Episode 35 - Memaksakan Tubuh Yang Tak Sekuat Baja


Beberapa saat setelah sang mantri mengecek keadaan Bagas, Erina menanyakan tentang hasilnya.

“Dia hanya demam. Tapi demamnya kali ini lebih parah dari biasanya. Kamu, apa di sekolah tadi dia melakukan suatu kegiatan yang sangat melelahkan...?”

Sang mantri yang menyadari sesuatu terjadi pada Bagas kali itu, bertanya tentang sesuatu yang bahkan ingin Erina tanyakan. Terlebih lagi saat sang mantri mengatakan kalau demam Bagas kali itu lebih parah dari biasanya.

“Tidak, aku tak mengetahui apapun tentang itu.”

“Hmm, begitu ya, baiklah, kalau begitu bapak hanya akan memberikan obat lebih banyak dari biasanya. Dan kamu pastikan kalau dia meminum semuanya.”

“Eh, apa hanya begitu saja? Apa Bagas takkan di suntik atau sesuatu?”

“Maunya sih begitu, tapi kucing liar jahil ini mau bagaimana pun tak ingin terkena satu suntikan kalau sedang dalam keadaan sadar. Jadi, untuk hari ini hanya obat dan pengecekan saja yang bapak berikan.”

Beberapa hal yang baru saja Erina tahu keluar dari mulut sang mantri. Dan jika dikaji lebih dalam, hal itu adalah pengalaman tersendiri dari sang mantri dalam menangani Bagas setiap kali sakit.

“Tapi bapak hanya bisa memberikan beberapa obat, jadi sisanya tolong ditebus sendiri ya.”

Sang mantri mengambil tiga buah obat dan menuliskan sisanya dalam sebuah kertas. Memberikan kertas itu pada Erina untuk dimaksudkan agar Erina atau siapapun menebus dosis obat itu sendiri.

“Oh iya, apa kalian cuma berdua saja di rumah ini?”

Saat sang mantri bertanya seperti itu, Ani yang membawa nampan dengan satu mangkuk berisi bubur dan minuman hangat masuk ke dalam.

“Pak Azis.”

“Di sini rupanya.”

Setelah masuk ke dalam, Ani dengan segera menaruh nampan yang dia bawa ke atas sofa dan mendekat pada mantri yang dia panggil Azis.

“Bagaimana keadaannya?”

“Baik dan buruk sebenarnya tergantung padanya. Dan kali ini bapak merasa kalau dia melakukan satu buah kegiatan yang lebih melelahkan dari biasanya.”

“Aku juga berpikir begitu. Bahkan sewaktu Elang sudah pulang, dia memberitahuku kalau Bagas sepertinya sudah bermain basket dengan tim inti sekolah. Mendengar hal itu membuatku langsung mengkhawatirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi.”


“Dan inilah akibatnya, kalau penderita anemia memaksakan dirinya yang tak sekuat baja. Kalau begitu, bapak segera permisi, dosis obatnya sudah ada pada neng gelis. Tolong tebus dan buat dia meminumnya secara teratur.”

Setelah memastikan kalau pasiennya telah teratasi, sang mantri—Azis meminta untuk segera memermisikan diri.

Di pintu depan, Ani menuntun Azis untuk keluar rumah. Namun, sebelum benar-benar memermisikan diri, Azis memiliki satu buah pertanyaan besar yang ingin dia tahu.

“Oh iya, Ani, gadis yang bersama Bagas itu...?

“Oh, dia adalah kakak tiri dari Elang.”

“Hmm, sudah kuduga. Jadi, apa sebenarnya hubungan antara dia dengan Bagas. Kenapa sepertinya dia yang paling merasakan sakit dengan jatuhnya kesehatan Bagas.”

“Kalau itu...”

Untuk sesaat Ani menghentikan mulutnya untuk lebih lanjut berbicara. Tetapi untuk seseorang yang sudah sejak dulu merawat kesehatan dari seluruh penghuni desa, sepertinya memberitahukannya juga tak terlalu masalah.

“Itu karena-”

“Hmm, mataharinya sudah mulai menghilang. Tak apalah, selama semuanya baik-baik saja, bapak akan merasa cukup lega.”

Namun, sebelum Ani sempat untuk mengatakan yang sebenarnya, Azis menghentikannya dan mengatakan kalau semuanya baik-baik saja meskipun dia tak mesti mengetahuinya.

“Jadi bapak permisi dulu.”

“Ya, terima kasih atas pelayanannya.”

Setelah itu Azis berpamit untuk pulang, meninggalkan rumah pasien sementaranya itu. Meskipun begitu, dia masih harus tetap kembali untuk mengecek keadaan Bagas lagi.

Ani kembali ke atas setelah mengantarkan Azis pulang.

“Ani, apa yang harus kulakukan dengan bubur ini?”

“Lebih tepatnya, kamu tidak tahu cara menyuapi seorang yang sedang sakit, begitu.”

Pada saat dia telah berada di pintu, dia menemukan Erina yang tengah bingung dengan bubur yang baru saja dia masak. Namun, kebingungan Erina telah ditebak oleh Ani dan dia sudah tahu apa yang harus dilakukan.

“Setelah aku mengejarimu caranya menyuapi, bisakah aku tinggalkan kalian sebentar? Aku harus segera menebus obat Bagas setelah dia selesai makan.”

“Mengajari caranya menyuapi?!”

Tetapi saat Ani mengatakan penyelesaian masalahnya, Erina tampak sedikit gugup untuk melakukannya.

“Ya, dan tak mungkin juga bukan kalau kamu yang harus menebus obat ini. Lagipula kamu juga tidak tahu di mana harus menebusnya.”

“I-iya juga sih. Tapi-“

“Aku yakin kamu bisa. Lagipula ini hanya sekedar menyuapi, apa susahnya?”

Hal yang menurut Erina sulit untuk melakukannya bukanlah cara, melainkan sesuatu yang lain.

“Apa kamu gugup untuk melakukannya?”

Dan sekali lagi pertanyaan Ani tepat pada sasaran. Kalau sepertinya Erina masih gugup untuk berhadapan langsung dengan Bagas.

“Tenang saja. Anggap saja ini juga sebuah latihan, kalau suatu hari nanti akan terjadi kejadian seperti ini, kamu tak lagi terkejut dan tak tahu harus melakukan apa?”

Meskipun begitu, Ani berhasil untuk membangkitkan semangat Erina. Dengan mengatakan sebuah kemungkinan yang akan terjadi di masa depan nantinya.

Walaupun Ani belum mendapatkan jawaban, dia masih tetap ingin melakukannya—mengajari Erina cara menyuapi agar dia bisa meninggalkan mereka dan menebus obat Bagas.

Ani mendekat ke sisi ranjang. Meminta kepada Bagas yang lemah untuk segera bangkit, saat dia berhasil didudukkan, tetap saja dia tak bisa menahan tubuhnya dengan tak adanya tenaga. Karena itu dia duduk dengan menyandar di kepala ranjang.

Terlihat saat dia hanya melakukan hal seperti itu saja hampir membuatnya kehabisan tenaga. Nafasnya menjadi lebih berat dari sebelumnya.

Erina yang berada di belakang balkon terus memerhatikan Ani yang sedang menyuapi Bagas dengan bubur. Sendok kayu yang cukup besar ukurannya, menyiduk bubur dan mengantarkannya ke dalam mulut.

Bubur yang masih hangat merupakan makanan terbaik bagi seseorang yang sedang jatuh sakit. Makanan itu tak perlu dikunyah untuk ditelan. Teksturnya juga lembut dan tak menyusahkan mulut yang tak memiliki tenaga.

“Mudah bukan.”

Setelah suapan kedua, Ani mengatakan itu pada Erina, bermaksud untuk memberitahunya kalau menyuapi bukanlah hal yang sulit. Erina tahu itu meskipun dia tak bertanya, tetapi tetap saja, bahkan untuk berhadapan langsung dengan Bagas yang sedang sakit juga merupakan tantangan yang besar baginya.

Bahkan dia masih ragu-ragu untuk mengatakan iya atau tidak kalau dia ingin melakukannya.

“Sepertinya kamu masih tak bisa ya, baiklah, kalau begitu aku minta saja kepada Elang untuk menebus obatnya.”

“-Tidak.”

Saat Ani segera ingin memberitahukan Elang dengan menggunakan telepon, Erina secara tiba-tiba menolak perkataan Ani.

“Maksudku, itu tidak perlu. Aku akan melakukannya.”

Maksud Erina sudah jelas meskipun dia masih ragu dalam mengatakannya. Kalau dia akan menyuapi Bagas dan membiarkan Ani melakukan tugas yang sebelumnya ingin dia kerjakan.

“Kalau begitu cobalah untuk menyuapinya sekali.”

Ani memberikan sendok kayu pada Erina. Erina lalu mendekat ke sisi ranjang, mangkuk bubur berada di atas ranjang dan Erina hanya perlu duduk berhadapan dengan Bagas untuk mengambil bubur dan menyuapinya.

Setelah dia melakukan itu, dengan sedikit gugup dia menyiduk bubur di atas sendok, lalu mengantarkan sendok penuh dengan bubur itu ke mulut seseorang yang sedang disuapi. Dia mengantarkan sendok itu dengan menaruh tangannya di bawah sendok, bermaksud untuk menampung bubur yang mungkin saja dapat terjatuh.

Cukup lambat dibandingkan saat Ani yang menyuapi. Tetapi itu sudah cukup untuk membiarkan Erina yang melakukannya.

“Kalau begitu aku pergi dulu. Sepertinya akan cukup memakan waktu, karena aku harus pulang dan memastikan rumah kami aman.”

“Untuk apa kamu melakukannya?”

“Apa kamu pikir kami akan membiarkan kalian berdua saja di rumah dengan keadaan Bagas yang seperti itu. Jadi, baik-baiklah dan tunggu kami.”

Ani pergi setelah berpamitan. Meninggalkan Erina dengan Bagas yang sedang dalam keadaan buruk. Hanya berdua saja, di kamar yang sepi dan sunyi. Meskipun begitu dia tak boleh lupa akan tugasnya, yaitu untuk menyuapi Bagas.

Setelah dia kembali berbalik, dia melihat ke arah wajah yang sedang menunduk. Erina tak tahu arti dari kepala Bagas yang sedang menunduk itu. Tetapi dia bisa melihat sedikit rasa penyesalan dari ekspresi yang datar itu.

Membuatnya cukup khawatir dengan perasaannya yang sekarang.

“Jangan khawatir kalau kamu merasa telah merepotkan orang lain.”

Seketika perasaan untuk melindungi Erina keluar. Membuatnya melakukan tindakan yang cukup berani kalau dia sedang sadar. Perasaan yang tak tertahankan itu membuatnya memegangi tangan lemah milik Bagas, mengatakan secara tidak langsung kalau semua akan baik-baik saja.


Erina terus menyuapi Bagas secara halus dan perlahan. Seperti tak ada masalah—ragu-ragu atau gugup—saat dia melakukannya.

Setelah bubur telah dihabiskan, dia mengambil minuman hangat yang telah disediakan Ani. Tercium dari baunya, itu adalah minuman jahe. Minuman yang bagus untuk mengembalikan keadaan tubuh yang cukup buruk.

Setelah habis terminum, segala peralatan makan disingkirkan ke atas sofa. Dan Erina lalu membantu Bagas untuk kembali terbaring. Dia melakukan itu dengan penuh perhatian, memastikan kalau Bagas tak tersakiti karena di saat keadaannya seperti itu, guncangan sedikit saja bisa membuat sakit tubuh dan terutama kepala.

Bagas telah terbaring kembali dan Erina sangat lega karena dia melakukan tugasnya dengan baik. Apa yang harus dia lakukan sekarang adalah menunggu kedatangan Ani dan Elang yang akan menemani mereka berdua malam itu.

Tetapi apa yang harus dia perbuat, tepatnya apa yang harus dia lakukan sembari menunggu kedatangan mereka.

Di luar, matahari semakin turun di ufuk barat. Cahaya keemasan masih dapat terlihat dari balkon luar.

Angin malam yang mulai terasa dingin memasuki kamar. Erina menutup balkon, tetapi membiarkan gorden untuk tetap terbuka.

Dia juga menghidupkan lampu belajar untuk dijadikan penerangan di kamar yang tak memiliki lampu atap tersebut. Suasana yang sunyi dan senyap membuat rasa kantuknya terasa, duduk dengan menyandarkan bahu kirinya di ranjang semakin membuat matanya ingin menutup.

Tetapi apa dia boleh melakukannya, apa yang harus dia lakukan kalau suatu keadaan terjadi, yang kemungkinan keadaan itu merupakan hal yang buruk. Karena itu dia harus menahan rasa kantuk itu.

Namun, sebuah sentuhan yang menghangatkan di kepalanya membuat rasa kantuk semakin berat. Menjadikan niatnya untuk beristirahat sejenak menjadi bulat.

***

“Dosis sebanyak ini, memangnya siapa yang akan meminumnya, Neng Ani!?”

Apoteker dibuat terkejut saat Ani mencoba menebus obat yang diberikan oleh Mantri Azis.

“Obat ini untuk Bagas. Jadi tolong ya.”

“Oh, begitu, sepertinya keadaannya menjadi sangat buruk sampai dia harus meminum semua obat ini.”

Di depan apotek, Elang tengah menunggu Ani yang sedang menebus obat.

Waktu itu sudah malam dan Ani pulang lalu menjemput Elang sebelum menebus obatnya.

Setelah beberapa lama menunggu akhirnya Ani kembali dengan satu kantung plastik penuh dengan berbagai macam obat.

“Apa biasanya tak sebanyak ini?”

“Tidak, dan dia sakit karena hanya memaksakan dirinya. Untuk ukuran seseorang yang memiliki anemia dan insomnia di saat yang bersamaan, dan juga dia memiliki kelainan di kepala bagian kanannya, yang menyebabkan gangguan penglihatan pada mata kanannya.”

“Jadi itu adalah alasan kenapa dia memakai lensa kontak. Tapi kenapa dia harus menyembunyikan warna sejati matanya? Bukannya dia bisa memakai lensa kontak yang bening. ”

Di dalam perjalanan menuju rumah Bagas, mereka berdua memerbincangkan tentang seorang yang akan mereka rawat mulai hari itu.

“Entahlah, dia mendapat kelainan itu sewaktu kejadian 9 tahun lalu. Mulai dari saat itu, dia tak ingin memerlihatkan warna mata kanannya. Dan terus menyembunyikannya di depan orang-orang.”

“Problematika keluarga, sepertinya.”

“Apa yang sedang kamu coba pecahkan?”

“Hal itu terjadi saat dia merasa sangat kecewa dengan tanda lahir yang telah diturunkan oleh keluarganya. Membuatnya seolah tak menerima kenyataan kalau dia dilahirkan di dalam keluarga itu. Kasus seperti ini biasanya terjadi saat usia anak menginjak umur 12 ke atas. Meskipun begitu ini bukanlah pertanyaan ataupun pernyataan, apakah benar dia bermaksud untuk tak mengakui tanda kelahirannya. Karena dia tak bisa menerima kenyataan kejam dunia ini.”