Episode 131 - Tempuling Raja Naga



Pertarungan kedua. Seharusnya pertarungan kali ini adalah giliran Lampir Marapi. Akan tetapi, Aji Pamungkas buru-buru melompat naik dan terlihat telah siap siaga di tengah panggung. 

Hujan masih deras adanya, membuat suasana dingin semakin mendera. Seorang gadis belia melompat cepat naik ke atas panggung. Wajahnya cantik, bentuk tubuhnya kecil dan ramping. Ia terlihat memasang kuda-kuda. 

Kemungkinan besar Aji Pamungkas telah mendapat firasat bahwa lawan berikutnya adalah seorang gadis, sehingga ia tak hendak membuang-buang waktu untuk naik ke atas panggung pertarungan. Sungguh hebat nalurinya.

“Namaku Euis… Salam hormat,” sapa gadis tersebut santun. 

“Aji Pamungkas adalah namaku. Menyajikan kasih dan sayang merupakan tujuan hidupku.” Aji Pamungkas berujar lantang. Untunglah derasnya hujan menyarukan kata-kata tujuan hidup yang tiada terlalu penting itu. 

“Hya!” 

Aji Pamungkas pun tak membuang-buang waktu. Mengenakan kacamata, anak remaja tersebut berlari maju. Ia merentangkan kedua belah tangan lebar-lebar, sepertinya berniat hendak memeluk lawan dengan segenap hati dan tenaga. Jurus Beulut Darat segera beraksi! 

Euis melompat mundur. Aji Pamungkas menambah laju gerak langkah. Berkat kesaktian unsur angin, di tengah hujan deras ini ia tak kalah cepat dibandingkan lawan. Tiada yang dapat menghentikan hasrat yang demikian menggebu.  

“Hap!” 

Genggaman tangan kiri Aji Pamungkas menangkap pergelangan tangan Euis. Kemudian, secara bersamaan ia melompat dan menarik lawan. Jurus Beulut Darat segera beraksi! 

Untungnya Euis cukup waspada. Gadis tersebut menyentak lengan yang tertangkap dan memutar tubuh. Ia lalu melompat cepat ke samping. Berkat gerakan tersebut, Euis terlepas dari mara bahaya. Ia pun segera menjaga jarak. 

Tak putus asa, Aji Pamungkas merangsek mengejar. Guyuran air hujan tak meluluhkan semangatnya untuk ‘bertarung’. Malahan, gerakan mengejar anak remaja itu semakin cepat adanya. Euis sepertinya menyadari bahwa jangan sampai dirinya tertangkap, karena menduga lawan memiliki jurus yang demikian digdaya bila berhasil menjerat lawan. 

Keadaan di atas panggung kini seolah permainan kucing-kucingan. Aji Pamungkas mengejar, dan Euis menghindar. Langkah kaki Aji Pamungkas tak lagi teratur. Ia tergopoh-gopoh tak sabar, mirip seperti seorang lelaki tua yang mengejar seorang gadis muda belia. 

“Busur Mahligai Rama-Shinta!” teriak Aji Pamungkas mengeluarkan busur besar andalan.

Euis terlihat waspada. Gadis remaja tersebut kembali menjaga jarak. 

“Panah Asmara, Bentuk Kedua: Cinta Segitiga!” 

Tiga bilah anak panah yang berbalut kesaktian unsur angin melesat. Kecepatan dan lintasannya sama sekali tak terpengaruh derasnya hujan. Meski demikian, Euis sangat cekatan menghindar dari tembakan-tembakan anak panah tersebut. 

Aji Pamungkas terus-menerus melesakkan anak panah demi anak panah. Bidikannya demikian akurat. Walau, sampai sejauh ini Euis masih cukup piawai dalam menghindar. 

“Hap!” 

Aji Pamungkas sekali lagi menangkap pergelangan tangan lawan. Rangkaian anak panak yang ia lesakkan bertujuan untuk menggiring lawan. Dengan demikian, ia telah mengetahui secara pasti arah dimana Euis akan menghindar.  

Cengkeraman jemari tangan Aji Pamungkas kali ini tak bisa dipandang sebelah mata. Sebagai perapal Jurus Beulut darat yang merupakan teknik gulat, tentunya terbiasa dalam mengcengkeram lawan. Ia pun segera menarik lawan. Terlihat betapa perkasanya Aji Pamungkas yang sedikit lagi merangkul gadis bertubuh ramping itu. 

“Hya!” Euis menghentakkan tenaga dalam. 

Air hujan menyibak dan menyebar ke semerata penjuru. Tubuh Aji Pamungkas terdorong. Akan tetapi, cengkeraman jemari tangannya demikian kuat sampai-sampai lawan ikut dibawa bersama tubuh yang terlihat sedikit melayang. 

“Raga Danawa!” teriak Euis di saat terjepit. *

Seketika itu juga terjadi perubahan wujud. Tubuh Euis menggelembung. Gadis belia yang tadinya kecil ramping, serta merta berubah menjadi gembul dan gempal!

Cengkeraman erat Aji Pamungkas terlepas dengan sendirinya. Hal ini terjadi karena selain tubuh yang membesar, ukuran pergelangan tangan Euis saat ini hampir sebesar paha orang dewasa!

“Jurus alih wujud itu… satu lagi jurus khas siluman sempurna kodok!” seru Citra Pitaloka. 

“Bukan hanya alih wujud…,” gumam anak remaja yang berdiri di sampingnya. 

Bintang Tenggara.sepenuhnya menyadari bahwa tidak hanya ukuran tubuh Euis yang membengkak…. Jurus ini mirip dengan salah satu dari Sapta Nirwana, tujuh jurus utama dari Perguruan Gunung Agung. Benar, jurus Raga Danawa mirip dengan jurus yang dimiliki dan dikerahkan oleh Guru Muda Anjana, yaitu jurus Raga Bima. 

MEskipun demikian, ada perbedaan mendasar. Apabila Raga Bima membuat tubuh kokoh dan kekar, Raga Denawa membuat tubuh membulat. Raga Bima meningkatkan kekuatan fisik, sedangkan Raga Denawa meningkatkan massa tubuh. Selain itu, Euis yang tadinya berada pada Kasta Perak Tingkat 1, kini berada pada Kasta Perak Tingkat 3!

Aji Pamungkas spontan melompat mundur. Wajahnya kecut. Di matanya, Euis telah berubah menjadi sebesar batu karang. Bagaimana mungkin ia dapat mengerahkan jurus belut darat!? Apa gunanya jurus Beulut Darat terhadap raksasa yang gembul dan gempal!? Dimana kenikmatan merangkul tubuh yang tak bisa dipeluk!?  

“Dum!” Adalah suara yang mengemuka ketika Euis melompat tinggi, lalu mendarat. Permukaan panggung meretak dan merekah. Genangan air hujan menyibak ke semerata penjuru. 

Keadaan segera berbalik. Aji Pamungkas yang tadinya mengejar dan berupaya membelit lawan, kini berlari agar tak terinjak kaki Euis. 

“Dum! Dum! Dum!”

Euis terus-menerus melompat dan berupaya menginjak lawan. Penampilannya kini lebih mirip dengan kodok raksasa yang demikian perkasa. Kesan gadis ramping yang demikian imut, sudah tak berbekas lagi. Meskipun demikian, terlihat jelas bahwa Euis belum sepenuhnya menguasai jurus itu. Ia hanya mampu melompat dan berupaya menginjak, sedangkan kecepatan geraknya secara umum tak bertambah. Walau di tengah deras hujan, bagaimana mungkin ia dapat mengincar Aji Pamungkas yang demikian gesit?

“Panah Asmara, Bentuk Kedua: Cinta Segitiga!” 

Aji Pamungkas menjaga jarak sambil melepaskan panah-panah ke arah lawan secara bertubi-tubi. Akan tetapi, kelebihan lain jurus Raga Danawa membuat kulit tubuh Euis menjadi demikian alot. Anak-anak panah yang telah diimbuh unsur angin tak berdampak banyak. Paling-paling, Euis hanya sedikit merasa terganggu. Yang jelas, tiada satu pun anak panah yang menembus kulit tubuh gadis tersebut. 

Di tengah hujan lebat, walau memiliki kesaktian unsur angin, perlahan gerakan menghindar Aji Pamungkas terlihat melambat. Sesungguhnya, untuk mempertahankan kecepatan gerak secara terus-menerus, ia harus membayar dengan mengeluarkan tenaga dalam dengan jumlah yang cukup banyak. Di saat yang sama, Aji Pamungkas menyadari pula akan keharusan menjaga ketersediaan tenaga demi tetap dapat mengerahkan jurus-jurus Panah Asmara. 

“Akh!” tetiba Dadang, yang berada di bawah panggung meringis!

Seluruh pandangan mata hadirin di gelanggang pertarungan menoleh ke salah satu sudut di bawah panggung. Di sana, mereka mendapati anak remaja yang masih merapal jurus Dengkang Dirgantara… jatuh terjungkal ke belakang! 

“Ia sengaja mengincar Dadang!” sergah salah seorang anggota regu itu.

Benar! Di sela-sela rentetan Bentuk Ketiga dari jurus Panah Asmara ke arah Euis, Aji Pamungkas melepaskan Bentuk Pertama: Cinta Sejati ke arah Dadang. Tujuan dirinya tak lain adalah untuk membungkam lawan yang masih mengeluarkan suara mendengkang. Pada akhirnya, ia ingin menghentikan sumber dari hujan lebat yang masih menggunyur deras di seantero gelanggang pertarungan!

Pandangan mata kembali mengarah kepada Aji Pamungkas yang melakukan ‘kecurangan’ dengan mengincar lawan di bawah panggung pertarungan. Akan tetapi, betapa terkejutnya mereka ketika mendapati sebuah busur berbentuk bulan sabit mengemuka! 

Busur tersebut terbuat dari angin yang berpilin deras. Perlahan, terlihat busur tersebut mengayun-ayun. Aji Pamungkas pun bergerak seolah menarik dawai busur. Meski tak terlihat adanya bilah anak panah yang mengikuti tarikan, gerakan tersebut membuat busur angin menjadi melengkung dan berwujud seperti bulan sabit berwarna biru! 

“Panah Asmara, Bentuk Ketiga: Cinta Bertepuk Sebelah Tangan!”

Di saat perhatian teralihkan, ketika seluruh hadirin menyaksikan Dadang yang terluka di bawah panggung, Aji Pamungkas telah selesai merapal wujud dari jurus kesaktian unsur angin!

Sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Telah diketahui tujuan Aji Pamungkas mengincar Dadang, walau tindakan tersebut belum serta-merta menghilangkan awan gelap yang masih menggantung di langit. Kini, disadari pula bahwa jeda waktu yang tersedia kala Dadang menjadi pusat perhatian, telah dimanfaatkan sebaik mungkin untuk merapal jurus digdaya itu. 

Kedua bola mata Euis membesar. Tubuh raksasanya membatu. Karena kehebatan kasaktian unsur angin, ia menyaksikan bahwa tak setetes pun air hujan yang masih deras mengguyur dapat mendarat di sekitar lawan. Pusaran angin yang bersumber dari busur mendorong hujan ke semerata penjuru. Demikian, Euis sepenuhnya menyadari bahwa jurus lawan tak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan, bilamana dilepaskan, jurus tersebut dipastikan akan berdampak fatal. 

“Swush!” Aji Pamungkas pun melepaskan jemari tangan kanan!

Seketika itu juga busur bulan sabit melesat deras! Sebagaimana diketahui, bukanlah anak panah angin yang menderu, melainkan busur bulan sabit angin itu sendiri yang deras mengincar lawan. Angin tornado yang biasnya berputar seperti segitiga terbalik, kini bergerak mendatar seperti bulan sabit yang menyapu ke arah lawan. 

Permukaan panggung dilibas, meninggalkan guratan dalam. Spontan, Euis yang bertubuh gembul dan gempal melompat turun dari atas panggung. Bahaya yang ia rasakan mengancam jiwa, hanya memungkinkan untuk mengambil tindakan yang sedemikian. Euis terpaksa melepas kesempatan meraih kemenangan, dan memutuskan untuk menelan pil pahit kekalahan. 

“Hya!” Aji Pamungkas berteriak sekuat kerongkongannya sambil menyentak kedua belah tangan ke arah bawah!

“Apa yang ia lakukan…?” gumam Bintang Tenggara curiga. 

Kucurigaan Bintang Tenggara segera terjawab. Akibat sentakan kedua lengan Aji Pamungkas, tornado yang melesat lurus ke depan mengalun-alun. Alunan tersebut lalu membuat lintasan tornado tersebut berubah dan… mengarah ke atas!

Seluruh hadirin menyaksikan sebuah tornado yang sedang lepas landas. Kecepatan tornado tak sedikit pun berkurang ketika ia membelah lebatnya hujan, sambil mencuat melesat ke atas. Sasaran Aji Pamungkas kali ini sebenarnya adalah… awan gelap hujan!

Langit menggelegar ketika sebuah tornado mengamuk di tengah awan gelap jauh di atas sana. Dari arah bawah, terlihat pusaran deras awan gelap berkecamuk. Perlahan, awan gelap menipis. Berkas sinar mentari menyerap dan menyeruak. Hujan lebat berubah menjadi gerimis, dan sepenuhnya berhenti ketika mentari menyapa bumi. 

“Perwakilan Raja Bangkong IV memenangkan pertarungan!” seru pembawa acara membahana. 

Aji Pamungkas tergeletak di tengah panggung. Seperti halnya dalam kejuaraan di Kota Ahli, ia kehabisan tenaga dalam setelah merapal wujud bulan sabit. Meski, wajahnya sumringah menerima berkas sinar mentari. Pencapaian kali ini patut diacungi jempol. Tidak hanya anak remaja tersebut mengalahkan lawan di atas panggung, ia bahkan menyebabkan lawan yang merapal jurus mendatangkan hutan kehilangan kesadaran, kemudian mengusir awap gelap di atas langit sana.  

Aji Pamungkas memenangkan pertarungan ini, namun kemungkinan besar ia tak bisa kembali bertarung karena kehabisan tenaga dalam. Ramuan yang dapat dikonsumsi oleh ahli yang berada pada Kasta Perunggu, tentu tak sepenuhnya dapat mengisi mustika tenaga dalam yang hampir kosong. 

Lampir Marapi bersiap melompat ke atas panggung segera setelah seorang panitia kejuaraan membawa turun tubuh Aji Pamungkas. 

“Hop!” Bintang Tenggara segera naik ke atas panggung. 

“Eh!?” Lampir Marapi kembali diselak. Wajahnya berkerut tak senang, persis seperti seorang gadis manja yang dipermainkan oleh seorang pemuda iseng. 

“Hm…?” Bahkan Citra Pitaloka tertegun. Bintang Tenggara yang sejak awal sepertinya tak memiliki motivasi bertarung, justru melompat naik ke atas panggung. Mungkinkah nak remaja ini tak hendak kalah dengan pencapaian temannya, batin Citra Pitaloka. 

“Duar!” 

Sebuah bilah panjang, berwarna putih bersih dengan guratan-guratan motif berbentuk jalinan tulang belakang, tertancap perkasa di tengah panggung pertarungan!

“Hah!” Seorang remaja lelaki dari kubu lawan, yang baru hendak melompat ke atas panggung, mengurungkan niatnya. 

Bintang Tenggara sengaja memamerkan Tempuling Raja Naga!

Selama pertarungan sebelumnya berlangsung, ia teringat suatu hari di masa lalu, yaitu pada kesempatan pertama dirinya berpapasan dengan Panglima Segantang. Kala itu, Bintang Tenggara melerai pertarungan Panglima Segantang yang berhadapan dengan Siamang Semenanjung, atau lebih tepatnya menyelamatkan sahabat karibnya dari sapuan lengan, dengan menancapkan Tempuling Raja Naga. Masih segar dalam ingatan ketika Siamang Semenanjung tiba-tiba berteriak tak terkendali seperti kerasukan. Lalu melompat ke belakang tuannya, seperti anak kucing yang kehujanan. **

“Tempuling yang terbuat dari…,” gumam Raja Bangkong IV sedikit ragu. 

Sang Raja sudah berdiri dan berada selangkah di depan kursi singasana. Ingatan akan tempuling membekas dalam di benaknya. Ingatan yang selalu menyiratkan pengalaman dan rasa tak nyaman.  

Aura siluman sempurna yang terpancar dari Tempuling Raja Naga sangat kental terasa bagi kaum siluman. Sedangkan bagi manusia, yang dapat dirasakan dari tempuling tersebut adalah aura senjata pusaka Kasta Perak. 

Tiga lawan yang berada pada Kasta Perak, dan masih berada di bawah panggung, terlihat kebingungan. Ketiga remaja siluman sempurna tersebut menyadari bahwa senjata tersebut berada pada Kasta Perak. Namun… namun mengapa tubuh mereka tetiba menjadi kaku dan naluri mereka mengatakan untuk memberi hormat dan sanjungan!?

Wajah ketiga lawan semakin kusut. Mereka menatap ke arah tribun penonton, yang diisi oleh punggawa dan bangsawan Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Mereka menantikan petunjuk, atau arahan, atau apa pun itu untuk menjawab kecemasan yang dirasa. 

“Srek!” 

Beberapa punggawa dan bangsawan Kerajaan Siluman Gunung Perahu bangkit dari tempat duduk mereka, dan melompat ke atas panggung pertarungan. Tindakan tersebut diikuti oleh lebih banyak tokoh lain lagi. Kesemuanya berasal dari kubu penentang. 

“Yang Mulia Paduka Raja Bangkong IV….” Salah seorang dari mereka berujar. 

“Tiada guna melanjutkan pertarungan… Aura yang menyibak dari senjata pusaka itu tak diragukan lagi milik Yang Sani Komodo Nagaradja, Malah, kemungkinan merupakan tulang dari Yang Sani sendiri…,” timpal yang lain. 

“Tiada mungkin generasi muda dapat berhadapan dengan aura yang sedemikian menekan…,” tambah yang lain lagi.

“Maksud kalian…?” ujar Raja Bangkong IV, membahana ke seluruh penjuru gelanggang pertarungan.

“Hidup dan mati kami hanya teruntuk Yang Mulia Raja Bangkong IV, Sang Penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu! Sembah kami harap diampun!” 

Tetiba lebih dari duapuluh ahli, para punggawa dan bangsawan yang diketahui berasal dari kubu penentang, menekuk lutut dan mengucapkan ikrar setia. 

“Cih! Tak seru!” hardik Komodo Nagaradja yang didera perasaan kecewa. 


Catatan:

*) danawa/da·na·wa/ kl n raksasa

**) Episode 34.