Episode 132 - Serangan Mendadak!



“Tinggallah sementara di Kerajaan Siluman Gunung Perahu,” ujar Raja Bangkong IV menggunakan jalinan mata hati. 

Regu Perdamaian telah menuntaskan misi yang mereka emban. Awalnya, Citra Pitaloka memahami bahwa tugas utama mereka adalah bertemu muka dengan Raja Bangkong IV untuk memohon perdamaian atau melakukan negosiasi. Dari pertemuan itu, diharapkan Kerajaan Siluman Gunung Perahu akan menerima permohonan mereka. Berharap akan sebuah keajaiban. 

Tak pernah terbersit dalam benak Mojang Merah Muda itu, bahwa tugas sesungguhnya yang dirinya emban berada jauh dari perkiraan. 

Di luar dugaan Citra Pitaloka, tugas sesungguhnya dari Regu Perdamaian adalah mengantarkan Bintang Tenggara bertemu Raja Bangkong IV. Jadi, bukanlah dirinya yang memegang kunci perdamaian, melainkan anak remaja tersebut. Terjadi sesuatu yang belum Citra Pitaloka ketahui saat kedua tokoh tersebut bertemu muka. 

Selain itu, sesungguhnya bukan perdamaian yang menjadi tujuan Maha Guru Kesatu Sangara Santang ketika membentuk regu. Bibit perdamaian sudah tertanam lama dan dalam. Yang merupakan ancaman terhadap perdamaian adalah kedaulatan Raja Bangkong IV di kerajaannya sendiri. Sebuah rencana yang apik disusun oleh seorang anggota Pasukan Telik Sandi. 

Oleh karena itu, tujuan dari Regu Perdamaian melalui keberadaan Bintang Tenggara adalah mengukuhkan kedaulatan, serta memupus kebimbangan di hati Raja Bangkong IV. Telah diketahui bahwa situasi politik dalam kerajaan yang tak stabil yang merupakan ancaman bagi perdamaian. 

Perseteruan di antara para punggawa dan bangsawan di Kerajaan Siluman Gunung Perahu, diselesaikan dengan mudahnya oleh kehadiran sosok Pamong, Saudara dan Wali yang selama ini menghilang. Komodo Nagaradja pun berperan dalam meneguhkan hati sang penguasa di puncak Gunung Perahu. Bahkan hal ini berada di luar rencana yang disusun oleh Maha Guru Kesatu Sangara Santang. 

Citra Pitaloka masih menyimpan tanda tanya besar seputar anak remaja bernama Bintang Tenggara. Meski demikian, untuk sementara ini ia memutuskan untuk memendam rasa ingin tahu tersebut. Ia sepenuhnya menyadari bahwa ada banyak misteri yang belum waktunya ia ketahui. Baginya, sepanjang perdamaian sudah dapat dipastikan, maka hatinya sudah sangat puas. 

Bintang Tenggara sendiri merasa puas akan pencapaiannya membuat sebal Komodo Nagaradja. Bagaimana tidak, sang Super Guru memendam rahasia tentang jurus kesaktian unsur racun. Selama ini telah banyak waktu terbuang menelusuri kitab-kitab yang keliru. Sungguh menyebalkan. Mengandalkan Taktik Tempur No. 19 yang dikenal sebagai Pamer, yang justru dibekali oleh sang Super Guru, Bintang Tenggara berhasil membalik keadaan dalam pertarungan urat leher menghadapi Jenderal Ketiga Pasukan Bhayangkara! 

Kelima anak remaja bersama Maha Guru Kesatu Sangara Santang sedang berada di Istana Utama Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Mereka berdiri tepat di hadapan singasana yang unik itu. Raja Bangkong IV, yang memang tak banyak bicara, duduk perkasa di kursi singasananya.

“Terima kasih kepada Maha Guru Kesatu Sangara Santang,” ujar Raja Bangkong IV. 

“Yang Mulia Raja Bangkong IV tiada perlu berlebihan. Hanya kebetulan sajalah yang membuat rencana yang kita susun mencapai keberhasilan,” tanggap Maha Guru Kesatu Sangara Santang sambil menyibak senyum. 

Usai mengucapkan kata-kata perpisahan dengan Raja Bangkong IV, Regu Perdamaian dan Maha Guru Kesatu Sangara Santang telah berada di pintu gerbang batu Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Terlihat pula Asep yang mengantarkan mereka.  

“Kita akan segera kembali menuju Kemaharajaan Pasundan. Aku telah mempersiapkan gerbang dimensi sementara…,” ujar Maha Guru Kesatu Sangara Santang. 

“Sepertinya diriku hendak tinggal untuk sementara di sini,” jawab Bintang Tenggara santai. 

Sebelumnya, entah mengapa, Raja Bangkong IV menebar jalinan mata hati kepada Bintang Tenggara. Sang penguasa itu menyampaikan undangan untuk menetap sementara waktu. Bintang Tenggara tak mengetahui atas alasan apa. Kendati demikian, dirinya akan memperoleh kesempatan berbincang-bincang tentang Super Guru Komodo Nagaradja. Selama ini, tak ada satu pun ahli yang dapat dipercaya atau cukup kompeten untuk diajak membahas perihal tubuh Komodo Nagaradja di Pulau Bunga. Kini ada sosok Raja Bangkong IV yang digdaya, bersama-sama mungkin mereka dapat memecah misteri jurus kesaktian unsur racun.

Mendengar jawaban Bintang Tenggara, Maha Guru Kesatu Sangara Santang terdiam sejenak. Sepertinya ia sedang berpikir amat dalam. Entah rencana apa lagi yang anggota Pasukan Telik Sandi itu pikirkan. Bintang Tenggara mengabaikan saja. 

“Ada baiknya kau menerima undangan Raja Bangkong IV. Aku akan mengabari Perguruan Gunung Agung perihal kepulanganmu yang akan sejenak tertunda.” Maha Guru Kesatu Sangara Santang akhirnya memberi jawaban. Apa pun itu, ia bertanggung jawab atas keselamatan Bintang Tenggara selama berada di Tanah Pasundan, karena memang dirinya yang mengundang. 

“Janganlah khawatir perihal rahasia gurumu…,” tambah lelaki dewasa muda itu, kini menggunakan jalinan mata hati agar tak terdengar ahli lain di sekitar mereka. “Raja Bangkong IV telah menegaskan kepadaku untuk menjaga kerahasiaan seputar tokoh nan digdaya tersebut. 

Bintang Tenggara menganggukkan kepala. 

“Meski, ada seseorang yang sangat menantikan kehadiranmu di Istana Utama Kemaharajaan Pasundan…,” ujar Maha Guru Kesatu Sangara Santang kembali seperti biasa. 

Bintang Tenggara terlihat kebingungan. Rasanya tiada seorang pun yang dirinya kenal menetap di Istana Utama Kemaharajaan Pasundan. Siapakah gerangan tokoh yang menanti di sana…? 

“Jadi, berjanjilah untuk singgah sejenak di Istana Utama Kemaharajaan Pasundan di saat engkau turun gunung nanti.” 

“Bagaimana nasib para serdadu bayaran yang berupaya mencegat kami saat mendaki gunung tempo hari?” tanya Bintang Tenggara sambil mengalihkan pembicaraan. 

Maha Guru Kesatu Sangara Santang kembali terdiam.

“Beberapa prajurit dan tawanan yang rencananya akan dibawa menuju Kemaharajaan Pasundan disergap saat turun gunung,” sela Asep yang baru hendak memberi perintah membuka pintu gerbang. 

Bintang Tenggara mengingat hari dimana Asep akan memimpin prajurit dalam menggiring tawanan turun gunung. Karena bertemu dirinya, Asep urung ikut mengantarkan para tawanan tersebut. 

“Mereka disergap lalu dibantai. Lawan tak pandang bulu dalam membunuh,” tambah Asep. 

“Kami masih menyelidiki kekuatan mana yang berupaya sedemikian ulet untuk menghapus jejak,” sambung Maha Guru Kesatu Sangara Santang. “Meski, telah diketahui, bahwa ada seorang remaja dalam kelompok serdadu bayaran yang berhasil meloloskan diri. Kami sedang memburu remaja tersebut untuk mencari tahu apa yang sebenarnya ingin mereka sembunyikan.”

“Terima kasih, diriku ucapkan kepada Rekan Bintang Tenggara,” ujar Citra Pitaloka. Ia membungkukkan tubuh dengan resmi. “Jasamu terhadap Kemaharajaan Pasundan dan segenap rakyatnya tak akan lekang dimakan waktu.” 

“Aku akan menuruni gunung dan berlatih di Kemaharajaan Pasundan….” Aji Pamungkas memang tak betah berada di Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Selain keberadaan Asep yang ingin mengajak berlatih tarung, kemungkinan besar banyak gadis-gadis belia siluman sempurna yang memiliki jurus Raga Danawa. Sungguh tak nyaman. 

“Kakak Gemintang benar tak hendak ikut turung gunung…?” Lampir Marapi demikian manja dalam bertanya. Ia pun mendekati Bintang Tenggara untuk mengucapkan kata-kata perpisahan. 

Panca Kabut Mahameru, Bentuk Ketiga: Kabut Kalimati!

Tetiba tubuh Lampir Marapi dan Bintang Tenggara serta merta kaku di tempat. Embun Kahyangan yang usai merapal jurus mengunci gerak tubuh melangkah santai. Ia pun menyelak Lampir Marapi, lalu…

“Cup!” Sebuah serangan mendadak mendarat telak di pipi Bintang Tenggara. Rasanya lembut, sekaligus hangat. Perasaan di hati dibawa melambung tinggi!


===


“Regu Pembersih telah menjalankan tugas mereka. Esok kita ke Kota Ahli. Sudah lama aku tak bersua saudara Kertawarma, Sesepuh Ke-15 di Perguruan Maha Patih.” 

“Aakkhhh…,” rintih seorang perempuan. 

Perempuan itu sesungguhnya adalah istri dari seorang lelaki setengah baya berkepala gundul, Malin Kumbang. Tubuhnya tergeletak tak berdaya dan tak berbalut sehelai benang pun. Akan tetapi, tak akan ada mata yang tahan berlama-lama memandang, karena penampilan perempuan itu sudah sangat berbeda dibandingkan sehari sebelumnya. Wajah yang muda, segar dan cantik telah berubah dipenuhi guratan-guratan keriput. Mata penuh kehidupan menjadi merah melotot. Rambut yang sebelumnya tergerai hitam dan panjang, sudah memutih. Lekuk tubuh yang tadinya demikian elok, pun berubah renta dan ringkih. 

Menyaksikan penampilan yang sedemikian, seolah-olah sebanyak seratus tahun dari usia perempuan itu telah direnggut paksa dari dirinya. Dalam hanya semalam, perempuan itu berubah menjadi demikian tua. Apakah gerangan yang telah berlangsung? Bagaimana mungkin hal tersebut dapat terjadi…?

Malin Kumbang bangkit berdiri sambil mengenakan jubah. Saudagar senjata itu beranjak meninggalkan kamar tempat dimana ia melampiaskan hasrat terhadap sang istri. Ia melangkah santai. Sepertinya kejadian yang menimpa istrinya bukanlah sesuatu yang patut dikhawatirkan. 

Tak lama, seorang pelayan perempuan mengendap-endap, lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Ia mengangkat tubuh perempuan uzur itu perlahan, lalu membopongnya ke kamar lain. Mudah sekali sepertinya mengangkut tubuh yang mengkerut. 

“Nyonya… diriku telah mengumpulkan lima perjaka sesuai permintaan nyonya semalam….” Si pelayan meletakkan tubuh majikan perempuannya di atas kasur di dalam sebuah kamar yang bersinar temaram. 

“Aakkhh….” Perempuan tua renta itu hanya bisa merintih.

Di sebelah dirinya, di atas kasur, telah terbaring berjejer lima orang pemuda. Tak satu pun dari mereka mengenakan pakaian sama sekali. 

“Diriku telah memberikan obat penenang kepada mereka…,” urai si pelayan.

“Aakkhh…. Haa… haa….” Perempuan tua renta itu merintih sambil merayap ke atas tubuh telanjang salah seorang pemuda.

.

.

[disensor!]

.

.

“Aaaaahh….” Perempuan itu mendesah panjang. Lega sekali sepertinya ia. Tambahan lagi, kini perbedaan terlihat cukup kentara pada wajah dan tubuhnya. Meski masih terlihat tua, ia tak lagi terlalu renta. Sebaliknya, pemuda sehat yang tadi digerayangi, hanya tersisa tulang berbalut kulit. Pemuda itu telah meregang nyawa! 

Dengan sedikit kesulitan, perempuan itu perlahan bangkit. Ia berupaya untuk duduk tegap. Tangannya meraih selimut untuk membungkus tubuh.

“Pelayan…,” gumamnya pelan sambil mengacungkan jari yang sedikit bergemetar ke arah salah satu tubuh pemuda-pemuda telanjang yang tergeletak. “Darimana kau dapatkan anak remaja itu…? Tubuhnya masih terlalu muda dan… terlalu kurus kerempeng.”



Cuap-cuap:

Episode ini seharusnya jauh lebih panjang, tetapi disensor oleh penyunting… Hahaha….