Episode 39 - Raksasa dan Kancil



Risak dapat kembali bernafas lega setelah mendengarkan ceramah dari kepala sekolah selama hampir setengah jam. Dan akhirnya dia bisa pulang dengan tenang.

“Ingatlah untuk mengamalkan apa yang orang lain katakan padamu., ya!!”

Namun, baru saja dia selesai diceramahi, kepala sekolah memberikannya pesan untuk yang kesekian kalinya dengan topik yang sama.

Memang benar, kenakalannya mungkin dapat terbilang sudah kelewatan. Karena tahun itu dia sudah berada di kelas tiga, seharusnya dia sudah meninggalkan sifat buruknya itu. 

Dia berjalan dan hanya beberapa langkah saja untuk berada di jalan menuruni kaki bukit. Tetapi belum saja sampai ke titik itu, dia menemukan ada seseorang yang sedang duduk menunggunya di atas akar pohon besar.

“Kau benar-benar menungguku!”

Dia sempat memikirkan kalau Barend benar-benar akan menunggunya, tetapi tetap saja, hal itu merupakan hal yang dapat membuatnya terkejut. Membayangkan seseorang seperti Barend—yang jalan pikirnya tak dapat diperkirakan bisa menerima permintaan kecilnya.

“Ada apa?”

Barend yang telah menunggu Risak selama hampir 30 menit, bertanya secara langsung apa yang menjadi penyebab Risak memintanya untuk menunggu.

“Ah itu, bukannya tadi aku sempat mengatakan, kalau aku ingin jalan berbarengan denganmu sewaktu pulang ke rumah.”

Risak memang sempat mengatakan itu sebelum dia kena ceramah oleh kepala sekolah, namun siapa sangka dia benar-benar serius mengatakan hal seperti itu.

Dia pun kembali berjalan, melewati Barend yang sepertinya masih sempat bingung dengan maksud dari Risak yang sebenarnya.

“Apa yang kau tunggu?”


Di bawah rindangnya pohon, mereka berdua berjalan berduaan menuju ke desa. 

Saat itu langit telah menampakkan sisi orange miliknya. Yang berarti waktu itu sudah menunjukkan jam sore. Dan mereka baru saja kembali pulang meskipun jam pulang sekolah sudah sedari tadi berbunyi.

Risak berjalan di depan, dan Barend mengikuti di belakang dengan perasaan yang tak menentu. Kenapa Risak harus berjalan pulang berbarengan dengannya? Setelah hampir dua setengah tahun tak menjalani hubungan dan komunikasi, dia tiba-tiba saja ingin berada dekat dengannya.

“Jangan terlalu dibawa pusing.”

Risak berhenti, mengatakan hal itu sambil berbalik padanya.

“Kenapa?”

Barend bertanya seperti itu dengan perasaan yang masih sama. Meskipun Risak telah memintanya untuk tak terlalu terbawa pikiran oleh perilakunya yang sangat tiba-tiba.

“Kurasa aku sudah sangat cukup untuk mengamatimu. Dan pada akhirnuya aku mulai melakukan langkah selanjutnya.”

Barend sama sekali tak mengerti dengan apa yang sedang dikatakan oleh Risak. Hal yang dia ketahui setelah mendengar perkataannya barusan adalah, Risak telah lama melihatnya dari kejauhan. Dan hal itu dia lakukan tanpa sekalipun melakukan komunikasi dengannya.

Membuatnya menjadi lebih bingung karena hal itu terlalu tiba-tiba.

“Untuk apa?”

“Apa kau benar-benar ingin mendengar jawabaku tentang alasan kenapa aku berbuat seperti ini?”

“...”

Barend tak menjawab, tetapi dari wajahnya, Risak telah mengerti kalau Barend menginginkan jawaban yang pasti darinya.

“Baiklah kalau itu maumu. Tapi sebelumnya, ikutlah denganku.”

Tanpa memberi tahu jawabannya, Risak meminta Barend untuk mengikuti ke mana dia menuju. Meskipun dia tak memiliki niatan untuk melakukannya, tetap saja rasa penasaran membuatnya mengikuti ke mana kaki kecil Risak pergi.


Mereka telah sampai di desa, dan arah jalannya berbeda dengan arah menuju ke rumah Barend.

“Kudengar orang tuamu adalah pemilik tanah di daerah selatan.”

Risak bertanya tentang tanah kosong yang sekarang menjadi tempat tinggal Barend, atau lebih tepatnya, di wilayah yang memiliki banyak tanah kosong itu dibangun sebuah rumah kecil yang menjadi tempat tinggal Barend seorang diri.

“Umm.”

Barend menjawab singkat, meskipun begitu Risak telah mendengar jawaban yang jelas darinya.

“Kau tahu, sebenarnya aku memiliki rencana untuk memanfaatkan tanah kosong di daerah itu. Emm, bagaimana kalau kompleks rumah kontrakan. Dengan desain yang minimalis, kita bisa memberikan harga yang cukup murah bagi mereka yang ingin mengontrak. Terutama bagi mereka yang baru saja menikah, atau orang-orang dari luar kota.”

Risak mengatakan hal itu seolah rencana yang dia buat akan terwujudkan. Barend berpikir kenapa dia bisa mengatakan hal seperti itu dengan percaya dirinya, terutama saat dia menyangkutpautkan soal tanah kosong yang dimiliki oleh keluarganya, dan hal itu sama sekali tak memiliki hubungan dengannya.

“Kenapa kau mengatakan, hal seperti itu?”

“Umm, bagaimana ya, sebenarnya rencana itu juga memiliki kaitan dengan jawaban yang akan kau dengar nanti.”

Barend benar-benar tak mengerti dengan jalan pikir Risak. Dan dia dibuat semakin penasaran dengan jawaban yang akan dia terima nantinya, saat mereka telah sampai di tempat yang mereka tuju.


Setelah mengikuti Risak masuk sedikit jauh ke dalam daerah pinggiran timur desa, dia menemukan sebuah rumah yang beberapa saat yang lalu tak ada di situ.

“Ini? ini adalah rumah yang telah kurancang sendiri. Dengan memiliki dua lantai, yang memiliki dua kamar di atasnya. Satu ruang tamu di depan, ruang tengah yang memiliki dua kamar. Dapur yang dibuat sederhana, karena kita tak harus memiliki kemewahan di situ. Oh iya, kamar mandinya juga kubuat lumayan luas, karena kau mungkin saja akan mendapatkan kesulitan jika kamar mandinya berukuran kecil.”

Risak menjelaskan soal rumah yang kelihatannya telah dia rancang sendiri. Namun, ada hal yang telah membuatnya terkejut, karena Risak mengaitkan perancangan rumahnya supaya dia bisa tinggal dengan nyaman di rumah itu.

“Apa yang-“

“Ayo masuk.”

Sebelum Barend bertanya soal kebingungannya saat itu, Risak telah terlebih dahulu memintanya untuk masuk ke rumah. Membuka pintu gerbang berukuran sedang, Barend mengikuti Risak masuk ke wilayah rumah.

Risak berhenti di depan pintu dan mengambil kunci di dalam tas miliknya.

Pintu terbuka, Risak masuk dan Barend mengikuti dari belakang. Terlihat penampakan rumah yang kelihatannya baru saja dibangun. Di dalam rumah itu tak memiliki barang apapun, hanya ada bidang kosong.

“Karena masih baru saja dibangun, aku tak sempat untuk membereskan semuanya. Dan aku hanya memilih barang-barang yang akan kita rutin gunakan. Seperti kasur, lemari pakaian, dan juga peralatan-peralatan dapur.”

Barend benar-benar dibuat penasarang dengan alasan apa dia mengaitkan semua hal itu dengannya. Hal itu seperti Barend akan tinggal berdua dengan Risak di rumah itu.

Risak menuju ke lantai dua, Barend mengikutinya tanpa ingin bertanya lagi. Karena dia tahu, pertanyaannya mungkin akan diabaikan dan dia hanya memiliki pilihan untuk mengikuti perkataan Risak.

Mereka telah sampai di lantai dua, di lantai itu terdapat dua kamar yang mengarah ke timur dan barat. Risak menuju ke kamar yang mengarah ke barat, di dalam kamar itu terdapat satu buah kasur, dan satu lemari pakaian.

Risak masuk ke dalam dan menaruh tas miliknya ke atas kasur.

Barend tak mau memasuki kamar, karena dia berpikir kamar itu adalah milik Risak seorang. Tetapi pemikirannya salah, karena terlihat dari kasurnya, kamar itu dimaksudkan untuk ditiduri oleh dua orang.

“Apa yang kau tunggu?”

Saat itu Risak telah membuka pintu jendela balkon, dan silir angin mulai memasuki ruangan. Menggoda Barend untuk mengikuti perkataannya.

Barend telah masuk ke dalam, lalu apa? Dia tak tahu jawabannya dan hanya berdiri menatap Risak yang berdiri membelakanginya.

Beberapa saat kemudian, terlihat dia sedang menarik nafas dengan cukup berat. Seolah-olah dia memiliki hal yang ingin dia katakan, tetapi sulit untuk mengeluarkannya.

“Barend Everhart!”

Dari depan, Risak memanggil Barend seolah dia ingin mengatakan sesuatu yang benar-benar penting.

Barend tetap menunggu apa yang ingin Risak katakan, selagi Risak benar-benar tertekan di dada karena cukup sulit untuk mengeluarkan apa yang ingin dia katakan.

Setelah cukup menenangkan diri, Risak berbalik, menghadap Barend yang masih menunggu jawab darinya. 

“Mulailah kehidupan baru denganku.”


***


“Bu Risak yang melamar Om Barend?”

Elang seperti sedikit tak memercayai hal yang diberitahukan Ani tentang kisah masa lalu dari orang tua Bagas.

“Ya, begitulah yang aku ketahui setelah membaca secarik kertas yang dikirimkan bu Risak kepadaku beberapa waktu yang lalu.”

Masih di dalam pangkuan istrinya, Elang dibuat terkagum dari dalam hatinya saat mengetahui hal yang benar-benar membuatnya tertarik.

“Ada apa, sepertinya kamu baru saja tertarik dengan sesuatu.”

“Umm, bagaimana mengatakannya ya. Sepertinya aku mulai tertarik dengan bu Risak... eh, aduh, adududuh!”

Saat mengetahui kalau suaminya mengatakan sesuatu yang bisa membuatnya cemburu, Ani melancarkan serangan yang bisa saja membuat pipi kepucatan milik Elang berubah menjadi kemerahan.

“Tunggu-tunggu! Kamu salah paham. Aku memang mengatakan hal itu, tapi aku tertarik dengan bu Risak dengan dasar yang berbeda saat aku tertarik denganmu.”

“Hoo, jadi, dasar seperti apa yang membuatmu bisa tertarik dengan bu Risak?”

“Ya, ituloh, saat kau mengetahui kalau ada mainan yang bagus di pasar, kau pasti ingin langsung membelinya bukan. Enggak, tunggu, bukan seperti itu! aduh!”

“Hmm, jadi kamu menganggap kalau bu Risak itu mainan ya?”

“Enggak, bukan seperti itu!”

“Jadi, katakanlah dengan jelas. Apa yang membuatmu tertarik dengan bu Risak secara langsung. Tanpa harus membayangkan apapun.”

“Ituloh, tindakan yang dia ambil dengan keadaan sekarang.”

“Tindakan?”

Ani berhenti untuk menghukum Elang karena telah membuatnya menjadi cemburu. Elang lalu melanjutkan penjelasannya tentang kenapa dia bisa tertarik dengan ibu dari Bagas itu.

“Ya, kau tahulah. Setelah mengalami semua kejadian yang bersangkutan tentang anaknya, kau pasti merasa kalau setiap tindakan yang diambil oleh bu Risak pasti akan membawa kita kepada pemecahan masalah.”

“Maksud kamu, bu Risak telah memprediksi semua kejadian ini, begitu?”

“Ya, itulah yang kumaksud, prediksi. Tetapi dia tak mungkin sanggup untuk memprediksi semuanya, karena kemampuan otaknya masih berada dalam ranah manusia biasa.”

“Apa maksud kamu dengan membandingkan bu Risak seperti itu?”

“Pikirkan saja, tidak ada anggota dari keluarga Jawara yang memiliki kepintaran di bawah rata-rata. Kamu pasti sudah mengetahuinya karena kamu telah mengenal Bagas sejak kecil bukan. Pikirkan saja, bahkan tanpa kamu sadari, IQ yang dia miliki setara atau bahkan melebihi ilmuwan terjenius yang pernah ada. Tetapi mereka tak pernah menggunakan kemampuan itu untuk membuat sebuah penemuan, atau apapun yang bisa mengguncang dunia. Untuk sekarang aku masih tak tahu jawaban pastinya, tapi yang telah aku pastikan adalah, kalau seluruh anggota keluarga mereka masuk ke dalam dunia bisnis, atau membangun sebuah perusahaan untuk memperluas kekayaan keluarga mereka.”

“Tapi kalau kamu mengatakan untuk memperkaya, tak ada satupun anggota keluarga mereka yang memasuki ranah orang terkaya di negara.”

“Itulah yang membuatku bingung. Kalau saja mereka ingin menguasai negara ini, mungkin saja mereka bisa. Tapi, hmm, sudahlah, lagipula konflik dari cerita ini tak terkait dengan keluarga. Melainkan dengan dua orang yang tertidur di atas sana.”

“Meskipun begitu, kamu tetap penasaran bukan.”

“Ya, aku bisa menemukan jawabannya di lain kali. Karena yang lebih penting lagi, adalah memanfaatkan kesempatan yang telah diberikan bu Risak kepada kita.”

Elang telah cukup mendapatkan kasih sayang dari pangkuan Ani, dan dia bangkit lalu berjalan menuju ke lemari sebelah tv.

“Memanfaatkan, caranya?”

“Kamu pikir sedang bertanya kepada siapa.”

Ani penasaran dengan langkah yang ingin diambil Elang, tetapi Elang menjawab pertanyaannya seolah dia telah mengetaui jalan keluarnya tanpa harus berkonsultasi dengan Ani.

“Baiklah, aku hanya perlu memberikan dukungan pada tindakanmu, bukan begitu?”

“Kau memang wanita terbaik yang kumiliki sekarang ini.”

“Hmm, kamu mengatakan hal seperti itu seolah akan ada yang kedua atau ketiga setelah aku.”

“Hehe, maaf, tapi kamu sedikit salah tentang menganggap kamu adalah yang pertama. Karena wanita terbaik bagi seluruh laki-laki di dunia ini, posisi pertama dan yang takkan tergantikan pastinya adalah,seorang ibu.”

Elang mengambil sebuah bingkai foto yang ada di atas lemari. Melihatnya seolah dia sedang bernostalgia dengan foto yang ada di dalamnya.

“Kalau begitu, biar kutebak, kamu menginginkan seorang kembang.”

Nafas Elang sesaat seolah-olah tertekan oleh sesuatu. Membuatnya hampir mengeluarkan sebuah tawa kecil.

“Y-ya, tapi aku pikir satu pasang seorang pendekar dan juga kembang cukup bagus.”

“Hm, sepasang ya.”

“Y-ya, begitulah.”

Elang menaruh bingkai foto yang dia lihat sebelumnya. Berjalan ke arah Ani yang sepertinya ingin pergi ke dapur, tanpa disadari mereka telah menghabiskan cukup banyak waktu untuk memutar kilas waktu tentang kedua orang tua dari sosok anak kecil yang dulu mereka ketahui memiliki kejahilan tanpa batas.