Episode 34 - Batasan Karena Telah Memaksakan


Air matanya masih mengalir keluar sembari rasa perih menyayat hatinya. Kesabaran mungkin saja bisa dia pertahankan, tetapi tidak dengan pedih tak terlihat yang menyakiti perasaannya.

Di depan seseorang yang ingin dia tolong, sekali lagi air matanya keluar. Meskipun dia tak menginginkan hal itu untuk terjadi, tetap saja takdir tak bisa berunding dengannya.

Di saat waktu yang sempat terhenti, sebuah kilauan cahaya secerah padi yang sudah tua di siang hari muncul di sekelilingnya. Pada saat dia melihat ke arah datangnya kilauan itu, sosok yang dia anggap telah tak berdaya telah menariknya kembali dari lubang keperihan.

Meskipun begitu, dia tak ingin untuk memerlihatkan wajah menyedihkan itu. Dan memilih untuk bersembunyi di balik tangan yang menyentuh kepalanya. Beberapa kali kepala itu juga mengusap-usap untuk menyembuhkan rasa perih hati.

Hanya beberapa saat yang lalu, tangan itu telah menyelamatkannya. Kali ini juga, tangan itu kembali menariknya untuk keluar dari lubang kepedihan.

Tidak tahu perasaan apa yang harus dia tunjukkan untuk dirinya sendiri. Apakah bahagia, pedih, senang, atau malah sebaliknya?

Meskipun itu adalah kedua kalinya, tetapi dia sama sekali belum membuat gebrakan untuk menolong pujaan hatinya itu. Tuk ke sekian kalinya dia berpikir, apakah ini benar, untuk membiarkan waktu terus berjalan seperti ini?

Waktu di mana dia terus memalingkan perasaannya. Di saat segala penderitaannya terus dihilangkan secara tidak langsung oleh sang pujaan hati.

Apakah akan baik-baik saja, jika terus seperti itu?

Tak ada satupun jawaban yang bisa ia temukan untuk menutupi segala kerisauannya.

“Maafkan aku.”

Dan yang bisa ia lakukan hanyalah untuk meminta maaf. Terhadap sesuatu yang bahkan belum dia perbuat atau dia lakukan.

“Maaf.”

“Berhentilah. Kumohon.”

Suara parau yang hampir tak terdengar jelas keluar dari bibir kusut sang pujaan hati. Seketika hal itu membuat Erina menampakkan wajahnya yang masih penuh dengan kepedihan. 

Wajahnya bertemu dengan wajah sang pujaan hati. Ekspresi yang benar-benar tak berdaya itu seperti berbicara secara tak langsung kepadanya. Kalau dia harus menghentikan hal yang menyiksa dirinya sendiri seperti itu.

Nafasnya terdengar berat. Bahkan tak jarang dia juga mengeluarkan karbondioksida lewat mulut. Wajahnya juga terlihat lebih pucat dari biasanya. Jika kulit pucat yang dulu membuatnya terlihat seperti seorang yang sedang amnesia, kali ini kulit itu terlihat seperti seseorang yang telah kehabisan darah.

Tangan yang sebelumnya mengusap kepalanya, kali itu tengah menuju ke sisi pipinya. Berusaha untuk mengelap air mata yang berjatuhan lewat mata. Erina menangkap tangan yang mencoba menghilangkan kesedihannya itu.

Memeganginya dan mencoba untuk membuat tangan itu senyaman seperti bantal tidur. Tangan besar yang kali itu tak memiliki tenaga sendiri untuk mengusap air matanya. 


Tok Tok Tok!


Selang beberapa saat, suara ketukan pintu terdengar.

“Erina!”

Itu adalah Ani yang baru saja tiba. 

Dengan perlahan Erina menaruh tangan kanan Bagas ke atas dadanya. Lalu bergegas untuk membuka pintu depan.

Setelah pintu depan terbuka, sosok dari adik iparnya terlihat. Wajahnya mengkhawatirkan sosok seseorang yang tengah berbaring di atas sofa ruang tengah.

“Bagaimana keadaannya?!”

Ani menanyakan hal itu sembari masuk ke dalam rumah.

“A-aku tidak tahu... kulitnya menjadi sangat pucat. Dia juga terlihat tak memiliki tenaga sama sekali.”

Setelah tiba di ruang tengah, Ani mendapati sosok yang pada masa kecilnya sangat hyperactive itu terbaring lemah tak berdaya. Seperti yang dikatakan Erina, kulitnya terlihat sangat pucat. Wajahnya juga tampak kusut.

Dengan cepat Erina bersimpuh di sisi Bagas. Menaruh satu tangannya di atas dahi, lalu dia juga melakukan pengecekan denyut nadi.

“Dia demam parah. Kita harus segera panggilkan mantri.”

“K-kalau itu... ini ada telepon.”

Saat Ani akan bergerak keluar, Erina dengan cepat menghentikan langkahnya dan menunjukkan telepon genggam yang baru saja digunakan.

“Apa ada nomor mantri desa di sini?”

Setelah langkahnya terhenti, dia segera mengambil telepon genggam dari Erina. Mengecek apakah ada atau tidak ada nomor mantri desa di situ.

“T-tidak tahu.”

“Ketemu.”

Saat dia telah menemukan nomor yang akan dia hubungi, Ani segera langsung menelepon seseorang yang dipanggil.

“Halo.”

Suara seseorang yang ditelepon tersambung.

“Halo, pak Azis!”

“Ini, neng Ani? Ya, ada apa?”

“Pak Azis, bisa datang ke rumah Bagas sekarang? Keadaannya sedang sangat buruk saat ini.”

“Bagas? baik, bapak akan segera ke sana.”

“Terima kasih.”

Ani menutup telepon setelah mendapat pemberitahuan yang menenangkan.

“Kita jangan biarkan Bagas tertidur di sini. Sebaiknya kita bawa ke salah satu kamar di ruang tengah ini.”

Setelah memanggil seorang mantri, Ani berniat untuk tak membiarkan Bagas terus berada di atas sofa. Lalu dia mengajak Erina untuk mengangkat tubuh yang cukup besar itu berdua.

Namun, saat mereka berdua berniat untuk memasukkan Bagas ke salah satu kamar di ruang tengah, kakinya tiba-tiba menghentikan Ani dan Erina.

“Ada apa?”

Saat Ani bertanya seperti itu, Bagas mengangkat tangan kiri yang dibopong oleh Erina. Telunjuknya mengarah ke tangga menuju ke lantai dua.

“Tapi-“

Ani mencoba meyakinkan kalau tak cukup baik berada di lantai dua. Tetapi Bagas tetap bersikeras dengan keinginannya. Bahkan saat Ani mencoba untuk menolak permintaannya, dia berusaha untuk melepaskan bopongan mereka. 

Namun, saat dia berusaha untuk berjalan sendiri, Erina tetap berada di sisinya. Mencoba untuk mengiyakan permintaannya. Saat itu pegangan Ani pada Bagas telah terlepas, dan yang tersisa hanyalah Erina yang tetap berusaha membopong tubuh lemah Bagas yang bahkan tak seberat yang dia kira.

Tubuh besar yang bertelanjang dada itu terlihat lebih kurus daripada saat dia mengenakan baju.

Melihat kegigihan dua orang itu, Ani tak ada niatan untuk menghentikan mereka, lalu dia pergi ke dapur. Untuk mengambil air hangat dan lap untuk mengompres Bagas.

Meskipun dengan tenaganya yang hampir tak tersisa, Bagas masih berusaha untuk meringankan beban yang dibawa Erina dengan berpegangan pada dinding. Mereka berjalan secara perlahan, karena tak ada satupun dari mereka yang memiliki tenaga besar saat itu.

Mereka telah sampai di lantai dua, dan pintu dari dua kamar sudah berada di depan mata mereka. Namun, saat Erina bermaksud untuk membawa Bagas ke kamarnya, Bagas sekali lagi berniat untuk menentang. Secara tidak langsung dia meminta untuk pergi ke kamar sebelah barat.

Erina juga tak ingin untuk menolak keinginan itu dan mengikutinya. 

Pada saat mereka telah sampai di depan ranjang. Secara perlahan Erina berusaha untuk menahan tubuh Bagas agar tidak terjatuh. 

Bagas telah berbaring di atas ranjang dengan tanpa ada kendala. Erina langsung mengambil selimut dan menyelimuti seluruh tubuh kecuali kepala.

“Sebaiknya kamu mengenakan baju.”

Setelah berkata seperti itu, Erina bergegas menuju ke kamar sebelah. Membuka lemari dan mencari baju untuk Bagas. Saat melihat tumpukan pakaian yang tak terlalu terlihat banyak, Erina akhirnya mengambil kaus santai yang biasa Bagas pakai—kaus berkerah warna biru dongker.

Dia kembali sehabis mengambil baju itu. 

“Maaf, tapi bisakah kamu duduk lebih dulu.”

Bagas yang sedang berbaring lemah, berusaha sangat keras hanya untuk membuat tubuhnya bangkit. Erina juga ikut membantunya dengan mengangkat lewat punggung.

Setelah terduduk, Erina mencoba untuk memakaikan kaus pada Bagas. Namun Bagas malah meminta untuk melakukannya sendiri. Erina mengiyakan permintaan itu, tak lupa juga dia ikut membantu Bagas memakainya.

Baju telah terpakai, dan Bagas kembali terbaring—dengan Erina ikut membantunya.

Beberapa saat kemudian Ani datang dengan satu buah ember kecil berisi air hangat, dan juga satu buah lap. Dia meletakkan ember itu di sisi antara dinding dan kasur. Membasahi lap, lalu memeras agar tak terlalu basah.

Lap yang telah menyerap air hangat ditaruh di atas dahi Bagas. 

“Aku akan membuat bubur. Erina, kamu cobalah tetap berada di sini, dan kalau sempat bukalah pintu ketika pak mantri datang.”

“Em.”

Dengan itu Ani kembali ke dapur, dan Erina tetap berada di sisi Bagas.


Di dalam ruangan yang sepi dan senyap, angin memasuki ruangan setelah jendela balkon dibuka setengahnya. Angin sore hari yang cukup menenangkan, membuat hati terasa cukup damai setelah semuanya mulai membaik.

Kekhawatiran Erina mulai berkurang saat keadaan Bagas tak seburuk sewaktu awal dia terkapar. Nafasnya mulai terdengar normal. Hati Erina mulai merasa lega setelah mengetahui itu.


Pintu depan diketuk oleh seseorang. Erina bergegas turun untuk membukakan pintu.

Saat pintu terbuka, terlihat seorang pria tua. Membawa satu buah tas tangan dan memakai baju santai.

“Kamu—di mana Bagas?”

“Dia ada di atas sekarang. Mari.”

Seseorang yang datang—yang merupakan seorang mantri sedikit terkejut kalau Erina yang membukakan pintu. Dan saat dia berniat untuk bertanya tentangnya, pertanyaannya berbalik menuju ke arah letak Bagas sekarang.

Erina menuntun sang mantri menuju ke lantai atas. Tepatnya di salah satu kamar lantai kedua.

Mereka telah sampai dan sang mantri mendapati seorang pemuda dari keluarga Jawara yang dia kenal dulunya sangat aktif, sekarang lebih terlihat seperti seorang mayat.

“Tolong sediakan penerangan.”

Kamar tersebut memang terlihat cukup gelap, tetapi tak ada lampu yang terpasang di situ. Lalu Erina teringat ada satu buah lampu belajar di meja kamar Bagas. 

Dia bergegas menuju ke kamar sebelah untuk mengambil lampu itu. Sebuah lampu belajar yang cukup terang dan juga fleksibel karena bisa diangkat dan diletakkan di mana pun.

Erina memberikan lampu itu untuk sang mantri. Sang mantri menggunakan itu untuk melihat ke dalam tas yang ia bawa. Mengambil satu buah stetoskop, dan lalu menaruh lampu belajar ke lantai.

“Apa dia tersadar?”

Sang mantri bertanya pada Erina, tetapi dia menatap ke arah Bagas. Mendengar hal itu, mata Bagas mulai membuka dengan perlahan.

Sang mantri melihat hal itu dan memulai untuk memeriksa keadaannya. Hal pertama yang ia lakukan adalah mengecek detak jantung, urat nadi, dan panas dari tubuh Bagas.

“Apa dia baik-baik saja, Pak Mantri?”