Episode 38 - Kisah Mereka



Di bawah naungan pohon jati yang rimbun, seorang murid laki-laki bertubuh raksasa sedang bersandar. Tingginya hampir mencapai angka dua pada satuan meter. Kulitnya yang kelihatan pucat menandakan kalau dia bukanlah keturunan asli suku yang ada negeri.

Di depannya terdapat sebuah danau yang kelihatan bersahabat. Airnya mengalir dengan sangat tenang. Bahkan kelihatan kalau air yang mengumpul di danau seperti sesuatu yang berbentuk tranpsaran.

Hal yang dapat memberitahukan kalau air benar-benar berada dilubang besar itu adalah, daun-daun kering yang berjatuhan dan mengikuti arus. Serta sinar matahari yang terpantul di atasnya.

Murid laki-laki itu membuka matanya. Warna biru keabu-abuan dapat terlihat saat dia telah terbangun dari tidurnya. 

(“Apa kau sudah bangun?”)

Sebuah suara datang, menyapa padanya. Namun, suara itu berasal dari entah di mana. Meskipun begitu dia tak merasa harus panik atau melakukan hal lain yang membuatnya terkejut. Justru dia merasa lebih nyaman setelah suara itu datang kepadanya.

“Umm.”

Setelah menarik tubuhnya yang bersandar di pohon, dia lalu membalas sapaan itu yang membuatnya memerlihatkan senyumnya.

Wajahnya kelihatan lesu, lebih terlihat seperti dia tak memiliki semangat untuk hidup. Meskipun tubuh bongsor tersebut yang membantunya setiap kali melakukan kegiatan sehari-hari.

(“Hari sudah semakin sore, sebaiknya kau pulang sekarang.”)

Setelah mendengarkan perkataan barusan, dia lalu bangkit dan berdiri. Berjalan menjauh dari tempat damai dan nyaman yang membuatnya betah untuk berada di situ hampir seharian penuh. 

Di bawah pohon-pohon besar nan rindang, dia melewati jalan yang dia biasa tapaki. Meskipun ada akar dan rumput-rumput yang menghalangi, kaki besarnya membuat pertanda kalau dia sering melewati jalan itu.

Setelah beberapa saat melewati jalan setapak yang dia ciptakan sendiri, dia bertemu dengan tanah lapang yang memiliki tiga buah bangunan yang menjadi satu di atasnya.

Bangunan yang merupakan bangunan sekolah yang telah berdiri selama hampir tiga tahun untuk memberikannya pengetahuan baru.

Dia berjalan menuju bangunan ketiga. Membuka pintu, dan dapat terlihat suasana ruangan yang sepi, seperti tak ada seseorang di dalamnya. Meskipun begitu, duduk seorang gadis yang merupakan teman sekelasnya, membaca buku dengan tenangnya.

Wajahnya cantik, dan tubuhnya kelihatan seperti gadis seusianya—tidak terlihat kecil maupun besar. Sangat berbeda dengan ukuran tubuh miliknya yang bisa dikatakan tak normal.

Tanpa memerdulilkan keadaan gadis itu, dia lalu melangkah masuk dan menuju ke kursi miliknya. Seketika saat dia ingin mengambil tas yang dia letakkan di dalam laci, dia terkejut kalau sebenarnya tas itu tak ada di tempatnya.

Dan pada saat itu juga dia telah berpikir, kalau sepertinya itu adalah perbuatan jahil seseorang.

Karena tak ingin berlama-lama tinggal di kelas, akhirnya dia memutuskan untuk mencari sendiri tas miliknya. Meskipun dia tahu, masalahnya akan cepat selesai kalau dia langsung bertanya kepada gadis yang sejak tadi berada di kelas.

Dia mencari ke setiap sudut ruangan, di masing-masing laci meja teman-temannya. Bahkan dia juga mengecek meja guru untuk jaga-jaga. 

Tak ada di mana pun, mungkin saja di luar. Pikirnya.

Mengetahui kalau baru kali ini, selama hampir dua setengah tahun dia bersekolah, ada seseorang yang mengerjainya. Membuatnya tak habis pikir, apa motif di balik si pelaku.

“Apa kau benar-benar berniat untuk tak bertanya, dan mengandalkan dirimu sendiri seperti itu?”

Gadis itu menyuarakan perkataannya, yang kedengarannya dia sedikit tidak senang karena keberadaannya sempat diacuhkan olehnya.

Meskipun begitu, dia juga tak tahu apa yang harus dilakukan dengan keadaan seperti itu. Apakah dia harus meladeni gadis yang bahkan arah wajahnya masih terfokus pada buku?

Namun, karena tak ingin mendapatkan masalah yang lebih rumit lagi, akhirnya dia kembali untuk berjalan keluar. Mencari tasnya yang mungkin saja dibuang atau apapun sehingga berada di luar ruangan.

“Tas milikmu... masih ada di ruangan ini.”

Secara tidak langsung, gadis itu memberitahukan letak yang tak pasti dari tas miliknya. Akan tetapi, apa yang harus dia lakukan selanjutnya? Dia telah mencari ke setiap sudut ruangan, dan dia tak merasa kalau sudah melewatkan satu sudutpun saat mencari.

“Coba pikirkan lagi, karena beberapa faktor, kau lebih dianggap tidak ada dibanding ditakuti. Dan jika kau memikirkan kembali tentang siapa yang berada di kelas paling akhir, maka dialah pelakunya.”

Untuk kedua kalinya, secara tidak langsung gadis itu memberitahukan sendiri, di mana tas miliknya berada. Dan tas itu sekarang, ada pada gadis itu.

Meskipun dia telah mengetahui, kalau menjahili adalah perbuatan yang buruk, dia tetap melakukannya. Terlebih lagi, seseorang yang dia jahili sekarang sedang berada tepat bersamanya, berdua saja di ruangan kelas.

Karena telah mengetahui pelakunya, apa yang harus dia lakukan adalah meminta untuk mengembalikan tas miliknya. Dia lalu berjalan mendekat ke arah gadis yang ukuran tubuhnya dapat terbilang mungil itu.

Walaupun mereka telah berhadapan seperti itu, tak ada perasaan kalau gadis itu akan memberikan tas miliknya. Bahkan sejak dia berdiri di hadapanya, gadis itu masih fokus dengan bukunya.

Dia sedikit tak tahan dengan sikap tak menentu gadis itu, jadi dia berniat untuk meminta kembali tas miliknya. Namun, karena beberapa alasan dia tak bisa mengeluarkan suaranya.

“Kenapa, apa kau tak ingin tas milikmu dikembalikan...??”

Meskipun gadis itu sudah tahu alasan kenapa dia mendekat padanya, gadis itu tetap bersikeras dengan pendirian yang tak bisa diperkirakan. Gadis itu yang menyembunyikan tas miliknya, dan pemiliknya telah berada di hadapannya. Jadi apa yang diinginkan oleh gadis itu? apa sebuah permintaan secara langsung?

Mungkin itu adalah jawaban yang tepat dari segala kemungkinan yang ada. Karena itu, yang harus dia lakukan adalah memintanya secara langsung.

“Kembalikan.”


***


Suaranya terdengar berat dan kasar. Itulah yang didengar oleh Risak. 

Satu-satunya murid laki-laki yang menarik perhatiannya. Terlebih lagi, rambut coklat kepirangan, wajah yang lebih kelihatan seperti penduduk belanda. Ukuran tubuhnya juga secara tak langsung mengatakan, kalau dia bukanlah keturunan asli dari penduduk indonesia.

Akan tetapi, sikapnya yang selalu menyendiri, tak ingin sama sekali menjalin pertemanan, meskipun dia bisa saja mendapat satu atau dua teman kalau dia ingin. Dan yang terlebih lagi, suaranya yang baru saja dia dengar selama hampir dua setengah tahun bersama di kelas yang sama, membuatnya sedikit mengerti, kalau dia memiliki kondisi mental yang cukup unik.

“Apa yang kau ingin aku untuk kembalikan...?”

Namun, karena hal itulah, dia sangat menaruh perhatian pada anak laki-laki yang memiliki nama Barend Everhart itu.

“Tas.”

Suaranya yang terdengar khas di telinganya, besar dan kasar, dan juga kedengarannya dia benar-benar berusaha untuk mengeluarkan setiap kata yang ingin dia ucapkan. 

Risak masih belum benar-benar mengerti, apa gejala dari sikap lelaki di sampingnya itu. 

Setiap satu kata yang dia ucapkan mengandung banyak makna. Dan sepertinya dia tak memiliki niat untuk memperpanjang penjelasannya karena merasa kalau lawan bicaranya telah mengerti maksud perkataannya.

Terlebih lagi, dia pasti selalu berada tepat pada topik pembicaraan dan tak ingin berbasa-basi dengan hal lain.

Dengan kata lain, lelaki yang tak ingin membuang waktunya. Mungkin filsafat seperti itulah yang dapat mengartikan setiap tindakannya

“Ah, tas itu, memang benar aku yang mengambilnya dari laci. Tapi sebenarnya, tas milikmu tak berada di tanganku sekarang.”

Barend menjadi lebih bingung dibuatnya, Risak berkata kalau dialah yang mengambil tas miliknya. Tetapi dia berkata lagi kalau tas itu tak berada di tangannya.

“Di mana?”

“Ah, kalau itu.”

Risak menunjuk ke atas atap saat Barend bertanya di mana tas miliknya, meskipun dia hanya mengucapkan satu atau dua kata. 

Menengadah, Barend menemukan tas miliknya tersangkut di balok datar yang tak memiliki genteng. Terlihat cukup tinggi, namun, jika dia mencoba untuk mengambil tas itu dengan usahanya sendiri, mungkin saja masih bel,u cukup.

“Maaf, aku terlalu senang saat mencoba untuk menjahilimu. Sampai-sampai membuatku melempar-lemparkan tas milikmu dan membuatnya menjadi seperti sekarang ini.”

Permasalahan yang dikatakan dengan respon yang cukup sepele, dia rasa. Meskipun begitu Barend tak habis pikir, kenapa Risak ingin sekali menjahilinya.

Namun hal yang harus dia lakukan adalah untuk mengambil kembali tas miliknya.

Tinggi dari genteng—tempat di mana tas miliknya tersangkut, setinggi 4 meter. Tinggi dari Barend diperkirakan hampir mencapai dua meter, jika dia menambah tingginya dengan bantuan meja, mungkin saja bisa.

Dia lalu mencoba untuk mengambil tas miliknya dengan naik ke atas meja temannya. Perlakuan yang memang tak terpuji, tetapi dia terpaksa melakukan itu. 

Dia sudah naik, dan tangannya berusaha untuk menggapai ke atas. Masih belum sampai. Dia menambah satu kursi—kursi kayu—untuk menambah pijakannya. Hanya tinggal beberapa senti lagi sampai, tetapi dia masih tak sanggup menggapai tas miliknya.

“Pfft.”

Risak sedikit dibuat terhibur oleh perilakunya. Barend tak habis pikir, kenapa dia menertawai seseorang yang sedang kesusahan.

“Haduh... maaf-maaf, tapi melihatmu seperti itu. Berpikir kalau kau adalah satu-satunya orang yang tak marah, karena kejahilanku, itu membuatku merasa sedikit geli.”

Barend tak membalas perkataan Risak dan mulai turun ke lantai.

“Tidak, bukan bermaksud untuk menjelek-jelekkanmu. Hanya saja, kau terlalu baik menurutku. Atau kau hanya merasa tak peduli dan ingin masalah yang kau hadapi dengan cepat selesai tanpa harus membuat masalah lain. Sikap seperti itulah yang patut diacungi jempol.”

Risak menutup buku dan meletakkannya ke meja. Lalu dia mulai berdiri sambil berbicara.

“Dan kau salah mengira, kalau tinggimu dan tambahan satu meja dan kursi dapat menggapai ke atas itu. Setidaknya, kau butuh 0,20 cm lagi untuk menggapai ke atas sana. Dan lagi, kau tak membutuhkan tambahan kursi kalau kau memiliki aku.”

Barend dibuat bingung oleh perkataan Risak. Dia mengatakan kalau Barend tak membutuhkan tambahan kursi untuk menggapai tas miliknya, karena dia punya Risak di hadapannya. Tetapi apa yang harus dia lakukan dengan itu sebenarnya.

“Naikkan aku di bahumu, dengan itu kita bisa menggapainya.”


Setelah setuju dengan rencana Risak, akhirnya Barend mengijinkannya naik ke atas bahu dan Risak yang mengambil tas miliknya.

Barend berada di atas meja, sedangkan Risak berada di atas kursi. Posisi Barend jongkok dan menunggu Risak naik ke atas bahunya. Risak yang memiiliki tubuh yang cukup mungil, mendapatkan sedikit kesusahan dalam menggapai bahu Barend.

Dan setelah beberapa usaha dilakukan dengan sekuat tenaga, akhirnya Risak berhasil naik ke atas bahu Barend. Lalu seperti yang dia katakan, mereka berdua berhasil menggapai tas yang tersangkut di antara dua sudut papan.

“Hei, apa yang kalian lakukan!?”

Namun, seseorang datang dan menanyai perilaku mereka.

Meskipun begitu, perhatian mereka tak bisa begitu saja dialihkan karena kesalahan yang fatal mungkin saja bisa membuat mereka terjatuh. Karena itu untuk sejenak mereka mengabaikan suara ancaman itu dan turun secara perlahan.

Mereka berhasil turun tanpa mendapatkan masalah, akan tetapi, ada satu masalah lain yang harus mereka selesaikan.

“Ah, Pak Kepsek.”

Risak melihat ke arah seseorang yang datang, wajahnya kelihatan masih muda, meskipun begitu umurnya sudah tergolong 40 tahun.

“Apa yang baru saja kalian lakukan?”

Kepala sekolah masuk ke ruangan dan langsung mendatangi mereka.

“Maaf, tadi secara tak sengaja saya melemparkan tas milik Barend sampai tersangkut di atas balok tadi.”

Namun, Risak menjawab pertanyaan yang merupakan kesalahannya sendiri tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Sebaliknya dia malah senang karena dia bisa menanggungjawabi kesalahannya.

“Hmm, begitu ya, jadi kamu benar-benar tak pernah kapok dengan menjahili orang lain. Oke, Barend, kau boleh pulang. Dan untukmu, Risak, kau pasti tahu apa yang akan kau dapatkan sekarang bukan.”

“Ceramah. Yah, mau bagaimana lagi, padahal aku ingin sekali pulang bareng dengan Barend.”

“Kau bisa lakukan besok, untuk sekarang...”

Kepala sekolah memulai ceramahnya pada Risak. Sedangkan untuk Barend, karena dia adalah korban di sini, jadinya dia bisa pergi dari perlakuan yang termasuk ke dalam siksaan batin itu.

Tetapi, sesaat sebelum dia keluar, dia berhenti sejenak dan melirik ke arah Risak. Dari situ dia dapat melihat gerak bibir dari Risak, yag mengisyaratkan kalau dia harus menunggunya.

“Hei! Kau dengar tidak perkataan bapak!?”

“Saya mendengarkan betul apa yang bapak sampaikan.”

“Kalau begitu yang harus kau lakukan selanjutnya adalah mengamalkan apa yang orang lain katakan padamu...”