biru kekuning-kuningan. Buih-buih yang sedemikian merupakan buih-buih yang tercipta di saat ombak pasang laut menghantam karang. Akan tetapi, banyak sekali, dan tak segera menetas ketika terpapar angin. 

“Keparat! Bedebah! Sialan! Terkutuk!” Si Kancil terlihat berang. Segala caci dan maki ia lontarkan ke arah Balaputera. 

Buih-buih bergerak cepat. Membungkus tubuh Si Kancil yang memang mirip seekor kambing. Tubuhnya tak bisa bergerak. Bahkan, sebentar lagi kepalanya akan terbungkus jalinan buih-buih.

“Tirai Putih!” seru Si Kancil yang bak telur di ujung tanduk.

Diawali dari pupil di kedua bola mata, warna putih kemudian menjalar cepat ke sekujur tubuh binatang siluman Kasta Perak itu. Bukan cahaya, tapi warna putih. Seputih kapas. 

Seketika itu juga, jalinan buih-buih yang berwarna biru kekuningan berubah warna. Benar… seolah terjangkiti oleh warna putih, buih-buih tak ayal ikut berubah menjadi berwarna putih, seputih-putihnya putih!

“Plop!” Buih-buih putih tak lagi lengket di tubuh Si Kancil. Ada yang jatuh berguguran, ada yang melayang dibawa udara, banyak pula yang pecah. 

“Plop!” Si Kancil terlihat melompat dan mengejar buih-buih yang melayang dimainkan angin. Menggunakan moncong hidungnya, ia memecah buih-buih yang masih melayang itu. 

“Plop! Plop! Plop!” Si Kancil mulai kegirangan bermain dengan buih-buih. Ia melompat ringan ke kiri dan kanan, mengincar buih-buih yang belum pecah. Cukup lincah gerakannya. 

Perempuan setengah baya yang diketahui sebagai Raja Angkara Durkarsa tercengang! Ia kehilangan kendali atas buih-buih yang tadinya melingkupi tubuh Si Kancil. Buih-buih tersebut sudah menjadi buih-buih biasa saja. Bagaimana mungkin jurus kesaktian yang digdaya miliknya dipatahkan semudah itu!?

“Unsur kesaktian putih… menafikan unsur kesaktian apa pun…,” gumamnya kepada diri sendiri. 

Sepanjang hidupnya, baru kali ini sang Raja Angkara Durkarsa berhadapan dengan unsur kesaktian yang demikian langka. Akan tetapi, selama lebih dari seribu tahun usianya, bukan tak pernah ia mendengar desas-desus akan unsur kesaktian yang dapat menetralisir unsur kesaktian lain…. 

Di hadapan unsur kesaktian putih, tak akan ada satu pun unsur yang berlaku! Netral!

“Hya!” Tubuh renta Raja Angkara Durkarsa melompat turun dari binatang siluman pari raksasa yang merupakan tunggangannya. 

Si Kancil sudah lupa akan kesebalan hatinya terhadap Balaputera. Ia masih asyik bermain dengan unsur kesaktian buih-buih yang sudah berubah menjadi buih-buih biasa. 

“Hya!” Raja Angkara Durkarsa menyerang dengan jurus persilatan. Walau jurus kesaktian tak bisa dikerahkan, bukan berarti ia kehabisan akal. 

Si Kancil segera tersadar dari keasyikannya bermain dengan buih-buih. Ia pun melompat gesit menghindar hantaman telapak tangan lawan. 

Raja Angkara Durkarsa terus merangsek menyerang. Kendati bertubuh renta, kecepatan geraknya sangat deras. 

“Swush!” Sabetan cepat ekor binatang siluman pari raksasa berhasil dihindari pada detik-detik akhir!

Si Kancil melompat ke atas. Binatang siluman kasta perak yang kini bertubuh putih itu terlihat mulai berlari di udara. Walau, kecepatan geraknya di udara menurun drastis. Bukan tak lazim bagi ahli Kasta Perak untuk memiliki kemampuan terbang. Bahkan, tunggangan binatang siluman pari raksasa yang juga berada pada Kasta Perak dapat melayang dengan ringan. 

Raja Angkara Durkarsa melompat dan mengejar. Sang Kancil kini berhadapan dengan dua lawan sekaligus… dan sedari awal ia hanya menghindar. 

“Balaputera keparat! Aku tak bisa berlama-lama lagi dalam kondisi ini!” teriak Si Kancil sebal. 

“Swush!” Hantaman telapak tangan Raja Angkara Durkarsa hampir mendarat di tubuhnya. 

“Demikian rupanya….”

“Eh…?” Si Kancil baru tersadar bahwa dirinya telah mengungkapkan kelemahannya sendiri kepada lawan. Moncongnya terlalu mudah untuk kelepasan bicara. Kini, lawan mengetahui bahwa ia tak dapat berlama-lama dalam mengerahkan jurus kesaktian Tirai Putih! 

Dan… yang paling penting, Si Kancil sudah dapat diperkirakan tak memiliki kemampuan menyerang!

“Sial! Sial! Sial!” 

“Aku hanya ingin mengetahui kegiatan apa yang kalian lakukan dengan membuka-tutup segel…,” Raja Angkara Durkarsa berujar. 

“Baiklah!” sahut Si Kancil yang mendarat di kejauhan. 

Raja Angkara Durkarsa mendarat ringan di atas binatang siluman pari raksasa. Meski mengetahui akan kelemahan Si Kancil, binatang siluman itu cukup gesit, bahkan di saat menghindar dari serangan dua arah. Tak ada gunanya membuang-buang tenaga dalam hanya untuk berhadapan dengan binatang siluman Kasta Perak. Lagipula, dengan mengulur waktu, maka pada akhirnya Si Kancil akan melemah dengan sendirinya.

“Aku akan berceritera untukmu, wahai nenek…,” ujar Sang Kancil sambil menarik napas panjang. 

Raja Angkara Durkarsa bersama tunggangannya melayang mendekat. 

“Pada suatu hari, nun jauh di arah barat… di negeri yang bercahaya dengan sangat gemilang, hiduplah seorang anak lelaki yang dianugerahi keterampilan khusus segel. Bakat dan kemampuannya jauh melampaui kebanyakan ahli…” 

“Apa yang kau bicarakan…?” Raja Angkara Durkarsa terlihat heran. 

“Bukankah nenekhendak mendengar kisah kami…?” Nada bicara Si Kancil terdengar bingung. 

“APA… yang kalian lakukan…. di sini…!?” Sang Raja Angkara Durkarsa menggeretakkan gigi. Siluman sempurna itu merasa dipermainkan oleh binatang siluman Kasta Perak yang hanya memiliki kesaktian unsur putih untuk bertahan. 

“… Anak tersebut tumbuh di dalam lingkungan kemaharajaan, bergelimang dengan sanjungan… berlimpah akan harta dan benda.” Si Kancil berhenti sejenak. “Akan tetapi… sanubarinya gelisah menatap dunia…,” lanjut pendongeng itu mengabaikan lawan yang mulai panas. 

“Hmph!” Raja Angkara Durkarsa menghentakkan napas. Ia tak sudi dipermainkan oleh binatang siluman Kasta Perak…. 

“Zap!” Tetiba perempuan setengah baya itu menghilang, untuk kemudian muncul tepat di hadapan Si Kancil. Teleportasi jarak menengah! 

Si Kancil terkejut bukan kepalang. Di saat yang sama, sekujur tubuhnya berubah kecoklatan. Ia telah kehabisan waktu… dan kembali ke wujud normal!

Raja Angkara Durkarsa menghunuskan lengan kiri, yang diketahui memiliki telapak tangan kanan. Ia segera mencengkeram kepala Si Kancil!”

“Swush!” 

Di saat genting, tetiba sebuah gerbang dimensi yang melingkar dan berukuran kecil layaknya piring, berpendar tepat di sebelah mereka. Warnanya gelap, dengan sedikit kilatan listrik. Dari dalam gerbang dimensi tersebut, keluar lengan yang segera mencengkeram pergelangan tangan yang hendak menggapai kepala Si Kancil!

Spontan, Raja Angkara Durkarsa melontar pandang jauh ke arah sebatang pohon besar. Karena gerakan Si Kancil yang melompat menghindar, jarak mereka telah terpisah lebih dari 300 m. 

Di kaki pohon tersebut, seorang lelaki dewasa masih duduk diam beristirahat. Akan tetapi, terlihat sebuah gerbang dimensi yang sama ukurannya dengan yang mengeluarkan lengan, berpendar. Lengan kanan lelaki tersebut menghilang ke dalam gerbang dimensi kecil tersebut. Kelihatan seperti terpenggal adanya!

Tiada sulit untuk menyimpulkan bahwa cengkeraman tangan yang kini menghentikan upaya Raja Angkara Durkarsa, merupakan lengan lelaki itu. Ia menembus batas ruang dengan memanfaatkan gerbang dimensi!

Balaputera lalu menggerakkan lengan kiri. Sebuah gerbang dimensi berukuran sedang segera berpendar. Lengan kiri tersebut lalu terlihat merogoh ke dalam….

Raja Angkara Durkarsa yang masih membatu, mengalihkan pandang ke arah Si Kancil di hadapannya. Gerbang dimensi berukuran sedang telah berpendar tepat di sebelah Si Kancil. Sesuai perkiraan, lengan kiri Balaputera telah mencuat dan menarik binatang siluman Kasta Perak yang tadinya terancam bahaya. 

Wajah Si Kancil mencibir, seolah baru saja berhasil mengalahkan lawan digdaya. Ia pun dibawa pergi.

Raja Angkara Durkarsa merasakan cengkeraman di pergelangan tangannya mengendor, dan tangan itu lalu menghilang balik ke dalam gerbang dimensi. Bagaimana mungkin satu cengkeraman tangan dapat menghentikan seluruh gerak. Yang ia rasakan adalah tubuhnya sempat membeku layaknya tersegel, tak bisa berbuat apa-apa, untuk sementara waktu!

Gerakan Balaputera dalam menyelamatkan Si Kancil tiada terburu. Tenang. Seolah tiada melakukan upaya yang mendesak, maupun berarti. Raut wajahnya pun sama sekali tak menampilkan ekspresi. Walhasil, terasa sekali tingkat keahlian dan rasa percaya diri yang demikian tinggi.

“Menyembunyikan aura peringkat keahlian sendiri… Merapal gerbang dimensi tanpa bantuan alat apa pun…,” gumam Raja Angkara Durkarsa. Dirinya demikian terkesima.

“Kumohon Raja Angkara Durkarsa melepaskan kami…,” Balaputera berujar santun setelah bangkit dari posisi istirahat. Ia bahkan menundukkan kepala sejenak, untuk menunjukkan rasa hormat. 

“Siapakah gerangan namamu…? Bahkan selama Perang Jagat, tak sekali pun kutemui seorang ahli dengan penguasaan keterampilan khusus segel yang sedemikian tinggi.”

“Orang-orang memanggilku sebagai Balaputera….”

“Balaputera? Mungkinkah sang penguasa dari Kemaharajaan…,” gumam perempuan setengah baya itu tak tuntas. Wajahnya berubah waspada. 

“Apakah kau keturunan dari…”

“Kumohon…,” sela Balaputera. 

Wajah Raja Angkara Durkarsa terlihat kusut. Saat ini, ketika peringkat keahlian dirinya hanya setara dengan Kasta Emas Tingkat 1, ia menyadari betul bahwa bukanlah pertarungan yang berimbang bila berhadapan dengan tokoh berjuluk Balaputera itu. Pada keadaan puncak, seperti sewaktu Perang Jagat, barulah ia dapat bertarung dengan lebih leluasa. 

“Aku akan mengingat nama dan wajahmu…,” Raja Angkara Durkarsa memutar tubuh. Bersama dengan tunggangannya, ia pun pergi meninggalkan rasa penasaran yang demikian tinggi. 

“Uhuk…!” Balaputera terbatuk dan memuntahkan darah. Ia kembali duduk bersandar di batang pohon. 

“Salahmu sendiri memaksakan diri…,” dengus Si Kancil. 

“Kancil, kau berjagalah… Aku akan kembali beristirahat….”

“… sanubari yang gelisah menatap dunia, membawa dirinya melanglang buana.” Si Kancil kemudian melanjutkan dogeng yang belum tuntas diceriterakan.