Episode 1 - Berkenalanlah Kau Agar Tahu Namanya


Pagi ini di ruang kelas dua belas IPA tujuh. Duduklah seorang anak laki-laki dari SMA Harapan Nusantara yang berparaskan sedikit kurus, berwajah pas-pasan serta berambut acak-acakan. Selain itu, anak laki-laki itu juga pintar, buktinya dia pintar mengibuli tukang bakso biar enggak bayar. 

Contohnya kayak gini, waktu itu dia kelaparan karena dua tahun enggak makan. Dia sedang duduk di depan teras rumahnya sambil menunggu tukang bakso.

Teng teng teng.

Terdengar suara tukang bakso beberapa kali memukuli mangkoknya pakai sendok. Alhasil, mangkok itu pun kini dirawat di rumah sakit terdekat setelah mengalami luka memar di tubuhnya. Sang dokter yang menangani mangkok itu pun merasa kebingungan.

“Baru kali ini saya meriksa mangkok yang sakit. Lama-lama kalau gini terus saya yang sakit, hadeh hadeh.”

Kembali ke cerita. Sang tukang bakso melewati depan rumah anak itu sambil mendorong gerobaknya. Tidak lupa juga tukang baksonya pakai baju, masa iya tukang bakso jualan enggak pakai baju?

“Tukang bakso ya, Bang?” tanya anak itu sambil berdiri.

“Iya, De.”

“Berhenti, Bang.”

“Ade mau beli?” senyum-senyum tukang bakso.

“Enggak, Abang berhenti aja jualannya.”

“Eeet, nanti saya usaha apalagi kalau berhenti dagang bakso?”

“Itu urusan Abang, bukan urusan saya loh.”

Merasa cuma diisengi sama anak itu, si tukang bakso itu pun kembali mendorong gerobaknya dan melanjutkan perjalanannya mencari para pembeli bakso.

“Bang, mau kemana? Saya mau minta bakso.”

“Iya, De, mau bakso?” Senyum sumringah tukang bakso sambil berhenti.

“Mau, Bang, saya minta satu mangkok ya, eh jangan lupa pakai bakso.”

Tukang bakso lalu menyiapkan bakso untuk anak itu. Tak butuh waktu lama untuk menyiapkan bakso dan bakso itu pun sekarang sudah siap untuk dinikmati. Dengan lahapnya, anak itu memakan bakso beserta mangkok-mangkoknya hingga habis. Setelah makan bakso, dia berdiri dan kemudian berjalan mengembalikan mangkoknya itu pada yang punya.

“Ini makasih ya, Bang,” ucap anak itu kemudian pergi begitu saja. 

“Eh bayar, De.”

“Lho kok bayar? Tadikan saya minta bukannya beli.”

“Tapi…?”

“Abang, makanya dengar apa kata saya, saya minta terus abang kasih gitu aja, saya sih ikhlas dikasih. Makasih ya.” Senyum anak itu kemudian si anak menghilang.

Tuh kan dia pintar, terakhir anak laki-laki itu tidak berjenis kelamin perempuan. Sebut saja nama anak laki-laki itu Coklat. Coklat mempuyai teman yang bernama Ival. Ival itu anak yang selalu melihat kacamatanya sendiri. Aneh kan, kacamata cuma dilihat saja enggak dipakai? 

Pagi ini di ruang kelas dua belas IPA tujuh, anak-anak sudah berkumpul dengan berita yang sungguh menggembirakan. Berita apa itu? Beritanya adalah di kelas dua belas IPA tujuh kedatangan guru matematika baru, namanya Bu Riny. Dia itu masih muda, usianya sekitar 23 tahun lebih 1 hari. Sontak dengan kedatangan Bu Guru yang cantik membuat anak-anak IPA tujuh bergembira. Dari mereka ada yang loncat-loncatan di atas meja sambil kegirangan, ada yang ketawa-ketawa hahahihi enggak jelas, ada yang bicara sendiri sama tembok. 

Apalagi laki-laki yang bernama Coklat, dengan status dia yang masih single sudah dapat dipastikan dia senang. Ini adalah kesempatan dia untuk mendapatkan seorang wanita dan merubah statusnya dari single menjadi ganda. Sambil menunggu guru masuk kelas, dia sempatkan mengobrol dengan Ival, teman satu bangkunya itu.

“Klat, gue dengar ….” 

“Gue juga dengar, Val, lo kira gue budeg apa?” kata Coklat memotong ucapan Ival.

“Ih maksud gue, gue dengar ada guru mtk baru, cewek lagi, cantik lagi.”

“Ah udah biasa.”

“Hah biasa?”

“Ya iyalah, yang namanya cewek itu cantik dah biasa, kalau cewek ganteng itu baru luar biasa.”

“Njir.”

“Kring kring kring.”

Bunyi bel sekolah berbunyi. Sehabis mendengar bel masuk tadi, mereka pun duduk rapih di tempat duduknya sambil menunggu guru mereka masuk ke kelas. Setibanya di kelas, langkah gontai dan cantik rupanya membuat para siswa seakan terhipnotis oleh sang guru, apalagi yang namanya Coklat, dia enggak bisa berhenti melototi sang guru.

Guru matematika sekaligus wali kelas IPA tujuh yang baru ini lalu duduk di meja depan.

“Maaf, Bu Guru,” ujar Coklat mengancungkan jarinya.

“Oh iya, kenapa?” tanya sang guru.

“Bu, kok Ibu duduknya di atas meja bukan di kursi?”

“Oh iya Bu Guru lupa, ini gara-gara penulisnya yang salah sebut.”

Hah! Kok penulisnya yang disalahkan?  


***


Di depan mereka, guru cantik itu mulai mengabsensi muridnya satu persatu. Dia mengambil absensi yang ada di dalam tasnya, namun sebelumnya Coklat penasaran dengan nama Bu Guru baru ini.

“Bu, Bu Guru siapa namanya?” tanya Coklat.

“Oh, kalian pengin tahu nama Ibu, nama Ibu itu Ibu Riny.” Senyum Bu Riny.

“Oh, nama ibunya itu Ibu Riny, terus Ibu sendiri siapa?” tanya Coklat lagi.

“Itu nama Ibu.”

“Iya itu nama Ibu, terus nama Ibu yang berdiri di sini siapa?” 

“Iya itu, nama Ibu itu Ibu Riny.”

“Iya aku tahu, tapi aku butuh nama Ibu lho.”

“Nama ibu itu Bu Rinyyyyyyy!” teriak Bu Riny.

Sabar ya Bu Guru menghadapi murid kayak gitu, tapi terserah Ibu lah, kalau mau bunuh, bunuh saja silahkan. Lagian juga enggak ada yang mencari mereka kok. 

Bu Guru pun cuma bisa mengelus-elus dadanya sambil menahan marahnya.

“Huh sabar … sabar …,” kata Bu Riny.

“Eh Coklat, nama dia itu Riny, iya kan, Bu?” kata Ival.

“Iya itu, kamu pintar.”

“Owh.” Coklat melongo

“Nama kamu sendiri siapa?”

“Aku Coklat, kenapa? Ah ibu naksir ya sama saya? Ibu suka ya sama saya? Ibu kesemsem ya sama saya? Ibu tergoda ya dengan ketampanan yang saya miliki?” ujar Coklat sambil senyum-senyum.

Seketika Bu Riny langsung muntah. 


***


Setelah mereka tahu nama Bu Guru. Bu Guru pun bersiap mengambil daftar absensi yang ada di dalam tasnya. Selembar kertas beliau keluarkan, beliau letakkan di atas meja. Bu Guru itu sambil duduk dan melihat nama-nama yang tertera di kertas absen lalu menyebutkan satu persatu.

“Semuanya diharap tenang, Ibu mau mengabsensi kalian ya. Ari.”

Siswa hening, lalu Bu Riny mencoret nama Ari.

“Bagus.”

Siswa kembali hening.

“Cecep, Dedi, Edi, Fajar, Gusti, Halim, Iwan, Jarwo, Kodeeel! Haduh pada kemana sih kok enggak ada yang jawab atau tunjuk tangan gitu?” 

“Lah Ibu bilang semua harap tenang, kita semua di sini udah tenang, Bu, enggak berisik,” jawab Coklat.

“Tapi kan seharusnya dijawab, kan Ibu mengabsensi kalian.”

“Ah Ibu ini sulit dimengerti ya, maunya apa sih.”

“Maunya membunuh kamuuu!”

Akhirnya satu persatu siswa di dalam kelas ini sudah diabsensi sama Bu Guru. Setelah mengabsensi semua siswa, Bu Riny siap memberikan mata pelajaran sama dua siswa yang ada. Dia pun mengambil buku paket dari dalam tasnya, dia mengambil buku paket matematika.

“Brught!” 

Dia letakkan buku paketnya di atas meja. Sebelum Bu Riny membahas mata pelajaran yang diberikan, dia berjalan mendekati tempat duduk Ival dan Coklat seraya bertanya.

“Dua hari lagi itu hari raya Idul Adha. Ibu mau tanya nih, siapa yang hari ini puasa?” tanya Bu Riny sambil tersenyum.

“Bu, saya,” jawab Coklat tunjuk tangan.

“Bagus, Coklat puasa ya?”

“Bu, saya enggak puasa loh.”

“Ih kamu enggak puasa aja bangga.” Kepala Bu Riny lalu tertunduk melihat lantai, wajahnya mulai geram namun dia coba untuk menahannya, sabar-sabar, ucap Bu Riny dalam hati.

“Tadi saya mau niat puasa, eh enggak jadi sahur gara-gara mataharinya kecepatan nongol, saya jadi enggak sahur. Rese tuh mataharinya.”

“Itu kamunya yang kesiangan.”

“Ah enggak bisa, coba kalau mataharinya terbit jam delapan atau sembilan.”

“Iya deh, apa kata kamu aja huh.” Bu Riny seketika langsung masang wajah cemberut di hadapan Coklat dan Ival. 

“Bu, saya,” ujar Ival tunjuk tangan.

“Ival puasa?”

“Bu, saya kebelet pengin pipis.”

“Ya sudah sana-sana, dikirain mah puasa.”

Ival berdiri dari tempat duduknya, dia beranjak ke toilet sekolah. Kini dalam kelas tersisa hanya Coklat dan Bu Riny. Coklat melihat Bu Riny sambil senyum-senyum, dia senang ditinggal berdua sama Bu Riny dalam kelas ini. Lima menit berlalu, Ival telah kembali ke kelasnya dan Bu Guru bersiap menjelaskan materi yang akan dia ajarkan. Ival dan Coklat sudah menyiapkan buku tulis dan seperangkat alat tulis lainnya di atas meja dibayar tunai. Mereka berdua duduk rapih sambil tersenyum manis di hadapan Bu Riny dengan kedua tangan mereka bersandar di atas meja. Bu Riny kemudian menyuruh mereka berdua untuk membuka buku metematikanya.

“Hari ini kita belajar pangkat, pasti di SD atau SMP kalian sudah mengenal apa itu pangkat, iya kan sudah?”

Bu Riny dengan semangat bertanya kepada Ival dan Coklat. Sementara di tempat duduk mereka, Coklat lalu menoleh ke arah Ival.

“Val, emang lo udah kenalan sama si pangkat?” Coklat berbisik ke Ival.

“Belum, makanya gue juga bingung.”

“Maaf, Bu,” ucap Coklat.

“Iya kenapa, Coklat?”

“Saya sama Ival belum kenalan sama pangkat, Bu.”

“Ya susah belajar sama kalian. Ok, Ibu jelaskan pangkat itu adalah ….”

“Pangkat itu adalah ketika sang istri meminta tolong kepada suaminya untuk angkat jemuran. Pangkat dong jemurannya, Ibu minta tolong!” seru Coklat memotong ucapan Bu Riny.

“Bukan, itu pak angkat! Makanya jangan potong ucapan Ibu, pangkat itu adalah .…”

“Pangkat itu adalah hemat pangkat kaya, rajin pangkat pandai!” celetuk Ival.

“Huh itu pangkal, Ival-Ival, tadi kan Ibu bilang jangan potong ucapan Ibu, bisa dimengerti?”

“Ngerti!” serentak Ival dan Coklat.

Bu Riny kemudian menarik napas sejenak, menghilang rasa kesal dalam hatinya. Bu Riny kembali melanjutkan pembahasan materinya kepada Coklat dan Ival. Bu Riny membeberkan penjelasan tentang pangkat kepada mereka berdua. Mereka berdua hanya diam melihat cara bicara Bu Riny menjelaskan pangkat di depan kelas. Panjang lebar sudah Bu Riny utarakan kepada mereka.

“Iya itu dia tentang pangkat, kalian berdua mengerti?”

“Ngerti!”

“Oke, sekarang Ibu tanya Coklat. Berapa sembilan pangkat satu perdua?”

“Enggak tahu!” tegas Coklat.

“Lah tadi katanya mengerti. Oke, sekarang kamu Ival. Berapa enam belas pangkat satu perdua?”

“Hmmm, saya nyerah, saya pasrah deh saya sama Ibu.”

“Ya udah kalau kalian enggak tahu … maka kita lanjutkan ke halaman berikutnya.”

Lalu Bu Riny membuka halaman buku berikutnya. Ah ini sih sama saja, guru sama muridnya, sama-sama bikin kesal. Dan pada akhirnya Bu Riny memberi PR kepada mereka berdua, mereka sudahi pelajaran Bu Riny hari ini di sekolah.


***


Di sisi lain tanpa Coklat dan Ival ketahui ada seorang pria yang berwajah biasa saja sedang mengawasi pergerakan Bu Riny. Dari balik jendela luar sekolah, pria itu mengintip kegiatan kelas di IPA tujuh. Kira-kira siapakah pria itu? Ini masih menjadi sebuah misteri. Tiba-tiba pria itu mengeluarkan bom asap dari kantung celananya, dan anehnya dia menghilang, wah hebat, lo kira ini ninja apa. Pria itu lalu berjalan meninggalkan kelas IPA tujuh dengan wajah kesalnya.

“Berani-beraninya tuh anak kecil gangguin cewek gue, huh belum tahu siapa gue kali. Ya iyalah belum tahu gue, orang mereka belum kenalan sama gue hahaha. Awas aja tuh anak bakal gue kasih pelajaran, pelajaran Bahasa Perancis, pusing-pusing dah lo, hahaha.”