Episode 1 - Satu


“Seingatku tadi sedang tidur di motel busuk itu.”

Jalu terkejut, ketika bangun dari tidurnya sudah berada dalam tubuh orang lain. Tubuh seorang lelaki yang dirasakannya berusia lanjut, tergopoh di tengah dinginnya udara dini hari.

Lewat bola mata si lelaki tua itu ia bisa melihat kulitnya yang keriput, tubuhnya bongkok serta dengus napasnya yang tersengal. Jiwa Jalu meronta-ronta dalam gelap di antara ribuan untai syaraf dan jaringan pembuluh darah, namun tak ada sedikit pun mengubah keadaan.

Masih lekat dalam ingatan, sore tadi ia terpaksa menghentikan perjalanannya dan mampir di sebuah kota akibat kabut tebal. Disambut dingin sebuah gapura kayu yang sudah lapuk, bertuliskan Selamat Datang di Bulak Tonjong.

Jalu memutuskan untuk menginap di sebuah motel kusam yang kelihatannya jarang didatangi tamu. Meski awalnya ragu tapi apa mau dikata, hanya itu satu-satunya motel yang ada.

Setelah menyantap makanan motel yang rasanya seperti kaus kaki basah, ia pun terlelap di ranjang besi reot penuh karat, sebelum terjaga dan terjebak dalam tubuh lelaki bangkotan yang tak dikenalnya.

Ia berharap ini hanya sebuah mimpi buruk.

Jiwa Jalu terguncang-guncang mengikuti langkah cepat lelaki tua itu. Ia melihat pemilik jasad tempat ia bersemayam, tengah menuju hutan lebat yang dedaunannya menghilangkan bayangan. Kakinya seolah memiliki mata. Dalam pekatnya hutan, langkah lelaki tua itu lincah mencari jalan setapak tanpa sekali pun tersandung akar pohon atau bebatuan.

Tanpa jeda, dia berjalan semakin dalam dan berhenti di depan sebuah gubuk kecil berdinding bilik tanpa penerangan. Jalu tersapu keluar masuknya udara segar secara teratur lewat hidung mancung lelaki itu, saat menuju pancuran di samping bilik. Lelaki tua itu mulai membasuh telapak tangan, lalu berkumur, membasuh hidung, mencuci muka, kedua tangannya, mengusap kepala, kedua telinganya, diakhiri dengan membasuh kedua kakinya bergantian.

Dinginnya air pegunungan dapat dirasakan oleh Jalu meski ia tak berjasad. Dari gerakannya, Jalu mengetahui kalau lelaki tua itu sedang berwudu. Segera benaknya disibukkan serangkaian praduga. Jalu hanya bisa meyakini, lelaki tua itu sedang berada di surau.

Jalu langsung teringat pesan penunggu motel saat dirinya menerima kunci kamar.

“Sebaiknya Tuan langsung tidur dan tak mendengar suara Uak Giroh mengaji tengah malam, atau Tuan akan mengalami hal buruk.”

“Memangnya kenapa?”

Jalu bukanlah penakut. Ia seorang petualang yang sudah terbiasa keluar masuk hutan. Sambil tersenyum, ia malah meminta penunggu hotel itu bercerita soal kisah Uak Giroh.

*****

Bulak Tonjong letaknya sangat terpencil. Tersembunyi di sela kaki Gunung Mahajna. Kehidupan warganya begitu damai dan tentram, dipimpin oleh Sibli dengan bantuan hulubalang tua bernama Uak Giroh. Keduanya mampu menjaga kerukunan dan kemakmuran warga, berkat ketaatan mereka mempertahankan ajaran leluhur yang jadi pedoman hidup Bulak Tonjong.

Suatu hari Uak Giroh terpengaruh ajaran sesat yang membuatnya gila. Setelah berbagai upaya penyembuhan tak membuahkan hasil, ia pun dikucilkan oleh Sibli ke puncak Gunung Mahajna.

Tiga belas purnama kemudian, muncul kidung aneh dari puncak gunung. Begitu menyayat hati. Lalu dalam hitungan menit siapa pun yang mendengarnya akan ditemukan meregang nyawa. Seakan ingin membalas dendam atas perlakuan semena-mena sang junjungan kepda dirinya.

Melihat kedamaian Bulak Tonjong terusik, Sibli tak mampu menahan amarahnya. Ia pun mengajak anak buahnya mencari keberadaan Uak Giroh. Menelusuri hutan lebat hingga dua purnama, sebelum akhirnya menemukan sebuah gubuk kecil berdinding bilik. Dan hatinya pun bergetar ketika mendapati pemilik gubuk itu. Namun, karena sudah tersulut emosi yang memuncak, ia pun tak peduli. Meski yang sedang dilihatnya adalah bekas hulubalangnya sendiri, sedang duduk membaca sebuah kitab, menghadap ke arah barat.

“Bajingan Giroh, berani mengacau kampungku!”

Tanpa menunggu jawaban, Sibli segera melayangkan parangnya ke arah Uak Giroh. Diikuti anak buahnya yang ikut menyerang. Seketika suara teriakan mereka memecah malam. Kegaduhan di dalam bilik tak lama dibalas oleh suara auman keras yang menggema di antero hutan. Disusul lolong ketakutan.

*****

Lamunan Jalu saat mengingat cerita penjaga motel itu dibuyarkan teriakan.

“Bajingan Giroh, berani mengacau kampungku!”

Belum sempat mengintip sosok yang berteriak, Jalu sudah dibuat terhuyung ketika tubuh tua Uak Giroh tiba-tiba bergerak dengan cepat, untuk menghindari sabetan parang Sibli. Lalu dalam sekejap tubuh kurus orang tua itu menggeliat dan berubah menjadi mahluk besar yang tingginya hampir menyentuh atap rumah. Dari pori-pori kulitnya muncul bulu-bulu tebal yang disusul memanjangnya kuku jari kaki dan tangan. Jiwa Jalu bagai dikocok dalam sebuah pusaran deras, ketika semua organ milik lelaki kurus itu berubah. Kemudian dikejutkan oleh suara auman keras dari mulut orang tua yang tumbuh taring.

Lewat bola mata Uak Giroh yang kini seperti mata kucing raksasa, ia melihat betapa piasnya wajah-wajah anak buah Sibli. Seakan menyadari, nyawa mereka telah berada di ujung kuku.

 Sibli yang terkejut, terlambat berreaksi. Harimau raksasa itu sudah menerkam sang pimpinan. Gigi taringnya dengan mudah mencabik isi perut, hingga tubuh Sibli tercerai berai dalam hitungan detik. Jalu tak kuat lagi melihat kelanjutannya, karena pandangannya telanjur mengabur. Jiwa Jalu melayang seiring terpisahnya kepala Sibli dengan badannya.

*****

Jalu terbangun dengan pikiran masih dihantui serpihan tubuh Sibli. Jalu tak habis pikir, dirinya bisa tersedot ke masa yang diceritakan penjaga motel. Sebagian akal sehatnya menduga ini hanya mimpi buruk, setelah begitu larut dalam cerita. Sebagian lagi, ingin percaya dirinya sedang mengalami peristiwa buruk.

Pikirannya semakin kalut, begitu menangkap keganjilan lain yang menghinggapi jiwanya. Tubuh tempat ia bersemayam bukan lagi harimau raksasa, juga Uak Giroh….