Episode 130 - Dengkang



Pagi di hari yang tak dinanti-nanti tiba. Matahari baru saja mengangkasa. Meski demikian, kesejukan di puncak Gunung Perahu masih saja menyengat dalam ke sumsum tulang. Bintang Tenggara melangkah bersama Regu Perdamaian, yang dipandu oleh Kakek Duta Utama. 

Gelanggang pertarungan dijaga ketat. Prajurit-prajurit Kerajaan Siluman Gunung Perahu terlihat perkasa menghunuskan tombak mereka. Bintang Tenggara tak dapat membayangkan seperti apa lawan mereka nanti. Asep saja sudah sangat hebat, apa lagi lawan yang seharusnya datang dari perguruan-perguruan ternama di Kerajaan Siluman Gunung Perahu.

Di atas, di tribun penonton, ke-50 punggawa dan bangsawan Kerajaan Siluman Gunung Perahu duduk melingkari panggung pertarungan. Mereka tidak lagi terbagi-bagi dalam kubu. Akan tetapi, urutan duduk mereka ditetapkan berdasarkan peringkat kehormatan di Kerajaan Siluman Gunung Perahu. 

Demikian, penonton pertarungan antar ahli kali ini adalah terbatas adanya. Hanya pihak-pihak yang berkepentingan yang diperkenankan menyaksikan. Sebuah formasi segel perlindungan, kemudian membungkus seluruh wilayah gelanggang pertarungan. Hal tersebut semakin memperketat penjagaan, sekaligus mencegah campur tangan para ahli digdaya yang menyaksikan. 

Di sudut paling tinggi tribun gelanggang pertarungan, bercokol kursi singasana nan megah. Di sebelah kursi singasana tersebut, terpisah jarak beberapa meter, bersanding sebuah dipan besar tak kalah megah. Akan tetapi, kali ini tak terlihat Komodo Nagaradja berselonjor malas di sana. Jiwa dan kesadaran sang Super Guru tetap berada di dalam mustika retak. 

Bintang Tenggara menyapu pandang. Tak perlu waktu lama baginya untuk menangkap kehadiran seseorang di tribun tamu kehormatan. Adalah Maha Guru Kesatu Sangara Santang yang turut meninjau pertarungan Regu Perdamaian. Lelaki dewasa muda itu menatap mereka, tersenyum, kemudian mengacungkan jempol. Ia memberikan isyarat sekaligus petanda bahwa harapan besar bersandar di atas pundak Regu Perdamaian. 

Mencurigakan sekali gelagatnya, cibir Bintang Tenggara dalam hati.  

“Yang Mulia Paduka Raja Bangkong IV memasuki gelanggang pertarungan!” ujar salah satu punggawa kerajaan dengan suara membahana. 

Seluruh isi panggung berdiri menyambut kedatangan Raja Bangkong IV. Seorang lelaki dewasa, dengan pembawaan yang sederhana tiba. Wajahnya cukup tampan, dan lembut, dibandingkan rata-rata manusia. Tubuhnya tak besar dan tak tinggi, namun aura sebagai penguasa nan perkasa mencuat kental dari setiap gerak-geriknya. 

Kemudian, di sudut paling tinggi dan megah dari gelanggang pertarungan, Raja Bangkong IV duduk di atas kursi singasana megah. Benar, kali ini ia duduk, bukan berdiri di atas kursi. Sepertinya, hari-hari dimana Raja Bangkong IV merasa ragu akan kemampuan dirinya sendiri dalam memimpin kerajaan… terlewati sudah. 

“Oh… tiada pernah aku menyangka mendapat kesempatan menyaksikan si Cebong Cebol demikian perkasa,” isak Komodo Nagaradja. 

Bintang Tenggara mengabaikan Komodo Nagaradja yang terbuai dalam suasana sentimentil. Bagi Bintang Tenggara, si Super Guru seharusnya dapat mencegah pertarungan ini. Sebagai Pamong, Saudara dan Wali, mengapa tak ia tetapkan saja semangat menjaga kedamaian? Dengan status yang demikian tinggi di Kerajaan Siluman Gunung Perahu, kemungkinan besar sang Super Guru dapat mengajukan keberatan atas titah Raja Bangkong IV, pikir Bintang Tenggara. 

Meski demikian, setelah dipikir lagi dan menimbang-nimbang, kemungkinan besar si Super Guru tak hendak campur tangan karena menghargai kedaulatan raja. Terlebih, mengingat sifat si Super Guru, mungkin justru dia yang getol mendukung keputusan pertarungan yang digagas Raja Bangkong IV. Senang sekali pasti para siluman sempurna ini menyaksikan pertarungan di atas panggung. Mungkin semacam menyaksikan pesta rakyat yang berlangsung seusai panen raya. 

Terlepas dari itu semua, ada satu hal yang Bintang Tenggara sesalkan. Selama sebulan sejak titah tentang pertarungan antara Regu Perdamaian dan perwakilan kubu penentang raja, tak sekali pun Raja Bangkong IV datang berkunjung ke Istana Kedua. Jangankan berkunjung, memberi pesan penyemangat pun tak pernah disampaikan. Padahal, Bintang Tenggara hendak berbincang-bincang dengan tokoh tersebut tentang Bentuk Kedua dari Tinju Super Sakti.

Sungguh Raja Bangkong IV ini terlalu berani dalam bertaruh. Terlalu nekat, malah. Apa yang membuat beliau demikian percaya bahwa Regu Perdamaian akan meraih kemenangan? Bagaimana mungkin beliau mempertaruhkan gelar diraja kepada lima anak remaja yang bahkan belum ia kenal? Dari manakah datangnya keyakinan yang sedemikian mendalam? batin Bintang Tenggara. 

Andai saja dirinya tak berhutang budi pada Maha Guru Kesatu, maka mungkin sudah lama sekali Bintang Tenggara hengkang dari Gunung Perahu, dan kembali ke Perguruan Gunung Agung.

Di lain sisi, Bintang Tenggara memahami keteguhan hati Citra Pitaloka. Putri Mahkota tersebut harus meraih kemenangan demi menjaga perdamaian. Tanpa Raja Bangkong IV, kemungkinan besar kedua kekuasaan di dalam wilayah yang sama akan bersitegang. Bentrokan bisa saja tersulut dengan mudahnya pada suatu hari di masa depan. Tekad Citra Pitaloka untuk meraih kemenangan sangat berdasar. 

Aji Pamungkas. Aji Pamungkas akan menyelami lautan, mendaki gunung, dan membelah langit untuk menarik hati Citra Pitaloka. Tak diragukan lagi dasar dari tekad Aji Pamungkas demi meraih kemenangan! 

Sejak beberapa waktu ini, Bintang Tenggara telah menyadari bahwa Embun Kahyangan meski terlihat tanpa hasrat, akan melakukan apa pun demi menuntaskan misi yang diembankan oleh Padepokan Kabut. Entah apa alasannya, tapi gadis tersebut sangat menjunjung tinggi perintah perguruan. Tambahan lagi, misi terakhir Embun Kahyangan untuk membawa pulang keris Tameng Sari menemui kegagalan. Dengan demikian, tekad Embun Kahyangan menuntaskan misi dengan meraih kemenangan sangat berdasar. 

Terakhir adalah Lampir Marapi. Anggota Partai Iblis! Bukan sembarang anggota pula, melainkan anak dari penguasa salah satu kekuatan besar di Kepulauan Jembalang. Keberadaan gadis manja ini di Sanggar Sarana Sakti sungguh merupakan misteri. Tidaklah mungkin Maha Guru Kesatu Sangara Santang tak mengetahui jati diri Lampir Marapi. Apa yang membuat tekad Lampir Marapi dalam meraih kemenangan menjadi berdasar…? 

Jadi, sebagai kesimpulan, satu-satunya yang tak memiliki tekad mendasar, adalah Bintang Tenggara!

“Perwakilan Kubu Penentang Raja Bangkong IV dipersilakan naik ke atas panggung!” cibir si pembawa acara membahana. Sudah jelas ia berada di pihak mana. 

Tak ada sorak-sorai, tak ada gemuruh dukungan. Sejumlah punggawa dan bangsawan terlihat tak nyaman. Beberapa menggeser posisi duduk, ada yang terlihat kecut, beberapa yang lain menyilangkan lengan di depan dada. Mereka terpaksa menelan mentah-mentah cibiran yang memang sengaja dikumandangkan itu. 

“Perwakilan Raja Bangkong IV dipersilakan naik ke atas panggung!” 

Kedua regu saling berhadapan. Perwakilan lawan merupakan tiga remaja lelaki dan dua remaja perempuan. Kelihatan sekali bahwa mereka telah siap sedia. Namun, yang paling penting, kesemuanya berada pada Kasta Perak! 

Setiap satu anggota Regu Perdamaian tak gentar. Meskipun mustika tenaga dalam berada pada Kasta Perunggu, kemampuan tempur setiap satu dari mereka bisa disetarakan dengan ahli Kasta Perak. Bintang Tenggara, di Pulau Dua Pongah, bahkan pernah telak mengalahkan seorang ahli Kasta Perak yang berniat menculik Lampir Marapi. 

“Pertarungan pertama!” seru pembawa acara. 

Empat anak remaja dari masing-masing kubu melompat turun dari panggung pertarungan. Sesuai aturan, pertarungan adalah satu lawan satu. Perwakilan yang memenangkan pertarungan berhak untuk terus melanjutkan berlaga dalam pertarungan berikutnya, atau pertandingan setelahnya. 

Di atas panggung, Embun Kahyangan telah melepas jubah ungu. Ia adalah perwakilan pertama. Misinya sederhana: raih sebanyak mungkin kemenangan, lemahkan lawan, atau setidaknya beberkan kemampuan lawan. 

Seorang remaja lelaki bersiap siaga di hadapan. “Namaku, Dadang. Mohon tunjuk ajar….” 

Panca Kabut Mahameru, Bentuk Pertama: Kabut Ranu Kumbolo!

Tanpa berbasa-basi dan membuang-buang waktu, Embun Kahyangan merangsek maju. Sambil melepas jurus yang membutakan pandangan mata dan pantauan mata hati, ia mengerahkan sebilah kerambit dalam genggaman tangan kiri. Payudara berguncang ringan, pinggul melenggok gemulai. Gerakannya sungguh ringkas dan cepat. 

Sontak Dadang melompat mundur. Sepertinya, ia sudah dapat membaca niat lawan sejurus setelah melihat kabut ungu. Berkat kewaspadaan tersebut, Dadang sudah keluar dari wilayah cakupan kabut. Sungguh luwes gerakan tubuhnya.

Panca Kabut Mahameru, Bentuk Ketiga: Kabut Kalimati!

Di saat lawan bergerak mundur, gumpalan kabut lain telah menanti di sisi belakang. Dadang yang tadinya berhasil menghindar dari Bentuk Pertama, kini terjebak dalam kabut yang mematikan gerak tubuh! 

“Hya!” 

Dadang yang tak bisa bergerak, menghentakkan tenaga dalam di saat kerambit hendak menebas urat nadi sedikit di atas lutut, pada paha bagian dalam. Celananya sobek dan darah merembes pelan. Meskipun demikian, Embun Kahyangan sepenuhnya menyadari bahwa luka tersebut tak cukup dalam untuk menghambat gerak langkah Dadang. . 

“Kang! Kang! Kang!” tetiba terdengar suara bergema, memenuhi seantero gelanggang pertarungan. Nadanya naik turun, seolah sedang memanggil-manggil. 

Embun Kahyangan segera menyadari bahwa bunyi tersebut lazim terdengar di saat musim penghujan. Benar, suara tersebut adalah dengkang kodok. Meski lawan tak membuka mulut, samar-samar terlihat leher Dadang mengembang dan mengempis. Sungguh teknik yang tak biasa. 

“Kang! Kang! Kang!”

“Itu adalah salah satu dari teknik khas siluman kodok Gunung Perahu… jurus Dengkang Dirgantara!” sergah Citra Pitaloka. 

Suara berdengkang terus-menerus bergema. Embun Kahyangan menyadari bahwa ia tak memiliki waktu untuk berlama-lama. Pertarungan harus diselesaikan secepat mungkin! 

Panca Kabut Mahameru, Bentuk Kedua: Kabut Oro-oro Ombo!

Kali ini, Embun Kahyangan menyibak kabut tipis. Ia berupaya memerangkap lawan dalam kabut halusinasi. Meski demikian, Dadang sama sekali tak menghindar dan tak terpengaruh. Suara dengkang yang dihasilkan mengagalkan jurus halusinasi yang diarahkan kepadanya. 

“Kang! Kang! Kang!”

“Selendang Batik Kahyangan…,” gumam Raja Bangkong IV dari sisi teratas tribun. “Sayang sekali… Lawan dengan teknik yang sempurna dalam mematahkan senjata pusaka itu.” 

Seusai Raja Bangkong IV berujar kepada diri sendiri, awan tebal dan gelap berkumpul tinggi di udara. Angin mulai bertiup, menghadirkan kelembaban yang merambat cepat. Suara bergemuruh sayup terdengar, diikuti kilatan petir yang berkelebat di balik awan. Bukan. Awan ini bukanlah awan panas dan beracun Wedhus Gembel dari Bentuk Kelima jurus Panca Kabut Mahameru… karena itu adalah awan hujan!

“Beledar!” Halilintar pertama menyambar, lalu diikuti oleh hujan gerimis! 

Inilah yang dikenal sebagai jurus Dengkang Dirgantara. Sesuai namanya, jurus Dengkang Dirgantara merupakan teknik untuk memanggil hujan. ‘Dengkang’ adalah nyanyian kodok, dan ‘Dirgantara’ adalah langit. Pada banyak kesempatan, kodok bernyanyi kepada langit, memohon karunia akan hujan… Dan hujan pulalah yang saat ini mulai mengguyur di seantero gelanggang pertarungan! 

Saat pertama kali mendapat penjelasan dari Citra Pitaloka tentang jurus ini, Bintang Tenggara setengah mencibir. Mana mungkin ada jurus kesaktian yang memohon kepada langit untuk memanggil hujan. Tak dapat dicerna akal! pikirnya saat itu. Namun kini, Bintang Tenggara terpana!

“Embun Kahyangan kali ini kurang beruntung…,” gumam anak remaja tersebut.  

“Kang! Kang! Kang!”

Panca Kabut Mahameru, Bentuk Kelima: Kabut Wedhus Gembel!

Tak ada pilihan lain bagi Embun Kahyangan bila ingin memperoleh kesempatan dalam pertarungan pembuka. Hujan baru turun, sebentar lagi deras. Masih ada secercah peluang yang bisa dimanfaatkan. 

Embun Kahyangan memaksakan diri merapal jurus… Di bawah awan hujan, kabut ungu kehitaman terlihat mengambil wujud domba gimbal dengan sepasang tanduk yang melingkar ke dalam! 

“Beledar!” Petir kembali menyambar dan hujan berubah lebat!

Kabut Wedhus Gembel yang baru saja hendak turun… serta-merta luruh. Awan panas dan gas beracun larut dalam derasnya sapuan air hujan, lalu menghilang dengan sendirinya. Inilah yang telah disadari oleh Raja Bangkong IV ketika bergumam, kemudian Citra Pitaloka dan Bintang Tenggara… Secara alami, kabut bukanlah lawan dari derasnya air hujan yang bersimbah membasahi bumi!

“Srash!” 

Kerambit bermain di tengah deras hujan. Meski jurus kesaktian unsur kabut telah dipatahkan, Embun Kahyangan masih memiliki jurus-jurus persilatan. Air hujan membelai tubuh nan elok, Selendang Batik Kahyangan lekat menempel ke tubuh. Berkat air hujan, setiap lekuk tubuh Embun Kahyangan terpapar demikian kentara.

Walau Embun Kahyangan mengerahkan jurus persilatan, di tengah simbahan air hujan nan deras, gerak langkah Dadang semakin lincah. Bagaimana tidak, sebagai siluman sempurna kodok, bertarung di tengah hujan deras merupakan keunggulan wilayah. 

Dengan susah payah, Embun Kahyangan hanya mampu menggores tubuh Dadang. Kali ini ia bertarung tanpa bantuan Selendang Batik Kahyangan. Wajahnya terlihat kusut. Selama ini Embun Kahyangan terlalu banyak bergantung pada senjata pusaka tersebut. Di saat unsur kesaktian kabut tak lagi dapat dimanfaatkan, Embun Kahyangan merasa sungguh tak berdaya…

“Swush!” 

Tak sekali pun bilah kerambit yang tajam melengkung dapat menghasilkan guratan mendalam di tubuh lawan…

“Buk!”

Dadang melancarkan serangan balik. Ia melompat maju dan mundur melancarkan serangan. Perlahan namun pasti, ia menekan balik lawan. 

“Buk”

Sebuah tendangan menusuk penuh tenaga, telak menghujam di ulu hati. Di tengah derasnya hujan, Embun Kahyangan serta-merta roboh! 

“Uhuk!” Dadang terbatuk, dan darah mengalir dari sudut bibirnya. Baru ia sadari bahwa goresan-goresan kerambit memiliki tujuan. Meski gas beracun dari Wedhus Gembel luruh dalam hujan, akan tetapi racun yang tercipta ikut terbawa air. Meski keampuhannya sudah banyak berkurang, racun tersebut tetap menyerap ke tubuh dadang yang penuh dengan goresan tipis kerambit! 

“Perwakilan Kubu Penentang Raja Bangkong IV memenangkan pertarungan pertama…” seru pembawa acara setengah hati.  

“Bruk!” Dadang jatuh bertumpu pada satu lutut. Rupanya, racun Wedhus Gembel yang di bawa air hujan dan meresap ke dalam tubuhnya lebih banyak dari perkiraan!

Inilah upaya terbaik dari Embun Kahyangan. Misi yang dapat ia tuntaskan kali ini… hanyalah melemahkan lawan.

Walhasil, meski memenangkan pertarungan pertama, Dadang memutuskan untuk beristirahat pada pertarungan kedua. Bilamana memungkinkan, ia dapat kembali dalam pertarungan-pertarungan berikutnya. Yang pasti, hujan deras tak sedikit pun mereda. 

 “Tak kusangka mereka akan mengerahkan jurus Dengkang Dirgantara dalam pertarungan pembuka…,” gumam Citra Pitaloka yang merasa kecolongan. 

Niat awal adalah bagi Embun Kahyangan membuka kemenangan dengan jurus-jurus digdaya unsur kabut. Namun kini, siapa nyana bahwa lawan telah menciptakan kondisi dimana mereka dapat bertarung dengan nyaman. Sedangkan regu manusia, tentunya akan mengalami kendala bilamana terpaksa bertarung di tengah lebatnya hujan. 

Lampir Marapi terlihat bersiap naik ke atas panggung. 

“Hop!” Tetiba sesosok bayangan berwarna putih melesat cepat ke atas panggung. Mengenakan sebuah kacamata, ia berdiri perkasa di tengah guyuran hujan lebat. Tangan kanannya diangkat tinggi ke atas, seolah hendak menarik paksa halilintar agar segera turun ke bumi. Air hujan yang menerpa tubuhnya, berpendar, terlihat mirip sebagai aura dari seorang pahlawan perkasa pembela kebenaran… 

“Hatsyi! Hatsyi! Hatsyi!” Di tengah panggung pertarungan, Aji Pamungkas bersin-bersin! Serta-merta aura kepahlawanan yang telah dibangun… luruh dibawa lebat air hujan.



Cuap-cuap:

Rupanya, developer ceritera.net membatasi episode setiap cerita sebanyak 129 episode. Jadi, walau episode ini sudah di-input, di halaman muka tidak tampil. Hahaha… Terima kasih kepada developer yang akhirnya mengubah setting.  

Seorang teman menyarakan untuk lebih aktif menyapa para ahli baca di FP. Karena kebetulan kejadian ini, ke depannya perkembangan atau info akan disampaikan di https://www.facebook.com/PendekarBayang1 

Baiklah.