Episode 26 - Asrama - Bagian 2


Tahap terakhir di seleksi asrama adalah pemilihan asrama bagi anak didik duta Pandora, yang sebenarnya telah lebih dulu ditentukan dari kontestan-kontestan lain. Hanya saja, mereka belum diberitahu nama asrama tersebut. 

“Seluruh anak didik duta Pandora silakan berjejer di arena!” Goro berseru.

Sehabis pintu gerbang utama dibuka, beberapa duta Pandora yang terlambat bergegas masuk bersama anak didik mereka. Sementara, lucid dreamer biasa akan langsung terbangun dari tidur, tanda bahwa mereka tereleminasi.

Ada lebih dari lima orang duta Pandora. Delapan, tepatnya. Semuanya berkumpul di belakang lucid dreamer bimbingan mereka. Arya, Si ekspresi datar termasuk salah satunya. Juga, Red, Si rambut merah ikut berdiri di urutan kedua.

“Kalian merupakan penutup dari seleksi asrama. Setelah ini, saya bukan lagi pemandu acara, melainkan naga-naga yang lain. Namun, saya senang bisa bertemu lucid dreamer-lucid dreamer hebat yang begitu memukau. Bahkan, saya juga senang atas gigi yang tanggal ini.” Lidah Goro menjilati gusinya yang kehilangan taring.

“Bukankah kau anak didik Jackal?” Suara Red tiba-tiba merasuk ke telinga Arya.

“Benar. Dan kau, kau adalah anak didik si topeng kodok.”

“Namanya Frog, aku memanggilnya Guru. Jangan seenaknya menamai orang!” Lelaki berkulit cokelat itu agak jengkel.

“Maafkan aku,” tukas Arya bersama raut datarnya. “Aku belum kenal betul soal para duta Pandora.”

“Itu ironis. Kau didikan duta Pandora nomor satu. Sebuah keberuntungan jika yang terpilih adalah dirimu. Sementara yang lain, mereka bekerja keras demi mendapat predikat sebagai anak didik duta Pandora.”

Sesaat Arya ingin membalas, api hijau Goro sudah menyeruak ke atas, menciptakan pintu-pintu yang perlahan jatuh ke bawah. Itulah pintu masuk asrama, sama seperti kontestan-kontestan sebelumnya.

Jika disuruh memilih, Arya lebih suka masuk ke asrama malam. Hal tersebut semata-mata terlintas karena tuntutan hasrat untuk berlindung di bawah orang-orang kuat. Sarasvati, dialah yang menjadi alasan utama pilihan Arya. Bagaimana tidak? Si muka datar itu sudah tertarik padanya sejak seleksi pintu keyakinan, di mana terlihat seorang gadis yang membuka pintu tanpa keraguan sedikit pun.

Berbeda kasus dengan Arya, Red lebih tertarik pada asrama siang. Mengenai konsep Super Guardian, ia benar-benar antusias kala memikirkannya. Kemampuan Vida dalam memanipulasi konsentrasi sukses memukau penonton. Pun demikian, kehebatan Chavo yang tiada batas pastilah membuat siapa pun gentar. 

Super guardian yang belum terjamah oleh logika, suatu keanehan, fenomena janggal yang tidak terukur. Dan, kemampuannya dalam menanamkan kelemahan ke benak musuh adalah hal yang paling menarik bagi Red.

“Arya Kusuma, sebagai anak didik duta Pandora peringkat pertama, saya akan terlebih dulu mengumumkan asrama untuk Anda.” Kalimat Goro sanggup membuat Arya gemetaran. Seolah terpanggil, kepalanya menengok ke belakang, tempat Jackal berdiri bersama duta Pandora yang lain. Si topeng rubah itu mengangguk, terkesan memberi isyarat bahwa pilihannya adalah yang terbaik. “Anda akan dimasukkan ke dalam asrama … SIANG!”

Sial! Benar-benar sial, pikirnya. Tidak bisakah Jackal memilihkan asrama yang lebih baik? Memang, di sana ada Vida. Namun sisanya tak lebih dari pecundang yang lemah nan licik. Ini suatu kesalahan, setidaknya menurut Arya. Dia berniat protes, tetapi Goro langsung bereaksi.

“Mohon tenang dan terima keputusan duta Pandora dengan lapang dada.”

“Cih! Kasihan sekali kau,” cibir Red.

“Apa kau bilang?!” Kedua tangan Arya mengepal, kendati ekspresinya begitu-begitu saja.”

“Apa benar kemampuanmu sehebat itu?” Red mengerling seram. “Apakah kau pantas berbaris di sini?”

“Sialan!” Terpancing, Arya langsung merangkam kerah lawan bicaranya. “Jangan meremehkanku, Bodoh!”

“Kau tidak ingin diremehkan, tetapi sikapmu seolah memintanya.” Pembelaan Red membuat Arya bungkam seketika. “Sebagai anak didik duta Pandora, seharusnya kita bisa patuh terhadap keputusan mereka. Apakah kau tidak punya rasa hormat? Apakah kau pantas berada di sini? Apakah—“

“DIAMLAH!” Arya menggelegar. “Kau tidak pantas mendikteku. Aku adalah anak didik nomor satu! Akulah anak didik Jackal, Si topeng rubah.” Mata pemuda itu melebar, sungguh mengisyaratkan kesombongan sejati. Hingga, senyum janggal terpeta di wajah Red.

“Maafkan aku. Sekarang semuanya sudah terlihat jelas. Tatapan itu, tatapan rubah sombong nan licik. Kalian sangat cocok sebagai guru dan murid.” 

Sesaat situasi kembali kondusif, Goro mulai mengumumkan asrama untuk anak didik selanjutnya. Kali ini giliran Red, anak didik duta Pandora nomor dua.

“Red, anak didik duta Pandora nomor dua, izinkan saya mengumumkan pintu asrama yang harus Anda masuki. Saya rasa ini merupakan keputusan yang tepat, sangat sesuai dengan karakteristik Anda.” Goro menyeringai. “Red, Anda akan masuk ke dalam asrama … MALAM!”

Detik itu juga, baik Red maupun Arya, mereka sama-sama terkesiap. Mungkinkah impian yang tertukar, pikir Arya. Sepertinya memang begitu. Arya menginginkan asrama malam, tetapi justru masuk ke asrama siang. Sebaliknya, Red terpaksa mengiyakan keputusan Frog di saat dirinya berambisi masuk ke asrama siang.

“Kau tidak kelihatan senang,” ujar Arya.

“Diam saja kau, Muka datar!”

“Kau benar-benar beruntung masuk ke asrama malam.”

“Apa maksudmu? Apa kau mengejek?!” Red menatap sengit.

“Tidak sama sekali. Sejujurnya, aku ingin masuk ke asrama malam. Aku tak tahu pasti, tetapi kau tampak tidak setuju dengan kehendak gurumu.”

Alih-alih balas berargumen, Red lebih memilih diam. Sekilas, ia mengerling pada Frog yang tengah menggaruk punggung di belakang. Meski bertolak belakang terhadap keinginannya, pemuda beriris zamrud itu bersikeras memantapkan hati atas keputusan Sang guru.

Berlanjut dan terus berlanjut, Goro terus mengumumkan asrama bagi anak didik duta Pandora satu per satu. Hingga kini, ada dua orang yang masuk asrama malam, dua orang masuk asrama siang, satu orang masuk asrama pagi, dan dua orang masuk asrama sore. Masih tersisa satu orang lagi untuk diumumkan. 

Orang kali ini bisa dibilang sebagai penyusup. Keberadaannya sempat membuat para dewan turnamen gonjang-ganjing. Lumrah saja, dari yang awalnya hanya ada tujuh duta Pandora, Jackal tiba-tiba mennggunakan hak istimewanya untuk menambah satu anggota lagi tanpa alasan yang jelas.

“Ruhai, anak didik duta Pandora nomor delapan, izinkan saya mengumumkan pintu asrama yang harus Anda masuki.” Kala bicara, mata Goro tak kuasa lepas darinya. “Ruhai, Anda akan masuk ke asrama—HAH!” Naga itu tampak kaget, seakan sesuatu baru menimpa kepalanya.

“Ada apa?” gumam Arya. “Bukankah dia orang yang kutemui saat seleksi pintu keyakinan?” Ia memandang Ruhai di urutan paling akhir.

Tak diduga, pemuda telanjang dada itu balas menatap Arya. Ia menyunggingkan senyum lebar, sarat akan keramahan. Namun, entah mengapa Arya merasakan hal yang buruk. Seperti ada jurang pembatas di antara mereka berdua.

“Ini tidak diperbolehkan,” Garo bersuara serak. “Duta Pandora tidak diizinkan mengubah keputusan mereka secara tiba-tiba.”

“Mengubah keputusan?” Dahi Arya berkedut. “Keputusan apa?”

“Kurasa ini soal asrama,” Red menyahut. “Mungkinkah duta Pandora-nya Ruhai itu membatalkan keputusan awal dan menentukan yang baru?”

Sejurus berakhirnya ucapan Red, tiba-tiba Arya terbeliak. Dia teringat sesuatu, lalu berkata: “Nama duta Pandora-nya Owl, dia yang memakai topeng burung hantu.”

“Lalu apa hubungannya? Aku tidak butuh informasi receh semacam itu.”

“Kau tidak tahu siapa Ruhai sebenarnya. Dia berbeda dari kita. Saat seleksi pintu keyakinan, selain berhasil melewatinya dengan mudah, orang itu juga tahu kunci dari tes tersebut. Dia … dia seolah punya akses langsung terhadap daftar kegiatan turnamen.”

Goro mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, kendati pandangan garang itu menusuk tepat ke arah Jackal. Sang naga menggeram, bersama gerak mata yang mengisyaratkan sesuatu. Sebegitu mudahnya, anggukan dari Jackal menjadikan Goro makhluk yang patuh.

“Baiklah. Ruhai, Anda berhak memasuki asrama …. SIANG!”

Satu asrama dengan orang mencurigakan, Arya bimbang terhadap perasaannya. Entah harus senang atau justru takut, eksistensi Ruhai sudah menimbulkan sebegitu banyak kejanggalan. Yang jelas, ada tiga lucid dreamer didikan duta Pandora yang memasuki asrama siang. Itu artinya, asrama siang merupakan asrama yang paling banyak diisi lucid dreamer terpilih.

“Seleksi asrama telah berakhir. Kini saatnya bagi lucid dreamer terpilih untuk memasuki pintu mereka.” Pintu-pintu asrama terbuka seiring akhir ucapan Goro.

Segera saja, orang-orang itu melangkah memasuki asrama mereka. Para duta Pandora memerhatikan dari belakang, penuh kemisteriusan. Anak didik mereka lenyap ke balik pintu satu per satu, membawa serta sejuta harapan serta ambisi untuk diwujudkan. 

Jackal mengawasi langkah Arya. Dari balik topeng itu, terdapat sepasang mata yang tiada lelah menganalisis tiap potensi dari anak muridnya. Arya memang terlalu lemah sekarang, tetapi suatu saat nanti dia akan bertengger di puncak kemanangan. Begitulah kira-kira pemikiran Jackal terhadapnya.

Setelah arena telah bersih dari para kontestan, barulah Goro menghentak ekor berujung martilnya. Naga berleher panjang itu benar-benar berang. Dia meluapkan segala amarah yang bersemayam dengan menghantam tribun-tribun hingga ambruk dan berguguran. 

“Anda yang terburuk dalam periode ini. Saya bersumpah!” katanya seraya mendelik pada Jackal. “Sejak kapan mengganti susunan duta Pandora dianggap hal yang normal?”

“Owner harusnya dikasih tahu.” Frog menambahi. “Dia harus tahu kalau pemimpin kita ini orang yang licik.”

“Diamlah, Katak keparat! Saya punya alasan atas tiap-tiap tindakan yang saya buat.” Jackal membela diri. 

“Lalu apa ini?” Kepala Goro bergerak ke hadapan Owl. “Dia bukan salah satu dari kalian. Dia bukan duta Pandora!”

“Duta Pandora atau bukan, dia akan tetap di sini.” Jackal bersedekap. “Sebagai Si nomor satu, saya berhak menentukannya.”

Duta Pandora lain mulai beradu argumen. Sebagian mendukung tindakan Jackal, sebagian lain menentang habis-habisan. Bagi penentang, mereka tidak ingin privasi duta Pandora terbongkar oleh orang yang salah. Terlebih, orang tersebut adalah karakter mimpi yang dianggap tidak sederajat dengan panitia turnamen. Namun, tiada ada satu pun yang tahu mengenai kejadian sebelum hari ini. Kejadian yang memaksa Jackal bertindak di luar kebiasaan.

Owl, selayaknya Ruhai memanggil gurunya itu, merupakan bagian dari rencana Jackal untuk menjadikan Arya sebagai pemenang. Dia tahu bahwa kemampuan anak didiknya tiada sebanding bilamana diadu dengan lucid dreamer seperti Sarasvati atau Vida. Maka dari itu, Jackal berusaha memenangkan kompetisi dari dalam. Dari wilayah yang takkan diduga oleh rekan-rekannya. 

“Kita akan membicarakan ini di ruang rapat. Jadi, kalian bisa kembali ke markas terlebih dulu.” Pria bertopeng rubah itu bicara.

“Kami bakal menunggumu di sana, Rubah Keparat.” Frog mencerca tatkala dirinya menjelma jadi partikel kebiruan, sama sengan duta Pandora lain.

Sesaat mereka sirna, menyisakan Jackal dan Goro di tengah luasnya gelanggang, kondisi krusial pun singgah. Sebelum pergi, Jackal sempat bertatap muka dengan naga berpangkat dewan seleksi itu.

“Bagaimana cara Anda menyikapi ini semua? Pandora telah terjangkit penyakit.”

“Saya akan pikirkan itu nanti,” ujar Jackal. “Anda telah menyelesaikan tugas dengan baik, Goro. Sekarang, biarkan saya mengambil peran.”