Episode 36 - Awal Semua Bermula



Di depan pintu masuk desa. Menghadap ke arah ladang padi sejauh mata memandang. Memakai gaun berwarna hitam yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Tak lupa pula ia memakai payung khas dari negeri eropa. 

Mata ungu berkilauan melihat sampai ke horizon di arah timur, saat mentari masih akan memerlihatkan wujudnya. Di umurnya yang menginjak 12 tahun, kehilangan seseorang yang sangat ia cintai merupakan pukulan yang sangat sakit untuk tertahan.

Apa yang ia harapkan dengan melakukan hal itu—memandangi horizon—adalah berharap agar angin semilir yang lewat membawa sedikit kepedihan di hatinya.

Namun apa daya, kepedihan yang ia rasakan hanya menghilang sekejap saat angin kencang menerpa tubuhnya. Membuatnya menahan pegangan payung dan tubuhnya agar tak goyah.

“Ngeeeeeng~!!”

Tiba-tiba saja suara dengungan yang datang dari mulut manusia memasuki telinganya. Dia lalu menengok ke arah datangnya sumber suara. 

Seorang bocah yang tak setinggi dadanya. Kira-kira umurnya 7 tahun. Bocah yang mengeluarkan dengungan sambil berlari itu segera menurunkan kecepatan larinya saat akan berpapasan dengannya.

Memakai baju santai biasa. Membawa satu buah toples yang penutupnya menggunakan plastik yang berlubang. Tak tahu apa tujuan anak itu membawa toples, yang lebih penting dari itu adalah penampilan dari si bocah.

Terlihat sekilas penampilannya terkesan seperti anak laki-laki kebanyakan, tetapi yang membuatnya menarik adalah warna dari kedua matanya. Keduanya berbeda, seperti ada pembatas di antara satu dengan yang lainnya.

Kedua mata itu menatap ke arahnya dengan pandangan yang cukup aneh. Seakan dia melihat orang asing yang baru saja ditemuinya. Namun memang benar, semenjak kedatangannya ke desa kemarin, waktu itu merupakan kali pertama mereka bertemu.

“S-selamat pagi.”

Karena itu juga merupakan pengalaman pertamanya bertemu dengan anak-anak desa, kegugupan sedikit dia rasakan saat ingin memulai komunikasi.

Namun bocah laki-laki itu tak langsung menjawab sapaannya, dan malah mengamati penampilannya dari atas menuju ke bawah. Kalau diperkirakan, penampilannya sekarang juga cukup terbilang aneh. Karena saat itu dia sedang berada di desa yang mungkin saja tidak atau belum mengetahui budaya eropa.

“Ooohh~!”

Setelah mengamati dalam waktu yang cukup lama, akhirnya bocah itu berhenti. Namun, bukan sapaan balik yang dia berikan, melainkan rasa kekaguman saat melihatnya.

Kombinasi antara warna biru dan kuning sawo itu bersinar-sinar di depannya. Seperti dia telah melihat pemandangan yang sangat langka untuk ditemui. Tetapi setelah merasakan kagum, bocah itu perlahan-lahan mulai bingung untuk mengatakan apa.

“A-ada apa ya?”

“-Ah!!”

Reaksi terkejut dia berikan sewaktu pertanyaan diberikan padanya. Anak yang cukup aneh. Pikirnya.

“Good morning!”

Saat itu dia yang kembali dibuat terkejut oleh si bocah. Pertama bertemu dia telah memberikan ucapan salam dengan bahasa daerah. Sekarang bocah itu malah memberikan salam dengan bahasa yang berbeda.

Memang tak ada salahnya untuk menanggapi sikapnya yang masih tergolong labil, meskipun begitu apakah akan baik-baik saja kalau ia berbicara dengan menggunakan bahasa yang sama dengan sapaan si bocah?

Dan saat dia mencoba untuk menjawab, si bocah sekali lagi malah merasa bingung untuk yang kedua kalinya. Terlihat kalau sepertinya dia akan mengatakan beberapa hal, tetapi dia menundanya.

“Anu, sebaiknya berbicara dengan bahasa saja kalau kamu masih belum fasih berbahasa inggris.”

Ia mencoba untuk membujuk si bocah agar dia tak memaksakan diri. Namun kelihatannya si bocah bukan memermasalahkan apa yang ia pikirkan.

“No, I just confused in make a good first conversation with a stranger.”

Tanpa disangka, si bocah kelihatannya sudah cukup fasih dalam berbahasa inggris. Tetapi apa yang dia katakan dalam kalimatnya, bingung dengan harus berbuat apa dengan seseorang yang baru saja dia kenal?

“Kalau begitu kenapa tak dimulai dengan pengenalan lebih dulu.”

“Exactly!”

Saat ia berusaha untuk menyelesaikan masalahnya, si bocah dengan respon pesat mengiyakan perkataannya.

“So, let me tell my name first! My name is Bagas Askara. And how about you?”

Bocah laki-laki itu mengatakan namanya. Hal yang membuat percakapan itu sulit adalah, apakah akan baik-baik saja kalau ia berkomunikasi dengan si bocah menggunakan bahasa dari negeri nenek moyangnya.

Dan setelah beberapa kali memikirkan tentang bagaimana ia akan berkomunikasi, akhirnya ia memilih untuk tak membuat pusing bocah laki-laki yang kelihatannya baru saja memelajari bahasa inggris itu.

“Perkenalkan, namaku adalah Eruin Leina Lesmana. Eh?”

Sesaat setelah ia memerkenalkan diri, si bocah kelihatan sangat berseri-seri dibuatnya. 

“Ah, eh, that’s a, aaahhh! Apa.. apa kakak seorang bangsawan!?”

Si bocah yang bernama Bagas, bertanya padanya setelah melihat proses perkenalan yang ia lakukan. Bergerak sangat anggun saat punggung dan kepalanya menunduk, satu tangannya juga ikut memeragakan bagaimana seorang bangsawan eropa wanita lakukan saat berkenalan dengan orang yang baru saja dia kenal.

“E-eh, ya, itu, umm.”

“Wuuoohh~!!”

Saat ia—Eruin menjawab dengan sedikit gugup atas pertanyaan si bocah, si bocah langsung kegirangan setelah mendengar jawabannya. Entah apa yang membuatnya sangat terkagum seperti itu, tetapi apa yang dia lakukan setidaknya bukanlah sesuatu yang terlihat buruk.

Sebaliknya Eruin malah kelihatan senang karena telah mendapatkan seorang teman baru di desa.

“Tapi, bagaimana kamu tahu kalau kakak adalah seorang bangsawan? Apa kamu sudah belajar tentang sejarah dari negeri eropa sana?”

“Itu, tidak, aku belum memelajarinya. Meskipun aku mau, tapi bunda melarang dan menyuruhku untuk memelajari sesuatu hal yang lain.”

“Jadi, apa yang membuatmu tahu?”

“Kemarin bunda yang memberitahuku. Emm, maksudku tadi malam bunda menceritakan tentang bagaimana orang-orang eropa di sana berperilaku. Terutama tentang para bangsawan, dan saat aku melihat perkenalan kakak barusan, aku sangat kagum dengan bun—ibu yang memberitahuku.”

Jadi seperti itu ya, ibunya lah yang telah memberitahu tentang hal itu. Meskipun begitu, tetap sulit untuk dipercaya, kalau ibu dari Bagas bercerita tentang hal itu tepat sebelum mereka berdua bertemu.

Dan yang lebih membuat kagum Eruin adalah, Bagas yang mampu mengingat hal yang cukup terbilang tak menarik bagi anak-anak seusianya. Mungkin faktor dari kepintaran bocah di depannya adalah sang ibu, karena dilihat dari mana pun, Bagas sangat terkagum dengan ibu yang telah mengajarinya, bukan kepada sosok Eruin yang telah menunjukkan sikap seorang bangsawan kepadanya.

“Oh iya, meskipun begitu, kenapa kamu percaya kalau aku adalah seorang bangsawan?”

Eruin bertanya seperti itu meskipun dia tahu ada kemungkinan kalau Bagas hanya akan memerkirakannya saja. Karena dilihat dari mana pun, dia masih berumur sekitar 7 tahun. Tak ada satupun, dan kalaupun ada hanya akan sedikit anak-anak yang bisa secara detil mengatakan tentang pemikirannya.

Mendengar pertanyaan itu, Bagas sesaat menaruh satu tangan di dagu, tampak sedang memikirkan sesuatu sebelum berkata.

“Pengamatan.”

Dan saat dia sudah menemukan jawabannya, apa yang keluar dari mulutnya benar-benar membuat Eruin terkejut. Bagaimana bocah yang kebanyakan pemikirannya masih polos, mengatakan hal itu dengan wajah yang benar-benar serius?

“Ah! Aku lupa!”

Namun, setelah keterkejutan menyerangnya, kali ini Bagas yang gantian terserang. Wajahnya terlihat kalau dia sedang benar-benar melupakan sesuatu karena terbawa suasana saat berbicara dengan Eruin.

“E-eh, ada apa?!”

“Matahari sudah hampir terbit, aku harus cepat!!”

“Tunggu! Kamu mau ke mana?!”

Bagas hampir meninggalkan Eruin dengan langkah seribu. Tetapi langkah kakinya terhenti saat Eruin bertanya dia akan pergi ke mana.

“Ke ladang!”

“Ladang padi?!”

“Ya, memangnya kakak mau ikut?!”

Saat Bagas bertanya padanya apa dia ingin ikut, untuk sesaat Eruin menundukkan kepalanya. Memikirkan apakah tidak apa-apa untuk melupakan sejenak kesedihannya dan pergi dengan bocah laki-laki yang baru saja dia kenal. 

“...Eh!?”

Namun, sebelum dia sempat menjawab. Sebuah tangan yang ukurannya hampir sama dengan tangannya, menggenggam dan mencoba menariknya.

“Ayo!”

Dengan tanpa persetujuan, Bagas segera menarik Eruin untuk pergi ke arah tujuannya. Bahkan tarikannya itu membuat Eruin menjatuhkan payung dan dia bahkan hampir terjatuh dibuatnya. Namun tarikan itu membuat kakinya terus bergerak dan melupakan hal lain apapun yang ada di pikirannya.

Melewati jalanan utama, tubuh Eruin terus ditarik oleh tubuh yang lebih kecil darinya. Sekilas dia seperti anak laki-laki yang polos, tetapi ada sesuatu yang istimewa darinya. Terutama dari kepintaran, setelah itu penampilannya.

Setelah cukup jauh dia ditarik di trotoar utama, mereka terhenti. Tepatnya Bagas yang menariknya telah berhenti. Dia lalu menengok ke arah timur, di situ ada jalan setapak yang di sekelilingnya terdapat padi yang cukup tua.

“Hei, apa kita akan lewat situ?”

“Ya, ayo!”

Dan sekali lagi dia ditarik menuju ke tempat yang bahkan dia tak tahu ke mana arah tujuannya. 

Mereka terus memasuki jalan yang cukup sempit itu menuju ke dalam ladang. Lalu pada saat mereka telah sampai di sebuah gubuk yang terdapat di kedalaman ladang, mereka berhenti.

Di gubuk itu ada seorang pria yang sepertinya sedang menunggu mereka.

“Om Slamet!”

“Oh, Bagas!”

Bagas menyapa pria tua yang menghadap ke arah timur itu, dan pada saat namanya dipanggil dia berbalik dan menyapa Bagas.

Bagas melepaskan genggaman tangannya dari Eruin, sempat timbul rasa kesepian saat tangan hangat itu melepas genggamannya. Setelah itu dia bergegas turun ke tanah yang cukup rendah di bawah.

Jarak antara jalan masuk dan dataran ladang setinggi 3 meter. Di dekat Eruin berdiri terdapat tangga, namun Bagas malah memilih untuk melompat daripada menggunakan tangga—yang terbuat dari tanah.

“Wah-wah, siapa yang kau bawa itu?”

“Seorang bangsawan dari negeri nan jauh di sana!”

Bagas hampir membuat Eruin tersandung saat menuruni tangga—dengan anggunnya—sewaktu dia mengatakan hal itu.

“Maaf, tapi sebenarnya aku adalah anak tiri dari Ibu Sri Akira Ayunda.”

Dan pada saat dia telah selamat dari menuruni tangga, dia menjelaskan tentang keberadaannya yang merupakan anak tiri dari salah satu kembang desa.

“Aah, anak tiri dari neng Akira toh. Kalau tidak salah, namamu...”

“Ah, namaku adalah Eruin Leina Lesmana.”

Saat perkenalan, Eruin melakukan perkenalan selayaknya seorang bangsawan sejati. Tundukan kepalanya menandakan ketulusan, mengembangnya rok gaun melambangkan keanggunan. Membuat siapapun yang melihatnya merasa terkagum dibuatnya.

Bahkan untuk pria yang terbilang cukup tua seperti Slamet, hal itu merupakan pemandangan yang sangat jarang dapat dilihat.

“Hoo~”

Membuatnya membentuk huruf O dari mulut.

Melihat hal itu, Eruin dibuat bingung harus melakukan apa selanjutnya. Sedangkan bocah yang menyeretnya ke situ sedang sibuk dengan urusannya sendiri. Menaruh toples lalu mengecek sesuatu di bawah gubuk.

“Oh iya, nama om Slamet. Cuma Slamet aja, hehe.”

“Ahaha, tak perlu dipikirkan, Om Slamet. Jadi, sebenarnya apa yang mau dilakukan Bagas?”

“Oh itu, kami sedang mencoba mengumpulkan jangkrik.”

“Jangkrik, untuk apa?”

“Kalau itu ikut aja deh sama Bagas nanti. Melihatnya langsung pasti kamu bakal tahu jangkrik itu bakal dibikin buat apa?”

Saat itu, bocah yang sedang mereka bicarakan benar-benar sibuk dengan urusannya sendiri. Blusuk ke bawah gubuk, yang di bawahnya terdapat koran-koran yang dibentangkan.

Dan pada saat koran-koran itu ditarik keluar, di bawahnya terdapat banyak sekali—sekumpulan jangkrik yang sepertinya sedang tak bergerak. Eruin dibuat sedikit geli dengan sekumpulan jangkrik itu.

Sedangkan, untuk bocah yang kelihatannya sedang memburu jangkrik, dia benar-benar kelihatan menikmati jebakannya membuahkan hasil yang lumayan.

“Oh iya, perasaan ini masih hari rabu, tapi kenapa dia tak pergi ke sekolah?”

“Kalau soal itu, pasti dia meminta untuk izin hari ini.”

“Izin!?”

“Ya, tentunya sewaktu dia telah membuktikan kalau dia tak perlu memasuki kelas hanya untuk mempelajari pelajaran yang telah dia mengerti.”

Saat satu orang dewasa dan remaja sedang berbicara tentangnya, dia tetap asik dengan kegiatan yang dia lakukan, mengambil satu persatu jangkrik itu, dan menaruhnya ke dalam toples. Saat jangkrik telah habis ditangkap, meskipun ada beberapa yang kabur, toples itu kelihatan penuh dibuatnya.

“Waha, haahaaa~!”

Setelah keluar dari bawah kolong, Bagas keluar dengan perasaan yang sangat bangga. Toples yang penuh dengan jangkrik itu diangkat ke atas, seperti ada sebuah cahaya kemenangan di sekelilingnya.

“Haha, sepertinya tangkapan hari ini lebih banyak daripada sebelumnya.”

“Ya iyalah, itu karena aku datang lebih pagi dari hari sebelumnya. Sungguh, benar-benar sulit meyakinkan para guru kalau aku sebenarnya tak harus masuk hari ini karena aku sudah memelajari materi hari ini.”

Benar-benar anak yang mengagumkan. Pikir Eruin.

Awal mereka bertemu, dia telah dikejutkan dengan penampilannya. Setelah cukup lama berbincang, dia telah mengetahui kalau anak ini memiliki kepintaran yang tak biasa dari anak seusianya. Bahkan sekarang, dia dibuat terkejut dengan sikap anak itu yang menginginkan kegiatan lain selain sekolah yang mungkin saja akan membuatnya kebosanan.

“Jadi, di mana kau akan menyebarkan mereka?”

“Hmm, biar kupikir-pikir dulu. Minggu sebelumnya tikus di blok ke-37 baris ke-9. Dan aku mendengar dari para warga kalau blok ke-41 baris ke-6 yang memiliki masalah dengan para tikus. Ah!?”

“Ada apa?”

“Tempat itu terlalu jauh untuk dijangkau.”

“Hahaha, memangnya kenapa kalau jauh. Tapi kenapa kau gak coba ke barisan ini, di blok ke-41 mungkin ada masalah.”

“Wah, kalau itu sih deket.”

Slamet memberitahukan pemecahan masalah dari rasa malas Bagas. Bagas juga terlihat berterima kasih secara tidak langsung tentang itu.

“Yuk, Kak Erina!”

“E-eh, Erina??!”

Pada saat Bagas hendak mengajak Eruin untuk kembali berjalan, langkah mereka tiba-tiba terhenti karena Bagas dibuat bingung dengan panggilan Eruin padanya.

“Oh iya, sebelum kalian pergi, Dik Erwin, atau Eruin?”

Slamet juga kelihatannya membuat bingung Eruin dengan penyebutan namanya. Sekilas nama Eruin memang dapat membuat orang lain salah paham. Atas apa yang sedang dipertanyakan oleh Slamet sekarang.

“O-oh, kalau itu, di nama depanku menggunakan U untuk Eruin. Jadi bukan Erwin seperti nama anak laki-laki.”

“Hoho, begitu ya, sempat om pikir tadi nama kamu menggunakan W untuk Erwin. Karena itu terdengar seperti nama anak laki-laki.”

“Yah, banyak juga orang-orang yang salah paham tentang itu.”

Slamet sempat merasa salah paham dengan nama depan dari Eruin. Meskipun begitu Eruin tak menganggap itu sebuah masalah karena hal seperti itu sudah biasa baginya.

“Sebelum itu, Bagas, kenapa kau menyingkat nama dik Eruin?”

“Ya, karena nama Eruin masih tetap kuanggap seperti nama anak laki-laki. Jadi aku menyingkatnya!”

“-E.. eh?”

Slamet bertanya pada Bagas kenapa dia harus menyingkat nama Eruin. Dan jawaban yang dia berikan benar-benar membuat Eruin terkejut, karena bocah laki-laki itu bisa memikirkan hal sesederhana seperti itu padanya.

“Jadi, ayo kak!”

“E-eh, mau ke mana?!”

“Menyebarkan jangkrik!”

Lalu untuk yang kedua kalinya, Bagas menarik tubuh Erina untuk mengikuti arah langkah kakinya.

“Dasar, kucing liar jahil.”


***


“Maaf, karena telah melupakan keberadaanmu walaupun sesaat di dalam ingatanku, Erina.”