Episode 41 - Loyalitas


Duduk di kursi dengan memandangi alam sekitar. Membuat pikiran dan perasaannya kembali tersegarkan, dan membuat tubuhnya bekerja lebih santai dari sebelumnya.

“Boleh duduk di sini?”

“...mm, gak biasanya kamu permisi dulu sebelum melakukan sesuatu.”

“Memangnya kau pikir aku ini pribadi seperti apa?”

Melihat Euis yang sedang duduk sendirian, Rian dengan sopannya meminta izin sebelum duduk bersampingan dengannya.

Mereka berdua telah duduk berdampingan, menikmati cuaca yang saat itu sedang sangat bagus untuk melakukan penyegaran tubuh.

“Mau?”

“Jamu kencur?”

“Umm.”

“Gak usah lah, kau saja yang habiskan.”

“Ouke~i”

Euis mencoba menawarkan secangkir jamu yang ada di tangannya. Tetapi kelihatannya Rian tak tertarik dengan itu dan membiarkan Euis saja yang menghabiskan. Meskipun begitu, dia tetap ingin menikmati secangkir jamu tersebut dengan perlahan-lahan, selagi suasana saat itu sedang bagus-bagusnya.

“Bagaimana dengan keadaan mereka bertiga?”

“Hmm, Rasha bisa kembali bersekolah. Tapi dia harus melewati beberapa ujian lagi agar dia dapat bersekolah seperti biasa.”

“Haha, tak bersekolah selama hampir satu setengah tahun ternyata berat juga ya.”

“Ya, memang itu sih salah satu ketentuan yang harus dia penuhi. Meskipun dia tak bersekolah seperti biasa, dia harus telah mengetahui pembelajaran yang diajarkan dari sekolah, dengan poin khusus, dia harus belajar sendiri. Dan setiap kali ujian diadakan, dia harus datang untuk mengerjakan soal-soal ujian yang ada.”

“Menjadi korban perisakan itu, ternyata lebih berat dari yang dibayangkan ya.”

“Tentu saja. Karena itulah kepala sekolah dan Bagas memberikannya kompensasi agar dia tetap bisa bersekolah, meskipun tak dapat datang sekalipun.”

“Tapi, apa hal itu tetap akan disebut sebagai sekolah. Maksudku, definisi dari kata sekolah saja adalah bangunan atau lembaga untuk belajar mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran. Dan kalau dia melakukan hal seperti itu, apa masih bisa dikategorikan dalam bersekolah?”

Rian tak segera menjawab pertanyaan Euis yang juga menurutnya masuk akal. Perasaannya menjadi lebih bimbang, antara dia harus menyalahkan kesepakatan yang telah dibuat untuk melindungi Rasha dan murid lainnya, atau dia masih harus mensyukuri kalau tak adanya masalah yang terjadi karena kesepakatan seperti itu dibuat.

“Entahlah, aku juga tak tahu. Tapi yang masih kupercayai adalah, kesepakatan itu dibuat untuk melindungi kedua pihak dari beberapa masalah.”

“Maksudmu pihak pelaku dan korban, begitu? Bukannya hal itu merupakan suatu ketidakadilan. Di mana satu pihak yang seharusnya disalahkan malah dilindungi, dan korban yang malah mendapatkan ganjarannya.”

“Sebenarnya aku juga berpikir seperti itu dan aku juga sudah mengambil tindakan pembantahan mengenai kesepakatan itu. Tapi sewaktu aku meminta kejelasan pada Bagas mengenai keputusan yang dia ambil, dia malah berbalik tanya padaku, apa arti dari ketidakadilan dan kenapa harus ada keadilan di dunia ini?”


“Apa yang sebenarnya kau maksud... dengan bertanya seperti itu?”

Di danau belakang sekolah, Rian sedang menghadapi ketakutan yang membuatnya tak bisa bergerak satu meter lagi dari orang di depannya.

Bagas yang saat itu sedang mengecek pancing yang dia tenggerkan, menjawab pertanyaan Rian tanpa berbalik. Karena jika salah satu dari mereka memandang wajah masing-masing, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.

Meskipun begitu, berbicara tanpa berhadapan juga merupakan wujud dari penolakan akan sikap yang telah berubah.

“”Menciptakan suasana yang baik agar para murid betah dalam menimba ilmu”. Bukannya itu adalah salah satu visi dari sekolah. Dan kalau kau, atau aku, atau kepala sekolah mengambil tindakan yang nantinya akan menghukum mereka yang melakukan perisakan, maka kau juga harus melupakan salah satu visi itu bukan?”

“Tapi tetap saja, membuat Rasha agar bisa tetap bersekolah, tapi tak dapat datang ke sekolah itu, sama saja bohong.”

“Kalau gitu, apa kau punya solusi lain untuk menghadapi persoalan ini?”

“Tapi bagaimana dengan “Berusaha sebaik mungkin untuk menciptakan pribadi yang baik”, bukannya memerbaiki perilaku buruk mereka juga merupakan salah satu visi sekolah.”

“Manusia takkan semudah itu berubah, Rian. Terutama bagi mereka yang jalan pikirnya masih tak teratur, labil. Mereka cenderung akan mendobrak tembok peraturan tanpa mendapatkan manfaat dari melakukan hal itu. Tapi ada satu solusi yang bisa dilakukan, yaitu mengikis sedikit demi sedikit. Apa kau tahu apa artinya itu?”

“Tapi tetap saja.”

“Kalau kau sudah tahu, lebih baik pergilah. Kau pasti punya sesuatu hal yang harus kau lakukan setelah ini bukan.”

Otot-ototnya tiba-tiba saja berubah menjadi keras, tangannya telah mengepal tinju yang sudah siap untuk diluncurkan. Tetapi jika kali itu dia melepaskan emosinya yang sudah tak tertahankan, maka ada kemungkinan kalau hubungan mereka akan berakhir saat itu juga.

Karena Bagas yang sedang dia hadapi saat itu bukanlah Bagas yang mungkin saja akan menganggap kalau emosi yang keluar dari dirinya adalah sesuatu hal menarik yang bisa ditertawai.

“Bukannya kau juga, punya hal yang harus kau lakukan selain terus berada di tempat ini.”

Sampai pada akhirnya, Rian menyerah dengan perasaannya untuk merubah pikiran Bagas. Dia berbalik dan berjalan menjauh dari tempat yang bisa membuat bulu kuduk orang lain menegang kalau tak terbiasa dengan auranya.


Euis menilai kalau tak ada salah satupun dari mereka yang salah dalam menanggapi hal itu, baik Bagas yang terus berpegang pada keyakinannya, ataupun Rian yang mengalah karena tak bisa mengubah jalan pikir Bagas. Karena bila hal tersebut terus dilanjutkan tanpa ada salah dari mereka yang mengalah, mungkin saja hubungan antar mereka akan semakin bertambah parah.

“Huft... hidup itu, penuh dengan hal yang tidak pasti ya, Rian.”

“Kenapa tiba-tiba membicarakan hal itu?”

“Tidak ada. Hanya saja, jika waktu itu tak terjadi sesuatu hal buruk di dalam keluarga mereka, dan om Barend masih hidup sampai sekarang, apa cara berpikir Bagas akan masih sama seperti ini? aku sedang berpikir seperti itu saat mengucapkan kata-kata mutiara itu.”

Meskipun kata-kata yang dia ucapkan sebelumnya benar-benar tak terduga dan membuat Rian terkejut dengan kesan, Euis benar-benar tak berpikir kalau hal itu akan bagus sewaktu dikatakan.

“Enggak juga tuh, bukannya setiap orang memiliki hak untuk mengutarakan apa yang ada di pikirannya. Meskipun itu baik atau buruk, kata-kata mutiara seperti itu hanya bisa di nilai dari si pembicara sendiri.”

Euis menjadi begitu terkejut saat Rian mengatakan hal seperti itu dengan wajah dan ekspresi yang benar-benar tenang. Tak seperti sebelumnya, di mana ekspresi dan wajahnya masih seperti biasanya. Tetapi kali itu, dia mengejutkan Euis dengan sifatnya yang sangat jarang terlihat.

Sontak hal itu membuat Euis menjadi bimbang, apakah dia harus menanggapi hal yang dikatakan Rian dengan serius atau tidak? Meskipun pada akhirnya dia tak mendapat jawaban, dan dia menanggapi Rian dengan rasa terkejut serta gugup.

“A-apa yang kau bicarakan itu sih?!”

“-Apa yang kubicarakan, maksudnya?”

Rian benar-benar tak mengerti dengan perubahan sikap Euis yang satu itu, di sisi lain, Euis tak tahu bagaimana harus merespon sikap Rian yang menjadi begitu tenang.

“M-maksudku, bagaimana kamu bisa mengatakan hal itu dengan sebegitu tenangnya?!”

“Dari tadi apa sih yang kau bicarakan?”

Dan pada akhirnya, Euis bisa mengembalikan ekspresi dan wajah Rian yang seperti biasanya. Alis yang merapat, dan mata yang menatap tajam ke arah lawan bicaranya.

“Ya ampun, kalau kamu bisa menjadi sebegitu tenangnya, kenapa gak dilakuin dari dulu sih.”

“Sejak tadi apa sih yang sedang kau bicarakan?!”

“Tidak ada, lupakan aja. Aku hanya berpikir, ada berapa banyak anak perempuan yang bakal terpancing dengan pesonamu.”

“Pesona? Apa maksudmu sewaktu ada seseorang yang menyatakan perasaannya padaku?”

“Ihh, gak ada kali yang bakal ngelakuin hal itu ke kamu.”

Rian terdiam, dan Euis masih dalam keadaan setengah gugup dalam menanggapi perilaku Rian meski dia telah kembali seperti biasa.

“Nah, terserahlah.”

“Hm, yang lebih penting, sisanya bagaimana?”

“Sisanya? Ooh, Beni masih masuk seperti biasa, tapi dia langsung pergi ke UKS sewaktu tak ada pelajaran dan sehabis jam sekolah.”

“Itu berarti dia masih di UKS dong.”

“Ya, begitulah. Kupikir satu hari saja takkan cukup untuk mengembalikan semua tenaganya yang sudah terkuras.”

“Hahaha, begitulah dia dari dulu. Selalu saja menjadi yang terlemah dalam melakukan sesuatu.”

“Yah, tapi kupikir dialah yang paling berbakat dalam memaksimalkan kemampuan yang ada pada dirinya dari kita semua.”

“Seorang seniman, ya.”

Mereka terdiam sejenak, memberikan sedikit waktu pada pikiran dan perasaan mereka saat sudah saatnya untuk membicarakan seseorang yang merupakan jembatan bagi seluruh hubungan mereka.

Kala itu awan sedang menutupi sinar matahari yang berada di sekitar mereka. Menjadikan suasana sedikit tenang untuk terus melanjutkan pembicaraan.

“Lalu, bagaimana dengannya?”

Nada bicara Euis seakan tertekan oleh sesuatu. Meskipun begitu, Rian tak terlalu memermasalahkannya dan menjawab dengan sikap biasa.

“Dia tak datang hari ini. Aku juga dapat kabar kalau pak Elang menginap di rumahnya, mungkin aja... penyakitnya kambuh dan membuatnya tak bisa berangkat ke sekolah.”

Angin kencang tiba-tiba saja berhembus, seakan sedang menyuruh mereka untuk terdiam sejenak.

Daun-daun kering mulai berguguran. Mengartikan sebuah makna, di mana perasaan yang tak menentu terbawa oleh angin dan tak tahu terjatuh ke mana.

Beberapa saat mereka terus terdiam, tanpa ada yang berbicara. Meskipun begitu, tak ada satupun dari mereka yang mengungkapkan perasaan lewat ekspresi wajah. Seakan ingin menghilangkan perasaan bersalah yang mendalam, mereka hanya mencoba untuk menikmati cuaca yang kelihatannya sedang bagus.

Lalu setelah angin kencang berhenti berhembus, barulah mereka memulai percakapan kembali.

“Ingin menjenguknya?”

Mendengar pertanyaan itu, Rian tak langsung berniat untuk menjawab. Kemudian, saat pikirannya menjadi lebih tenang, dia memutuskan sesuatu yang membuat Euis terkejut mendengarnya.

“Kupikir, hal itu tidak perlu.”

Euis benar-benar tak percaya kalau Rian akan mengatakan hal yang tak mungkin dia katakan selama hubungan mereka masih baik-baik saja. Tetapi, jika saat itu dia telah mengetakan hal yang Euis takutkan, itu berarti hubungan mereka cukup terbilang gawat untuk diselesaikan.

“Apa, memang seburuk itu?”

Euis bertanya lagi dengan ekspresi yang dia tak ingin untuk tunjukkan kepada teman masa kecilnya. Meskipun begitu, Rian tetap mengetahui, kalau dari dalam hatinya Euis sangat menyayangkan hubungan persahabatan mereka yang semakin melemah.

“Tenang saja. Lagipula, di sisi baiknya dia pasti tak ingin kita mengunjunginya kalau keadaanya seperti itu. Sama sewaktu kita menjenguknya di hari di mana om Barend meninggal, dia tak ingin kalau kita melihat wajahnya yang memalukan untuk diperlihatkan.”