Episode 7 - Makan Malam Terakhir

Pesan singkat dengan jumlah banyak terlihat. Seperti sebuah gerbong kereta, beruntun satu sama lain membuat sebuah kalimat yang jelas. Hanya ada satu orang saja yang akan mengirimi Neil pesan berantai seperti itu.

Navi.

Itu adalah beberapa jam yang lalu, sesudah Neil menyelesaikan urusannya dengan Bell dan sebelum ia menghubungi Arbi untuk persiapan segala hal yang berhubungan dengan misi besok. Jika tidak besok, mungkin lusa. Kapan pun itu, ia sudah berjanji dan mungkin akan mengawasinya dalam misi lebih dari satu kali. 

Jika dipikir sebentar, syarat yang diberikan kepada Arbi mungkin harganya terlalu murah. Inilah yang terjadi kalau seseorang tidak punya keinginan khusus. Di saat yang sama, meminta sesuatu yang berlebihan sepertinya bukanlah hal yang bagus menurut Neil.

“Begini kah sikapmu ketika aku mengajakmu makan?” gerutu Navi sambil menurunkan kedua alis. “Nasi gorengmu sebentar lagi akan dingin.”

Melihat Neil yang matanya sedang kosong, tentu saja Navi hanya bisa merasa heran ditambah dengan sedikit rasa khawatir. Tidak setiap hari mereka berdua bisa makan bersama, tapi ketika mereka berdua punya kesempatan, malah sepert ini jadinya. 

“Hmm, Neil, kau membuatku kesal!” Navi menggembungkan pipi terlihat seperti anak- kecil. 

Navi segera menyelesaikan makanannya dengan cepat. Sebagai penutup, ia menyeruput es teh yang sudah dipesan hingga habis menyisakan beberapa balok es bening di gelas kaca itu. Kemudian, ia mendesah puas seolah dirinya baru saja makan makanan yang berasal dari restoran bintang lima. 

Mereka berdua sedang berada di tempat makan yang tidak terlalu murah seperti warteg juga tidak terlalu mahal seperti restoran yang berada di dalam mall. Jika dikatakan, letak tempat makannya berada tidak jauh dari tempat tinggal Neil.

“Maaf, hanya saja… aku sedang berpikir.” Neil melihat sekilas nasi goreng yang masih belum disentuhnya sedikit pun, lalu kembali pada Navi yang sedang memandangnya dengan curiga. “Tapi, jarang sekali kau mau mentraktirku makan seperti ini.” 

Dibandingkan dengan nasi gorengnya, air putih yang dipesan bersamaan malah sudah habis. 

“Selama aku di sini, setidaknya lupakan semua hal yang berhubungan dengan pekerjaan.” Navi menurunkan pundak, lalu bersandar pada kursi. “Mumpung lagi ditraktir, kenapa nasi gorengnya ga dimakan?”

“Sejujurnya saja, aku sedang tidak nafsu makan.” 

Neil melihat ponselnya berkedip, melihat pesan masuk sekaligus angka 07:24 yang menunjukkan sebagai jam. Namun, seperti kata Navi, ia mengabaikan keduanya.

“Lalu apa? Dibungkus terus dibawa pulang kemudian dibuang? Hmm…” Entah kenapa pandangan Navi semakin tajam. “Kau tahu, yang barusan itu terdengar seperti sindiran bagiku. Kalau begitu, seharusnya kau tidak usah memesan sesuatu tadi.”

“Yah, tapi… kita sedang berada di tempat makan. Tidak mungkin aku tidak memesan makanan selagi kau memakan sesuatu. Lagipula, aku sedang ditraktir saat ini.” Neil memberi senyum kecil polos bermaksud menyindir Navi.

Navi menahan diri untuk memukul meja selagi mereka berdua berada di tempat umum.

“Itu yang kumaksud! Selagi kau ditraktir dan selagi kau sudah memesan makanannya, akan jauh lebih baik jika kau memakannya sebelum makanannya jadi dingin,” ucap Navi menjelaskan setiap kata dengan perlahan sambil menahan diri. “Ugh, kenapa jadi aku yang stress.”

Semakin malam suasana, tempat yang letaknya berada di pinggir jalan itu semakin dipenuhi berbagai macam orang. Meski malam, yang namanya kota Jakarta rasanya tidak akan pernah gelap dengan orang-orang seperti itu.

Melihat reaksi Navi yang menjadi aneh, Neil tak menahan diri. Meski tak terlalu lapar, dirinya yang belum kenyang pun mulai makan nasi goreng yang sudah disediakan sambil mempertahankan senyum kecilnya.

Navi mendesah kecil. “Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan hari ini, Neil?”

“Hmm… aku tidak melakukan apa pun,” jawab Neil sambil makan.

Navi memalingkan pandangan, melihat ke luar melalui kaca. Karena letaknya di pinggir jalan, terlihat banyak mobil berlalu lalang, walaupun tidak satupun dari mereka yang mengebut.

“Aku mendengarnya dari Arbi, kau dapat tugas untuk mengawasi lagi, ya?” tanya Navi masih memandang ke luar dengan mata khawatir.

“Ya. Kali ini, aku yang memintanya sendiri. Jadi, kau tidak perlu khawatir.”

“Jarang sekali kau punya keinginin sendiri seperti ini.” Navi berbicara dengan suara kecil seperti seadng bergumam.

Navi yang sudah mengenal Neil selama bertahun-tahun, tentu saja merasa aneh ketika mendengar tindakannya yang berubah tiba-tiba. Mereka berdua tidak memiliki apa pun, karena itu juga mereka tidak ingin apa pun. 

“Aku sudah bilang, ‘kan? Kau tidak perlu khawatir.” Neil sekali lagi menjelaskan. “Aku juga dapat bayaran tambahan karena ini. Jadi kurasa tidak ada masalah sedikit pun.”

“Bayaran, ya?” ucap Navi berandai-andai. Pandangannya kembali pada Neil. “Benar juga, ya. Kita berdua mengambil pekerjaan ini karena uang. Rasanya sedikit aneh kalau diingat-ingat.”

Semuanya dimulai delapan tahun yang lalu, ketika Outsiders pertama kali muncul di permukaan. Tidak ada yang aneh bergabung dengan pasukan khusus untuk melawan para Outsiders, jadi mereka berdua melakukan itu. Berbeda dengan alasan di saat orang-orang ingin balas dendam, Neil dan Navi membutuhkan uang untuk hidup.

Kedua orang tua Neil dan Navi sudah tidak ada lagi. Bukan berarti mereka semua mati karena dibunuh Outsiders. Bahkan, keduanya tidak pernah bertemu dengan orang tua mereka.

“Ugh, mengingat masa lalu, rasanya aku ingin berteriak pada kedua orang tua yang sudah meninggalkanku di panti asuhan.” Navi memasang senyum paksa sambil merasa jengkel.

Neil yang tidak bisa berkata apa-apa hanya bisa memasang senyum kaku juga menanggapi Navi yang sedang kesal.

Delapan tahun yang lalu, bukanlah peringatan akan kematian kedua orang tua mereka. Namun, hancurnya panti asuhan yang merawat mereka berdua. Entah keberuntungan atau sebaliknya, tapi di antara semua anak yang berada di sana, hanya Navi dan Neil saja yang selamat saat itu. 

Kenangan buruk itu mesi bisa dipendam, tidak akan pernah bisa terhapuskan meski ditelan waktu. Hari di mana kota dipenuhi dengan cahaya merah dari langit juga api membara yang membakar segalanya.

“Tapi, kurasa tidak masalah jika mereka berdua semua mati atau tidak.” Navi menunjuk pada kedua orang tuanya yang tidak bertanggung jawab.

“Bukankah itu sedikit berlebihan?” Neil yang merasa sudah cukup makan, meletakkan sendok dan garpu di piring. “Kita tidak tahu kenapa mereka meninggalkan kita di panti asuhan seperti itu. Mereka pasti punya alasan.”

Orang tua Navi meninggalkan Navi di panti asuhan saat usianya baru empat tahun, sedangkan Neil saat usianya masih berumur enam tahun. Empat tahun setelah Neil datang, Outsider muncul dan menghanguskan kota Jakarta hanya dalam beberapa jam.

“Yah, itu tidak masalah. Jangan memaksaku untuk mengerti! Lagipula, memangnya alasan macam apa yang memperbolehkan orang tua meninggalkan anaknya di panti asuhan begitu saja?” tanya Navi dengan nada tidak peduli.

“Kita tidak akan tahu sampai bertemu sendiri dengan mereka nanti.” Kali ini, Neil yang memandang ke luar melalui kaca, tapi tidak lama pandangannya kembali pada Navi. “Aku sudah kenyang.” 

Neil memanggil pelayan untuk meminta minuman tambahan.

“Neil, kau masih ingat wajah mereka?”

“Ingatanku terlalu rabun untuk mengingatnya,” jawab Neil tak yakin.

Jika ia harus mengatakannya, sama seperti puzzle yang belum disusun. Ia mengingat beberapa hal, tapi tak bisa mengatakan dengan jelas kapan kejadiannya. Bahkan ada yang jauh lebih buruk dari itu. Seperti tertutup oleh kabut, beberapa bagian menghilang di suatu tempat. Mungkin itu penyebab kenapa ia tidak bisa mengingat hal dengan jelas.

Saat dia ditinggalkan di panti asuhan. Saat-saat dirinya bermain dengan anak lainnya di panti asuhan. Ketika ia pikir menjadi satu-satunya anak yang selamat di malam dengan penuh kobaran api itu. Begitu juga, pada awal Neil memutuskan dirinya untuk menjadi anggota OFD. Dengan jumlah orang yang sangat sedikit saat itu, Neil dan Navi menjadi Agen Pelatihan di umurnya yang masih sepuluh tahun.

Rasanya banyak sekali yang terjadi semenjak kejadian itu.

Selagi Neil mencoba mencari ingatannya yang hilang, Navi membuyarkan pandangan Neil.

“Kalau aku, tidak ingat sama sekali.” Seorang pelayan datang meletekkan minuman yang dipesan oleh Neil berupa air putih dingin. Setelah pergi, Navi melanjutkan ucapannya. “Yah, meski aku mengingatnya pun, ingatan seperti itu tidak akan berguna.”

Karena suatu alasan, Navi terlihat merasa lega ketika mengatakan itu semua.

“Aku kira kau ingin berteriak di depan wajah mereka?” ucap Neil dengan nada santai sambil meminum minumannya.

“Ah, ya. Jika aku punya kesempatan.” 

Neil tiba-tiba teringat sesuatu. “Ngomong-ngomong, kenapa kau mengajakku makan. Bahkan sampai mentraktirku?”

Rasanya aneh jika Navi mentraktir dirinya tanpa alasan yang jelas. Mengingat hal itu, Neil ingin memastikannya.

“Tidak ada hal khusus. Hanya ingin berbicara denganmu.”Navi kembali memasang senyum semangat. “Tapi, hmm… bisa dibilang kalau aku sedikit khawatir. Alasan lainnya, karena kau kemarin tidak ikut kami bertiga merayakan pesta.”

Neil memiringkan kepala sedikit. 

Karena ia punya urusan dengan Arbi, ia jadi tidak bisa ikut makan bersama dengan Reina dan Nadia saat selesai melakukan misi Rank A kemarin. Namun, meski ia tidak punya urusan seperti itu kemungkinan besar penolakan akan menjadi jawabannya.

“Kau terlalu berlebihan.”

“Begitu, ‘kah? Tapi, setelah kejadian dua bulan yang lalu, aku rasa tidak.” Navi memperhatikan Syal merah yang dikenakan Neil. 

Navi ingat dengan jelas, kalau Neil tidak punya syal seperti itu saat berada di panti asuhan. Lalu, bagaimana dengan saat panti asuhan hancur? Navi juga tak yakin, sejak kapan Neil menggunakan syal merahnya, tapi sepertinya sudah sangat lama sekali. 

“Dua bulan yang lalu?” Neil bertanya balik. Ia tak paham apa maksud Navi.

“Lupakan. Ngomong-ngomong, ini akan menjadi makan malam terakhir kita.”

Mendengar hal itu, Neil bergidik sedikit. “…” Tak sepatah kata pun bisa keluar dari mulutnya. Ia menanggapi ucapan Navi dengan sangat serius.

“Ah, maksudku… ini terakhir kalinya aku akan mentraktirmu makan. Nadia dan Reina juga. Meski uang yang kita dapatkan banyak, rasanya agak aneh kalau aku mentraktir kalian bertiga karena kita semua punya pekerjaan yang sama.”

“…” Neil masih terdiam. Pandangannya kembali ke arah luar sambil bertanya-tanya, sudah berapa lama mereka berdua berada di tempat itu.

“Neil, jangan-jangan kau berpikir kalau aku akan meninggalkanmu?” Navi memberikan senyum dengan nada bicara bercanda, tapi karena Neil memalingkan pandangan, ia tidak melihat hal itu.

Meski sulit untuk mengakuinya, Neil memberikan anggukan. “Ya, untuk sesaat begitulah.”

“Hmm, kau terlalu serius. Aku tidak menyangka kau akan jujur seperti itu.” Navi tersenyum bahagia.

Neil mengembalikkan tatapannya, kemudian membuka mulutnya, “harga diriku tidak setinggi itu untuk berbohong dalam hal ini.” 

Karena Navi adalah satu-satunya teman masa kecil Neil yang berbagi kenangan. Seharusnya, Navi juga mengerti akan hal itu.

“Bukan hanya kau saja yang menyimpan kata-kata keren seperti itu.” Navi merasa tersindir. “Tapi, selain kematian, aku yakin tidak ada yang bisa memisahkan kita. Jadi, tenang saja.”