Episode 10 - Bagian Kedua (1)

Berminggu-minggu lewat. Ganesha baru berhasil menyelesaikan bab pertama novelnya. Novel yang ia tulis beralur maju, sehingga agak sulit jika dikerjakan melompat-lompat. Itulah yang membuat perkembangan novelnya jadi lambat. Jika dalam satu paragraf ia mengalami kebekuan, ia mesti sabar menunggu kebekuan itu cair. Dengan kecepatan serupa itu, pikirnya, ia akan membutuhkan waktu yang lama untuk bertemu Raslene. Ia tahu, ia tak bisa gegabah datang ke Cirebon tanpa membawa novel, sebab baginya, novel menunjukkan bahwa perasaan Ganesha terhadap Raslene bukan main-main, sehingga layak diperjuangkan.

Sudah beberapa jam dan Ganesha tak menulis satu kalimat pun, akibatnya ia menghentikan waktu sewa komputernya, kemudian beranjak untuk membayar tagihan.

Sejak Ganesha mulai menulis novel, beberapa kali warnet Sukamiskin mesti tutup lebih lama. Kadang-kadang, itu membuat penjaga warnet bernama Cuplis, yang akrab dipanggil Cuplis Monyong, jengkel. Tak ada uang lembur, sementara seperti kata pepatah yang ia yakini, waktu adalah sesuatu yang berharga. Tak heran, bibirnya yang sudah monyong lebih dimanyunkan ketika bertatapan dengan Ganesha. Meskipun ia tahu lelaki itu tengah memperjuangkan cintanya, ia tak peduli, sebab jika dipandang dari mata oportunisnya, perjuangan Ganesha tak memberinya keuntungan apa-apa.

Ganesha melangkah pulang. Matanya merah sebab seharian memandang layar komputer. Hari ini cukup berat baginya. Ia mesti menyeret kata demi kata hanya untuk kembali menghapusnya. Meskipun hampir seluruh isi novelnya adalah apa yang pernah ia alami, namun ia tetap harus membongkar laci ingatannya dan mencoba menerka serta menyusun kembali fragmen-fragmen yang buram.

Di rumah, Rozak tengah duduk di dalam Combi. Menyadari kedatangan sahabatnya, ia bertanya, “Gimana panen kata hari ini, Bung?”

“Lumayan, Zak. Aku sudah menyelesaikan satu bab. Tapi aku merasa kecepatan menulisku payah sekali.”

“Selalu ada yang layak diperjuangkan, Bung!” Rozak melempar senyum. “Percayalah, Nesh, setidaknya kamu sudah punya satu calon pembaca.” Rozak menunjuk dadanya sendiri.

“Terima kasih, Bung. Aku janji kepada diriku sendiri bahwa aku akan memberikan tanda tangan dan kecupan di bokong untuk pembaca pertamaku. Tolong tagih semisal aku lupa.”

“Tentu, Kawan, aku juga bersumpah mulai sekarang aku nggak akan cebok setiap habis berak!”

**

Rozak baru pulang lari pagi ketika Ganesha sedang mencoret-coret kertas. Entah kerasukan setan apa, Rozak memutuskan berolahraga. Ia sudah bangun sebelum ayam jantan milik Haji Nasir; yang terbukti berkokok paling pagi di antara seluruh ayam yang hidup kelaparan di kawasan kumuh ini.

“Iblis apa yang bikin kamu lari pagi, Zak?” tanya Ganesha, diikuti tawa.

Rozak mengabaikan pertanyaan Ganesha. Ia membuka kaus bergambar WS Rendranya yang basah oleh keringat. Ia menjepit gelambir perutnya dan menggoyang-goyangkannya, seolah lari satu kilometer tadi langsung membuahkan hasil signifikan. Melihat itu, Ganesha geli sendiri.

“Nesh, kamu menulis novel, aku menguruskan badan. Kita sekarang sama-sama punya kesibukan lain.”

“Menguruskan badan?” Alis Ganesha mengernyit.

“Aku rasa ini sudah jadi kebutuhan mendesakku. Aku pikir pipiku yang semakin bulat dan rambut bulu pubisku membuat wajahku semakin mirip buah zakar.”

“Yap. Copy paste.”

“Tai!”

Rozak masuk kamar. Ia mengunci pintu, menutup gorden, dan membuka lemarinya. Ia mengambil jas hadiah ulang tahunnya, mengenakannya, dan masih gagal mengaitkan kancingnya meskipun mati-matian menahan napas. Kemudian, ia membuang seluruh napas di paru-parunya dan menggantung kembali jas ke dalam lemari. Sambil menuju kamar mandi, ia berteriak kepada Ganesha agar bersiap-siap. Ganesha mengiyakan, meskipun masih fokus pada aktivitasnya.

Di kamar mandi, Rozak masih memikirkan soal jasnya yang tak muat. Entah mengapa, pikiran soal mengancing jas itu terbit di benaknya setelah tadi malam melihat lagi foto suami Miranti di Facebook. Ia mengambil sabun, menggosok tubuhnya yang lebar dan punya tonjolan memalukan. Rozak terlahir gemuk, punya Ayah dan Ibu gemuk, saudara perempuan gemuk, kucing anggora gemuk, Ipar gemuk, dan tetangga gemuk. Sepanjang hidupnya, ia tak pernah kecewa dengan takdir itu. Tetapi, entah mengapa, tadi pagi, di hadapan cermin, ia merasa sangat ingin tampak pas mengenakan jas ulang tahunnya.

“Lama betul mandimu!” teriak Ganesha, “sedang apa, sih, Bung?!” Ganesha menggedor pintu kamar mandi.

“Tadinya masturbasi. Tapi kuhentikan karena sekarang yang ada di pikiranku cuma wajah rusakmu!”

Rozak menumpahkan isi gayung ke tubuhnya. Sementara Ganesha tergelak-gelak menjauhi kamar mandi.

**

“Waktu adalah lalu lintas Jakarta, dan cinta hanyalah kecelakaan,” tutup Rozak, membacakan bagian akhir puisi Mencintai Lonte. Terdengar suara tepuk tangan dan siulan di belakang, tetapi jelas bukan dari penumpang metromini, melainkan dari Ganesha seorang. Sampai di bangku belakang, Rozak langsung mengancam, “Jangan berkomentar soal penghayatanku, oke? Hari ini, aku jauh lebih ganas daripada buaya di musim kawin.”

“Ya Tuhan, Zak, penghayatan puisi adalah satu-satunya pujian yang bisa kuberikan kepadamu, Kawan. Jangan sia-siakan.”

“Aku heran, kenapa aku bisa ber-partner dengan orang yang seharusnya paling kubenci di dunia ini.” Rozak menyerahkan kantung uangnya. “Nih, hitung. Siapa tahu penghayatanku bisa membuat kita memborong kendor—kentucky dorong.”

Ganesha tersenyum, sementara ekspresi Rozak datar saja.

“Oh, ya, Bung,” kata Rozak, “sisihkan juga buat biaya warnetmu.”

Tawa Ganesha berubah haru.

Suasana hening sesaat. Rozak mengakhiri keheningan itu. “Ngomong-ngomong, Nesh, sebenarnya aku sangat senang kamu nggak buang-buang uang dengan mencetak poster-poster sialanmu. Jauh lebih baik kamu habiskan waktumu dengan menulis novel, Bung.”

Rozak yang banyak tahu soal kisah antara Ganesha dan Raslene, pada dasarnya merasa iba. Baginya, sudah terlalu banyak yang dikorbankan Ganesha beberapa tahun belakangan, sejak Raslene pergi. Meskipun Miranti juga minggat setelah beberapa tahun sempat jadi istrinya, tetapi perbedaan antara ia dan Ganesha jelas. Ia lebih realistis karena meskipun masih sering mengingat dan jelas mencintai Miranti, ia tak bertingkah macam-macam. Sedangkan Ganesha, ia masih berusaha mencari Raslene dan melakukan hal-hal konyol seperti halnya mencetak poster. Itulah yang kadang membuat Rozak terenyuh.

Ganesha bergeming. Tenggorokannya mampat. Ia merasa bersalah atas segala kebaikan sahabatnya. Namun, jika ia berterus terang sekarang, maka ujungnya adalah pertengkaran. Ia tak mau hal itu terjadi, sebab ia menyayangi Rozak. Tetapi, ia juga tak bisa membantah bahwa ia mencintai Raslene, dan novel saat ini satu-satunya jalan menemukan perempuan itu.

**

Ganesha menuntaskan gelas kopi hitamnya di Warung Mak Jamilah, sementara Rozak pergi ke pasar malam yang digelar di Stadion Rawa Badak. Jalan Haji Rohmat pun sepi, sebab semua warganya tersedot ke arah stadion.

Menurut desas-desus, Orkes Madu Asmara pimpinan Ratu Badak bakal mendirikan panggung di sana. Kabarnya, orkes yang para penyanyinya semlohai itu tak ditanggap siapa pun. Mereka tampil dalam rangka merayakan ulang tahun ke-40 Ratu Badak; lelaki bertubuh besar yang selalu pakai baju perempuan saat manggung. Karena momen itu istimewa, Ratu Badak bakal menerjunkan para penyanyi terbaiknya. Biasanya, dalam dunia orkes atau organ tunggal, ‘penyanyi terbaik’ dibagi menjadi dua kelompok, yakni Kelompok Bersuara Merdu dan Kelompok Berwajah Cantik dan Seksi. Tentu saja migrasi besar-besaran warga Jalan Haji Rohmat juga dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok Satu yang terdiri dari bapak-bapak hidung belang, remaja cabul, dan perjaka tua dengan motivasi Kelompok Penyanyi Berwajah Cantik dan Seksi. Dan, Kelompok Dua yang anggotanya para penikmat dangdut sejati. Sementara Rozak, ia masuk dalam kelompok khusus yang lebih tepat dinamakan Kelompok Duda Merana yang anggotanya tinggal ia seorang, sebab Bang Jali lebih dulu dijemput ajal.

Ganesha membayar kopinya, kemudian bergegas pulang.

**

Ganesha selesai mandi. Ia berbaring di kamar dan membaca berulang-ulang surat dari Raslene. Kalimat demi kalimat dalam surat itu membuat jantungnya sulit dikendalikan. Ia bangkit, meletakkan surat itu ke dalam lemari, kemudian mengambil catatan dan penanya. Ia sudah merangkai beberapa catatan untuk melanjutkan ceritanya. Ia memang belum punya pengalaman menulis novel, sehingga membiarkan segalanya mengalir dari masa silamnya. Sementara tugasnya adalah berdiri di tengah arus dan merasakan bagian mana yang terasa hangat untuk dicatat.

**

Dalam perjalanan ke warnet Sukamiskin, Ganesha bertemu dengan beberapa tetangganya yang hendak ke Masjid. Ia menyapa mereka dengan ramah dan sedikit berbasa-basi. Ganesha dan Rozak sebenarnya cukup populer di Jalan Haji Rohmat. Selain memang mereka terkenal bertele-tele dan belagak puitis ketika mesti berutang, mereka bisa dibilang seniman kebanggaan warga. Setiap ada hajatan, baik pernikahan, sunat, atau panggung promosi produk, mereka sering didaulat membaca puisi. Dan, khusus untuk pernikahan dan sunat, mereka tak pernah meminta bayaran.

Ganesha sampai di depan warnet Sukamiskin dan terkejut melihat tulisan di kertas karton biru yang ditempel di pintunya. ‘WARNET INI KHUSUS UNTUK MAIN GAME’ dan di bawahnya ‘GAK TERSEDIA BANGKU UNTUK URUSAN ASMARA’. Namun, ide di kepala Ganesha yang telanjur mendidih memaksanya tetap membuka pintu warnet. Belum sampai tangannya ke pintu, Cuplis Monyong, operator warnet, bangkit cekatan dari duduknya dan mengunci pintu. Kemudian, ia kembali duduk seolah tak menyadari kehadiran Ganesha.

Ganesha mengetuk pintu warnet. Ia jengkel setengah mati pada Cuplis Monyong dan berpikir untuk menjambak bibirnya. Namun, tetap saja lelaki monyong itu abai dan pura-pura sibuk menghadap layar komputer. Akhirnya, setelah lima menit, Ganesha menyerah.

Selain warnet Sukamiskin, warnet terdekat dari tempat tinggal Ganesha berada sekitar empat kilometer jaraknya dan tidak dilewati angkutan umum. Tetapi apa lacur, Ganesha mesti tetap menyelesaikan novelnya sehingga terpaksa memutuskan berjalan kaki.

Usai lima belas menit perjalanan, Ganesha sampai di warnet. Sial baginya, tepat ketika ia sampai, penjaga warnet memutar papan bertuliskan ‘OPEN’ sehingga berganti ‘CLOSED’. Ganesha geram, tetapi tak bisa bertindak seperti yang sebelumnya ia lakukan di warnet Sukamiskin. Di wilayah ini, ia hanyalah orang asing. Sambil melangkah pulang, Ganesha sedikit curiga Cuplis Monyong menginisiasi persekongkolan dengan kelompok penjaga warnet di Jakarta Utara.