Episode 40 - Mereka Bilang Masa Kanak-Kanak adalah Masa Terbaik dalam Sejarah Hidup



“Ahahahaha!”

“Berhenti!”

Di daerah perumahan dusun sebelah barat, terlihat seorang bocah laki-laki sedang dikejar-kejar—seorang pria tua sedang mengejar seorang bocah.

Meskipun sedang dikejar oleh pria tua yang sedang marah, bocah laki-laki itu malah kelihatan senang.

“Bagas! tunggu, hahhh, tunggu~!”

Namun, pria tua itu kelihatan telah kehabisan tenaga untuk terus mengejar kelincahan Bagas yang bagaikan seekor kucing. Dia melewati setiap lubang, celah, dan tempat-tempat yang sulit untuk dilewati oleh pria tua yang mengejarnya.

Pria tua itu telah menyerah untuk terus mengejar, kakinya berhenti untuk terus berlari. Nafasnya terasa berat, dan dia menahan tubuhnya yang kelelahan dengan menaruh tangan di dengkul.

“Ahaha, pak, kejahilan apa lagi yang dia buat kali ini?”

“Dia, huhhh, menaruh jangkrik di dalam topiku.”

Dua orang ibu-ibu yang melewati pria tua itu bertanya tentang kenapa kali ini pria tua itu mengejar Bagas. Dan jawaban yang diberikan oleh si pria tua sedikit membuat geli dua orang ibu yang melewatinya.

Di sisi lain, Bagas yang belum bisa menghentikan langkah cepatnya berlari entah kenapa. Dia tak tahu ke mana dia harus menuju, tetapi untuk saat itu dia hanya harus terus berlari.

Berbelok ke satu simpang yang ada di depannya, dia menemukan ada seorang bocah laki-laki(?) yang sedang berjalan dan akan bertabrakan dengannya.

“Wuo-wuoo~!”

Namun, sebelum mereka benar-benar bertabrakan Bagas melakukan tindakan pencegahan dengan menghindari sosok bocah laki-laki(?) yang tengah terkejut dengan kedatangannya yang sangat tiba-tiba.

“Wuoo~!”

Bagas berhasil menghindari bocah laki-laki yang seumuran dengannya itu.

“Huff, hampir aja. Maaf ya!”

Bagas berbalik untuk menghadap ke arah seseorang yang akan ditabraknya barusan.

Tingginya tak lebih dari tinggi Bagas. Wajahnya kelihatan cukup manis. Rambutnya terkesan acak-acakan, dan dia sedang membawa sebuah tas gandeng di tangannya.

Saat Bagas telah berbalik, dia untuk sesaat terbengong dengan penampilan bocah laki-laki itu. Pakaiannya memang memerlihatkan kalau dia adalah bocah laki-laki, tetapi ada satu hal yang membuat Bagas mencurigai jenis kelaminnya.

“E-eh, ada apa ya?”

Bocah laki-laki itu mulai merasa aneh dengan pandangan Bagas padanya. Dan akhirnya Bagas menghentikan bengongannya.

“Ah! Ya sudahlah. Yang lebih penting lagi, apa kau gak apa-apa?”

“Enggak kok. Kau sendiri, yang tadi sepertinya cukup bahaya?”

“Yahahaha, itu mah sudah biasa!”

Bagas menghentikan segala rasa penasaran, dan juga pembicaraan mereka. Mengakibatkan suasana canggung yang mulai dirasakan oleh bocah laki-laki itu.

“Oh!”

“Hm, apa?”

Akan tetapi, bocah laki-laki itu dikejutkan oleh fenomena langka yang baru saja dia sadari.

“Mata itu?”

“Hm, mata? Oh, maksudku penampilan unik dari kedua mataku ini ya, hehe!”

Bocah laki-laki itu mengatakan rasa kepenasarannya, dan Bagas merespon hal itu dengan rasa percaya diri yang tinggi akan penampilannya yang unik.

“Bagaimana, keren bukan?”

“Kau adalah bocah nakal dari keluarga Jawara.”

“E-eehh~!”

Meskipun sempat percaya diri dengan penampilannya, Bagas dibuat kaget setelah mendengar perkataan bocah laki-laki itu yang secara tidak sengaja menganggapnya sebagai pribadi yang buruk.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Eh? Apa yang kulakuin, hm, apa ya?”

Sesaat Bagas melupakan tujuannya datang ke daerah yang berlawanan dengan dusun tempat tinggalnya. Dia mencoba berpikir untuk sesaat, tetapi dia menyerah dan melupakan masalah tersebut. Seolah dia juga tak peduli alasan kenapa dia datang ke dusun itu.

“Yah, lupakan aja soal itu. Yang lebih penting lagi, kau mau ke mana?”

“E-eh, aku, aku mau kembali ke rumah.”

“Oke! Ayo jalan!”

“He-hee~, tunggu, kau mau apa?”

“Ya mau ikutlah!”

“Enggak, maksudnya kenapa kau mau ikut denganku?!”

“Hm, kenapa ya? gak masalah deh apa alasannya, yang penting kita jalan sekarang! Oh iya, kau tadi jalan lewat sini, berarti tujuanmu ke arah sana kan? Yok jalan!”

“Heee~!”

Bagas memaksa untuk ikut ke tujuan bocah laki-laki itu. Dan bocah laki-laki itu juga sempat berpikir, dia takkan menang meskipun dia menolak paksaan Bagas. 

Sampai pada akhirnya, bocah laki-laki itu meneruskan langkah kakinya menuju rumah. Sedangkan Bagas berjalan di depan, meskipun tanpa tahu ke arah mana tujuannya, dia hanya mengikuti jalan yang hanya memiliki satu arah.


“Hoo, di sini ya!”

Sampai pada akhirnya, mereka sampai di tempat yang di tuju. Beberapa rumah di bagian ujung dusun bagian barat.

“Jadi, yang mana rumahmu?”

Bagas bertanya dengan keriangan yang tak dapat dimengerti oleh si bocah laki-laki. Menjawab tanpa menggunakan kata-kata, bocah laki-laki itu menunjuk ke arah rumah yang cukup luas halamannya.

“Waah, luas! Kira-kira berapa kali berapa meter bidang tanah rumahmu ini!?”

Meskipun sedang terkejut, Bagas masih sempat memertanyakan hal yang juga masih tak dapat dijjawab oleh si bocah laki-laki.

“Tengok halaman yang luas itu, pasti enak main bola di sana!”

Dan kebingungan si bocah laki-laki terhadap perilaku Bagas masih belum berakhir. Karena dia sempat mengatakan hal yang mungkin berkaitan dengannya. Atau memang iya?

Bagas mengatakan kalau akan terasa menyenangkan jika mereka dapat bermain bola di halaman rumah yang luas milik si bocah laki-laki. Hal itu pasti juga berkaitan dengannya, si anak dari pemilik tanah. Yang berarti, mungkin saja Bagas sedang melakukan pendekatan agar mereka bisa dapat menjadi teman.

Si bocah laki-laki sedikit terkejut setelah mengetahui kemungkinan hal itu.

“Euis!”

Tiba-tiba saja, suara dari seorang bocah laki-laki lain—yang datang dari sisi barat daya saat Bagas menghadap ke arah rumah yang berada di sisi utara—memanggil sebuah nama. Tetapi Bagas tak ingat memiliki nama itu, dan juga nama itu terdengar seperti nama seorang anak perempuan.

Kepalanya menghadap ke arah sumber suara. Dan dia menemukan sesosok gorila anakan yang menatap tajam padanya.

Seketika langkah mundur secara otomatis dilakukan. Dengan cepat, Bagas menuju sisi si bocah laki-laki(?).

“E-ehh!”

“Siapa dia?”

Si bocah laki-laki(?) terheran, dan bocah laki-laki yang baru saja datang, yang kelihatannya telah akrab dengannya bertanya siapa seseorang yang sedang bersamanya.

Saat Bagas dengan waspadanya bersembunyi di balik sosok bocah laki-laki(?) itu, dia dengan cukup bingung ingin memerkenalkannya.

“E-ehh, bagaimana mengatakannya. Kau pasti pernah mendengar rumor sosok Kucing Liar Heterochrome dari Dusun Arjuna, kan Rian?”

“Ya, aku pernah mendengarnya sekali. Jadi apa hubungannya dengannya?”

“Emm, yahh, inilah dia.”

Mata yang menatap tajam dengan alis yang cukup tebal, pandangannya tertuju kepada Bagas yang masih bersembunyi di balik sosok yang bahkan tak sempat dia kenal.

“Maksudnya?”

“Dialah Kucing Liar yang memiliki warna mata yang berbeda itu.”

Meskipun telah dijelaskan untuk kedua kalinya, masih sedikit tak dapat dipercaya. Sampai pada akhirnya Bagas memerlihatkan dengan jelas kedua matanya kepada sosok yang cukup dia takuti dengan penampilannya.

“Kau juga, jangan bersembunyi terus begitu.”

Perlindungannya telah hilang. Mengatakan padanya untuk tak terus bersembunyi. Meskipun begitu, Bagas tetap masih belum menurunkan kewaspadaannya.

Dan benar, saat sosok yang cukup dia takuti itu melangkahkan kakinya, menuju lebih dekat dengannya. Bagas menjadi semakin waspada, tetapi dia tak berniat untuk mundur.

Sampai pada akhirnya, bocah laki-laki itu mengulurkan tangan kanannya saat mereka telah berada dekat satu sama lain.

Bagas menjadi sedikit bingung dengan perilaku yang tiba-tiba itu. Tetapi dia sepertinya juga mengetahui apa yang harus dia lakukan, mengulurkan tangannya seperti yang dilakukan lawan hadapnya. Mereka akhirnya berjabat tangan.

Setelah itu apa, Bagas tak tahu. Lawan hadapnya juga masih belum melakukan pergerakan. 

“Rian! Kau lupa menyebutkan namamu.”

Sampai temannya membisikkan langkah selanjutnya yang harus dia lakukan.

“O-oh iya. Namaku Riansyah Hasibuan.”

“Bagas Askara.”

Mereka selesai dengan perkenalan, jabatan tangan juga berhenti dilakukan. Lalu apa? Tak ada dari mereka yang tahu. Sampai si penengah lagi-lagi menolong mereka.

“N-namamu Bagas ya. Perkenalkan juga, namaku Euis Nur Hasanah.”

Meskipun begitu, si penengah kelihatannya tak bisa untuk menengahi konflik membingungkan yang terjadi di antara Bagas dan Rian. Bahkan konflik yang terjadi semakin lebih gawat dari sebelumnya.

Bagas yang sebelumnya kelihatan bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Saat itu telah memiliki keberanian untuk menatap balik dengan tajam pada Rian.

Si penengah kelihatan bingung dengan apa yang harus dia lakukan untuk menghentikan konflik yang sedang terjadi. Mereka berdua menatap tajam, seakan ada sesuatu yang tak terlihat yang keluar dari tatapan mereka.

Euis tak tahu hal seperti apa itu, dan yang lebih penting dari itu adalah untuk menghentikan pertikaian yang mungkin saja akan terjadi.

“H-hei kalian berdua, tenanglah lebih dahulu. Kita bisa gunakan kata-kata bukan.”

“Naah!”

Euis kembali mencoba menengahi, namun bukannya berhasil, hal itu malah membuat Bagas berteriak kencang yang membuat jantungnya berdebar sangat keras.

“A-a-a-apa!? Ada apa?!”

Dia sangat bingung dengan hal yang baru saja terjadi. 

Setelah berteriak sangat kencang, Bagas mendekat ke sisi Rian. Hal yang bisa membuat jantung Euis copot pun akan terjadi.

Namun, bukan sesuatu hal yang buruk yang dia lakukan. Justru sesuatu hal yang baik lah yang sedang dia coba praktikkan dengan Rian.

“Laki-laki juga bisa mengerti satu sama lain dengan tatapan bukan!”

Sambil merangkul Rian, Bagas mengatakan hal itu dengan cerianya.

“Yah, itu memang sedikit benar.”

Tetapi kelihatannya, Rian tak menyukai perilaku Bagas terhadapanya. Menampik tangan yang merangkulnya, dia membuat jarak antara Bagas dengan dirinya.

“Tapi saat awal kau menatapku dengan serius seperti itu, kupikir kau ingin memulai perkelahian denganku.”

“Apa yang kau katakan?! Justru saat pertama kali kedatanganmu di jarak pandangku itulah, kupikir kau menantangku berkelahi dengan tatapan seperti itu. Ngomong-ngomong, kau ini anak manusia bukan sih?”

Bagas mengatakannya, sebuah topik yang mungkin saja bisa membuat pertikaian antara mereka. Awalnya Euis lega karena Bagas hanya bercanda dengan perlakuan mereka, tetapi tidak dengan kata-kata barusan, karena dipikirkan dari mana pun, hal itu merupakan hal buruk yang seharusnya tak dikatakan. Terutama untuk seseorang yang baru saja kau kenal.

“Apa maksudmu?”

Namun, Rian berusaha untuk tak terlalu membawa perasaan terhadap perkataan Bagas, dan mencoba untuk meminta penjelasan lebih jelas terhadap pertanyaannya barusan.

“Itu karena, pertama kali melihat wajahmu, kupikir spesies anakan hominidae terbesar di dunia sedang berjalan dengan kedua kakinya.”

“Entah kenapa, meskipun aku tak tahu arti dari spesies yang kau katakan barusan. Hal itu membuatku ingin memukulmu.”

“Sudah-sudah, yang lebih penting kalian sekarang telah berteman. Bukannya itu bagus?”

Bagas dengan senangnya menjelaskan lebih detil tentang pernyataannya, namun Rian kelihatan tak senang dengan hal itu. Dan demi mencegah pertikaian yang mungkin saja akan terjadi, Euis segera berada di tengah-tengah mereka untuk menenangkan suasana.

“Jadi, apa kalian bertetangga?”

Dari belakang, Euis mendengarkan sebuah pertanyaan yang dia tak tahu bagaimana bisa dia mengetahui hal yang bahkan belum dia ketahui.

“Y-ya, di sana rumah Rian. Dan kami sudah bertetangga, kira-kira sudah cukup lama.”

Euis menunjuk ke arah rumah yang berada di sisi kanan rumah miliknya. 

“Hmmm, rumah Rian kelihatannya lebih kecil dari rumahmu ya, Euis. Oh iya, Rian, apa kau punya saudara?”

“Ya, aku punya.”

“Berapa jumlah saudara dan saudari di dalam rumahmu?”

“Aku punya tiga saudara laki-laki dan satu saudara perempuan.”

“Eehh! Rumah sekecil itu dihuni oleh tujuh anggota keluarga!”

“Ya, memangnya kenapa? Dan kenapa juga kau menanyakan hal itu padaku?”

“Ya, bun—ibuku pernah berkata alis seseorang akan semakin rapat kalau mereka sering mendapatkan gangguan mental, seperti sering marah-marah, atau kesal dan sebal, begitu.”

Rian dan Euis tak bisa berkata apa-apa terhadap pengetahuan yang dimiliki oleh Bagas. Dia bahkan telah menyimpulkan hal yang baru saja dia lihat dengan tepat dan benar.

“Jadi, apa kau sering merasakan hal seperti itu?”

Bagas mengarahkan pertanyaan itu pada Rian yang masih tak tahu harus berkata apa tentang kepintaran yang dia miliki.

“Y-ya begitulah.”

“Hm-hm, jadi begitu. Oke, mulai sekarang kita berteman dan kita akan bermain demi masa muda setiap hari! Yeayy!”

Mendekat ke arah dua bocah yang baru saja dia kenal. Bagas merangkulkan kedua tangannya kepada bocah yang sedikit malu-malu dengan perlakuaannya, dan juga kepada bocah yang tampang wajahnya tak berubah saat baru pertama kali bertemu dengannya.


***


“Huft~”

Tiba-tiba saja otot punggung yang telah dia kerahkan untuk bekerja keras menegang dan mengatakan padanya untuk segera melakukan penyegaran.

Setelah meregangkan tubuh dengan sekuat tenaga, Euis akhirnya mendapatkan kembali setidaknya sepertiga dari tenaga yang dia miliki.

“Ah! Putri!”

Tiba-tiba saja ajudan yang juga merupakan asisten bekerja dengan pesat mendekat padanya setelah dia kembali dari suatu tempat.

“Apa ada otot yang terasa tegang?”

“Hei-hei, Tri, sudahlah, tak perlu sekhawatir seperti itu.”

Dengan cepat menghampiri dan juga melakukan pemijatan padanya, Tri benar-benar menunjukkan kesetiaan yang besar menurutnya. Tetapi Euis tak terlalu menyukai perlakuan berlebihan seperti itu dan memintanya untuk berhenti.

“Tapi--!”

“Ya iyalah, mana mungkin pijatan tak terasa seperti itu bisa membuat otot yang lelah kembali normal. Tapi, dengan jamu ini, pasti akan membuat perasaan neng menjadi lebih baik.”

Tiba-tiba saja ajudan yang baru direkrut oleh Euis datang dengan senyum hangat dan juga sebuah minuman di tangannya.

“Silahkan, Neng.”

“Oh, makasih, Maya.”

“Sudah keharusan bagi kami para ajudan untuk berguna bagi pemimpinnya, Neng Euis.”

Meskipun niatnya baik, tetapi ada niat yang lebih buruk dari tikus selokan di dalam setiap tindakannya. Begitulah yang sedang dipikirkan Tri saat melihat setiap pergerakan yang dilakukan Maya.

Maya adalah sosok jelita yang bisa baik dengan siapapun. Berbeda dengan Tri yang bahkan memilih-milih saat ingin berbicara dengan orang lain, Maya akan menyambut siapa saja yang ingin dekat dengannya. Bahkan setan sekalipun.

Meskipun begitu, hal itulah yang sangat tak disukai oleh Tri. Karena di balik kebaikannya, dia mencoba untuk memanipulasi siapapun untuk menuruti setiap perkatannya.

Tri menjadi tak sabar dan mencoba untuk melakukan hal yang harus dia lakukan. Yaitu melindungi Euis agar tak masuk ke dalam rencana busuk Maya.

“Tunggu Putri!”

“Mm.”

“Sebelum itu, biarkan aku untuk mengetes apakah jamu itu tak memiliki racun di dalamnya.”

“Kenapa kamu berpikiran seperti itu?”

“Ya, karena aku memiliki firasat buruk kalau sampai putri meminum jamu itu.”

Saat si pemberi minuman sedang memalingkan pandangannya dari mereka berdua. Tri mencoba yang terbaik untuk melindungi Euis dari segala macam ancaman yang datang. Meskipun hal itu harus membuat dirinya berada dalam bahaya sekalipun.

Dia ingin mengambil cangkir yang berisi penuh dengan jamu, tetapi tangan Euis sudah lebih dahulu mendahului pergerakannya yang lambat dan bergetaran.

“Aaaa~!”

Dia berteriak histeris saat Euis telah mencicipi minuman yang diberikan Maya. Namun, bukan hal buruk yang terjadi, Euis malah kelihatan senang dengan minuman itu.

“Mm, ini, jamu kencur.”

“Ya, dan itu dibuat langsung oleh saya sendiri.”

“Ooh, aku gak tahu kalau kamu pintar buat yang beginian.”

“Hehe, ya begitulah. Walaupun masih ada kurangnya sih.”

“Enggak, ini aja udah enak kok. Tapi kalau kamu masih mau meningkatkan rasanya, maka itu hal yang bagus bukan.”

“Hehehe, jadi malu. Oh iya, neng, di luar cuacanya sedang bagus, kenapa gak coba beri penyegaran pada pikiran dan perasaan neng aja sekarang?”

“Iya juga sih, akhir-akhir ini pekerjaan menumpuk, jadinya jarang punya waktu buat menyegarkan diri. By the way, terima kasih jamunya, Maya, lain kali tolong bawakan lagi ya.”

“Baik!”

Rencana jahat yang sempurna dalam memanipulasi perasaan Euis telah berhasil dilakukan. Membuat Tri benar-benar tak tahan dengan tindakannya kali itu.

Euis telah pergi, membawa jamu bersamanya untuk di minum di luar ruangan. Sedangkan, saat dia meninggalkan meja kerjanya, perang sipil akan segera dimulai.

Melihat hal itu, seseorang yang kebetulan juga sedang beristirahat dengan pekerjaannya, bangkit dari tempat duduk dan mempermisikan diri pada adik-adiknya yang membantu pekerjaannya.

“Bang Rian, mau pergi?”

“Ya, beristirahat sebentar. Bolehkan?”

“Boleh-boleh, pergi aja kak, biar kami yang mengurus sisanya.”

“E-eh, aku jadi gak enak. Kalau gitu, kutinggal sebentar.”