Episode 33 - Inilah Batasannya



Dalam perjanalan pulang, Erina menjadi sangat bimbang. Memilih antara menuruti atau melanggar perkatan Teguh untuk tak bertanya apapun tentang keadaannya.

Terlihat dari luar, Bagas masih baik-baik saja. Tetapi Erina mendapat firasat yang cukup buruk dengan ekspresi Bagas yang tak seperti biasanya kali itu.

Bertanya tentang keadaannya atau biarkan dia yang mengatakannya sendiri.

Kemungkinan pertama mudah saja untuk dilakukan, dan Erina hanya perlu untuk mengumpulkan keberaniannya. Namun untuk kemungkinan kedua, rasanya takkan mungkin terjadi. Karena untuk ukuran seorang seperti Bagas, dia takkan mengatakan perasaan terpendam yang dia rasakan apapun yang terjadi.

Dari seluruh kemungkinan yang ada, Erina lebih memilih untuk melanggar peringatan dan segera mengumpulkan keberaniannya. Karena dia juga tak ingin melihat orang yang dia sayangi menahan rasa sakit lebih dari itu.

Di depan pintu masuk desa, Erina harus sesegera mungkin bertanya. Karena akan sulit bertanya kalau mereka sudah berada di dalam lingkungan desa.

“B-bagas, a-anu, itu, apa kamu baik-baik saja...?”

Erina bertanya dengan tanpa melihat dan hanya sedikit mengeluarkan suaranya. Meskipun begitu, itu cukup untuk membuat Bagas mendengarkannya.

“Aku baik-baik saja.”

Dia mendapatkan jawaban. Lebih dari itu tak ada lagi respon yang terlihat. Dia menjadi sedikit lega, tetapi setelah dia sedikit melirik ke arah seseorang yang mengatakan keadaannya baik-baik saja, terdapat ekspresi yang sulit untuk mengatakan kalau dia baik-baik saja.

Saat itu, eskpresinya terlihat seperti dia mendapat beban lebih untuk dipikul. Erina menjadi lebih bimbang untuk tidak atau bertanya kembali untuk yang kedua kalinya. Apakah ekspresi dari Bagas itu benar-benar mengatakan kalau dia baik-baik saja atau tidak.

“T-tapi, wajahmu terlihat lebih pucat dari biasanya. Dan ekspresimu juga...”

Seketika Erina mendapat firasat kalau dia sedang dipandangi oleh seseorang yang dia kira tak baik-baik saja keadaannya.

Erina berbalik untuk melihat seseorang yang dia khawatirkan. Ketika pandangan mereka bertemu, Erina mendapati tengah dipandangi dengan dugaan yang mengejutkan. Bagas terlihat terkejut, lalu membuat ekspresi seperti dia tengah ingin menghindari sesuatu.

Pada saat Bagas telah selesai memandanginya, dia lekas langsung kembali berjalan. Langkah kakinya kali itu lebih cepat dari sebelumnya. Membuat Erina kesusahan untuk menyamakan langkah mereka.


Mereka telah sampai di rumah.

“Telepon ada di rak buku kalau kau membutuhkannya.”

Dan Erina telah mendapat pemberitahuan yang dia tak tahu untuk alasan apa Bagas memberitahukannya.

Setelah masuk ke dalam, Bagas bergegas pergi ke kamar mandi. Dari kelihatannya, dia habis melakukan kegiatan fisik. Bekas keringat dan bau badan dapat tercium saat Erina berjalan berdampingan dengannya.


Dia berada di dapur sekarang. Tengah gelisah menunggu seseorang yang ada di dalam kamar mandi tak kunjung keluar. Perasaan gundah lebih menguat saat suara gebrakan air terdengar dari dalam.

Erina menjadi semakin tak sabar untuk melihat keadaan Bagas, jadi dia mencoba untuk memanggil dan bertanya tentang keadaannya. Tentu saja dia melakukannya dari luar.

Setelah mengetuk pintu tiga kali Erina langsung bertanya.

“Bagas, apa kamu baik-baik saja di dalam?”

Setelah menunggu beberapa saat, dia masih tak mendapat jawaban. Dan firasat kalau dia harus langsung mengecek ke dalam masuk lewat pikirannya.

Tanpa basa-basi dia mencoba membuka knob pintu, pintu kamar mandi tak terkunci. 

Di ruang pertama, terlihat baju sekolah Bagas yang kotor ada di keranjang pakaian kotor. Tak terlihat pula pasangan dari baju itu—celana. Seketika itu juga, firasat kalau Erina harus mengecek ruang kedua muncul.

Setelah mengumpulkan cukup keberanian, Erina akhirnya berhasil membuka pintu ruang kedua. Suasananya terdengar sepi dan senyap, seperti tak ada seseorang yang mandi. Tetapi ketika Erina menemukan sebuah tubuh berada di sebelah bak kamar mandi.

Tubuh itu hanya memakai celana sekolahnya, menyandari di dinding dengan satu tangan dimasukkan ke dalam bak berisi penuh air hangat. Hal yang membuat Erina sangat terkejut adalah, tubuh itu milik lelaki yang dicintainya.

Tubuh itu terlihat tak memiliki tenaga untuk bergerak. Wajahnya bahkan lebih pucat dari sebelumnya.

“Bagas!!”

Seketika setelah menyadari kalau Bagas tengah jatuh pingsan, Erina bergegas mendekat padanya.

Dia langsung mengecek denyut nadi milik Bagas, terasa sangat lemah. Perasaan sakit dengan cepat menyerang pikiran dan perasaan Erina. Mendapati firasat yang dia rasakan sebelumnya benar, kalau akan terjadi sesuatu yang buruk dengan Bagas jika dia diam saja.

Karena mengetahui kalau Bagas tak bisa apa-apa, Erina dengan cepan membawanya keluar dari kamar mandi. Bahkan dia tak memerdulikan tubuh yang besar itu saat mengangkatnya menuju ke ruang tengah.

Dengan segenap tenaga, akhirnya Erina berhasil membawa tubuh Bagas ke ruang tengah. Setelah itu apa, dia tak tahu?

Menyadari kalau dia tak tahu harus melakukan apa membuat Erina meneteskan air mata.

Di atas sofa yang panjang, Erina tengah memangku tubuh yang lemas tak berdaya. Apa yang harus dia lakukan saat mengetahui seseorang sedang sakit? Pertama adalah tak membiarkan tubuhnya dingin.

Dengan cepat Erina mengambil selimut—setelah menaruh kepala Bagas—dan tak lupa juga bantal untuk kepalanya. Setelah mengambil dua hal itu di kamar terdekat—kamar tidur ruang tengah—dia segera menutupi tubuh setengah telanjang milik Bagas dan menaruh bantal di bawah kepalanya.

Setelah itu apa?

Lagi-lagi dia tak tahu. Itu adalah pengalaman pertamanya dalam menangani keadaan buruk seseorang. Meskipun dia telah mempelajari dasar-dasar dalam menangani hal seperti itu. Rasa khawatir, terkejut, sekaligus tak pernah mengalami hal seperti itu membuatnya lupa akan semua hal yang telah dia pelajari.

Hal yang tersisa yang bisa dia lakukan adalah menangisi ketidakberdayaannya. Merapatkan kedua genggaman, menaruh wajahnya di depan telapak tangan. Dia mencoba untuk kembali memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Air mata juga tak berhenti keluar di saat dia melakukan hal itu.

Cukup lama dia melakukannya. Tetapi tak ada satupun hal yang dapat terpikirkan, kecuali satu hal, perkataan Bagas sebelum dia memasuki kamar mandi. Sesuatu tentang hal yang berada di rak buku.

Di rak buku ruang tengah, dia segera mencari hal yang dimaksud oleh Bagas. Saat itu dia menemukan sesuatu yang masih ambigu baginya untuk dimengerti. Itu adalah telepon.

Tak seperti adiknya. Erina sama sekali belum atau jarang berkomunikasi dengan sesuatu yang berbau teknologi. Karena itu dia menjadi bingung, apa yang harus dia lakukan dengan itu.

Di depan tubuh yang seperti tak bernyawa, Erina sekali lagi meratapi ketidakberdayaannya dalam menangani hal seperti itu.

“Seseorang, tolong beritahu apa yang harus kulakukan?”

Di dalam kesedihannya, dia berharap ada seseorang yang membantunya. Dan seketika sebuah raihan tangan menyentuhnya.

Tangan yang terasa lebih hangat saat menyentuhnya. Berasal dari tubuh yang baru saja tak berdaya. Tangan itu menyentuh kedua tangan yang sedang menggenggam telepon. 

Melihat ke arah wajah yang tak berdaya itu, Erina merasakan kalau dia harus segera memberikan telepon itu padanya. Jadi dia dengan perlahan membuka genggamannya dan membiarkan tangan itu mengambil telepon genggam.

Tetapi, saat tangan itu mencoba mengangkat telepon genggam yang dia ambil. Tangan itu menjadi bergetaran, dengan sigap Erina langsung membantu tangan itu untuk bergerak menuju ke depan mata yang akan menggunakannya.

Tak hanya itu, saat tangan itu mencoba untuk mengetikkan tombol telepon genggam, sekali lagi tangan itu tak berdaya untuk melakukannya. Jadi sekali lagi Erina menolong tangan itu untuk melakukan apa yang harus mereka lakukan saat itu.

Saat beberapa tombol telah diketik, sebuah getaran terjadi pada telepon genggam itu. Dan saat suara gemerisik terdengar lewat speaker telepon, suara yang sangat Erina kenal terdengar.

“Halo, Bagas...?”

Itu adalah suara Elang yang dapat terdengar dari telepon.

Namun bukan Bagas yang akan berbicara kali ini, melainkan Erina yang memiliki tenaga untuk melakukannya.

“Halo, Elang!”

Dengan segera Erina langsung menjawab dari telepon itu. Namun bukan rasa terkejut yang datang dari Elang, melainkan perasaan menduga kalau yang akan menjawab adalah Erina.

“Ini kak Eruin ya, bagaimana dengan keadaan Bagas?”

Tanpa diberitahu lebih lanjut, Elang telah mengetahui keadaan yang ada di rumah. Meskipun begitu, Erina tak memiliki waktu untuk menanyakan alasan kenapa dia bisa tahu. Karena hal yang terpenting adalah keadaan Bagas sekarang.

“Dia, kelihatan sangat tak baik, dan aku... tak tahu apa, yang harus kulakukan. Elang, tolong aku.”

Terdapat perasaan yang sangat menyakitkan saat Erina mengungkapkan ketidakberdayaan pada adiknya. 

“Baiklah, untuk sekarang kakak tenang dan lakukan pertolongan pertama. Ani tengah menuju ke sana sekarang. Tunggulah.”

Dengan itu, Erina dapat merasakan sedikit kelegaan. Meskipun dia masih harus menunggu dan menahan kekhawatirannya.

“Umm...”

“Dan jangan terlalu membuat dirimu tertekan seperti itu. Aku yakin sekarang Bagas masih sadar bukan, dia pasti tak ingin kau untuk merasakan hal itu. Jadi, cobalah untuk lebih kuat, oke.”

Elang mengetahui kalau kakaknya sedang dalam keadaan yang sama buruk dengannya. Perasaan di saat seseorang yang dicintai sedang dalam keadaan yang buruk membuat hati mereka merasakan perasaan yang sama.

Hanya saja, dalam kasus Elang, bukanlah Bagas yang sekarang dia khawatirkan. Melainkan...

“Aku... mengerti.”

“Baguslah, aku juga akan datang ke sana malam ini. Jadi tunggu dan bersabarlah.”

Setelah perbincangan yang membuat perasaan mereka lebih baik, mereka akhirnya menutup telepon. 

Erina yang sekian kalinya mendapat pertolongan dari adiknya itu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Meskipun dia masih memiliki perasaan sangat khawatir dengan seseorang yang sedang terkapat saat itu, membuat hatinya menjadi gundah sekali lagi.

Ekspresi yang biasanya sangat tak bisa diduga. Saat itu tengah terlihat merasakan rasa sakit yang sangat. Seperti bukan hanya datang dari luar—tubuh, melainkan juga datang dari dalam—pikiran.

Tubuh yang biasanya akan terus menjauh. Saat itu tengah berbaring tak bergerak dengan terselimut kain. 

Melihat sosok yang dia cintai keadaannya sedang seperti itu, membuat Erina tak bisa tak melepas pandangannya. Berpikir bagaimana kalau dia yang sekarang sedang berada dalam posisi itu.

“Maaf, karena aku tak bisa menjadi lebih kuat dan bergegas melepas belenggu siksaanmu.”