Episode 37 - Baja Yang Tersimpan Di Dalam Hati



Tangannya mengelus secara halus dan perlahan di atas kepala yang sedang sangat kelelahan. Kelelahan karena hatinya terus saja dibuat khawatir oleh keadaannya sekarang.

Sentuhan itu juga bermaksud untuk membawanya tertidur. Setelah beberapa saat terus mengelusnya, akhirnya jiwa di dalam tubuh itu terbang dalam dunia mimpi. Melupakan sejenak masalah yang sedang dihadapinya.

“Maaf, karena telah melupakan keberadaanmu walaupun sesaat di dalam ingatanku, Erina.”

Suaranya parau, lemah karena tenaganya yang hampir terkuras hanya untuk mengelus kepala yang kelihatan lelah itu.

Bahkan hanya karena melakukan itu saja, sudah membuatnya sangat kelelahan dan bahkan hampir membuatnya kehilangan kesadaran. 

Sesaat sebelum dia kehilangan kesadarannya, suara dari pintu depan yang terbuka kuncinya terdengar. Itu mungkin adalah Ani atau Elang yang sedang membuka pintu. 

Sebelumnya Ani memang bilang kalau mereka akan menginap karena tak bisa membiarkan Erina bersama Bagas yang hanya berdua di rumah. Terutama saat keadaan Bagas menjadi sangat buruk seperti itu.

Dia lalu menarik kembali tangannya. Erina juga kelihatannya sudah menyelam cukup jauh ke alam bawah sadar—tertidur.

“Kalau gitu aku akan naik ke atas.”

Sedikit terdengar perbincangan antara Elang dan Ani, yang sepertinya Elang akan naik ke lantai dua—menuju ke kamar mereka.

Setelah beberapa saat menunggu dengan menutup mata, akhirnya Elang sampai di depan kamar. Bagas bisa merasakan kalau Elang sedang memandanginya sekarang. Dia lalu berjalan ke sisi Erina, kelihatannya dia akan memindahkan tubuh Erina yang sedang tertidur itu.

***

Ani berada di dapur untuk memasak air panas dan juga menyediakannya untuk persediaan. Sedangkan Elang naik ke lantai dua untuk melihat dua insan yang dia sayangi. Terutama untuk Erina.

Saat dia berada tepat di depan kamar, dia mendapati kalau saudarinya—kakak tirinya sedang tertidur di sisi ranjang. Menyandarkan tubuh dan kepalanya di pinggiran. Dia juga mendapati seorang yang membuat kakaknya jatuh hati, sekaligus murid terbaiknya berbaring lemah di atas ranjang.

Dia mendekat kepada mereka, terutama menuju ke sisi kakaknya. Wajah berseri yang diterangi oleh langit malam itu membuatnya sedikit patah hati. Karena dari seluruh perasaan yang dia pendam, memiliki perasaan tersendiri untuk Erina.

Dia lalu mencoba mengangkat kakaknya, seperti seorang pangeran yang sedang menggendong seorang putri, dia membawa tubuh Erina yang sedang tertidur itu menuju ke kamar sebelah—kamar Bagas.

Setelah sampai di sebelah ranjang, dia segera menaruh tubuh Erina ke atas ranjang. Membuatnya sangat perlahan dan lembut sehingga tak membuat tidur kakaknya terganggu.

Saat tubuh yang sedang kelihatan lemah itu berbaring. Sempat terasa godaan untuk Elang agar berbuat sesuatu dengannya. Wajahnya yang bahkan masih kelihatan sangat menggoda saat tertidur, atau bahkan kelihatan lebih cantik dari biasanya, membuat perasaan Elang menjadi lebih gundah.

Dan setelah terus berpikir apakah dia akan melakukan sesuatu pada tubuh itu atau tidak, akhirnya nafsu lah yang memenangkannya. Dia lalu menjulurkan tangannya menuju ke wajah yang lemah itu, menggeser rambut yang menutupi dahi.

Setelah disingkirkan, terlihat dahi yang tanpa pertahanan. Elang lalu mendekatkan wajahnya menuju ke dahi itu, meletakkan bibirnya sejenak, lalu menariknya kembali.

Dia telah melakukan apa yang dia inginkan. Jika dia terus berlama-lama melihat Erina yang seperti itu, hatinya malah akan menjadi semakin sakit. Karena itu dia bergegas menuju ke kamar sebelah, mendatangi Bagas.

Masuk ke dalam, dia melangkah menuju ke depan balkon—setelah membukanya. Suasana saat itu cukup dingin, dan dia merasa bersalah kepada seseorang yang sedang berbaring sakit.

“Maaf, tapi aku hanya merasa kalau hal ini juga tak terlalu buruk. Apa kau kedinginan?”

Seseorang yang diajaknya berbicara, awalnya menutup mata, tetapi saat Elang tahu kalau dia tak benar-benar tertidur, akhirnya dia membuka mata dan berniat untuk meladeni Elang.

Namun, dia tak memberi jawaban atas pertanyaan Elang, dan hanya menatap ke atas.

“Bagaimana keadaanmu?”

“Kau tak perlu mengkhawatirkan apapun padaku.”

“Jahat! Padahal aku hanya ingin memberi sedikit perhatian padamu.”

Elang mendapat perasaan cuek yang sangat dengan salah satu murid kebanggaannya itu. Tetapi dia tak merasa marah atau lainnya, dia malah merasa kalau usaha yang dia lakukan tak diterima dengan baik.

“Apa yang sebenarnya kau inginkan?”

“Pergilah masuk ke kelas sewaktu sekolah.”

“...”

“Hahaha, bercanda-bercanda. Tapi sebagian dari itu benar.”

“Bagian mana yang membuatmu terlihat serius, dan kapan kau akan terlihat sedang bercanda.”

“Ehe, apa terlihat terlalu rumit seperti itu.”

“Jangan coba-coba untuk bermain denganku. Kalau kau tak ada apapun untuk dikatakan, maka pergilah.”

Saat Bagas mengatakan hal itu, dengan nada yang terdengar cukup tak sabaran. Elang akhirnya menghentikan akting bercanda dan mulai terlihat serius.

Bersandar di pinggiran balkon, dia melipat kedua tangannya. Wajahnya dihadapkan ke arah langit malam. Namun pikirannya sedang terfokus pada seseorang yang tertidur di kamar sebelah.

“Tolong, lindungilah kak Eruin.”

Dengan pose yang tak berubah, Elang mengatakan itu sembari menunddukkan wajahnya.

“Untuk apa?”

“Karena, dia adalah salah satu orang yang paling berharga bagiku.”

“...lalu?”

“Apa kau tak merasa kasihan dengan gurumu ini.”

Merasa diacuhkan meskipun mereka sedang berbicara, Elang sekali lagi membuat sebuah candaan untuk tak membiarkan suasananya menjadi terlalu serius.

“Enyahlah.”

Namun, Bagas merasa benar-benar tak nyaman dengan hal itu.

“Apa kau, benar-benar tak ingin melakukannya?”

“...”

“Setidaknya kau juga sudah memikirkan kelebihan, dan kekurangan dari sandiwara ini bukan. Karena itu, aku akan bertanya sekali lagi padamu. Tolong, lindungilah kak Eruin.”

“Kau takkan bisa membuatku merubah pikiranku.”

“Aku memang takkan bisa. Apapun yang kukatakan akan sia-sia. Tapi tidak dengan kak Eruin, hanya dengan bersamanya beberapa waktu pasti sudah membuatmu tersadar, betapa lemahnya dia bukan.”

Bagas tak segera menjawab. Keheningan terjadi di antara mereka.

Dan pada saat mereka ingin melanjutkan, aura dari kedatangan seseorang muncul. Membuat niat mereka untuk melanjutkan terhenti. 

Seseorang memasuki ruangan, membawa satu buah nampan dengan satu cangkir besar berisi air hangat, dan juga bermacam-macam obat yang akan diminum oleh Bagas.

“Walah, sebanyak itu...?!”

Melihat barang bawaan Ani, Elang sedikit terkejut dengan porsi obat yang akan langsung diminum oleh Bagas.

“Dia harus meminum semua ini karena dia terus menolak suntikan.”

Setelah meletakkan nampan, Ani mencoba untuk membantu Bagas bangkit. Dia lalu mengambil obat yang telah tersedia di mangkuk kecil, memberikan itu pada Bagas, lalu kemudian dia bersiap-siap memegang cangkir.

Bagas lalu langsung mengambil seluruh obat yang ada. Menggenggam semua di tangan kanan, lalu menelannya sebagian. Ani dengan cepat langsung menyuguhkan air minum padanya. Semua obat yang ada di mulut langsung tertelan dalam satu kali tegukan.

Dia juga melakukan hal yang sama untuk obat yang tersisa. Sampai obatnya habis dan dia disandarkan sejenak untuk membuat obatnya turun terlebih dulu ke dalam perut.

“Aku akan segera kembali. Elang.”

“Hmm?”

“Sebaiknya jangan terlalu memaksakannya. Karena keadaannya sedang buruk sekarang.”

“Tentu saja! Memangnya siapa yang mau menyiksa murid terbaik jurusan TKJ ini.”

“Baguslah kalau begitu.”

Setelah membereskan barang bawaannya. Ani lalu pergi lagi menuju ke lantai bawah. Untuk melakukan sesuatu sebelum membiarkan mereka semua tertidur malam itu.

“Maaf, karena telah cukup memaksakanmu tadi. Dan aku sudah menyerah untuk membujukmu, tapi aku takkan berhenti untuk mendukung kak Eruin.”

“Kenapa?”

“Hmmm, kau tahu, sepertinya kau harus mulai berhenti bertanya satu hal dengan banyak kemungkinan seperti itu. Seseorang yang pintar berkomunikasi mungkin akan langsung mengerti maksudnya, tapi bagaimana dengan orang lain.”

“Jangan mencoba menceramahiku(!)”

“-E’eh, maaf. Oke, kita kembali ke topik pembicaraan. Kalau kau tanya kenapa? Itu mungkin karena aku mencintainya.”

Dalam artian yang berbeda tentunya. Namun Elang tak mengatakannya karena Bagas pasti sudah tahu maksudnya.

“...”

“He.. hei, jangan melirikku dengan wajah yang mengatakan kalau aku orang yang menjijikkkan seperti itu dong. Kau tahu bukan, kalau aku benar-benar serius mengatakannya. Kalau kak Eruin adalah, seseorang yang takkan pernah bisa kumiliki.”

Keheningan sekali lagi melanda suasana saat itu. Karena Elang telah mengatakan sesuatu yang benar-benar tak bisa diperkirakan, kalau dia akan serius mengatakannya. Terutama kepada seseorang yang menjadi alasan Erina untuk bertahan sampai sekarang.

“Tapi aku juga tak memaksamu untuk mencintainya sebagai penggantiku. Aku hanya ingin, kalau kau benar-benar memiliki perasaan untuk memilikinya.”

“Kenapa harus?”

“Karena aku yakin, dia bisa menjadi penyembuh bagi lukamu.”

Saat Elang mengucapkan kalimat terakhirnya, mereka berakhir dengan menatap satu sama lain. Salah satunya merasa muak dengan akting bodoh yang diperlihatkan padanya. Salah satunya lagi berniat takkan berhenti untuk meyakinkan yang lain untuk segera mengakui kebenarannya.

“Huhh, iya-iya aku kalah. Tapi hanya untuk kali ini saja. Dan aku takkan berhenti untuk meyakinkan padamu kebenarannya. Bahwa, kalian itu saling membutuhkan satu sama lain.”

Setelah perbincangan itu dirasa akan berakhir, Elang berniat untuk pergi meninggalkan Bagas. Namun, sesaat sebelum dia keluar dari ruangan, dia ingin untuk mengucapkan kalimat terakhir tanpa harus berbalik badan.

Sehabis melakukan hal itu baru dia keluar dari kamar. Di luar, sudah menunggu sosok istrinya. Sepertinya sudah cukup lama dia berada di situ.

“Sejak kapan kamu sudah di sini?”

“Sejak kamu mengatakan kalau Erina adalah seseorang yang takkan pernah bisa kamu miliki.”

Saat itu Ani bersandar di dinding. Kelihatan kalau dia menunggu saat yang tepat untuk masuk ke dalam kamar. Dan saat yang tepat adalah, saat pembicaraan serius antara Elang dan Bagas terhenti.

“Begitu ya...?”

“Kamu tak usah terlalu memikirkan hal itu. Lagipula aku takkan menerima tawaranmu, kalau aku tak mengetahui sebenarnya kamu sedang mengalami cinta bertepuk sebelah tangan.”

“I-itu jahat.”

“Humm, dan jika saja takdir berkata lain. Mungkin saja aku sudah menerima tawaran dari bocah laki-laki yang dulu sempat melamarku.”

“Dan bocah itu sekarang melihatmu berada di sisi orang lain, sekarang.”

“Takdir akan selalu membawa kita kepada kebaikan, Elang. Kalau saja semua belum terasa baik, maka itu berarti kehidupan masih belum berakhir.”

“Kau selalu tahu bagaimana caranya untuk menciptakan suasana menjadi lebih tenang ya, sayang.”

“Memangnya dengan siapa kamu sedang berbicara.”

Merasa kalau pembicaraan mereka harus dihentikan sejenak, Ani kembali berjalan untuk melihat kondisi Bagas. Sedangkan Elang pergi ke bawah, memastikan rumah sudah terkunci dan aman untuk ditinggal tidur.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?”

“Baik.”

Berada di sisi Bagas, Ani mencoba untuk membantunya berbaring kembali. 

Setelah membaringkannya, Ani mendapat firasat kalau dia harus mengecek secara langsung keadaan Bagas. 

Tangannya ditaruh di atas dahi, permukaan kulitnya merasakan suhu panas yang berbeda dengan sebelumnya. Mengembalikan tangannya, Ani berbicara dengan perasaan menduga.

“Kalian ini, kalau sedang berhadapan satu sama lain benar-benar tak bisa menahan diri. Meskipun begitu, setidaknya ketahuilah keadaanmu sendiri saat ini.”

Dalam nada bicaranya, Ani terlihat sedikit memarahi Bagas karena dia tak bisa menahan diri saat berhadapan dengan Elang sebelumnya.

Bagas tak merespon kemarahan Ani karena kelihatannya dia tak lagi memiliki tenaga, atau dia juga tak memiliki niatan untuk melakukannya.

Ani kembali berdiri dan segera membereskan ruangan. Jendela balkon ditutup. Horden dibiarkan sedikit memerlihatkan keadaan luar. Kamar masih dalam keadaan sebelumnya, gelap dan hanya diterangi oleh jendela balkon.

Setelah merasa kalau dia bisa meninggalkan Bagas, Ani kemudian berbalik ke kamar sebelah untuk melihat keadaan kakak iparnya. 

Tertidur dengan berselimutkan kain yang cukup tebal. Wajahnya kelihatan cukup lelah, meskipun dia tak mengeluarkan banyak tenaga hari itu. Meskipun begitu, kekhawatirannya terhadap keadaan Bagas benar-benar telah menguras tenaganya.

Keadaan Erina juga sudah baik untuk ditinggalkan. Namun, dia kembali ke kamar sebelah, di mana kelihatannya Bagas belum benar-benar tertidur. Dia memberikan satu pesan sebelum benar-benar meninggalkan mereka.

“Bunyikan saja lonceng itu, kalau kamu membutuhkan kami.”

Tanpa disadari, Ani telah meletakkan sebuah lonceng kecil di sebelah bantal Bagas. 

Dan kali itu, akhirnya dia bisa meninggalkan mereka. Berjalan menuju ke bawah, dia menemukan suaminya tengah bersandar di sofa ruang tamu. Dilihat dari wajahnya, kelihatannya dia juga telah kelelahan dalam menjalani kegiatan di hari itu.

“Kalian bertiga, benar-benar serasi.”

Masuk ke salah satu kamar, dia mengambil kain selimut yang akan menyelimuti Elang.

Di sofa yang hanya bisa diduduki oleh satu orang, Elang bersandar dengan lelahnya. Ani lalu menyelimuti tubuh yang cukup kurus itu dengan kain selimut yang dia bawa. 

Meskipun jam masih menunjukkan kalau masih terlalu cepat untuk tidur, pertanda bahwa ketiga orang yang telah terlelap secara tak langsung memberitahu kalau mereka telah melewati hari itu dengan sangat keras.

Terutama perhatian tersebut sangat dia arahkan kepada suaminya. Yang mungkin tanpa dia sadari, suaminya telah bekerja lebih keras dari yang dia ketahui dan bayangkan.

Merasa cukup haus, dia pergi ke dapur untuk membuat secangkir teh. Namun, firasatnya mengatakan kalau dia harus membuat satu teko penuh kali itu. Mengikuti firasatnya, dia membuat satu teko berukuran sedang berisi penuh dengan teh melati.

Membawanya dengan nampan, beserta dengan dua gelas di atasnya.

Menaruh nampan di atas meja, dia lalu menghidupkan tv. Dan tanpa dia sadari, seseorang yang bersamanya di ruang tengah telah terbangun dan berbicara padanya dengan nada yang cukup lesu.

“Tolong tuangkan juga untukku.”

“Baik.”

Itu adalah Elang yang berpindah ke tempat duduk agar bisa berdampingan dengan Ani. 

Dua cangkir yang dibawa diisi dengan teh melati yang membawa aroma wangi yang khas.

Elang mengambil cangkir miliknya dan mulai menikmati teh hangat untuk merilekskan pikirannya.

“Huuhh~”

Setelah menelan satu tegukan, dia mengembalikan cangkir ke atas nampan dan lalu membuang karbondioksida lewat mulutnya.

“Apa kamu merasa cukup kelelahan?”

“Tidak juga. Hanya saja, yang kubutuhkan hanyalah penenang pikiran.”

Dengan cukup manja, Elang menjatuhkan kepalanya ke atas paha Ani yang sudah bersiap untuk menerimanya. Ani kelihatannya juga sudah bersiap untuk melayani keinginan kecil dari suaminya yang sedang kelelahan itu.

“Hari ini terasa cukup berat ya, untuk mereka berdua, dan juga untukmu.”

“Ya, begitulah. Persiapan pernikahan yang akan dilakukan sebentar lagi, kelulusan yang tak lama lagi akan menanti. Membuat pikiran mereka benar-benar kacau.”

“Kalau begitu, bukannya sudah tugas kamu untuk membantu mereka memikirkan jalan keluarnya.”

“Tidak, aku takkan membantu mereka untuk berpikir, tapi aku akan membantu mereka untuk bertindak. Karena kalau aku berbicara pada mereka, takkan ada dari mereka yang akan benar-benar mendengarkan dan melakukan perkataanku.”

“Jadi dengan kata lain, secara tidak langsung kamu memaksa mereka untuk melakukan apa yang kamu rencanakan, begitu?”

Rambut putih keabu-abuan yang halus, dielus-elus untuk memberikan ketenangan kepada pemiliknya. Tangan yang mengelus juga, merasakan kenikmatan, seperti sedang mengelus seekor kucing persia. Hal itu bahkan membuat kebahagiaan tersendiri bagi Ani.

“Hei.. Hei!”

Namun, hal itu membuatnya berada di dunianya sendiri dan melupakan sosok yang dipangkunya.

“Y.. ya”

“Apa yang baru saja kau pikirkan saat mengelus kepalaku seperti ini.”

“E.. eh, tidak ada kok.”

“Hmm! Yang lebih penting dari itu, bisa ceritakan lagi, soal ayah dari Bagas yang memiliki keterbelakangan mental.”