Episode 42 - Mereka yang Mengharapkan Kedatangannya



Di dalam ruang UKS, dia sedang benar-benar membuat dirinya merasa nyaman. Karena saat itu, tubuhnya merasa sakit hampir di keseluruhannya.

“Huhh~”

Nafas yang lumayan panjang dibuang untuk menyegarkan kembali pernafasan.


“Lari~!”

Tiga orang bocah tengah berlari di balik ladang jagung yang mana pohon-pohonnya telah melebihi tinggi mereka. 

Tingkah mereka saat berlari waktu itu adalah, ketakutan. Karena di belakang mereka, mengejar seekor anjing liar yang datang sewaktu mereka masih asik bermain-main.

“Beni, cepat~!”

Seorang bocah perempuan yang saat itu tengah berlari di depan, memerlambat laju kakinya karena seorang teman laki-lakinya berlari lebih lambat darinya.

“Tunggu!”

Bocah laki-laki itu telah benar-benar berusaha untuk mengejar ketertinggalannya, tetapi tetap saja laju dari teman perempuan dan laju anjing yang mengejar mereka tak menunggunya.

Dari belakang, gonggongan anjing semakin terasa mendekat.

“Hii~!”

Dan hal itu membuat bocah laki-laki itu berusaha lebih keras dari yang dia bisa untuk meloloskan diri dari kejaran.

Namun, tetap saja laju yang dia usahakan tak membuat perbedaan besar dengan laju anjing yang semakin dekat. Gonggongan anjing itu semakin keras, membuatnya merasa semakin ketakutan.

“Rini, Bagas~!”

Wajahnya semakin pucat, nafasnya terasa berat, dan ketertinggalannya membuatnya hampir putus asa. Hal terakhir yang bisa dia lakukan adalah meminta bantuan kepada kedua temannya yang entah bisa atau tidak menolongnya.

Meskipun begitu, anjing yang mengejar tak ingin untuk dia mendapatkan kesempatan melarikan diri. Dan saat mereka sampai di jalan setapak, anjing yang mengejarnya terlihat sangat galak dan bisa saja membuatnya terluka, atau bahkan lebih parah lagi dari yang bisa dia bayangkan.

Dan dia tak lagi bisa untuk melakukan pelarian, tubuhnya terjatuh lunglai, hampir tak ada tenaga yang tersisa. Hal terakhir yang bisa dia lakukan adalah melihat ke belakang—bahaya yang sedang menuju dirinya.

“Aaaahhh~!”

Teriakan itu berasal dari usaha terakhirnya. 

Lalu, sewaktu anjing itu hampir berada dekat dengannya, sosok seorang bocah perempuan yang meninggalkannya sebelumnya muncul dari balik pohon-pohon jagung yang tinggi. Bocah perempuan itu spontan berlari menuju ke depan dengan membawa sebuah batu yang cukup besar.

Batu yang dia bawa itu langsung saja dilemparkan ke anjing liar yang sedang melaju kencang ke arah mereka. Lemparan yang dilakukan sedikit mengenai—menyerempet kaki anjing liar. Membuatnya terjatuh terguling-guling.

Setelah balik berdiri—bangkit dari luka—anjing itu mengarahkan aura keganasan kepada dua bocah itu.

Bocah laki-laki kelihatan benar-benar ketakutan, di sisi lain, bocah perempuan merasa harus melindungi temannya yang benar-benar tak berdaya.

Tatapan dari bocah perempuan itu benar-benar tak memerdulikan keganasan yang ditunjukkan oleh si anjing. Lalu, saat anjing liar hendak melakukan serangan, sesuatu datang dari balik pepohonan jagung.

Sesosok orang-orangan sawah, berjalan dan berdiri di depan dua orang bocah tersebut.

“Haa!”

Orang-orangan sawah itu sontak melakukan gertakan kepada anjing liar yang hendak menyerang. Anjing liar yang memang memiliki rasa takut kepada sesuatu yang lebih besar dan menyeramkan daripada dirinya, melakukan gerak mundur untuk menjaga jarak aman.

Tetapi anjing itu tak menyerah, dan melakukan gertakan balik kepada orang-orangan sawah yang bergerak maju, berusaha untuk memukul mundur dirinya.

“Guk! Guk!”

“Ha!”

Meskipun begitu, orang-orangan sawah tersebut tak gentar sedikitpun dan malahan berusaha semakin keras untuk membuatnya mundur—melepaskan mereka.

“HA!!”

Lalu, usaha terakhir yang dilakukan orang-orangan sawah tersebut membuahkan hasil. Trik menakut-nakutinya benar-benar bisa membuat anjing yang hendak melukai mereka kabur. Walaupun, orang-orangan sawah itu menjadi benar-benar nafsu untuk mengusir si anjing liar.

“Bagas, sudah berhenti!”

Dan setelah dirinya dipanggil oleh si bocah perempuan, akhirnya orang-orangan sawah yang bergerak itu berhenti mengejar si anjing liar.

Dia berbalik dan menuju ke hadapan dua orang bocah yang baru saja dia tolong.

“Hehe, aku keterusan.”

Di balik baju kumuh yang dikenakan orang-orangan sawah, keluar suara yang kedengarannya tak jauh beda umurnya dengan mereka. 

Sosok di dalam itu lalu melepas kostum yang baru saja dia kenakan untuk melindungi diri dari bahaya. 

“Huft, yang tadi hampir aja.”

Di dalamnya, terdapat seorang bocah laki-laki yang memiliki keunikan pada matanya. Heterochromia.

“Ya ampun, kupikir kau tadi benar-benar lari meninggalkan kami!”

“Hehehe, maaf. Tapi aku tak benar-benar berniat untuk meninggalkan kalian kok, buktinya sekarang aku menyelamatkan kita semua.”

Bagas yang bersyukur karena telah berhasil menyelamatkan mereka bertiga, memasang muka yang senang sekaligus meminta maaf karena telah meninggalkan kedua temannya.

“Oi, Ceng, kau gak apa-apa kan?”

Dia lalu teringat kepada seorang bocah laki-laki—temannya yang menjadi mangsa kejaran oleh si anjing liar. 

Masih dalam posisi sebelumnya—duduk setelah terjatuh—bocah laki-laki itu terlihat mengusap-usap wajahnya. Selang beberapa lama, suara menahan tangisan terdengar dari balik wajah yang tertutup tangan itu.

“H-hei, kau baik-baik saja, Beni?”

“Kau gak terluka kan, Ceng?!”

Sontak hal itu membuat Bagas dan Rini terkejut karena berpikir kalau terjadi apa-apa padanya.

“Serem banget.”

Dan dari seluruh kekhawatiran yang timbul, keluarlah dua kata yang mewakili semuanya.

Bagas dan Rini tentu saja merasa bersyukur karena tak ada luka yang dia dapatkan.

“Huft~” 2x

Mereka berdua lalu mengeluarkan nafas lega.

“Yahahaha, itu benar serem banget ya, soalnya juga, siapa yang bakal nyangka kalau ada anjing liar di pinggiran ladang!”

“Sudahlah, lebih baik kita pulang dulu.”

“Setelah itu kita juga harus lapor ke penduduk untuk memburu anjing liar itu juga!”

Setelah keadannya membaik, mereka berjalan pulang dengan perasaan masing-masing saat mengalami pengalaman yang menyeramkan.


“Apa keadaanmu sudah membaik?”

Bangkit dari tempat tidur, Beni mendapatkan pertanyaan dari seseorang yang datang menjenguknya.

Sesosok gadis dengan tubuh yang mungil. Memakai pakaian perawat, dan juga membawakan nampan dengan satu cangkir minuman hangat.

“Ya, begitulah. Tinggal pegal-pegalnya aja sedikit.”

“Nih, aku bawain jamu.”

“Jamu pahit?”

“Udah diminum aja dulu.”

Rini membawakan secangkir jamu kepada Beni. Jamu yang memiliki khasiat untuk mengembalikan semua tenaga yang telah terkuras. Tentu saja untuk Beni yang memiliki ketahanan tubuh yang cukup lemah, hal itu sangat dibutuhkan.

Dia lalu mengambil minuman yang diberikan, sebelum meminumnya, dia melihat sejenak cairan yang ada di gelas. Warnanya hijau kehitaman, aroma yang dikeluarkan juga membuat firasatnya untuk sedikit berhati-hati dalam meminumnya.

“Iack!”

Dan setelah dia mencobanya sedikit, rasa pahit tak mengenakkan membuatnya mengeluarkan ekspresi terkejut sekaligus jijik.

“Pahit!”

“Namanya juga jamu.”

Namun, keluhan yang dia keluarkan tak membuat Rini bersimpati padanya.

“Jamu jahe!?”

“Jamu jahe.”

Pada saat dia menanyakan jamu yang ‘terbuat dari apa’ di dalam cangkir, Rini mengulangi perkataannya dengan nada menjawab.

“Gak mau ah!”

“Habisin.”

“Tapi pahit begini!”

“Minum.”

“Apa gak ada-“

“Jahe adalah rempah yang paling bagus untuk mengembalikan keadaan tubuh, jadi minum dan habisin.”

Beni terus melakukan penolakan saat niat Rini untuk membuatnya meminum jamu yang dia berikan, dan dia terus melakukannya sampai Beni menyerah untuk melakukan penolakan.

Wajah yang dia tampakkan ke arah jamu yang pahit rasanya, adalah masam. Dia benar-benar tak ingin untuk meminum jamu pahit itu, tetapi ketika Rini telah memerintahnya untuk melakukan sesuatu, dia tak memiliki kesempatan untuk menolak dan pilihan terakhir adalah melakukan apa yang dia perintahkan.

Sejenak sebelum berusaha menghabiskan, air ludah yang masih berada di mulut dijatuhkan kembali ke tenggorokan dan hal itu membuat suara unik yang khas.

Setelah memersiapkan mentalnya, akhirnya minuman yang pahit rasanya itu dia teguk habis. Menyisakan ampas dari jahe yang diparut.

“Iieehh~!”

“Nih, air putih.”

Setelah menyuruh Beni untuk menghabiskan jamu, Rini menyuguhkan air mineral untuknya. Beni langsung menyambar cangkir yang diberikan Rini, meneguk seluruhnya dan berharap agar rasa pahitnya hilang.

“Pahit!”

Namun, satu cangkir saja takkan bisa menghilangkan efek kuat dari jamu, bahkan dua cangkir lagi takkan segera menghilangkannya.

“Beberapa saat lagi pasti bakal hilang kok.”

Rini lalu mengambil satu gelas dan cangkir yang habis dipakai. Menaruhnya di atas lemari kecil di samping kasur Beni.

“Bagaimana perasaanmu?”

“Lebih baik sebelum minum jamu.”

“Baguslah.”

Posisi Beni yang berada di dekat jendela, membuat mereka terkena angin semilir yang masuk ke dalam. Udaranya menjadi sedikit dingin dan membuat tubuh lemah Beni merasakan hal itu.

“Lagipula, sebelum melakukan sesuatu, bisa gak sih dipikirin konsekuensinya?!”

“Yah, waktu itu karena aku udah terbawa emosi dan ingin sekali menyelesaikan masalah yang dihadapi Rasha.”

“Rasha ini, adalah murid yang dirisak oleh seluruh tim basket sekolah, bukan?”

“Ya, itulah dia, dan akibat dari hal itu membuatnya tak bisa bersekolah seperti biasa.”

“Tapi dari yang kudengar, dia masih bisa bersekolah tapi tak mengharuskannya datang. Memangnya keputusan seperti itu siapa yang menentukan, sih?”

Beni tak segera menjawab pertanyaan Rini, dan sebelum itu dia menyegarkan kembali tubuhnya setelah terkena serangan yang cukup telak dari jamu pahit yang dia minum—tentu saja dari Rini juga.

“Bagas, dan kepala sekolah.”

Beni mengatakan hal itu dengan ekspresi yang cukup sedih. Karena berpikir kalau keputusan yang tergolong kejam itu, adalah ulah—keputusan dari sahabat baiknya.

“Oh, begitu, ya.”

Bahkan Rini pun sedikit tak bisa memecayai hal itu.

Mereka mendadak menjadi terdiam, karena masing-masing dari mereka sekarang merasakan rasa sakit lewat hati mereka.

Seorang teman yang dulunya sangat pintar dalam mengambil keputusan dan jalan keluar. Kali itu memilih keputusan dan jalan keluar yang cukup kejam dan tak bisa dipercaya, kalau dia adalah sahabat mereka yang akan selalu menemukan jalan keluar terbaik bagi masalah yang datang.

“Yah, lagipula hal itu tak seburuk yang dipikirkan! Misalnya aja, Rasha gak harus datang ke sekolah, tapi dia bisa tamat dan mengikuti ujian seperti murid biasa.”

“Tapi, bukannya itu adalah hal yang menyedihkan. Karena berpikir, kalau kau tak bisa bertemu dan bermain-main dengan teman-temanmu, perasaanmu pasti akan terasa sakit, bukan?”

Rini mengenai pokok permasalahan konsekuensi dari keputusan yang diambil untuk Rasha. Dan Beni tak bisa memungkiri hal itu, karena beberapa hari yang lalu, sewaktu dia melihat ke arah ekspresi Rasha untuk pertama kali setelah sekian lama, terdapat perasaan rindu yang sangat yang terlihat di wajahnya.

Hal itu juga berlaku saat dia dapat kembali memandangi indahnya suasana sekolah. Bermain, dan juga belajar bersama dengan teman-teman, perasaan nostalgia yang sangat seperti itu dapat dia temukan hanya dengan melihat ke arah ekspresi Rasha.

“Walaupun gitu, aku udah bicara berulang kali sama Bagas untuk mencari jalan keluar selain membuat Rasha tak harus datang ke sekolah. Tapi, dia selalu menolak dengan alasan yang bahkan tak bisa membuatku lanjut bicara.”