Episode 10 - Percakapan-percakapan Malam (1)

Masih kuingat cerita Bung Atma semalam. Atma Aswani adalah seorang pengusaha kuliner yang cukup sukses di Jakarta. Sedangkan mendiang istrinya, Annelies, aktif di pelbagai kegiatan sosial. Pun Bung Atma, apabila kesibukan bisnisnya terasa longgar. Mereka adalah sepasang suami istri yang berbahagia, meskipun tak dikarunai anak. Entah Bung Atma atau Annelies yang menyebabkannya, mereka tak pernah tahu dan tak ingin mencari tahu. Yang mereka tahu, mereka saling mencintai dan berbahagia. Dan, itu lebih dari sekadar cukup.

Sekitar tiga tahun lalu, Annelies meninggal karena kecelakaan tunggal dalam perjalanannya menuju acara pertemuan dengan beberapa lembaga sosial. Bung Atma sangat terpukul, sehingga melarikan diri dari kehidupan. Setiap malam, ia hanya bercengkerama dengan botol-botol minuman keras, sambil berharap mabuk bisa menjauhkannya dari kenyataan. Setiap pagi pula, dengan wajah tak mengenal pisau cukur, ketika menatap cermin, ia semakin tak mengenali dirinya sendiri.

Lalu pada suatu malam, di antara bangkai-bangkai vodka, di bawah langit dengan kelap-kelip cahaya, ia berdoa: Tuhan, jika Kau memang menempatkan Annelies di tempat yang baik, aku akan menyusulnya dengan cara-cara yang baik pula. Sebuah cahaya jatuh, mengusir gelap di palung jiwanya. Sejak saat itu, setiap bintang-bintang tersemat di dada langit, ia percaya istrinya ada di sana, tersenyum untuknya.

Akhirnya, Bung Atma memutuskan menjadi sepenuhnya relawan. Bisnisnya diserahkan kepada salah satu keluarganya. Sebagian besar pemasukannya disumbangkan untuk kegiatan sosial. Sebagai relawan, ia melakukan apa saja yang ia bisa untuk membantu atau menghibur para korban: dongeng untuk anak-anak, bernyanyi, atau apa pun yang sekiranya berguna. Tapi, katanya, sering kali ia kesulitan diterima oleh banyak relawan, sebab sebagian mereka menganggapnya sedikit aneh.

Setidaknya, jaket jeans-ku hanya berbau aneh, tapi tidak membuatku dianggap aneh, Bung Atma. Gurauku, semalam. Aku pun membagi banyak cerita padanya, termasuk tentang Keumala.

**

Sore ini, aku dan Laksmi—tepatnya aku, sebab sudah pasti Laksmi berbahagia melihat aku dikerjai—memilih mengawasi dongeng yang ditulis Bung Atma. Aku tidak ingin ia dengan semena-mena mengerjaiku. Jadi, ya, paling tidak, dengan pengawasan ketat, aku tidak akan dipojokkannya dalam situasi sulit.

“Bung, aku nggak mau kalau harus dikasih peran yang menyiksa. Badanku lagi ngilu, nih,” protesku.

“Tenang, Gam,” katanya, sambil berusaha menulis dongengnya. “Eh, hari ini aku mau mendongeng kisah harimau dan burung kecil. Gimana, Gam?”

“Wah, kebetulan! Aku nggak akan bagus kalau meranin harimau. Maksudku, ummm, aku nggak bakat untuk peran antagonis!”

“Lho, yang antagonis justru si burung kecil, Gam. Tenang, kamu protagonisnya.”

“Ayolah, Bung! Kalau punggungku nggak ngilu, nggak jadi soal,” keluhku, sedikit memohon.

“Eh, kalau aku ajak Adi, gimana? Semalam kuceritakan soal kegiatan kita, dan sepertinya dia tertarik gabung,” tanya Laksmi.

“Wah, ide bagus tuh, Mi! Kebetulan, si-Lelaki-Banyak-Alasan ini penghayatan perannya agak buruk,” timpal Bung Atma, yang tiba-tiba punya kapasitas sebagai pengamat seni peran. “Eh, tapi Agam si sembelekete jadi keenakan, dong? Nggak ngapa-ngapain,” lanjutnya, telunjuknya menuding ke arahku.

“Lho, kan aku bisa duduk di antara anak-anak, dan menyemangati Adi dan Laksmi, Bung!” bantahku.

“Ummm,” Bung Atma terlihat berpikir, “gimana kalau kamu tetap aku kasih peran, Gam?”

“Bung ... ayolah!” protesku.

“Tenang, perannya gampang. Kamu cuma jadi batu saja, kok!”

“Nah, kalau cuma jadi batu, bolehlah!”

Lagi pula, apa susahnya jadi batu? Dalam hati, aku tersenyum penuh kemenangan.

**

Sekali lagi, Bung Atma berhasil mengerjaiku. Dongeng yang dilisankannya ternyata sangat berbeda dari tulisannya yang kuawasi dan kubaca.

Dongeng diawali dengan si Harimau, Adi, yang tengah duduk di atas batu. Tubuh Adi yang kukira ringan, ternyata jauh lebih berat dari dugaan. Lalu, Bung Atma dengan cerdasnya—maksudku, dengan liciknya—mengalihkan fokus pada si Batu: aku. Dengan alasan kebebasan imajinasi, diceritakannya batu yang bisa berguling dan lari keliling lapangan. Duh! Sialnya, kali ini Banu tidak mengajukan protes sama sekali.

Dan sekarang, aku duduk meredam ngilu di sekujur tubuhku, sedangkan Bung Atma mesem-mesem menjengkelkan. Laksmi datang, setelah mengantar sebagian anak-anak kepada orang tuanya. Diberikannya aku air mineral botol. Aku belum menuntaskan haus, ketika Adi kembali entah dari mana.

“Wah, ternyata dongengnya sudah sampai di adegan batu yang bisa minum, ya?” ejek Adi, yang disambut tawa Bung Atma dan Laksmi.

“Sial kamu, Di!” gerutuku, “eh, Baskara di mana, Di? Sesekali, ajak dia gabung dong.”

Aku berusaha mengalihkan fokus ejekan.

“Di dapur umum dia, Gam. Agak sulit orangnya, tapi pada dasarnya orangnya baik, Gam,” bela Adi, seolah hendak meluruskan pandanganku terhadap sahabatnya. Meskipun, pertanyaanku tak didasari pikiran negatif tentang Baskara, juga tak bermaksud menyindir.

“Iya, aku tahu. Semoga kedepannya bisa cair, ya, Di,” kataku, merasa tak enak hati juga dengan Adi.

“Gam, Mi, Di. Aku lagi mikir, nih. Kira-kira, kalau kelompok kita dikasih nama seru kali, ya?” tanya Bung Atma.

“Wah, setuju aku, Bung!” jawab Laksmi, antusias.

“Ada ide nama, Mi?”

“Hmmm,” Laksmi berusaha berpikir, “belum ada, sih, Bung. Gimana kalau besok?”

“Malam saja gimana? Sekalian kita obrolin kegiatan apalagi yang bisa kita lakuin bareng anak-anak. Oke, nggak?” tanya Bung Atma.

“Boleh, boleh, Bung,” jawab Laksmi.

“Wah, aku nggak bisa gabung, Bung. Malam ini, aku dan Baskara rencananya mau pulang dulu, urus persiapan event beberapa bulan ke depan,” kata Adi, nadanya sedikit kecewa. “Aku manut saja sama yang lain, deh.”

“Yasudah. Sembelekete, kamu jemput Laksmi dan ajak ke tempat semalam, ya. Aku mau pergi dulu sama Sukri.”

“Wah, tempat semalam? Aku jadi curiga ...,” kata Laksmi, sambil menatapku. Seolah ‘tempat kemarin’ penuh dengan adegan rahasia.